TIKTAK.ID

Main Menu

  • Home
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Disclaimer
  • Nasional
  • Olahraga
  • Selebriti
  • Teknologi
  • Tips & Tutorial
Sign in / Join

Login

Welcome! Login in to your account
Lost your password?

Lost Password

Back to login

logo

TIKTAK.ID

  • Home
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Disclaimer
  • Nasional
  • Olahraga
  • Selebriti
  • Teknologi
  • Tips & Tutorial
Nasional
Home›Nasional›Kritik Omnibus Law, Media Inggris Samakan Jokowi dengan Suharto

Kritik Omnibus Law, Media Inggris Samakan Jokowi dengan Suharto

By Joni Sitohang
19 Oktober 2020
888
0
Kritik Omnibus Law, Media Inggris Samakan Jokowi dengan Suharto

TIKTAK.ID – Salah satu media Inggris, The Economist diketahui mengkritik Omnibus Law dan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Media itu menyatakan Omnibus Law memiliki banyak kekurangan, sedangkan Jokowi yang sekarang tidak seperti yang dibayangkan penggemarnya dulu.

Melalui sebuah artikel yang terbit pada 15 Oktober 2020, The Economist pun menyamakan Jokowi dengan Presiden kedua Indonesia, Suharto, dalam hal pembangunan.

Di paragraf awal, The Economist membandingkan Jokowi yang dulu dan sekarang. Dulu, Jokowi dinilai sebagai “man of the people”, namun saat ini Jokowi dikelilingi elite politik dan bisnis di Ibu Kota.

Baca juga : Foto Bobby Gunakan Pakaian Kearab-araban Jadi Perbincangan, Netizen: Tiru Pencitraan Mertuanya

“(Jokowi) yang sekarang baru saja mengurangi perlindungan untuk pekerja. Pekan ini ia mengirim polisi untuk memukul mundur pemimpin-pemimpin yang turun ke jalan untuk protes,” tulis The Economist seperti dilansir Liputan6.com, Minggu (18/10/20).

The Economist menyebut Omnibus Law merupakan upaya yang masuk akal untuk memudahkan bisnis dan mempromosikan investasi. Meski begitu, The Economist menyoroti Omnibus Law yang disahkan di tengah pandemic virus Corona (COVID-19).

Media asing itu juga menyinggung pengurangan otonomi daerah, izin lingkungan, dan Omnibus Law yang menguntungkan industri pertambangan, serta memudahkan perusahaan logging untuk mengambil untung dari hutan.

Baca juga : Sambangi Pentagon Ketemu Menhan AS, Prabowo Bahas Apa?

The Economist juga mempertanyakan keluhan buruh dan sulitnya mengakses teks final Omnibus Law.

“Pemerintah mengklaim perserikatan sudah diajak berkonsultasi, tapi serikat membantahnya. Teks final yang diloloskan oleh parlemen pada 5 Oktober dan berada di meja presiden untuk ditandatangani, masih belum diterbitkan untuk publik,” kata The Economist.

Kemudian The Economist mencatat sepak terjang pemerintahan Jokowi tahun ini. Mulai dari mengurangi independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga menggunakan kepolisian untuk membungkam pengkritik. Jokowi pun dianggap kurang maksimal dalam memperhatikan hak perempuan, minoritas, dan kebebasan sipil.

Baca juga : Gatot Nurmantyo Ingatkan Polri: Anggota KAMI Jutaan, Gak Fair Kalau Semua Kejahatan Dikaitkan ke KAMI

“Jokowi mungkin saja tak pernah menjadi demokrat transformasional yang dibayangkan penggemarnya dulu. Sama seperti Suharto, pembangunan adalah hal yang penting,” lanjutnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadiala menyebut analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) menjadi syarat bagi perusahaan besar untuk melanjutkan aktivitas produksinya.

Ia mengatakan, bila perusahaan besar tidak memiliki Amdal atau melanggarnya di kemudian hari, maka Pemerintah berhak mencabut izin usahanya.

TagsCoronaCOVID-19InggrisJokowiKPKOmnibus LawSuhartoVirus Corona

Related articles More from author

  • DPR Minta Jokowi Pimpin Langsung PPKM Darurat dan Tidak Lagi Andalkan Luhut
    Nasional

    DPR Minta Jokowi Pimpin Langsung PPKM Darurat dan Tidak Lagi Andalkan Luhut

    22 Juli 2021
    By Joni Sitohang
  • KPK Tak Kunjung Temukan Harun Masiku, Demokrat Curiga Ada Orang Kuat dan Penting Terlibat
    Nasional

    KPK Tak Kunjung Temukan Harun Masiku, Demokrat Curiga Ada Orang Kuat dan Penting Terlibat

    28 April 2022
    By Joni Sitohang
  • Fadli Zon Juluki Jokowi 'Duta Mal Indonesia', Ternyata Gara-gara Ini...
    Nasional

    Daya Kritisnya Disangsikan Usai Terima Tanda Jasa, Fahri Hamzah Singgung ‘Orang Baperan’ di Seputar Jokowi

    14 Agustus 2020
    By Joni Sitohang
  • Cek Hoaks atau Fakta, Bekas Residivis dan Teroris Bisa Ikut Komcad, Program Bela Negara ala Prabowo Subianto
    Nasional

    Tunaikan Janji Jokowi, Prabowo Naikkan Tunjangan Kinerja 80% dan Beri Rumah Dinas untuk Prajurit TNI

    21 Agustus 2020
    By Joni Sitohang
  • TIKTAK.ID - Wamenhan, Wahyu Sakti Trenggono
    Nasional

    Bertemu Wamenhan, Prabowo: Kamu yang Kerja, Aku yang Tidur

    25 Oktober 2019
    By Rusli Qomar
  • TIKTAK.ID - Meski Ogah Jadi Gubernur Lagi, Ahok Akui Ada Hal yang Dirindukannya Saat Jabat Gubernur DKI Jakarta
    Nasional

    Meski Ogah Jadi Gubernur Lagi, Ahok Akui Ada Hal yang Dirindukannya Saat Jabat Gubernur DKI Jakarta

    30 April 2020
    By Rusli Qomar

Leave a reply Batalkan balasan

Berita Menarik Lainnya

  • Maia Estianty Khawatir El Rumi Di UK
    Selebriti

    Khawatir Penyebaran Corona di Eropa, Maia Estianty Desak El Rumi Segera Pulang dari Inggris

  • Wasekjen PDIP Bantah Partainya Kucilkan Ganjar
    Nasional

    Peluang Ganjar Pranowo Diusung PDIP Jadi Capres Menurut Pengamat

  • Wakil Anies Positif Corona, Ternyata ini Sumber Penularannya
    Nasional

    Wakil Anies Positif Corona, Ternyata ini Sumber Penularannya

  • Antony Scaramucci
    Internasional

    Mantan Direktur Komunikasi Gedung Putih Sebut Trump ‘Teroris Domestik’

  • Projo NTB Tegaskan Manut Jokowi Soal Dukung Prabowo-Mahfud MD
    Nasional

    Projo NTB Tegaskan Manut Jokowi Soal Dukung Prabowo-Mahfud MD

Redaksi

  • Jalan Kebagusan III, Perum Nuansa Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
  • 0812 4664 9215
  • Hubungi Kami
© Copyright 2019 TIKTAK.ID. All rights reserved.