
Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta sekaligus kader PDIP, menyampaikan penghormatan terakhir bagi mendiang Guruh Soekarnoputra. Di mata Rano, Guruh adalah sosok yang memiliki cara tersendiri dan begitu indah dalam menunjukkan kecintaannya pada Indonesia.
Menurut Rano, ekspresi cinta itu tidak pernah berhenti pada kata-kata semata. Guruh menghidupkannya lewat musik serta dedikasi yang ia tunjukkan di atas panggung selama bertahun-tahun.
“Mas Guruh mencintai Indonesia dengan cara yang sangat indah. Dia tidak hanya berbicara tentang Indonesia. Ia menyanyikannya, ia menciptakan panggung untuknya, ia menggali kekayaan tradisinya, dan dia mempersembahkan hidupnya untuk kebudayaan Indonesia,” kata Rano saat prosesi pemakaman Guruh di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta, Sabtu (26/9).
Melati Suci dan Untukmu Indonesiaku, Simbol Cinta Tanah Air
Untuk menggambarkan kebesaran Guruh, Rano mengangkat dua karya yang telah melegenda, yaitu “Melati Suci” dan “Untukmu Indonesiaku”.
Ia menilai “Melati Suci” mengandung kelembutan sekaligus kedalaman rasa yang menyentuh. Sementara “Untukmu Indonesiaku” ia ibaratkan sebagai sumpah cinta seorang anak bangsa kepada Tanah Air.
“Tentang jiwa, raga, dan karya yang dipersembahkan untuk Indonesia,” ujar Rano.
Pesan Guruh: Indonesia Terlalu Indah untuk Tidak Dicintai
Rano menuturkan, bila lagu-lagu ciptaan Guruh didengarkan kembali hari ini, ia merasa seolah sang seniman tengah menyampaikan sebuah pesan bahwa Indonesia terlalu indah untuk tidak dicintai.
“Terlalu berharga untuk tidak dijaga dan terlalu besar untuk tidak diperjuangkan,” imbuhnya.
Guruh Sang Marhaenis yang Setia pada Rakyat Kecil
Di luar jejak kariernya di dunia seni, Rano juga mengenang Guruh sebagai pejuang partai yang lahir sebagai seorang Marhaenis.
Bagi Rano, keberpihakan Guruh kepada kelompok masyarakat kecil bukanlah sekadar slogan politik. Hal itu justru menjadi keyakinan yang ia pegang erat sepanjang perjalanan hidupnya.
“Itu adalah keyakinan yang ia bawa dalam perjalanan hidup dan politiknya,” ujarnya.
Dalam berbagai momentum, Guruh dikenal konsisten menekankan ajaran Bung Karno serta nilai-nilai Pancasila yang ia warisi dan amanahkan.
Mars PDIP Perjuangan, Jejak Guruh yang Terus Hidup
Semangat perjuangan Guruh juga tertinggal dalam Mars PDI Perjuangan yang ia ciptakan. Karya tersebut kini menjadi bagian dari perjalanan sekaligus tradisi partai berlogo banteng.
“Dinyanyikan dalam berbagai kegiatan partai dan menjadi salah satu jejak yang terus menghidupkan ingatan terhadap Mas Guruh,” ungkap Rano.
Bendera Setengah Tiang Tujuh Hari untuk Guruh
Sebagai bentuk duka dan penghormatan terakhir, segenap jajaran PDIP mulai dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) hingga anak ranting diperintahkan mengibarkan bendera partai setengah tiang selama tujuh hari.
Instruksi itu menjadi simbol duka sekaligus penghormatan partai atas kepergian Guruh Soekarnoputra, sosok yang selama hidupnya mempersembahkan jiwa, raga, dan karyanya bagi Indonesia.
File tersimpan: /root/jarvis-agents/articles/rano-karno-guruh-soekarnoputra-mencintai-indonesia-dengan-cara-indah.md (409 kata)
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










