Tag: Stres

  • Tips Atasi Emotional Eating

    Tips Atasi Emotional Eating

    TIKTAK.ID – Emotional eating merupakan keinginan untuk makan, baik secara sadar maupun tidak sadar, saat muncul perasaan tertentu, termasuk sedih, kecewa, marah, atau sekadar bosan. Kondisi tersebut pun membuat seseorang tak mampu mengontrol keinginannya untuk makan, sehingga akan mengalami efek samping tertentu untuk kesehatan, seperti obesitas.

    Mengutip Cleveland Clinic, emotional eating adalah salah satu mekanisme pertahanan diri dari perasaan tertentu yang muncul. Keinginan untuk makan tersebut menjadi cara yang dilakukan untuk melarikan diri, mematikan perasaan, mengganti, atau melipatgandakan perasaan yang muncul.

    Cleveland Clinic menjelaskan bahwa stres, kecewa, atau cemas bakal memicu produksi hormon kortisol di dalam tubuh sehingga muncul dorongan untuk makan makanan yang manis, berlemak, atau asin, sebagai bentuk pertahanan diri. Artinya, makan tidak dilakukan karena lapar, melainkan akibat adanya emosi tertentu yang dirasakan. Tidak hanya itu, makan juga dinilai sebagai suatu penyemangat sehingga banyak orang yang mencari kenyamanan dari makanan.

    Seperti dikutip Kompas.com dari Mayo Clinic, terdapat sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi emotional eating. Berikut ini di antaranya:

    1. Mencatat makanan yang dikonsumsi supaya lebih paham apakah makan disebabkan oleh rasa lapar atau emosi.
    2. Mengatasi rasa stres yang muncul. Misalnya dengan melakukan meditasi, yoga, atau latihan pernapasan.
    3. Menghindari keinginan untuk makan bila tidak benar-benar sedang merasa lapar.
    4. Mencari bantuan dari keluarga atau teman untuk meluapkan perasaan supaya tidak lari ke makanan.
    5. Melakukan aktivitas lain guna menghindari rasa bosan yang bisa memicu keinginan untuk makan.
    6. Tidak menyediakan makanan favorit di rumah demi menghindari godaan yang muncul.
    7. Tidak membatasi asupan makanan secara berlebihan saat sedang diet dan mencukupi kebutuhan nutrisi dengan makanan serta camilan yang sehat untuk menghindarkan dari rasa lapar.
    8. Mengonsumsi camilan di antara jam makan supaya bisa mengurangi godaan makan secara berlebihan.
    9. Mengurangi dorongan emotional eating secara bertahap dan belajar dari kesalahan yang dibuat, sehingga dapat menghindarinya di kemudian hari.

    Jika Anda telah melakukan beberapa cara di atas, tapi tetap tidak bisa mengontrol keinginan yang muncul, maka sebaiknya mencari bantuan profesional. Dengan begitu, Anda akan mengetahui cara mengatasi dorongan tersebut serta mengetahui masalah kesehatan apa yang dialami yang menjadi pemicu emotional eating.

  • Ade Rai Bagikan Tips Napas untuk Redakan Stres

    Ade Rai Bagikan Tips Napas untuk Redakan Stres

    TIKTAK.ID – Viral di media sosial potongan video Ade Rai yang menyebut cara bernapas berhubungan dengan tingkat stres. Ternyata yang dimaksud adalah bagaimana cara bernapas, bisa mencerminkan pikiran dan perasaan. Biasanya, orang yang marah atau sedih cenderung bernapas pendek-pendek melalui dada. Sebaliknya, orang yang tenang umumnya bernapas dengan tempo lebih panjang lewat perut.

    “Napas kita ini kan biasanya cerminan dari gerak pikiran kita. Sebaliknya, gerak pikiran kita merupakan cerminan dari napas kita. Contohnya, saat Anda lagi marah, kesal, sebal, kecewa, itu biasanya napasnya pendek dan cepat. Sedangkan ketika Anda lagi senang, banyak rejeki, jatuh cinta misalnya, napasnya biasanya lebih panjang dan pelan,” ungkap Ade Rai, seperti dilansir detikcom, Selasa (14/2/23).

    Ade Rai mencontohkan, orang yang merokok kerap mengalami kembang-kempis di bagian perut, bukan dada. Untuk itu, dia menilai orang yang merokok bisa merasa lebih relaks. Akan tetapi, bila pernapasan perut dilakukan sembari merokok, tentu saja ada risiko penyakit imbas masuknya nikotin ke dalam tubuh.

    “Misalnya memiliki pasangan yang merokok dia lagi santai sendiri, apa yang dia lakukan? Dia merokok, ketika merokok perutnya pasti naik ke depan karena merokok itu relaxing. Masalahnya adalah saat rokok dinyalakan, nikotin masuk ke dalam pembuluh darah,” jelas Ade Rai.

    Meski pernapasan perut lebih dianjurkan, tapi sebetulnya tidak ada yang salah dengan pernapasan dada. Untuk meluruskan pemahaman sejumlah warganet, Ade Rai mengatakan tidak melulu stres adalah hal buruk. Dia menganggap pada beberapa kondisi, stres justru diperlukan, misalnya untuk pembakaran lemak tubuh. Asalkan, lanjutnya, stres tidak terjadi terus-menerus.

    “Sekali waktu kita harus stres, dan sekali waktu kita harus rileks. Tapi kalau stres yang berlebihan dan tidak ada henti-hentinya, itu disebut sebagai stres emosional,” tutur Ade Rai.

    “Kadang-kadang ketakutan atau kecemasan mengenai masa depan yang enggak pasti, atau bahkan masa lalu yang sudah lewat tapi kita khawatir dan memiliki perasaan bersalah, menyesal, atau trauma. Itu bisa menjadi stres terus, enggak ada hentinya 24 jam tujuh hari terus saja begitu. Pada saat itulah kita maknai stres menjadi sesuatu yang berbahaya,” imbuhnya.

  • Tips Meditasi Bagi Pemula, Bisa Turunkan Stres

    Tips Meditasi Bagi Pemula, Bisa Turunkan Stres

    TIKTAK.ID – Kita tentu tidak dapat menghindari stres akibat pekerjaan atau masalah lainnya. Namun jika rasa stres tidak segera diatasi, dapat berefek buruk pada kesehatan fisik dan mental.

    Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk menurunkan efek buruk stres yakni meditasi.

    Mayo Clinic menyebut meditasi mampu memberi ketenangan dan keseimbangan emosional serta mendukung kesehatan secara umum. Selain itu, tubuh menjadi lebih rileks dan menurunkan stres dengan cara memusatkan perhatian pada hal lain yang memberikan ketenangan.

    Seperti dikutip Kompas.com dari Healthline, berikut ini cara meditasi bagi pemula.

    1. Mulai dari yang kecil dulu

    Pemula tak perlu lama-lama melakukan meditasi setiap hari. Pemula lebih disarankan melakukan meditasi selama 5 menit untuk memahami pikiran dan diri sendiri, ketimbang harus menghabiskan waktu selama 30 menit.

    1. Mencari waktu yang tepat

    Banyak yang mengira terdapat waktu-waktu tertentu yang direkomendasikan untuk melakukan meditasi. Padahal, meditasi dapat dilakukan kapan saja, asalkan sesuai dengan jadwal dan waktu luang masing-masing.

    Kunci melakukan meditasi bagi pemula yakni konsistensi, sehingga tak perlu memaksa melakukan meditasi di waktu-waktu tertentu.

    1. Mencari posisi yang nyaman

    Meditasi tak harus dilakukan dalam posisi duduk bersila, karena tidak semua orang nyaman dengan posisi ini. Meditasi perlu dilakukan dalam posisi yang nyaman, bahkan bisa dalam keadaan duduk, berbaring, atau saat berjalan.

    Membuat kondisi yang nyaman untuk bermeditasi pun disarankan, seperti menggunakan lilin aromaterapi atau menyetel musik yang menenangkan.

    1. Menggunakan aplikasi meditasi atau podcast

    Banyak pemula yang tidak mengetahui cara bermeditasi, sehingga dapat memanfaatkan aplikasi meditasi atau podcast. Tak hanya memberikan pendampingan selama meditasi, tersedia pula musik, latar belakang suara, sampai latihan pernapasan yang bisa dicoba.

    1. Menjadikan meditasi sebagai kebiasaan

    Bermeditasi kerap dinilai tidak bermanfaat untuk beberapa orang. Nyatanya, meditasi perlu dilakukan dalam waktu yang tidak sebentar dan konsisten, supaya dapat memperoleh manfaatnya.

    Menjadikan meditasi sebagai sebuah kebiasaan tidak hanya bisa menurunkan stres, tapi juga membuat tubuh lebih siap menghadapi situasi atau kondisi emosi yang tiba-tiba berubah.

  • Tips Hindari Kelelahan Mental

    Tips Hindari Kelelahan Mental

    TIKTAK.ID – Aktivitas yang sangat padat dapat berdampak negatif terhadap kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Salah satunya yakni kelelahan mental atau burnout yang membuat seseorang merasa cepat marah, frustasi, hingga stres, sehingga berakibat negatif pada kegiatan sehari-hari.

    Cleveland Clinic menilai kelelahan mental atau burnout adalah kondisi yang umum dialami. Namun hal itu dapat dicegah dan diatasi.

    Seperti dilansir Kompas.com, berikut ini sejumlah cara menghindari kelelahan mental yang dapat dilakukan.

    1. Meluangkan waktu untuk diri sendiri

    Help Guide menyebut kelelahan mental mampu membuat tubuh rentan mengalami demam dan flu. Jika Anda meluangkan waktu untuk diri sendiri, berarti sudah membangun ketahanan diri terhadap stres. Meluangkan waktu untuk diri sendiri bakal membuat perasaan lebih bahagia dan tubuh dapat beristirahat sejenak dari rutinitas yang padat.

    1. Memahami sumber kelelahan mental

    Kelelahan mental dapat dipicu oleh banyak hal, seperti pekerjaan, masalah keuangan, kehilangan orang yang dicintai, dan lainnya. Healthline menjelaskan, dengan memahami sumber kelelahan mental tersebut, maka bakal ditemukan solusi terbaik untuk mencegahnya dan menghadapinya di kemudian hari.

    1. Mengomunikasikan permasalahan kepada orang lain

    Kelelahan mental dapat dihindari dengan mengomunikasikan permasalahan yang dialami kepada orang lain. Tidak hanya meringankan beban yang dirasakan, berkomunikasi juga menjadi salah satu cara terbaik untuk menemukan solusi permasalahan yang dihadapi sehingga kelelahan mental bisa dihindari.

    1. Mengurangi tekanan pekerjaan

    Pekerjaan yang penuh tekanan bisa mengakibatkan kelelahan mental. Mayo Clinic menyarankan untuk berdiskusi dengan atasan sehingga dapat ditemukan solusi terbaik. Anda juga bisa membuat skala prioritas pekerjaan supaya mengetahui mana pekerjaan yang perlu diselesaikan segera dan mana yang tidak. Dengan begitu, rasa tertekan bisa diminimalisir.

    1. Menulis jurnal

    Jika kondisi fisik dan mental mulai menurun, maka perasaan negatif pun lebih mudah terasa. Salah satu cara terbaik untuk membuang perasaan negatif yang muncul yaitu menulis jurnal mengenai hal-hal apa saja yang disyukuri. Hal itu bisa membuat perasaan lebih bahagia, stres menurun, hingga penyakit tidak gampang menyerang.

  • Kenali Reaksi Fisik Ketika Stres

    Kenali Reaksi Fisik Ketika Stres

    TIKTAK.ID – Stres merupakan perasaan alami yang muncul ketika kita tidak bisa mengatasi tuntutan atau peristiwa tertentu. Akan tetapi, bila kondisi tersebut dibiarkan berlaru-larut, maka stres dapat menjadi kondisi kronis yang berbahaya bagi kesehatan.

    Terdapat banyak hal yang bisa memicu stres, seperti pekerjaan, hubungan asmara, tekanan keuangan, dan lainnya. Apa pun penyebabnya, stres dapat menimbulkan dampak yang nyata untuk kesehatan.

    Stres sendiri adalah pertahanan alami tubuh terhadap bahaya. Kondisi itu akan membuat tubuh dibanjiri hormon yang bakal mempersiapkan kita menghindari atau menghadap bahaya. Dalam dunia medis, kondisi itu disebut dengan istilah mekanisme fight or flight.

    Beberapa jenis hormon yang diproduksi oleh tubuh ketika stres di antaranya kortisol, epinefrin, dan norepinefrin. Jenis hormon itu bakal memicu reaksi fisik seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan kesiapan otot, berkeringat, dan kewaspadaan.

    Semua faktor tersebut meningkatkan kemampuan seseorang merespons situasi yang berpotensi berbahaya atau menantang. Selain itu, norepinefrin dan epinefrin akan menyebabkan detak jantung lebih cepat.

    Seperti dilansir Kompas.com, stres akan memperlambat sejumlah fungsi tubuh, seperti sistem pencernaan dan kekebalan. Padahal, hal itu diperlukan supaya tubuh mampu memusatkan sumber daya pada pernapasan, aliran darah, kewaspadaan, dan persiapan otot untuk menghadapi atau lari dari bahaya.

    Ketika seseorang mengalami stres, maka tekanan darah dan nadi akan meningkat, pernapasan akan berjalan lebih cepat, dan otot menjadi lebih tegang. Namun sistem pencernaan akan melambat dan aktivitas imun menurun.

    Cara seseorang bereaksi terhadap situasi yang sulit bakal menentukan efek stres pada kesehatan secara keseluruhan. Beberapa orang mungkin mengalami beberapa stresor berturut-turut atau sekaligus tanpa menyebabkan reaksi stres yang parah. Akan tetapi, orang yang merasa tidak punya kemampuan cukup dalam mengelola stres bisa saja mengalami masalah kesehatan.

    Setiap stresor bisa memengaruhi individu dengan cara yang berbeda. Meski begitu, mengelola stres dengan cara yang positif akan membantu Anda terhindar dari berbagai permasalahan kesehatan akibat stres.

    Untuk mengelola stres, sebaiknya Anda mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, serta mempelajari dan mempraktikkan teknik relaksasi.

  • Tips Cegah Emotional Eating atau Makan Berlebihan Saat Stres

    Tips Cegah Emotional Eating atau Makan Berlebihan Saat Stres

    TIKTAK.ID – Mungkin Anda makan berlebihan ketika menghadapi situasi stres. Kondisi itu dikenal dengan istilah emotional eating atau makan emosional. Bila Anda sering melakukan hal itu, maka dapat berdampak negatif pada kesehatan dan berat badan.

    Emotional eating sebetulnya tidak hanya terjadi saat kita sedang stres. Terdapat sejumlah hal yang bisa menjadi pemicu emotional eating. Seperti dilansir Kompas.com, berikut ini di antaranya:

    1. Merasa bosan
      Bosan atau tidak melakukan apa-apa bisa menjadi pemicu makan emosional yang umum terjadi. Banyak orang menjalani kehidupan yang sangat aktif, namun saat mereka tidak melakukan apa pun, maka akan merasakan kekosongan. Untuk mengisi kekosongan tersebut, mereka kerap melampiaskannya dengan makan.
    2. Kelelahan
      Ketika sedang merasa lelah, terutama usai melakukan tugas yang tidak menyenangkan, kita akan lebih mudah makan berlebihan. Makanan akan menjadi bentuk pengalihan karena kita tidak melakukan aktivitas tertentu lagi.

    Untuk mengatasi kondisi tersebut, Anda bisa mencoba beberapa cara ini:

    1. Menemukan cara lain untuk mengatasi stres
      Menemukan cara lain untuk mengatasi emosi negatif adalah langkah pertama untuk mengatasi makan emosional. Cobalah untuk mengalihkan emosi negatif tersebut dengan menulis jurnal, membaca buku, atau melakukan relaksasi.

    Memang perlu waktu jika ingin mengubah pola pikir kita agar tidak melakukan emotional eating. Untuk itu, Anda harus terus mencoba berbagai kegiatan positif sampai menemukan aktivitas yang cocok untuk merilis emosi negatif tersebut.

    1. Gerakkan tubuh
      Beberapa orang akan merasa lega dengan berolahraga secara teratur. Anda dapat mencoba berjalan-jalan atau jogging di sekitar rumah atau melakukan yoga, untuk membantu meredam emosi negatif.

    Banyak penelitian membuktikan kalau rutin melakukan yoga dapat menjadi langkah untuk meredakan kondisi emosional seperti depresi dan kecemasan.

    1. Melakukan meditasi
      Ada berbagai penelitian yang menyatakan bahwa meditasi mindfulness bisa menjadi pengobatan untuk gangguan makan berlebihan dan makan emosional.

    Anda dapat melakukan meditasi hanya dengan duduk di tempat yang tenang, kemudian fokus pada napas yang masuk dan keluar dari hidung Anda.

  • Tips Jitu Atasi Stres

    Tips Jitu Atasi Stres

    TIKTAK.ID – Stres merupakan bagian alami dari tubuh yang tidak dapat kita hindari. Psikolog Adam Borland mengatakan stres adalah respons tubuh terhadap tantangan atau tuntutan.

    Setiap orang tentu pernah mengalami stres yang bisa dipicu oleh berbagai peristiwa. Mulai dari kerepotan kecil sehari-hari sampai perubahan besar seperti perceraian atau kehilangan pekerjaan.

    Respons stres sendiri mencakup sejumlah komponen fisik. Di antaranya peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, pikiran dan keyakinan pribadi tentang peristiwa stres, serta emosi, termasuk ketakutan dan kemarahan.

    “Walau kita sering menganggapnya negatif, tapi stres juga bisa datang dari perubahan positif dalam hidup Anda. Misalnya mendapatkan promosi di tempat kerja atau memiliki bayi baru,” ungkap Borland.

    Stres memang punya manfaat penting, yaitu memungkinkan kita merespons ancaman dengan cepat dan menghindari bahaya. Namun paparan stres dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, atau peningkatan masalah kesehatan fisik.

    “Sebagian besar penelitian menyebut peningkatan tingkat stres mengganggu kemampuan Anda untuk menangani penyakit fisik,” terang Borland.

    Meski stres tidak bisa dihindari, tapi Anda tetap bisa menanganinya dengan beberapa cara:

    1. Mengonsumsi makanan sehat
      Sejumlah orang mencoba mengurangi stres dengan minum alkohol atau makan terlalu banyak. Hal itu mungkin tampak membantu pada saat ini, namun sebetulnya bisa menambah stres dalam jangka panjang. Kafein juga akan memperparah efek stres. Sebaiknya, Anda memilih makanan sehat karena juga bisa membantu memerangi stres.
    2. Berolahraga secara teratur
      Olahraga tidak hanya memiliki manfaat kesehatan fisik, namun juga telah terbukti menjadi pereda stres yang kuat. Anda dapat mencoba latihan aerobik atau aktivitas gerakan seperti yoga atau Tai Chi. Latihan aerobik terbukti mampu melepaskan endorfin —zat alami yang membantu Anda merasa lebih baik dan mempertahankan sikap positif.
    3. Berhenti merokok
      Banyak orang merkok untuk meredakan stres, padahal nikotin dalam rokok dapat memberikan lebih banyak stresor pada tubuh dan mengurangi aliran darah. Merokok juga akan memperburuk rasa sakit kronis. Artinya, bila Anda mengalami ketegangan dan nyeri tubuh yang berkepanjangan, merokok tidak akan membantu.
    4. Pelajari dan praktikkan teknik relaksasi
      Anda perlu meluangkan waktu untuk bersantai setiap hari, supaya membantu mengelola stres dan melindungi tubuh dari efek stres. Anda bisa memilih dari berbagai teknik, misalnya pernapasan dalam, imajinasi terpandu, relaksasi otot progresif, dan meditasi kesadaran. Ada banyak aplikasi online dan smartphone yang memberikan panduan tentang teknik ini.
  • Konsumsi Makanan ini untuk Hilangkan Stres

    Konsumsi Makanan ini untuk Hilangkan Stres

    TIKTAK.ID – Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan stres. Di antaranya latihan menenangkan pikiran, rutin olahraga, tidur teratur, dan mengonsumsi makanan tertentu. Cleveland Clinic menyatakan sejumlah makanan bisa menjadi obat stres alami karena membantu mengontrol kadar hormon kortisol di dalam tubuh.

    Hormon kortisol sendiri merupakan hormon yang memiliki fungsi utama mengontrol stres. Hormon tersebut juga mengatur siklus tidur, peradangan, gula darah, tekanan darah, dan metabolisme karbohidrat hingga protein.

    Seperti dilansir Kompas.com, berikut ini beberapa makanan yang bisa membantu menghilangkan stres.

    Daging sapi minim lemak, ayam tanpa kulit, dan telur
    Makanan jenis ini kaya akan vitamin B, sehingga dapat membantu metabolisme kortisol di dalam tubuh.

    Ikan kembung, teri, dan salmon
    Makanan di atas banyak mengandung asam lemak omega 3, yang dapat membantu mengurangi peradangan biang stres.

    Alpukat, pisang, brokoli, bayam, dan kacang-kacangan
    Jenis makanan di atas banyak mengandung magnesium. Zat gizi tersebut pun akan membantu mengurangi peradangan, memetabolisme kortisol, serta membantu menenangkan tubuh dan pikiran.

    Buah, sayur, nasi merah, dan oatmeal
    LiveStrong menyebut makanan di atas banyak mengandung serat, sehingga bisa membantu mengontrol kadar kortisol dan gula darah.

    Yogurt, kimchi, kefir, dan kombucha
    Makanan fermentasi di atas diketahui mengandung banyak probiotik yang mampu menyeimbangkan gula darah dan membantu menghilangkan stres.

    Selain mengonsumsi makanan di atas, Anda juga perlu menghindari makan makanan tertentu karena bisa memicu stres.

    Berikut ini sejumlah makanan yang harus dihindari saat stres:

    • Alkohol
    • Kopi, teh, soda, atau minuman berkafein
    • Makanan yang mengandung banyak gula
    • Kue, kue kering, dan segala jenis hidangan penutup
    • Segala jenis makanan gorengan

    Lebih lanjut, bila Anda sedang mengalami stres dan banyak tekanan, pastikan menjaga pola makan sehat. Upayakan untuk makan dengan jadwal teratur, supaya kadar gula darah bisa lebih terkontrol, dan hormon stres di dalam tubuh tidak ikut melonjak.

    Tidak hanya itu, jangan melewatkan makan malam lantaran bisa membuat tingkat stres meningkat. Setelah itu, imbangi pula dengan rutin olahraga, cukup tidur, dan mengelola penyakit kronis seperti diabetes hingga tekanan darah tingi.

  • Kenali Gejala Depresi yang Sering Tidak Disadari

    Kenali Gejala Depresi yang Sering Tidak Disadari

    TIKTAK.ID – Sejumlah orang yang mengalami depresi mungkin mencoba menyembunyikan tanda-tanda dari orang lain, atau bisa jadi tidak menyadari bahwa mereka mengalami depresi. Walaupun gejala khas depresi, seperti kesedihan atau keputusasaan mudah dikenali, tapi ada pula gejala yang mungkin kurang terlihat.

    Seperti dikutip Kompas.com dari Medical News Today, berikut ini beberapa kemungkinan tanda-tanda depresi yang tersembunyi. Meski begitu, sejumlah tanda-tanda ini juga bisa menunjukkan masalah medis lainnya. Untuk itu, sebaiknya konsultasikan ke dokter atau praktisi kesehatan mental jika mempunyai beberapa tanda berikut.

    1. Perubahan nafsu makan
      Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit bisa menjadi salah satu tanda adanya depresi. Ada orang beralih ke makanan untuk kenyamanan, tapi ada juga yang kehilangan nafsu makan atau makan lebih sedikit karena suasana hati yang buruk.

    Perubahan asupan makanan tersebut bisa membuat seseorang mulai menambah atau menurunkan berat badan. Imbasnya, hal itu juga dapat memperburuk depresi karena bisa memengaruhi harga diri seseorang.

    1. Perubahan kebiasaan tidur
      Kurang tidur disebut mampu menyebabkan depresi, dan depresi akan membuat lebih sulit untuk tidur.

    Berdasarkan hasil riset, kurang tidur kronis dapat menyebabkan depresi. Hal itu mungkin karena adanya perubahan neurokimia di otak. Selain itu, tidur terlalu banyak juga bisa menjadi tanda seseorang mungkin mengalami depresi.

    1. Kelelahan
      Merasa sangat lelah merupakan salah satu gejala depresi yang sangat umum. Menurut penelitian, lebih dari 90 persen orang dengan depresi mengalami kelelahan. Meski setiap orang merasa lelah dari waktu ke waktu, tapi orang yang mengalami kelelahan yang parah atau terus-menerus –terlebih bila disertai gejala lain– mungkin tengah mengidap depresi tersembunyi.
    2. Kebahagiaan yang dipaksakan
      Depresi tersembunyi disebut juga dengan istilah sebagai “depresi tersenyum”. Pasalnya, orang yang menyembunyikan gejalanya mungkin akan memasang wajah bahagia ketika sedang bersama orang lain.

    Akan tetapi, sulit untuk mempertahankan kebahagiaan yang dipaksakan ini. Topeng itu pun bisa terpeleset dan seseorang mungkin menunjukkan tanda-tanda kesedihan, keputusasaan, atau kesepian.

    1. Optimisme berkurang
      Orang yang mengidap depresi mungkin juga lebih pesimis. Studi menyebut mereka yang mengalami gangguan depresi mayor acap kali mempunyai pandangan yang lebih negatif soal masa depan. Menjadi lebih realistis atau pesimis ketimbang yang lain, mungkin menjadi salah satu tanda depresi. Khususnya jika orang itu memiliki kemungkinan gejala depresi lainnya.
  • Kenali Penyebab dan Tanda Emotional Eating

    Kenali Penyebab dan Tanda Emotional Eating

    TIKTAK.ID – Sejumlah orang kerap melakukan emotional eating ketika sedang merasa sedih, stres, atau kesepian. Emotional eating atau makan emosional sendiri merupakan mekanisme koping yang sangat normal dalam menanggapi perasaan yang kuat.

    Psikolog Susan Albers mengatakan bahwa emotional eating adalah makan yang bertujuan mengalihkan stres. Dia menjelaskan, saat sedang stres, tubuh mulai memproduksi hormon kortisol yang membuat kita merasa khawatir atau cemas.

    “Kortisol itulah yang membuat kita ingin makan makanan manis, berlemak, atau asin,” ujar Dr. Albers, seperti dilansir Kompas.com.

    Padahal emotional eating berpotensi memicu pertambahan berat badan yang juga membuat kita rentan mengalami berbagai penyakit kronis. Untuk itu, kita perlu mengetahui berbagai penyebab emotional eating. Berikut ini di antaranya:

    1. Kecemasan
      Kecemasan menjadi pemicu siginifikan emotional eating.
      “Ketika sedang cemas, orang-orang akan merasakan emosi yang begitu hebat dan kuat, sehingga tubuh akan stres dan memicu keinginan makan,” tutur Albers.
    2. Tekanan situasional
      Emotional eating biasanya dapat timbul dari tekanan situasional. Contohnya pandemi Covid-19 yang mengganggu rutinitas dan menyebabkan kita tidak bisa bepergian, sehingga merasa bosan. Beberapa orang mengalihkan rasa bosan tersebut dengan makan.
    3. Diet ketat
      Diet ketat acap kali menimbulkan makan emosional. Hal itu karena mencoba mengurangi hal-hal yang tidak sehat sering kali membuat Anda membatasi porsi makan.

    “Pembatasan makan dapat menjadi salah satu pemicu terbesar makan emosional,” ungkap Albers.

    Tanda seseorang mengalami emotional eating
    Terdapat sejumlah tanda yang dapat menunjukan bahwa seseorang mengalami emotional eating. Berikut tanda-tanda tersebut:

    1. Keinginan yang tiba-tiba dan mendesak
      Emotional eating biasanya muncul secara tiba-tiba dan membuat Anda menginginkan makanan tertentu secara mendadak.
    2. Makan secara berlebihan
      Makan secara berlebihan merupakan salah satu ciri lain dari makan emosional. Tidak peduli berapa banyak yang kita makan, kita tetap merasa lapar dan terus makan.
    3. Malu atau bersalah
      Merasakan tekanan emosional, seperti rasa malu atau bersalah atas kebiasaan makan Anda, menjadi salah satu tanda emotional eating.