Tag: Stres

  • Tips Cegah Burnout Saat Kerja dari Rumah

    Tips Cegah Burnout Saat Kerja dari Rumah

    TIKTAK.ID – Selama pandemi Covid-19, sejumlah perusahaan telah menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH), demi mengurangi jumlah penularan virus Corona. Imbasnya, pekerja cenderung sulit membagi batasan antara jam kerja dan jam pribadi.

    Kondisi itu pun mengakibatkan seseorang lebih rentan merasa kewalahan dengan tanggung jawab yang dimiliki. Tidak jarang hal itu membuat pekerja stres bahkan mengalami burnout.

    Burnout sendiri merupakan kondisi stres berat yang dipicu pekerjaan.

    Dalam webinar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bertajuk “WFH = Kerja 24/7?” pada Sabtu (4/9/21), Psikolog Industri, Inaulia Sekar mengatakan masalah di atas sebenarnya bisa ditanggulangi dengan mengatur waktu lebih baik lagi.

    “Masih banyak yang menganggap manajemen waktu bukan sesuatu yang penting, padahal sangat penting,” ujar Inaulia, seperti dilansir Kompas.com.

    “Kok tiba-tiba hari ini sudah Senin, sudah Jumat aja, dan sudah mau ganti tahun? Waktu berganti dengan cepat,” imbuhnya.

    Umumnya, WFH bisa membuat orang merasa seperti tidak punya waktu untuk diri sendiri (me time), jadwal pertemuan virtual dengan Zoom yang tidak habis-habis, dan tugas atau tanggung jawab yang terlalu banyak.

    Hal itu dapat mengakibatkan seseorang mengalami kelelahan yang berkepanjangan. Pekerja juga rentan lelah secara fisik, prokrastinasi, sulit mengendalikan emosi, kreativitas menurun, depresi, dan demotivasi.

    Berikut ini sejumlah tips manajemen waktu yang dapat dilakukan agar hari menjadi lebih efektif.

    Membuat Skala Prioritas
    Sebelum memulai hari, sebaiknya tentukan terlebih dahulu target yang ingin dicapai. Kemudian tentukan skala prioritas hal-hal yang ingin dilakukan.

    Anda juga bisa mengurutkan hal-hal yang perlu dilakukan dari tingkat yang paling penting sampai tidak penting. Setelah itu, segera lakukan, jadwalkan, delegasi, dan hindari hal-hal yang bisa menimbulkan distraksi lebih.

    Membuat Time Log dan Time Boxing
    Anda bisa membuat data aktivitas selama satu minggu dan melihat estimasi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Selanjutnya evaluasi kualitas manajemen waktu di akhir hari.

    Untuk time boxing sendiri, pastikan waktu telah digunakan dengan efektif dan tidak ada aktivitas yang terlewat.

    Membuat Ritual Pagi
    Hari yang baik akan dimulai dengan pagi atau awal yang baik pula. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya mencoba berolahraga, memasak, mendengarkan musik, atau hal-hal lain yang disukai sebelum memulai hari.

    Mengoptimalkan Prime Time
    Setiap orang mempunyai waktu prima dalam menjalani hari. Untuk itu, cobalah mengenali diri sendiri lebih dalam dengan mencari tahu kapan tubuh kita lebih optimal dalam bekerja. Bisa pagi atau malam hari, dan sesuaikan dengan kapasitas tubuh.

    Membuat Jadwal Beragam
    Untuk menghindari rasa jenuh atas rutinitas yang berulang, Anda dapat menyusun jadwal yang berbeda-beda. Sisipkan pula waktu rehat.

    Realistis
    Anda perlu mengingat bahwa ada banyak hal di luar kontrol kita yang bisa menghancurkan ekspektasi. Oleh karenanya, penting untuk tetap realistis dalam mengatur waktu keseharian.

  • Ketahui Jenis Meditasi untuk Pemula

    Ketahui Jenis Meditasi untuk Pemula

    TIKTAK.ID – Riset menyebut meditasi bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Tidak hanya mengusir stres, meditasi juga terbukti dapat menjaga kesehatan pencernaan, jantung, meningkatkan konsentrasi, dan regulasi emosi.

    Umumnya, orang menganggap praktik meditasi dilakukan dengan memejamkan mata, duduk bersila, dan menangkupkan tangan. Padahal, meditasi memiliki jenis yang beragam.

    Seperti dilansir Kompas.com, berikut ini beberapa jenis meditasi yang cocok untuk pemula.

    1. Meditasi mindfulness
      Meditasi jenis ini menggabungkan konsentrasi dan kesadaran. Meditasi mindfulness akan mengajarkan fokus ke momen saat ini, bukan ke masa lalu atau masa depan. Ketika sedang melakukan meditasi mindfulness, maka kamu harus memusatkan perhatian pada keadaan di sekitarmu.

    Sebaiknya lakukan meditasi ini secara rutin karena memiliki banyak manfaat. Menurut peneliti, meditasi ini mampu mengurangi depresi, kecemasan, dan stres.

    1. Meditasi fokus
      Bila kamu memiliki masalah dalam mempertahankan fokus, maka dapat melatihnya dengan melakukan meditasi fokus. Meditasi jenis ini melibatkan panca inderamu untuk tetap berkonsentrasi.

    Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk bermeditasi fokus, contohnya memfokuskan pikiran pada irama napas atau suara jam yang berdenting.

    1. Meditasi visual
      Meditasi jenis ini memanfaatkan imajinasi akan hal-hal yang menyenangkan. Jika kamu termasuk orang yang selalu berimajinasi, mungkin dapat melakukan meditasi visual dengan baik.

    Namun sebelum memulai meditasi visual, sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu hal-hal yang membahagiakan dirimu. Setelah itu, kamu dapat memejamkan mata dan membayangkannya. Biarkan perasaan bahagia yang kamu alami itu meresap hingga ke alam bawah sadar.

    1. Meditasi spiritual
      Jenis meditasi spiritual cocok bagi kamu yang ingin mendekatkan diri dengan Tuhan dan alam semesta. Dengan melakukan meditasi spiritual, kamu bisa merenungkan hidup dan hal-hal yang terjadi di sekitarmu.

    Kamu pun bisa melakukan meditasi ini dengan cara mengucapkan doa atau pujian yang sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Jangan lupa untuk tetap tenang, karena dalam meditasi spiritual, keheningan merupakan hal yang paling penting.

    1. Meditasi cinta kasih
      Meditasi cinta kasih atau yang biasa disebut dengan “meditasi metta”, bertujuan meningkatkan perasaan cinta dan kasih sayang pada diri kita.

    Hal yang paling penting dalam meditasi ini yaitu kata-kata positif tentang cinta, seperti, “aku mencintai keluarga dan teman-temanku. Aku harap semua orang di dunia juga dapat merasakan cinta yang sama”.

  • Benarkah Stres Dapat Turunkan atau Justru Naikkan Berat Badan?

    Benarkah Stres Dapat Turunkan atau Justru Naikkan Berat Badan?

    TIKTAK.ID – Bagi sejumlah orang, stres bisa berdampak langsung pada berat badan. Healthline menyebut kemungkinannya ada dua, yaitu seseorang mengalami penurunan berat badan atau penambahan berat badan.

    Pada beberapa kasus, stres bisa membuat seseorang melewatkan makan dan tidak memiliki selera makan sama sekali. Kemudian stres juga dapat membuat seseorang memilih makanan yang buruk.

    Biasanya, perubahan tersebut hanya bersifat sementara. Berat badan pun dapat kembali seperti normal jika stres telah berlalu.

    Stres sendiri mampu menyebabkan lebih dari sekadar penurunan berat badan yang tidak terduga. Terdapat sejumlah gejala saat seseorang mengalami kondisi itu. Di antaranya sakit kepala, gangguan pencernaan, sakit dan nyeri, otot tegang, perubahan suasana hati, kelelahan, kesulitan jatuh atau tetap tertidur, dan lainnya.

    Lebih lanjut, ketika seseorang sedang stres, maka ia mungkin terlibat dalam perilaku yang berbeda dari biasanya. Contohnya bekerja saat makan siang atau begadang untuk memenuhi tenggat yang penting. Gangguan itu pun dapat memperburuk reaksi internal tubuh terhadap stres.

    Seperti dilansir Kompas.com, berikut ini sejumlah penyebab penurunan berat badan akibat stres.

    1. Respons seseorang terhadap stres akan mempercepat metabolisme
      Jika seseorang mengalami stres, maka tubuhnya masuk ke mode saat ia harus memilih untuk melawan atau lari. Mekanisme fisiologis tersebut juga dikenal sebagai respons stres akut yang bisa memberi tahu tubuh untuk merespons ancaman yang dirasakan.

    Setelah itu, tubuh mempersiapkan diri untuk melepaskan hormon, seperti adrenalin dan kortisol.

    Adrenalis berfungai mempersiapkan tubuh untuk aktivitas berat, namun juga meminimalkan keinginan untuk makan.

    Sedangkan kortisol bertugas memberi sinyal kepada tubuh untuk menekan sementara fungsi-fungsi yang tidak penting selama stres. Termasuk respons sistem pencernaan, kekebalan, dan reproduksi.

    1. Hiperstimulasi berpotensi menyebabkan gangguan gastrointestinal
      Tubuh dapat memperlambat pencernaan, sehingga hanya fokus pada cara merespons stres. Kondisi tersebut menimbulkan ketidaknyamanan gastrointestinal, seperti sakit perut, maag, diare, dan sembelit.

    Stres kronis juga akan memperkuat gejala-gejala tersebut dan menyebabkan kondisi mendasar lainnya, seperti sindrom iritasi usus besar.

    Perubahan pada sistem pencernaan itu yang menyebabkan seseorang makan lebih sedikit sehingga mengalami penurunan berat badan.

  • Kenali Gejala Stres pada Anak

    Kenali Gejala Stres pada Anak

    TIKTAK.ID – Kondisi stres ternyata tidak hanya dialami orang dewasa saja, namun anak-anak juga bisa mengalaminya. Sama seperti orang dewasa, stres pada anak bisa berakibat fatal.

    Data Urban Child Institute mengungkapkan bahwa stres pada anak dapat memicu gangguan perkembangan perilaku dan emosional. Anak-anak yang mengalami stres pun rentan mengalami berbagai konsekuensi kesehatan di kemudian hari. Termasuk tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, obesitas, dan diabetes.

    Memang tidak mudah bagi orang tua untuk mengenali tanda stres pada anak. Namun perubahan perilaku jangka pendek, contohnya perubahan suasana hati, akting, perubahan pola tidur, atau mengompol, bisa menjadi indikasi.

    Jika mengalami stres, anak juga bisa merasakan dampak fisik, seperti sakit perut dan sakit kepala. Kemudian anak-anak yang mengalami stres juga dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi atau menyelesaikan tugas sekolah. Bahkan, ada pula anak-anak yang menjadi penyendiri atau menghabiskan banyak waktu sendirian.

    Pada balita sendiri, stres dapat ditandai dengan munculnya kebiasaan baru, seperti mengisap jempol, memutar rambut, atau mengupil.

    Selain itu, anak yang mengalami stres juga mungkin bereaksi berlebihan terhadap masalah kecil, mengalami mimpi buruk, menjadi melekat, bahkan bisa juga mengalami perubahan drastis dalam prestasi akademik.

    Cara mengatasi stres pada anak
    Untuk mengatasi stres pada anak, maka orang tua perlu memastikan bahwa si kecil telah memperoleh nutrisi yang baik dan istirahat yang cukup. Orang tua pun harus berusaha meluangkan waktu untuk menemani anak-anaknya setiap hari.

    Namun perlu diingat, orang tua sebaiknya tidak memaksa anak untuk menceritakan perasaannya. Pasalnya, terkadang anak-anak akan merasa lebih baik ketika orang tua menghabiskan waktu bersama mereka, apalagi dalam aktivitas yang menyenangkan.

    Orang tua bisa membantu anak mengatasi stres dengan membicarakan apa yang mungkin menjadi penyebabnya. Setelah itu, baru temukan solusi bersama. Contohnya, dengan cara mengurangi aktivitas usai sekolah, menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara dengan orang tua atau guru, mengembangkan program olahraga, atau membuat jurnal.

    Tidak hanya itu, orang tua pun dapat membantu anak dengan mengantisipasi situasi yang berpotensi membuat stres, serta mempersiapkan anak untuk menghadapi kondisi tersebut.

  • Tak Seperti yang Dibayangkan, Atasi Stres itu Ternyata Gampang

    Tak Seperti yang Dibayangkan, Atasi Stres itu Ternyata Gampang

    TIKTAK.ID – Stres pasti pernah dirasakan oleh siapa saja. Anda pernah merasa mudah marah, gelisah, frustrasi, kesepian, sulit menenangkan pikiran, kerap berpikir negatif, atau mulai kecanduan alkohol? Jika demikian, bisa jadi Anda mengalami stres dan Anda harus segera mengatasi kondisi ini.

    Stres adalah hal normal yang pernah dialami oleh setiap orang. Stres yang normal bisa memberikan dampak positif, misalnya membantu Anda bekerja lebih cepat ketika sedang mengejar masa tenggat. Namun hati-hati, kondisi stres bisa berdampak negatif jika sering terjadi dan berkepanjangan.

    Dampak Stres Terhadap Kesehatan
    Stres yang berkepanjangan bisa memicu Anda terkena penyakit. Stres berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, namun juga kesehatan secara umum. Mungkin Anda bertanya-tanya, “Kenapa stres bisa menyebabkan penyakit?” Jawabannya, stres bukan hanya sekadar perasaan. Kondisi stres akan memicu beberapa reaksi, seperti tekanan darah meningkat, pembuluh darah menyempit, dan Anda pun akan bernapas lebih cepat. Hal ini disebabkan tubuh melepas hormon kortisol dan adrenalin yang membuat kerja jantung menjadi lebih cepat. Hormon tersebut juga mampu meluapkan energi secara percuma sehingga Anda merasa mudah lelah.

    Sistem kekebalan seseorang yang sedang stres juga akan menurun, sehingga menjadikan tubuh sulit melawan penyakit. Hasilnya, Anda akan lebih mudah terkena penyakit. Saat Anda sedang menderita penyakit, stres mungkin bisa memperparah kondisi Anda.

    Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa menyerang Anda jika mengalami stres berkepanjangan:
    Sakit kepala.
    Diabetes.
    Tekanan darah tinggi.
    Gangguan tidur.
    Stroke.
    Obesitas.
    Asma.
    Depresi.
    Penuaan dini.
    Mudah terinfeksi.
    Disfungsi seksual.
    Penyakit jantung.
    Asam lambung.
    Penyakit Alzheimer.

    Oleh karena itu, tidak ada lagi alasan untuk menimbun stres.

    Lakukan Cara-cara ini untuk Mengendalikan Stres
    Langkah pertama mengatasi stres adalah dengan mengetahui apa yang menyebabkan stres, dalam hal ini Anda sendiri yang mengetahuinya. Setelah itu, tuliskan apa saja pemicu stres tersebut sehingga Anda dapat mengantisipasi langkah apa saja yang perlu Anda lakukan untuk mencegah atau melawan stres.

    Langkah selanjutnya adalah melakukan hal-hal yang dapat memberikan relaksasi untuk tubuh dan pikiran Anda, seperti:

    • Mengeluarkan semua unek-unek
      Memendam perasaan, terutama perasaan yang mengganggu Anda, bisa membuat Anda stres. Lebih baik utarakan semuanya agar Anda bisa melepas beban Anda. Utarakan semua yang ada di benak dengan menulis buku harian atau langsung berbicara kepada orang yang bersangkutan, orang yang Anda percaya, atau psikolog. Percayalah, setelah mengeluarkan semua unek-unek itu, perasaan Anda pasti jauh lebih baik.
    • Olahraga
      Selain membuat tubuh sehat, olahraga juga bisa meredakan stres. Satu cara yang sederhana dapat berupa berjalan kaki atau bersepeda mengitari komplek rumah. Anda juga bisa mencoba olahraga yang intensitasnya lebih tinggi, misalnya kickboxing atau Muay Thai.
    • Meditasi
      Meditasi bisa membantu Anda menenangkan pikiran. Anda bisa mencoba olahraga seperti yoga yang juga mengajarkan cara bermeditasi.
    • Jalani hobi Anda
      Coba pikirkan apa saja kegiatan yang disukai? Apakah belanja, jalan-jalan di mal, karaoke, nonton film, berkebun, memasak, atau pergi ke taman bermain? Anda bisa melakukan apa saja yang bisa membuat tubuh dan pikiran menjadi rileks, namun kegiatan itu harus positif agar tidak menimbulkan masalah baru.
    • Jalani hidup pada masa sekarang
      Anda tidak perlu berkutat pada kehidupan masa lalu, terutama jika hal itu membuat Anda sedih. Hiduplah di masa sekarang. Lupakan pula ekspektasi negatif mengenai kehidupan di masa depan. Biarlah hidup mengalir apa adanya. Percayalah, jika Anda menjalani masa sekarang dengan bahagia dan positif, maka itu akan berdampak pula kepada kehidupan masa depan Anda.
    • Jaga diri Anda
      Tidur yang cukup dan senantiasa mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Hindari merokok, mengonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.

    Selain berbagai cara di atas, Anda juga bisa mencoba teknik pengobatan alternatif reiki untuk mengatasi stres.

    Setiap orang memiliki cara melawan stres yang unik dan berbeda-beda. Cobalah atasi stres dengan cara-cara di atas. Jika Anda kesulitan mencoba semuanya secara sekaligus, pilih satu atau dua cara yang menurut Anda paling nyaman dilakukan. Lakukan hal tersebut hingga menjadi kebiasaan. Jika tingkat stres berada di luar kemampuan Anda untuk mengendalikannya, temui dokter atau lakukan konseling.

    Kapan Waktu yang Tepat untuk Mencari Bantuan Medis?
    Stres akan selalu ada karena merupakan bagian dari hidup. Menghindari stres bisa dilakukan dengan cara mengelola stres dengan baik atau setidaknya jangan biarkan stres berlebihan. Kenali gejala stres dan pahami berbagai konsekuensi stres jangka panjang bagi kesehatan tubuh dan jiwa Anda.

    Stres berlebihan atau stres jangka panjang umumnya ditandai dengan berkembangnya berbagai gangguan kesehatan yang cukup serius, seperti depresi, gangguan makan, obesitas, disfungsi seksual, rambut rontok, dan gangguan kepribadian.

    Jika Anda atau kerabat mengalami stres jangka panjang, segera temui dokter untuk berkonsultasi mengenai apa yang dirasakan dan dialami. Karena stres berat dan berkepanjangan akan merusak kesehatan secara umum. Jika diperlukan, dokter akan merujuk Anda pada seorang psikolog atau psikiater yang akan membantu Anda menangani stres.

  • Kenali 3 Efek Negatif Stres pada Wajah

    Kenali 3 Efek Negatif Stres pada Wajah

    TIKTAK.ID – Jika kondisi stres tidak segera diatasi, maka dapat berdampak serius pada kesehatan Anda. Stres bisa meningkatkan risiko Anda terkena depresi, dan berdampak negatif pada sistem kekebalan tubuh, termasuk meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskular.

    Tidak hanya itu, stres juga bisa meninggalkan bekas di wajah Anda. Umumnya, stres kronis dapat terlihat di wajah Anda dengan dua cara. Pertama, hormon yang dilepaskan tubuh pada saat Anda merasa stres akan menyebabkan perubahan fisiologis yang berdampak negatif pada kulit Anda. Kedua, merasa stres berpotensi menyebabkan kebiasaan buruk seperti menggertakkan gigi atau menggigit bibir.

    Seperti dilansir Kompas.com, berikut ini beberapa efek stres pada wajah yang dapat terjadi:

    1. Timbul Jerawat
      Mengutip Health Line, ketika Anda sedang merasa stres, maka tubuh akan memproduksi lebih banyak hormon kortisol. Produksi hormon kortisol ini menyebabkan bagian otak yang dikenal sebagai hipotalamus menghasilkan hormon yang disebut hormon pelepas kortikotropin atau Corticotrophin-Releasing Hormone (CRH).

    Kemudian CRH merangsang pelepasan minyak dari kelenjar di sekitar folikel rambut Anda. Produksi minyak yang berlebihan itu dapat menyumbat pori-pori, sehingga menyebabkan timbulnya jerawat.

    1. Kantung mata
      Kantung di bawah mata ditandai dengan adanya bengkak atau benjolan di bawah kelopak mata. Kantung mata ini pun menjadi lebih umum seiring bertambahnya usia, akibat otot pendukung di sekitar mata Anda melemah.

    Selain itu, kulit kendur yang disebabkan hilangnya elastisitas juga dapat menyebabkan kantung mata.

    Studi menyebut stres yang disebabkan oleh kurang tidur dapat meningkatkan tanda-tanda penuaan, seperti garis halus, elastisitas berkurang, dan pigmentasi yang tidak merata. Hilangnya elastisitas kulit tersebut akan berkontribusi pada pembentukan kantung mata.

    1. Kulit wajah kering
      Stratum korneum merupakan lapisan luar kulit yang mengandung protein dan lipid. Lapisan itu memainkan peran penting dalam menjaga sel kulit tetap terhidrasi, serta bertindak sebagai penghalang yang melindungi kulit di bawahnya.

    Oleh sebab itu, jika stratum korneum Anda tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka kulit Anda bisa menjadi kering dan gatal.

    Berdasarkan studi pada 2014 yang diterbitkan dalam Inflammation & Allergy Drug Targets, beberapa penelitian yang dilakukan pada tikus mengungkapkan stres dapat merusak fungsi penghalang stratum korneum dan dapat memengaruhi retensi air kulit secara negatif.

    Selain itu, beberapa penelitian pada manusia telah menemukan bahwa stres akibat wawancara dan stres dari “gangguan perkawinan” bisa memperlambat kemampuan pelindung kulit untuk menyembuhkan dirinya sendiri juga.

  • Cara Mudah Kelola Stres Demi Kesehatan Mental

    Cara Mudah Kelola Stres Demi Kesehatan Mental

    TIKTAK.ID – Stres merupakan salah satu pengalaman hidup manusia yang tak bisa dihindari. Kondisi ini dapat dipicu oleh pengalaman manusia dari lingkungan terdekatnya seperti tempat kerja, keluarga, atau media sosial.

    Meski pemicu stres kadang tampak sepele, namun bisa menghasilkan efek negatif berlebihan pada tubuh. Terlebih jika stres telah menumpuk sekian lama hingga kronis. Stres kronis pun menyebabkan Anda merasa tidak nyaman, cemas, sakit, atau menderita.

    Oleh sebab itu, Anda sebaiknya mengetahui cara mengelola stres agar dapat menjalankan kehidupan yang sehat.

    Seperti dilansir Kompas.com, berikut ini beberapa cara yang bisa Anda terapkan untuk mendapatkan ketenangan sekaligus mengelola stres.
    Membuat daftar hal-hal kecil yang Anda syukuri
    Terkadang, kita mungkin merasa sulit bersyukur. Dengan menunjukkan rasa terima kasih atas hal-hal kecil yang bisa Anda syukuri atau nikmati, maka dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman.

    Dr. Gail Saltz, seorang ahli psikiatri dari Rumah Sakit Presbyterian, New York, menyarankan untuk membuat daftar hal-hal kecil yang bisa Anda syukuri atau nikmati.

    Anda juga bisa mencoba membuat catatan harian yang berisi daftar hal-hal yang Anda syukuri atau nikmati di hari itu.

    Dengan melakukan kebiasaan ini, Anda dapat mengelola stres.

    Istirahat dan membuat tubuh rileks
    Umumnya, stres memberi efek langsung pada tubuh Anda. Cobalah perhatikan sejauh mana stres Anda memengaruhi tubuh. Anda dapat berbaring telentang atau duduk santai, kemudian rasakan setiap bagian tubuh Anda.

    “Perhatikan area-area tubuh yang terasa kaku atau tidak nyaman, namun tanpa perlu berusaha memulihkan,” terang Judith Tutin, seorang psikolog dari Georgia, Amerika Serikat.

    Setelah itu, selama 1 hingga 2 menit, ambil napas dalam-dalam dan bayangkan napas itu mengalir ke area tubuh yang terasa kaku. Anda pun dapat mengulangi proses ini dan merasakan sensasinya pada tiap bagian tubuh.

    Tidak hanya itu, Anda juga bisa menjadikan meditasi sebagai alternatif metode menghilangkan stres.

    Ada juga metode lain dalam mengelola stres, yakni tidur. Menurut ahli saraf Matthew P. Walker, mereka yang kurang tidur lebih reaktif terhadap rangsangan negatif secara emosional, ketimbang mereka yang istirahat malamnya cukup.

    Bermain di alam terbuka
    Dengan menghabiskan waktu di alam terbuka, akan memiliki efek signifikan dalam menurunkan tingkat stres Anda.

    Berdasarkan penelitian dari International Journal of Enviromental Health Research, dengan menghabiskan waktu selama 20 menit di taman, maka mampu memberikan keajaiban bagi pikiran Anda.

    Sedangkan psikolog Kelly McGonigal, menyebut berhubungan dengan alam bermanfaat untuk mengelola tingkat stres. Akan tetapi, jika pergi ke taman setiap hari tidak memungkinkan, solusinya bisa dengan berjalan kaki di luar rumah dan terpapar sinar matahari pagi.

  • 5 Cara Raditya Dika Atasi Bosan dan Stres di Rumah Selama Pandemi Corona

    5 Cara Raditya Dika Atasi Bosan dan Stres di Rumah Selama Pandemi Corona

    TIKTAK.ID – Komika Raditya Dika mengatakan berdiam diri di rumah saja akibat pandemi virus Corona (Covid-19) dapat memicu bosan hingga stres.

    Bintang film “Single” dan “Hangout” itu pun berupaya untuk mengatasi stres. Hal itu ia lakukan demi tumbuh kembang buah hati serta kesehatan istrinya yang sedang hamil.

    Raditya Dika kemudian membagikan lima tips untuk menghindari stres dalam webinar peluncuran program Share The Love bersama AIA Financial, pekan ini. Dengan menjalankan tips tersebut, Raditya Dika dapat tetap produktif menulis di rumah, serta memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga.

    “Pertama, tidak perlu menyalahkan hal yang tidak bisa kita ubah. Jadi kita fokus saja pada hal penting lain yang bisa kita ubah,” ujar penulis buku “Kambing Jantan” itu, seperti dilansir Liputan6.com.

    Pasalnya, Raditya Dika mengatakan wabah Covid-19 tak bisa diubah dalam waktu singkat sendirian.

    Kedua, ia menyarankan agar tetap semangat. Menurutnya, meski tidak gampang, namun semangat mesti tetap dipupuk. Ia menyebut di tengah pandemi yang penuh ketidakpastian, semangat melanjutkan hidup tetap harus dijaga.

    Tips ketiga adalah membentuk sistem pendukung. Raditya Dika memaparkan, berdasarkan pengalamannya, support system terbaik adalah dari keluarga.

    “Kemudian tanamkan di dalam hati bahwa wabah ini pasti akan berakhir,” ucapnya.

    Dengan begitu, kata Raditya Dika, kita bisa tetap optimistis.

    Tips kelima yakni menjaga kreativitas. Ia pun mengaku hal ini tak mudah ia lakukan. Namun, rupanya bahan bakar kreativitas adalah memelihara kegelisahan atau keresahan.

    “Justru dengan adanya keresahan inilah yang melahirkan kreativitas. Karya-karya saya selalu lahir dari keresahan. Entah itu buku, film, atau materi melawak tunggal. Untuk itu, keresahan selalu saya pelihara, karena dengan begitu saya tetap produktif,” tutur Raditya Dika.

    Ia mengklaim di rumah rajin menulis materi standup comedy berbasis keresahan di tengah pandemi. Ia pun merasa optimis setelah pandemi berakhir, tulisannya akan menjadi materi kuat yang bisa dibawakan di depan audiens.

    “Jadi kalau Anda merasa resah selama pandemi, manfaatkan itu untuk melahirkan sesuatu,” jelasnya.

  • Kelelahan Akibat Stres? Coba Atasi dengan Cara ini

    Kelelahan Akibat Stres? Coba Atasi dengan Cara ini

    TIKTAK.ID – Banyak orang mengalami stres yang kemudian berdampak pada kualitas dan waktu tidur mereka. Hal ini karena orang yang mengalami stres memang lebih sulit beristirahat atau tidur dan membuat waktu istirahat mereka menjadi berkurang. Namun tak jarang juga, stres yang memicu kelelahan justru membuat mereka ingin tidur sepanjang hari.

    Seperti dilansir Huffington Post, seorang Direktur Klinis dari Pusat Gangguan Tidur universitas Michigan, Deirdre Conroy, mengatakan bahwa stres akan memengaruhi kualitas serta kontinuitas tidur.

    Baca juga: Waspadai Beberapa Masalah Kesehatan Akibat Stres

    Hal tersebut yang kemudian membuat orang yang stres akan menghabiskan waktunya untuk tidur terus. Biasanya, mereka akan tidur pulas atau berkali-kali bangun namun kemudian tidur lagi.

    Stres sendiri biasanya kerap dikaitkan dengan gejala insomnia. Hal ini karena ketika seseorang stres maka tubuhnya akan mendorong lebih banyak rangsangan kognitif di otak.

    Hal tersebut yang menjadikan seseorang sulit menenangkan diri dan memikirkan hal-hal yang menyebabkan mereka susah memejamkan mata. Penyebab stres seperti ini yang kemudian memicu kelelahan. Anak muda yang biasanya paling rentan mengalami hal seperti ini. Mereka memiliki sejumlah masalah yang tengah dipikirkan. Seperti pekerjaan, cinta, dan masa depan.

    Namun tidak perlu khawatir, kondisi stres seperti ini masih bisa diatasi dengan sejumlah solusi. Salah satunya adalah dengan mengurangi konsumsi makanan mengandung gula dan karbohidrat tinggi. Kemudian ganti minuman ringan dengan minum air putih dalam jumlah yang cukup.

    Baca juga: Psikomatik: Stres Pikiran Berdampak Sakit Fisik

    Kemudian sempatkan berolahraga, agar membuat tubuh tetap bugar dan kondisi fisik tetap terjaga.

    Selain itu, bergerak lebih aktif juga dipercaya menjadi salah satu cara yang efektif dalam mengurangi rasa kantuk.

    Tidak perlu melakukan olahraga berat dalam mengurangi stres. Cukup dengan olahraga ringan saja, seperti berjalan kaki memutari rumah. Atau bisa juga bersepeda mengelilingi kampung atau area perumahan.

    Sementara itu, ada juga cara lain dalam mengatasi faktor stres. Yakni dengan bertanya pada diri sendiri tentang apa yang sedang membebani pikiran. Bila perlu, ada baiknya juga menuliskannya di buku catatan harian.

  • Tips dari Stafsus Jokowi untuk Milenial Agar Tak Kesepian dan Stres Saat Social Distancing

    Tips dari Stafsus Jokowi untuk Milenial Agar Tak Kesepian dan Stres Saat Social Distancing

    TIKTAK.ID – Staf Khusus Presiden, Adamas Belva Syah Devara menyoroti penerapan social distancing di Indonesia khususnya bagi kaum milenial. Ia mengakui bahwa kaum milenial cukup sulit dalam menerapkan social distancing karena memiliki kebutuhan yang tinggi untuk berinteraksi dengan orang lain.

    Belva mengatakan bisa jadi kaum milenial yang menerapkan social distancing berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental, mulai dari merasa kesepian hingga depresi.

    “Tidak ada social distancing saja, generasi milenial paling terpapar masalah kesehatan jiwa. Problemnya yaitu depresi, merasa kesepian, dan lain-lain,” ujar Belva dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, seperti dilansir Kompas.com, Senin (23/3/20).

    Baca juga : Apa Benar Corona Menular Lewat Udara? Ini Penjelasannya

    Untuk itu, Belva menyarankan kaum milenial mulai mengubah pola pikir mereka. Menurutnya, kaum milenial harus berpikir bahwa tidak bertatap muka dan berinteraksi langsung dengan orang lain bukanlah sebuah persoalan yang substantif dalam kehidupan sosial.

    Ia melanjutkan, mereka harus memahami bahwa pada intinya hubungan antarpersonal itu tidak hanya berinteraksi secara fisik. Melainkan, bisa digantikan sementara dengan teknologi informasi yang kian canggih.

    Belva juga menyarankan untuk mengganti istilah social distancing dengan physical distancing, karena harus tetap berkumpul sebagai makhluk sosial. Salah satu bentuk interaksi nonfisik yang dapat dilakukan, kata Belva, yakni menggelar konferensi video dengan para sahabat.

    Baca juga : Ternyata Obesitas Bisa Menular, Para Remaja Mesti Sadar

    Ia menilai melalui cara itu, maka kaum milenial tetap dapat mencurahkan isi hati, sekadar mengobrol, dan yang paling relevan dilakukan di tengah pandemi virus Corona ini adalah saling menyemangati satu sama lain.

    “Itu penting sekali, karena ada health impact,” tutur Belva.

    Selain itu, ia mengungkapkan potensi tertinggi penularan virus Corona terjadi pada generasi milenial. Hal itu menurutnya dapat dilihat dari jumlah populasi dan karakteristiknya.

    Baca juga : Virus Corona ‘Luntur’ dengan Berjemur, Masak Sih?

    Meski begitu, Belva beranggapan generasi milenial pula yang dapat membantu memutus rantai penyebaran virus Corona di Indonesia. Ia mengklaim jika hanya fokus pada mitigasi, hal itu sangat sulit. Ia memaparkan, karena virus ini tidak menyebar sendiri, sehingga masyarakat harus mengetahui peran diri sendiri untuk menghentikan penyebarannya, yaitu dengan jaga jarak.

    Seperti telah diberitakan, jumlah pasien terjangkit virus Corona atau Covid-19 di Indonesia hingga Senin (23/3/20), sebanyak 579 orang. Dari jumlah tersebut, pasien sembuh dan diperbolehkan pulang sebanyak 30 orang, sementara jumlah pasien yang meninggal dunia sebanyak 49 orang.