
TIKTAK.ID – Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi hingga kini masih berstatus buronan KPK terkait kasus korupsi Rp46 miliar. Istri Nurhadi, Tin Zuraida, juga “menghilang” dan mangkir dari pemeriksaan di KPK.
Surat-surat panggilan dikirim KPK ke rumah Nurhadi-Tin di Jalan Hang Lekir V, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel). Surat itu tidak diterima penjaga rumah, sehingga dititipkan ke rumah Ketua RT 07 RW 06 Kelurahan Gunung, Kebayoran Baru.
“Tiga minggu yang lalu penyidik KPK datang ke saya buat menyampaikan surat panggilan dari KPK ke Ketua RT, minta didampingin mau nyampaikan surat. Diterima kebetulan ada pembantu di situ,” kata Ketua RT Toto Hardiono saat berbincang dengan detikcom di rumahnya, Selasa (18/2/20).
Setelah itu, datang lagi penyidik KPK malam-malam menyampaikan surat untuk Tin dan anaknya, Rizqi Aulia Rahmi.
“Digedor-gedor malam-malam (ke rumah Nurhadi), nggak ada. Kemudian dititipin ke saya. Saya bertanggung jawab dititipin surat,” tutur Toto.
Toto kemudian mencoba menyampaikan surat itu ke penjaga rumah Nurhadi. Tapi Toto malah dimarahi.
“Pembantu bilang ‘nggak usah terima gitu, kita kan nggak ada sangkut pautnya dengan si itu’. Akhirnya Pak Rahmat kirim surat itu kembali melalui kurir ke KPK. Nah waktu saya menyampaikan itu, kata pembantu coba saja ke Pak Rahmat, sampai sekarang belum ketemu. Suratnya masih ada,” ujar Toto lagi.
Baca juga: Megawati Jengkel: Kalau Anaknya Gak Mampu Maju di 2024, Jangan Dipaksa! Sentil Gibran Anak Jokowi?
Akhirnya surat-surat itu disimpan oleh Toto. Surat itu berwarna cokelat dengan kop Komisi Pemberantasan Korupsi berlambang burung Garuda. Salah satu surat dikirimkan ke Tin Zuraida (PNS/Staf Ahli Bidang Politik & Hukum KemenPAN-RB). Nomor surat itu: Spgt/909/DIK/01.00/23/02/2020.
MenPAN-RB saat ini dijabat politikus PDIP Tjahjo Kumolo.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










