
TIKTAK.ID – Selama 100 hari pertama dalam Kabinet Indonesia Maju era Joko Widodo-Ma’ruf Amin, ada dua kementerian yang dinilai berkinerja buruk. Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menjelaskan dua kementerian tersebut adalah Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).
Hasil tersebut diperoleh lewat survei persepsi publik yang dilakukan IPO pada 10-31 Januari 2020.
“Responden memberi pendapat tentang kinerja kementerian yang dianggap buruk selama 100 hari pertama Kabinet. Hasilnya Kemenag menempati peringkat pertama, lalu disusul Kemenkumham di peringkat kedua,” terang Dedi pada paparan diskusi bertema “100 Hari Kabinet Jokowi Ma’ruf Amin” di Gondangdia, Jakarta Pusat, Sabtu (8/2/20).
Tercatat 27,5 persen responden mengungkapkan bahwa Kemenag berkinerja buruk.
Lalu di kategori serupa, 25 persen responden mengungkapkan kinerja Kemenkumham dinilai buruk.
Di samping itu, ada tiga kementerian lain yang termasuk peringkat lima besar kinerja terburuk, yaitu Kementerian Sosial (Kemensos) yang mendapat perolehan 23,6 persen, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang mendapat perolehan 23 persen serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendapat 21 persen.
Berikutnya disusul secara berturut-turut oleh Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) mendapat 20 persen, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) dengan perolehan 17 persen, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dengan 16,5 persen.
Halaman selanjutnya…
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










