Mensesneg Ungkap Anggaran MBG 2026 Rp335 Triliun

TIKTAK.ID – Pemerintah dilaporkan sudah mengalokasikan anggaran sekitar Rp335 triliun untuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026. Hal itu diungkapkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, setelah retret Kabinet sekaligus Taklimat Awal Tahun dari Presiden Prabowo Subianto, di Padepokan Garuda Yaksa, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (6/1/26).
“2026 yang akan datang telah dialokasikan kurang lebih Rp335 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis,” ucap Prasetyo.
Kemudian Prasetyo menyampaikan pesan Prabowo, bahwa Presiden meminta Badan Gizi Nasional (BGN) agar meningkatkan prosedurnya dalam pelaksanaan program MBG. Dia menyebut Prabowo ingin program MBG dapat berjalan secara maksimal untuk para penerima manfaat yang ada di seluruh Indonesia.
Baca juga : Viral Pulau Kecil Rusak Akibat Tambang, Ini Kata Dinas ESDM Kepri
“Beliau (Prabowo) menghendaki agar disiplin prosedur itu ditingkatkan. Sebab, berdasarkan catatan dari Kepala BGN di Desember masih ada kurang lebih 15 kejadian, yang Bapak Presiden meminta semaksimal mungkin ini tak boleh lagi terjadi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan,” tutur Prasetyo.
Di sisi lain, Wakil Ketua Kadin sekaligus pengamat Program MBG, Andi Yuslim Patawari, mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program tersebut. Dia menilai risiko kesehatan dalam MBG tak hanya berasal dari bahan makanan, melainkan juga dari proses pengolahan yang belum sepenuhnya memenuhi standar.
“Monitoring itu bukan hanya pada produk makanannya, namun juga tempat dan orang yang mengolah,” ungkap Andi, mengutip RRI.
Baca juga : Soal Risiko Upaya Penghilangan Bukti Kasus Kuota Haji, Ini Respons KPK
Andi menyebut MBG adalah program berskala besar yang melibatkan ribuan dapur SPPG dan melayani jutaan penerima manfaat setiap hari. Dia menyatakan kondisi ini menuntut penerapan standar sanitasi yang ketat, mengingat makanan termasuk kategori perishable food atau pangan yang mudah rusak.
Menurut Andi, potensi kontaminasi dapat muncul dari berbagai sumber. Mulai dari lingkungan dapur, peralatan yang digunakan, hingga petugas pengolah makanan yang tidak menerapkan prosedur kebersihan dengan benar.
“Kontaminasi dapat berasal dari tubuh manusia, lingkungan, maupun peralatan yang tak steril,” terang Andi.
Baca juga : Mendikdasmen Terapkan Kurikulum Khusus bagi Murid Korban Bencana Sumatera
Oleh sebab itu, Andi mendorong adanya sertifikasi kelayakan dapur SPPG serta pelatihan khusus bagi seluruh petugas, supaya memahami prinsip higiene, sanitasi, dan penanganan pangan yang aman. Dia menegaskan, makanan yang disajikan tidak cukup hanya matang dan menarik secara visual, tapi harus terjamin keamanannya.










