
TIKTAK.ID – Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dideklarasikan di sebuah rumah makan di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, Minggu (2/8/20). Orang-orang yang hadir pun tak asing lagi, terutama bagi mereka yang terbiasa mengamati berita-berita politik.
Di antaranya terdapat Rocky Gerung, Din Syamsuddin, Refly Harun, Abdullah Hehamahua, dan Said Didu. Kemudian ada M.S. Ka’ban, Syahganda Nainggolan, Anthony Kurniawan, Rohmat Wahab, Ahmad Yani, Adhie M. Massardi, Moh. Jumhur Hidayat, Ichsanudin Noorsy, Hatta Taliwang, Marwan Batubara, Edwin Sukowati, Joko Abdurrahman, Habib Muhsin Al Atas, Tamsil Linrung, Eko Suryo Santjojo, Chusnul Mariyah, dan Sri Bintang Pamungkas.
Baca juga: Sindir Aksi Marah Jokowi, PKS: Menterinya Dablek atau Presidennya ‘Omdo’ dan Penakut!
Panitia mengatakan mereka juga mengundang mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Rachmawati Soekarnoputri, hingga ekonom Rizal Ramli. Namun ketiganya tidak hadir.
“Yang sudah kami konfirmasi dan menyatakan bersedia, ada hampir 150 [tokoh] lebih dan mereka terus menyatakan dukungan. Bahkan tidak hanya di Jakarta, melainkan hampir di seluruh Indonesia,” ujar Ketua Panitia Kerja KAMI, Ahmad Yani, seperti dilansir Tirto.id.
Baca juga: Petinggi Organ Relawan Jokowi Puji Gaya Anies Sikapi Fitnah Ike Muti
Nama-nama yang ada di balik deklarasi KAMI, bukanlah “orang baru”. Beberapa di antaranya pernah menjabat di pemerintahan. Ada juga yang merupakan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat Pilpres 2019.
Selain itu, terdapat pula tokoh yang memang sejak lama dikenal sebagai oposisi Pemerintah, siapa pun yang berkuasa, seperti Rocky Gerung. Rocky sendiri merupakan mantan dosen filsafat di Universitas Indonesia yang kerap disapa “Profesor” meski gelar terakhir yang ia peroleh hanya sarjana.
Halaman selanjutnya…
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










