
TIKTAK.ID – Anggota Komisi VIII DPR, Iskan Qolbi Lubis meminta Menteri Agama, Fachrul Razi menjaga lisannya. Iskan mengatakan khawatir pernyataan kontroversial yang kerap disampaikan Fachrul memicu pembatasan akses umrah bagi jemaah Indonesia.
“Menteri Agama, saya bilang jangan asal ngomong lagi,” ujar Iskan di Kawasan Wahid Hasyim Jakarta, dilansir Merdeka.com, Sabtu (29/2/20).
Iskan memaparkan ada sejumlah pernyataan Fachrul yang memicu polemik di masyarakat. Pernyataan itu adalah pelarangan menggunakan celana cingkrang dan cadar di lingkungan instansi pemerintah, serta menggulirkan wacana khotbah Jumat tanpa selawat.
“Ini kan kacau semuanya, jangan sampai satu omongan Menteri Agama bisa berdampak sama umrah kita,” tegas Iskan.
Iskan kemudian menyarankan agar penyelesaian masalah umrah jemaah Indonesia ditangani oleh Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Marsudi, bukan Fachrul. Ia menyebut Retno mengetahui betul konsep diplomasi antar negara.
“Tolonglah Menteri Agama itu supaya suasana ini ditenangkan, kasih dulu waktu dua tiga hari itu Saudi untuk membereskan persiapan-persiapan dia,” kata Iskan.
Tidak hanya itu, kader Partai Keadilan Sejahtera ini lantas menyinggung sikap lamban Fachrul dalam mengantisipasi penutupan akses umrah ke Arab Saudi. Padahal, beberapa pekan lalu, Iskan mengaku sudah mewanti-wanti Fachrul untuk mengambil langkah antisipasi terhadap merebaknya Corona.
“Menteri Agama bilang masih tenang, masih bisa diatasi, tiba-tiba kemarin tanggal 27 kaget,” ucap Iskan.
Halaman selanjutnya…
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.









