Tag: Abu Mahdi al-Muhandis

  • Pengadilan Irak Keluarkan Perintah Resmi Penangkapan Trump

    TIKTAK.ID – Hakim di pengadilan investigasi Baghdad mengeluarkan surat perintah penangkapan Presiden AS Donald Trump, atas pembunuhan seorang pemimpin paramiliter Irak bersama Jenderal Iran, Qassem Soleimani tahun lalu.

    Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Kepala Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak, meninggal bersama dengan Soleimani dalam sebuah serangan udara menggunakan drone AS lebih dari setahun yang lalu, pada 3 Januari 2020.

    “Setelah selesainya prosedur investigasi awal, hakim memutuskan untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Presiden Amerika Serikat yang akan turun, Donald Trump”, begitu bunyi pernyataan yang dirilis oleh Dewan Yudisial Tertinggi Irak pada Kamis (7/1/21), seperti yang dikutip CNN.

    “Prosedur penyelidikan akan terus mencari pelaku lain yang terlibat dalam pelaksanaan kejahatan ini, apakah mereka orang Irak atau orang asing”, tambah pernyataan itu.

    PMF adalah pasukan paramiliter yang terdiri dari mantan milisi yang memiliki hubungan dekat dengan Iran. Kelompok itu diakui di bawah hukum Irak pada 2016 sebagai kekuatan militer independen yang bertanggung jawab langsung kepada Perdana Menteri. Mereka ikut berjuang bersama pasukan Irak untuk memberantas ISIS.

    Seperti Irak, Iran juga mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Trump sehubungan dengan pembunuhan Soleimani, tulis kantor berita semi-resmi Fars pada Senin kemarin.

    Soleimani adalah arsitek dari kehadiran militer Iran yang berkembang di Irak, Suriah, dan Yaman sebagai pemimpin Pasukan Quds Pengawal Revolusi Iran, sebuah unit elite yang menangani operasi luar negeri Iran yang melawan kelompok teror seperti ISIS dan Al Qaeda. Soleimani oleh AS dituduh sebagai teroris asing.

    Pada jamuan penggalangan dana di Florida tak lama setelah pembunuhan itu, Trump menggambarkan operasi tersebut sebagai “sekali pukul dua nyawa.” Dia menggambarkan Soleimani sebagai “teroris terkenal” yang “seharusnya sudah ada di negaranya”, tetapi Trump tidak menggambarkan “ancaman apa yang akan dibuat Soleimani” yang memicu pembunuhan itu.

    Jaksa Agung Teheran, Ali Alqasi Mehr mengklaim Trump akan dituntut setelah masa jabatannya berakhir, seperti yang dilaporkan Fars.

    Pekan lalu, ribuan massa berkumpul di Baghdad jelang hampir tengah malam (waktu setempat) untuk upacara peringatan di lokasi di mana serangan pesawat tak berawak menewaskan Soleimani dan al-Muhandis setahun yang lalu.

    Gambar-gambar yang disiarkan oleh PMF menunjukkan kerumunan orang di area yang diterangi oleh lilin, ketika penghormatan disiarkan melalui pengeras suara dan para hadirin meneriakkan takbir, “Tuhan Maha Besar, Amerika adalah Setan Besar!”

  • Selain Diotaki AS, Analis Independen Bongkar Benang Merah Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Qassem Soleimani

    Selain Diotaki AS, Analis Independen Bongkar Benang Merah Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Qassem Soleimani

    TIKTAK.ID – Selain pengakuan langsung Washington pasca kejadian, fakta bahwa pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani diotaki Amerika Serikat, sudah banyak diungkap ke publik.

    Namun berkenaan dengan respons tegas Iran pasca serangan yang menyatakan tak mengecualikan keterlibatan Israel dalam konspirasi keji pembunuhan terhadap Komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran tersebut, pada awalnya masih belum benar-benar dipahami oleh banyak pihak.

    Hingga akhirnya muncul analisa yang disampaikan Federico Piaracinni dari The Strategic Culture Foundation, sekaligus analis independen tentang geopolitik, yang menulis di situs The Duran, Kamis (9/1/20), bahwa sebab pembunuhan Qassem Soleimani menurutnya jauh lebih pelik dari yang dibayangkan orang.

    Baca juga: 6 Fakta Di Balik Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani yang Tidak Diungkap Media

    Peristiwa itu termasuk klimaks ketegangan antara Trump dan PM Irak Adel Abdul Mahdi. Juga bahwa spektrum peristiwanya menyangkut kepentingan besar China, Saudi Arabia, dan juga Qatar. Tak terkecuali dan utamanya, duet sekutu abadi Amerika dan Israel.

    Kasusnya juga menyangkut bisnis migas Timur Tengah, pemenuhan infrastruktur dan kelistrikan di Irak, serta masa depan dolar AS sebagai alat transaksi dagang internasional.

    Kok bisa? Begini konstruksi ceritanya menurut Pieracinni.

    Kisah gelap ini sesungguhnya sebagian kecil sudah dibuka Adel Mahdi lewat serangkaian pernyataannya di televisi setelah Soleimani terbunuh, dan lebih detil lagi diungkapkannya di parlemen Irak. Meski usahanya membuka rahasia ini, dihalang-halangi AS lewat Ketua DPR Irak, Mohammad al-Halboussi, tokoh berlatar Sunni, dan punya loyalis cukup kuat. Gedung Putih menggunakan golongan ini untuk menekan Adel Abdul Mahdi.

    Baca juga: Bunuh Jenderal Soleimani, Muhammadiyah: Amerika Negara Teroris

    Lantas kenapa Abdul Mahdi yang digencet?

    Trump dan Abdul Mahdi selama berminggu-minggu ternyata terlibat pembicaraan sangat serius. Aksi demonstrasi besar di Irak akhir tahun lalu, tak lepas dari masalah ini.

    AS memang ada di balik gerakan mendelegitimasi pemerintahan Abdul Mahdi dengan isu korupsi. Persis seperti pola gerakan massa yang digunakan di Mesir 2009, Libya 2011, Maidan 2014.

    Irak di tengah gejolak ini ternyata sedang bernegosiasi dengan China terkait proyek kelistrikan.

    Dalam usaha membuka kedok hitam ini di parlemen dan kepada publik, Halboussi benar-benar berusaha mematahkannya. Tapi Mahdi berusaha keras menyuarakan usaha Amerika untuk membuat Irak kembali hancur. Bahwa Washington ingkar janji terkait proyek pemulihan infrastruktur dan kelistrikan Irak, dan meminta bagian 50 persen pendapatan sektor minyak Irak, tapi Abdul Mahdi menolaknya. Karena itulah Abdul Mahdi berpaling ke China, meneken perjanjian proyek konstruksi.

    Baca juga: BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    Halaman selanjutnya…

  • Sumpah Pembalasan Ditunaikan Iran, Usai Pangkalan AS di Irak, Kini Giliran Israel Bakal Jadi Sasaran

    Sumpah Pembalasan Ditunaikan Iran, Usai Pangkalan AS di Irak, Kini Giliran Israel Bakal Jadi Sasaran

    TIKTAK.ID – Beberapa hari terakhir pasca pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani, Abu Mahdi Al-Muhandis dan beberapa korban lain atas perintah langsung Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, para analis di seluruh dunia menyampaikan pandangan mereka yang rata-rata serupa, bahwa kecil kemungkinan Iran bakal membalas dendam kepada AS, berhubung begitu jomplangnya perbandingan kekuatan militer antar kedua negara. Apalagi setelah Trump sesumbar, negaranya siap menghancurkan 52 situs budaya Iran jika Negeri Mullah itu berani membalas dendam atas terbunuhnya Komandan Pasukan Quds dari IRGC tersebut.

    Namun ternyata analisa tersebut terbukti meleset, setelah Iran -melalui Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) pada Selasa (7/1/20) malam membombardir pangkalan militer AS di Irak dengan rudal.

    Baca juga: BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    Tak cukup sampai di situ, Iran bahkan bersumpah akan menyerang Israel setelah serangan IRGC atas pangkalan militer -yang kabarnya dijadikan AS sebelumnya, sebagai markas pengendalian serangan terhadap Qassem Soleimani cs tersebut. Ancaman itu akan diwujudkan bila Amerika Serikat (AS) membalas serangan Iran kali ini. Nantinya, serangan kepada Israel akan dilakukan oleh sekutunya, Hizbullah.

    IRGC menyampaikan ancamannya dari kantor berita Tasnim Iran dan menegaskan alasan kenapa Israel juga bakal dijadikan sasaran.

    “Kami sama sekali tidak menganggap rezim Zionis (Israel) terpisah dari rezim kriminal AS dalam kejahatan ini,” ujar perwakilan IRGC memperingatkan dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari The Jerusalem Post, Rabu (8/1/20).

    Baca juga: Pemimpin Hamas: Jenderal Soleimani adalah ‘Martir al-Quds’

    Halaman selanjutnya…

  • Ulama Irak: Bila AS Tak Hengkang, Irak akan Jadi Vietnam Baru Bagi AS

    Ulama Irak: Bila AS Tak Hengkang, Irak akan Jadi Vietnam Baru Bagi AS

    TIKTAK.ID – Salah satu Ulama berpengaruh Irak, Muqtada al-Sadr, menyatakan bahwa jika pasukan AS tidak keluar dari negara itu, maka Irak akan menjadi Vietnam baru bagi Washington. Begitu bunyi dari pernyataan suratnya yang disampaikan kepada Parlemen, seperti yang dilaporkan PressTV, Senin 6 Januari 2020.

    Sadr, yang memimpin fraksi terbesar di parlemen Irak, juga mengatakan bahwa resolusi parlemen yang menyerukan pemerintah untuk mengakhiri kehadiran pasukan asing masih belum cukup.

    “Saya menganggap ini sebagai tanggapan yang lemah dan tak sebanding dengan pelanggaran Amerika terhadap kedaulatan Irak dan eskalasi regional,” bunyi surat itu.

    Baca juga: Pemimpin Hizbullah: Pasukan Amerika akan Pulang dalam Peti Mati

    Sadr menegaskan bahwa perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat harus segera dibatalkan, kedutaan AS harus ditutup, pasukan AS harus diusir dengan cara yang memalukan, dan komunikasi dengan pemerintah AS harus dihentikan.

    “Akhirnya, saya menyerukan secara khusus pada kelompok-kelompok perlawanan Irak dan kelompok-kelompok di luar Irak secara umum untuk segera bertemu dan mengumumkan pembentukan Legiun Perlawanan Internasional,” katanya.

    Sementara itu, Perdana menteri Irak Adel Abdul-Mahdi mengatakan negaranya dan Amerika Serikat harus bekerja sama dalam proses penarikan semua pasukan asing dari negara itu.

    Baca juga: Demonstrasi di Sejumlah Kota Besar Amerika Kutuk Pembunuhan Qassem Soleimani

    Abdul-Mahdi membuat pernyataan itu setelah bertemu dan berbicara dengan Duta Besar AS Matthew Tueller. Pertemuan itu dilakukan usai anggota parlemen Irak dengan suara bulat menyetujui undang-undang yang menuntut penarikan semua pasukan militer asing yang dipimpin Amerika Serikat dari negara tersebut.

    Pada Senin kemarin, Abdul-Mahdi juga berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel terkait resolusi parlemen Irak yang menyerukan semua pasukan asing harus meninggalkan negara itu.

    Halaman selanjutnya…

  • Buntut Pembunuhan Soleimani dan Al Muhandis, Parlemen Irak Sepakat Usir Pasukan AS dari Irak

    Buntut Pembunuhan Soleimani dan Al Muhandis, Parlemen Irak Sepakat Usir Pasukan AS dari Irak

    TIKTAK.ID – Seperti dilaporkan Fars News, Minggu (5/1/20), dua hari pasca serangan udara Amerika yang menewaskan dua petinggi militer Iran dan Irak, anggota Parlemen Irak dalam sidang daruratnya, sepakat untuk mengesahkan draf undang-undang pencabutan kesepakatan keamanan antara Irak dan Amerika Serikat, sekaligus penarikan pasukan negara Paman Sam itu dari wilayah Irak.

    Berdasarkan undang-undang tersebut, Pemerintah Irak harus mencabut permohonan bantuan dari koalisi internasional anti-Daesh, dan membatalkan kesepakatan yang ditandatangani pada tahun 2016 karena masa operasi militer dan perang di Irak sudah berakhir, serta menyetop segala bentuk kehadiran pasukan asing di Irak.

    Parlemen Irak menggelar sidang darurat pada Minggu (5/1/20) karena desakan keras rakyat Irak agar segera mengesahkan undang-undang penarikan pasukan Amerika dari negara itu, terutama pasca teror terhadap Komandan Pasukan Quds, IRGC, Letnan Jenderal Qassem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd Al Shaabi, Abu Mahdi Al Muhandis.

    Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sosok Qassem Soleimani

    Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi dalam sidang darurat Parlemen Irak mendesak penarikan mundur segera pasukan Amerika dari negaranya.

    Bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Amerika, Donald Trump yang menuduh Iran sebagai perancang serangan teror di kawasan Timur Tengah, PM Irak menegaskan, justru Iran lah yang selama ini terlibat aktif memerangi terorisme dan mendukung Hashd Al Shaabi yang merupakan bagian dari sistem keamanan resmi Irak.

    Sementara laman France24 melaporkan, salah satu poin dalam resolusi tersebut menyatakan bahwa Pemerintah Irak berkomitmen untuk mencabut permintaan bantuan dari koalisi internasional yang memerangi ISIS karena berakhirnya operasi militer di Irak dan sudah tercapainya kemenangan.

    “Pemerintah Irak harus mengakhiri keberadaan pasukan asing di tanah Irak dan melarang mereka menggunakan tanah, wilayah udara, atau air dengan alasan apa pun”, lanjut resolusi dimaksud.

    Baca juga: Ribuan Pelayat di Baghdad Kutuk ‘Setan Besar’ Amerika

    Tujuan utama resolusi itu adalah membuat Amerika Serikat memulangkan sekitar 5.000 tentaranya yang ada di berbagai wilayah di Irak.

    Halaman selanjutnya…

  • Ribuan Pelayat di Baghdad Kutuk ‘Setan Besar’ Amerika

    Ribuan Pelayat di Baghdad Kutuk ‘Setan Besar’ Amerika

    TIKTAK.ID – Ribuan pelayat berbaris dalam prosesi pemakaman Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis pada Sabtu (4/1/20) di Baghdad Irak. Para pelayat turun ke jalanan sambil meriakkan “Amerika Setan Besar”, seperti yang dilaporkan AP.

    Jenderal Qassem Soleimani adalah Komandan Pasukan elit Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Abu Mahdi al-Muhandis adalah Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak atau Pasukan Moblisasi Populer (PMF). Mereka berdua di antara yang terbunuh dalam serangan udara Amerika pada Jumat pagi di dekat Bandara Internasional Baghdad yang menyebabkan situasi di kawasan semakin panas.

    Baca juga: Mantan Senator Virginia: Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani ‘Tragedi Besar’ yang Bisa Berujung ‘Perang Besar’ AS vs Iran

    Iran bersumpah akan membalas tindakan Amerika, membuat kekhawatiran terjadinya perang habis-habisan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdalih memerintahkan pembunuhan itu untuk mencegah konflik. Pemerintahan Trump menuduh Soleimani merancang serangkaian serangan berbahaya ke pasukan dan pejabat Amerika. Namun tuduhan Trump itu tanpa disertai bukti.

    Seorang pejabat koalisi pimpinan Amerika di Irak yang tak mau menyebutkan namanya mengatakan telah mengurangi operasi dan meningkatkan “langkah-langkah keamanan dan pertahanan” di pangkalan yang menampung pasukan koalisi di Irak.

    Sementara Washington telah mengirim 3.000 pasukan tambahan ke negara tetangga, Kuwait.

    Jenderal Soleimani adalah arsitek regional Iran untuk memobilisasi milisi di seluruh Irak, Suriah dan Libanon, termasuk untuk berperang melawan kelompok teror. Sang Jenderal juga dituduh melakukan serangkaian serangan kepada pasukan AS dan sekutu Amerika yang akan menginvasi Irak pada 2003.

    Ribuan Pelayat di Baghdad Kutuk 'Setan Besar' Amerika

    Para pelayat, sebagian besar pria berseragam militer hitam, membawa bendera Irak dan bendera Hashd al-Shaabi yang sangat loyal kepada Jenderal Soleimani.

    Banyak dari pelayat yang tak mampu membendung air matanya, mereka meneriakkan: “Tidak, Tidak, Amerika” dan “Mampus Amerika! Mampus Israel!”. Salah seorang pelayat, Mohammed Fadl mengatakan bahwa pemakaman itu merupakan ungkapan kesetiaan kepada para pemimpinnya yang terbunuh.

    “Serangan itu sangat menyakitkan, tapi hal itu tak akan menggoyahkan kami,” katanya.

    Dua helikopter terbang hilir mudik di atas ribuan pelayat. Di antara pelayat hadir Perdana Menteri Adel Abdul-Mahdi dan para pejabat Irak lainnya.

    Halaman selanjutnya…

  • AS Bunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani, World War 3 dan WWIII Trending Topic

    AS Bunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani, World War 3 dan WWIII Trending Topic

    TIKTAK.ID – Memanasnya tensi geopolitik antara AS dan Iran menjadi perbincangan seru di media sosial Twitter pada hari ini, Jumat (3/1/20).

    Dilansir CNBC International, Amerika dikabarkan telah membunuh petinggi pasukan militer Iran, Jenderal Qassem Soleimani.

    Eskalasi tersebut menandai semakin panasnya hubungan antara AS dan Iran.

    Jenderal Qassem Soleimani merupakan pemimpin dari Quds Force, satuan pasukan khusus yang dimiliki Garda Revolusi (salah satu divisi dari angkatan bersenjata Iran), dikabarkan tewas dalam serangan udara yang dilakukan oleh AS di Baghdad.

    Baca juga: Netanyahu Persingkat Kunjungannya ke Yunani, Kedubes AS Perintahkan Warganya Segera Hengkang dari Irak Setelah AS Bunuh Soleimani

    Dalam peristiwa itu, Abu Mahdi al-Muhandis yang merupakan Wakil Komandan dari Popular Mobilization Forces selaku kelompok milisi Irak, dilaporkan juga turut menjadi korban.

    Laporan Bloomberg, serangan udara AS diluncurkan di dekat bandara internasional Baghdad.

    Hingga berita ini diunggah, kata “Iran” menempati posisi puncak trending topic dunia. Sementara itu, Jenderal Soleimani yang tewas oleh serangan AS menempati posisi keempat.

    Baca juga: Serangan Udara AS Tewaskan Jenderal Tinggi Iran

    Halaman selanjutnya…

  • Netanyahu Persingkat Kunjungannya ke Yunani, Kedubes AS Perintahkan Warganya Segera Hengkang dari Irak Setelah AS Bunuh Soleimani

    Netanyahu Persingkat Kunjungannya ke Yunani, Kedubes AS Perintahkan Warganya Segera Hengkang dari Irak Setelah AS Bunuh Soleimani

    TIKTAK.ID – Kantor Perdana Menteri Israel mengatakan Benjamin Netanyahu mempersingkat kunjungannya ke Yunani setelah tewasnya Jenderal Qassem Soleimani oleh serangan udara AS di Baghdad, Jumat (3/1/20). Israel juga meningkatkan keamanan dan siaga satu, seperti yang dilaporkan media Isarel, Times Of Israel.

    “Kantor Perdana Menteri mengatakan Netanyahu akan segera pulang, tapi dia belum mengatakan kapan,” tulis Times Of Israel.

    Netanyahu mendarat di Athena pada Kamis untuk meneken kesepakatan pembangunan pipa dengan para pemimpin Yunani dan Siprus. Jalur pipa gas itu akan membawa gas alam Palestina dan Siprus ke Eropa melalui Yunani.

    “Kami telah membentuk aliansi di Timur Tengah, aliansi yang sangat penting bagi masa depan energi Israel, untuk menjadi kekuatan energi, dan untuk stabilitas di kawasan,” kata Netanyahu saat keberangkatannya dari Tel Aviv.

    Baca juga: Serangan Udara AS Tewaskan Jenderal Tinggi Iran

    Berita tentang kepulangan Netanyau yang lebih awal dari “pertemuan penting” yang membahas soal energi itu diputuskan setelah serangan udara AS ke Bandara Baghdad yang menewaskan Komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran di Irak, Jenderal Qassem Soleimani.

    Sementara itu, Pentagon mengkonfirmasi bahwa serangan itu diperintahkan oleh Presiden Donald Trump.

    Kabar lain mengatakan, militer Israel telah memposisikan pasukannya dalam siaga penuh atas apa yang disebutnya sebagai kemungkinan akan ada ancaman dari Iran. Israel juga telah menutup Gunung Hermon bagi para pengunjung, resor ski di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

    “Mempertimbangkan situasinya, diputuskan bahwa situs Hermon tidak akan dibuka untuk pengunjung hari ini. Tidak ada pedoman tambahan untuk penduduk Golan, dan rutinitas seperti biasa,” kata pasukan Israel dalam pesan Twitternya.

    Baca juga: Israel Balas Tembakan Roket dengan Serangan Udara ke Gaza

    Menurut laporan AS sebelumnya, Israel telah berusaha membunuh komandan Iran itu pada 2008, namun gagal.

    Seorang komandan di milisi kelompok Popular Mobilizatio Forces (PMF) Irak menyerukan para pejuangnya untuk bersiaga menyusul serangan AS yang menewaskan Wakil Kepala dan Komandan pasukan Quds Iran Jenderal Qassem Soleimani. Selain Soleimani serangan AS itu juga menewaskan Wakil Komandan PMF Abu Mahdi al-Muhandis.

    “Semua pejuang perlawanan harus siap, karena akan datang penaklukan dan kemenangan besar menunggu kita,” kata Qais al-Khazali, Kepala Asaib Ahl al-Haq, dalam catatan tulisan tangan yang dilihat oleh AFP.

    Sementara itu Kedutaan Besar AS di Baghdad mendesak warganya untuk “segera meninggalkan Irak” karena khawatir akan dampak dari serangan AS yang menewaskan Jenderal Soleimani.

    Baca juga: Pasukan Suriah Temukan Bekas Gudang Senjata ISIS Penuh Peralatan Militer Buatan Israel

    “Warga AS harus segera berangkat menggunakan maskapai jika memungkinkan, dan bila gagal, pergi ke negara-negara lain melalui jalur darat,” kata Kedutaan dalam sebuah pernyataannya, seperti yang dilaporkan AFP.

    Serangan udara AS pada Jumat pagi menewaskan Jenderal Tinggi Iran. Peristiwa itu membuat khawatir banyak pihak akan meningkatnya eskalasi antara AS dan Iran, juga di kawasan Timur Tengah.

    Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan Jenderal Soleimani telah menjadi “kekuatan paling efektif” melawan teroris ISIS di Irak dan Suriah, dan kelompok Takfiri lainnya seperti al-Nusrah dan al-Qaeda juga. Zarif mengecam pembunuhan Soleimani sebagai “kejahatan dan kebodohan pasukan teroris Amerika.”

  • Serangan Udara AS Tewaskan Jenderal Tinggi Iran

    Serangan Udara AS Tewaskan Jenderal Tinggi Iran

    TIKTAK.ID – Serangan udara Amerika Serikat menewaskan jenderal papan atas Iran dan sekaligus arsitek proksi perang Teheran di Timur Tengah, Qassem Soleimani. Serangan dilancarkan pada Jumat pagi di Bandara internasional Baghdad, seperti yang dilaporkan AP, Jumat (3/1/20).

    Insiden ini semakin meningkatkan ketegangan secara dramatis di wilayah Irak, setelah sebelumnya pada Minggu lalu seragan udara AS ke wilayah milisi Kata’ib Hezbollah menewaskan 25 orang. Kemudian balasan dari warga Irak pendukung Kata’ib Hezbollah ke Kedutaan Amerika membuat AS berang.

    Kata’ib Hezbollah merupakan kelompok paramiliter yang bahu-membahu bertempur bersama tentara Irak mengalahkan ISIS dan merebut kembali wilayah Irak yang dikuasai ISIS.

    Tewasnya Soleimani yang merupakan Kepala Pasukan elit Iran Quds, dapat membahayakan kepetingan AS di Irak. Sebab pembunuhan ini dapat menjadi konflik jauh lebih besar antara AS dan Iran yang dapat membahayakan pasukan AS di Irak, Suriah dan di wilayah lainnya.

    Baca juga: Koalisi Partai Austria Sepakat Larang Jilbab di Sekolah

    Departemen Pertahanan AS membunuh Soleimani karena menganggap dia secara aktif merencanakan serangan ke diplomat Amerika di seluruh wilayah Irak. Departemen Pertahanan AS juga menyebut Soleimani menyetujui serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad awal pekan ini.

    Sementara itu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merespons pembunuhan itu dengan memperingatkan Amerika bahwa “pembalasan keras sedang menunggu”.

    Ayatollah Ali Khamenei juga menyebut Soleimani sebagai “wajah perlawanan internasional”. Khamenei menyatakan Iran berkabung selama tiga hari atas kematian sang jenderal.

    Penasihat Presiden Iran Hassan Rouhani, Hessameddin Ashena juga memperingatkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akan pembalasan dari Teheran. “Trump dengan pertaruhannya telah menyeret AS ke dalam situasi yang paling berbahaya di kawasan ini,” tulisnya di media sosial Telegram.

    Baca juga: Pejabat Tinggi Taiwan Tewas dalam Kecelakaan Pesawat

    Halaman selanjutnya…