
Bagi EPHA, mereka yang tinggal di kota-kota berpolusi akan lebih berisiko dari Covid-19. Sebab, mereka bilang paparan udara buruk yang berkepanjangan akan memperlemah sistem kekebalan tubuh, dan akan lebih sulit melawan infeksi.
“Koneksi itu sangat mungkin,” kata manajer kebijakan untuk udara bersih EPHA, Zoltan Massay-Kosubek kepada Reuters. “Tapi karena penyakitnya baru, masih harus dibuktikan.”
Namun, polusi udara sudah pasti akan menyebabkan atau memperburuk kanker paru-paru, penyakit paru-paru dan stroke.
Bukan hanya di Eropa, di China penurunan polusi nitrogen dioksida terjadi di kota-kotanya selama Februari. Yaitu ketika Pemerintah memberlakukan tindakan karantina atau lockdown yang ketat untuk menahan epidemi terus meluas.
Baca juga: Mengapa Tingkat Kematian Covid-19 di Jerman Rendah? Begini Analisa para Ahli
Namun di tempat lain, karantina tak membuat udara lebih baik, seperti yang terjadi di Polandia. Di masa karantina di negara itu, kadar nitrogen dioksida masih relatif tinggi. Penyebabnya kemungkinan karena pemanas ruangan di wilayah itu menggunakan batubara.
Negara-negara yang melakukan lockdown dalam beberapa minggu mendatang sepertinya akan terbebas dari polusi, kata EPHA.
Dari catatan data EEA, polusi udara menyebabkan sekitar 400 ribu kematian prematur setiap tahunnya di Eropa.










