
“Di dalam pertemuan tadi saya juga sudah mendapatkan berita baik bahwa staf Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok di mana kasus 01-02 dulu pertama kali dirawat di sana dan memiliki singgungan langsung yang dekat sebanyak 71 orang, sudah selesai melaksanakan masa observasi karantina 14 hari. Alhamdulillah seluruhnya sehat dan tidak ada satu pun yang positif,” kata Yuri.
Yuri menjelaskan, berdasarkan rapat Menteri Kesehatan dan jajaran, untuk mulai melakukan kajian terkait dengan rapid test seperti apa yang dilaksanakan di negara lain. Namun, ia mengungkapkan rapid test ini memiliki cara yang berbeda karena menggunakan spesimen darah, tidak menggunakan lapisan tenggorokan.
Ia menyebut salah satu keuntungannya adalah tidak membutuhkan sarana pemeriksaan laboratorium pada bio security level 2. Artinya, bisa dilaksanakan di hampir semua laboratorium kesehatan rumah sakit yang ada di Indonesia.
Meski begitu, Yuri menyatakan permasalahannya adalah membutuhkan reaksi immunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi paling tidak seminggu. Jika belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu, kemungkinan pembacaan immunoglobulinnya akan memberikan gambaran negatif.
Menurutnya, hal ini harus diiringi dengan pemahaman masyarakat tentang kebijakan isolasi diri. Sebab, pada kasus yang positif dengan pemeriksaan rapid test dan tanpa gejala atau memiliki gejala yang minimal, indikasinya adalah harus melaksanakan isolasi diri di rumah, tentunya dengan monitoring yang dilaksanakan Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat yang sudah disepakati bersama.
Yuri menjabarkan, saat ini jumlah akumulatif kasus positif 227, jumlah akumulatif penderita yang sudah sembuh dan boleh pulang 11, jumlah penderita yang meninggal akumulatif sampai dengan tanggal 18 Maret pukul 12 siang adalah 19 orang.










