
TIKTAK.ID – Jagat perpolitikan Indonesia heboh. Pengambilalihan kepemimpinan partai politik yang sah tanpa mengindahkan konstitusi alias AD/ART yang telah disahkan negara, dilakukan oleh pejabat tinggi pemerintahan, bukan anggota atau pengurus partai tersebut.
Gerakan ini sangat tepat dikatakan sebagai kudeta. Mengerahkan pasukan tak bertuan. Sewaan. Kerahkan amunisi. Mudah.
Demikian disampaikan pengamat kebijakan publik yang juga aktivis senior pergerakan 77-78, Syafril Sjofyan menanggapi gerakan secara sepihak yang diklaim sebagai Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Menurut Syafril Sjofyan, cara ini jika berhasil akan menjadi pelajaran dan preseden buruk. Dan di kemudian hari bisa menjadi kebiasaan bagi pemegang kekuasaan, siapa pun nanti yang akan berkuasa.
“Untuk nanti bisa saja terjadi kepada PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Nasdem dan lainnya. Terlepas banyaknya partai di Indonesia dibangun secara olikargi atau garis kekeluargaan dan bisnis yang kental. Akibatnya beberapa kader merasa tidak puas sangat potensial untuk dijadikan bahan bakar perpecahan bagi masuknya kepentingan kekuasaan dari pejabat negara yang haus kuasa dan kurang bermoral,” tuturnya.
Syafril Sjofyan pun mengutip Yudi Latif yang menulis: “Rendahnya literasi moral membuat orang menghalalkan segala cara untuk meraih kedudukan. Sumpah dan keimanan disalah gunakan. Orang-orang berlomba mengkhianati sesama dan negaranya”.
Jelas Syafril Sjofyan, kebanyakan parpol di Indonesia yang dilahirkan dengan dasar ketokohan seseorang, jika tokohnya tidak berkuasa atau tidak dekat dengan si pemegang kekuasaan, gampang diambil alih seperti dengan cara kudeta yang dilakukan Moeldoko lewat KLB Sibolangit.
Tidak itu saja, pelajaran tersebut juga dapat dilakukan dalam melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang berkuasa, tanpa perlu mengindahkan konstitusi.
“Di samping pelajaran kudeta Sibolangit, walaupun tidak ada korelasinya, kudeta Myanmar juga dapat dijadikan pelajaran. Cara mengambil alih suatu pemerintahan,” ucap Syafril Sjofyan.
“Silakan belajar. Siapa yang minat,” pungkas dia menambahkan.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










