
Tom Lembong Prediksi Krisis 6-12 Bulan ke Depan, Ini Ucapannya
Ekonom senior Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong menyampaikan peringatan yang cukup mencolok soal arah perekonomian Indonesia. Menurutnya, tanah air berpeluang besar tersandung krisis dalam rentang enam bulan hingga satu tahun mendatang.
Pernyataan itu diutarakan Tom saat hadir dalam acara peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda yang diselenggarakan DPP PDIP, Rabu (28/10).
“Hitungan saya mungkin potensi kita krisis dalam 6-12 bulan ke depan itu di atas 50 persen,” ujar Tom di hadapan peserta acara.
Pesan untuk Generasi Muda
Tom menilai, andai kondisi tersebut benar-benar terjadi, generasi muda akan menjadi kelompok yang merasakan dampaknya paling berat. Meski demikian, ia berpesan agar anak-anak muda tidak larut dalam ketakutan maupun goyah menghadapi kemungkinan itu.
Sebab, menurutnya, sejarah justru mencatat bahwa krisis kerap menjadi titik balik yang menyelamatkan generasi berikutnya. Ia menyebut pola semacam itu banyak terjadi di sejumlah negara Eropa, termasuk yang pernah dialami Indonesia pada krisis 1998.
Dialog Sumpah Pemuda di DPP PDIP
Acara yang mempertemukan Tom dengan kalangan pemuda itu juga dihadiri Ketua DPP PDIP Bidang Perekonomian Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dialog tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Sumpah Pemuda yang digelar partai berlogo banteng itu.
Forum tersebut dikenal dengan nama Millennium Public Pulse 28 dan digelar secara rutin setiap tanggal 28. Kegiatan ini direncanakan berlangsung terus hingga puncak peringatan satu abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028.
Respons Pemerintah soal Wacana Krisis
Sebenarnya, prediksi kemunculan krisis bukanlah wacana baru di kalangan ekonom. Sejumlah pakar sebelumnya juga telah mewanti-wanti pemerintah mengenai kemungkinan Indonesia mengalami situasi serupa dengan krisis moneter 1998.
Optimisme Purbaya Yudhi Sadewa
Merespons wacana tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa saat masih menjabat sebagai Menteri Keuangan pada Juni lalu mengaku optimistis kondisi ekonomi nasional tidak akan mengulang skenario 1998, kendati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang belum stabil.
“Yang penting gini, kita tidak sedang menuju keadaan seperti (krisis) 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus,” ujarnya di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6).
Menurut Purbaya, tekanan yang muncul saat itu lebih banyak dipicu oleh sejumlah sentimen negatif yang memengaruhi pergerakan kurs rupiah.
“Hanya ada sedikit negatif yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar,” tuturnya.
Ia meyakini pelemahan rupiah dapat diatasi selama koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia berjalan baik. Dalam kesempatan terpisah, Purbaya juga menegaskan pemerintah akan fokus memastikan kebijakan fiskal berjalan baik agar pertumbuhan ekonomi semakin cepat.
Koordinasi Pemerintah dan Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kedua institusi kini berjalan seirama dalam menghadapi dinamika ekonomi global. Keduanya juga telah menyepakati dua langkah untuk memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










