Tag: Kelompok Teroris

  • Intelijen Rusia Ungkap Rencana AS Kembali Gerakkan Kelompok Teroris di Suriah

    Intelijen Rusia Ungkap Rencana AS Kembali Gerakkan Kelompok Teroris di Suriah

    TIKTAK.ID – Badan-badan intelijen AS dilaporkan berencana untuk mengarahkan para ekstremis di Damaskus dan Latakia untuk menyerang pasukan keamanan Suriah, serta penasihat militer Iran dan personel militer Rusia, seperti yang diumumkan layanan pers Badan Intelijen Asing Rusia.

    “Untuk mencapai tujuan mereka di Suriah, Amerika secara aktif menggunakan kontak dekat mereka dengan apa yang disebut oposisi bersenjata, dan pada kenyataannya -dengan kelompok teroris,” kata layanan pers dalam sebuah pernyataan pada Selasa (8/2/22), seperti yang dilaporkan Sputniknews.

    “Badan Intelijen AS berencana untuk mengarahkan ‘sel tidur’ para ekstremis di Ibu Kota Damaskus, wilayah yang berdekatan dan provinsi Latakia untuk melakukan tindakan yang ditargetkan terhadap anggota Badan Penegak Hukum Suriah, serta penasihat militer Iran dan personel militer Rusia,” tambah pernyataan itu.

    Layanan pers juga mengatakan bahwa AS bermaksud meluncurkan kampanye media untuk menginspirasi protes di Suriah.

    “Informasi yang diterima oleh Badan Intelijen Luar Negeri Rusia membuktikan bahwa Pemerintah AS bertujuan untuk mempertahankan kehadiran ilegalnya di Suriah, mencegah stabilisasi situasi di negara ini. Washington bermaksud meluncurkan kampanye media yang luas, termasuk di jejaring sosial berbahasa Arab, untuk menginspirasi suasana protes di masyarakat Suriah,” layanan pers menunjukkan.

    Selain itu, Badan Intelijen Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa Washington secara aktif berpartisipasi dalam perdagangan minyak curian di Suriah, karena pasukan AS mengawal truk minyak dari Suriah ke Kurdistan Irak.

    “Dengan latar belakang ini, penjarahan sumber daya alam Suriah oleh perusahaan AS terus berlanjut. Washington tetap aktif terlibat dalam perdagangan ilegal minyak yang diproduksi di wilayah pendudukan di timur laut Suriah. Hingga 3 juta barel bahan mentah diekstraksi dari ladang di provinsi-provinsi tersebut dari Al Hasakah, Raqqa, dan Deir ez-Zor setiap bulan. Sekitar sepertiga dari minyak curian, melalui mediasi Amerika, dijual ke Daerah Otonomi Kurdi Irak dengan harga $35-40 per barel,” tegas pernyataan itu.

    AS mengerahkan pasukannya ke Suriah dengan dalih memerangi ISIS, namun mereka tak juga sepenuhnya menarik pasukannya meskipun organisasi teroris itu sudah dikalahkan.

    Washington juga tidak memiliki mandat Dewan Keamanan PBB atau undangan resmi dari Pemerintah Suriah untuk membenarkan pengerahan pasukannya di tanah Arab itu.

    Damaskus dan Moskow telah berulang kali mengajukan keberatan dengan tetap tinggalnya pasukan Amerika di Suriah, menyebut bahwa kehadiran mereka ilegal.

    Washington, pada gilirannya, selalu berdalih bahwa pasukannya tetap tinggal untuk mencegah sumber daya minyak lokal jatuh ke tangan teroris. Namun, Pemerintah Suriah bersikeras pasukan AS, pada kenyataannya, terlibat dalam pencurian sumber daya minyak negara itu.

  • Mata-mata dan Tentara Afghanistan yang Pernah Dilatih AS Dilaporkan Bergabung dengan ISIS-K

    Mata-mata dan Tentara Afghanistan yang Pernah Dilatih AS Dilaporkan Bergabung dengan ISIS-K

    TIKTAK.ID – Mantan tentara dan mata-mata Afghanistan yang pernah dilatih AS berbondong-bondong bergabung ke satu-satunya kelompok yang saat ini menentang kekuasaan Taliban, yaitu kelompok ISIS, tulis Wall Street Journal.

    AS menghabiskan 88 miliar dolar untuk mempersenjatai dan melatih militer Afghanistan, yang dalam hitungan cepat hancur dan takluk kepada Taliban, pada Agustus lalu, pascatentara AS hengkang dari Afghanistan, seperti yang dilansir RT, Senin (1/11/21).

    Cabang ISIS di Afghanistan, ISIS-K, dengan penuh semangat menyerap rekrutan yang dilatih AS ini. Menurut mantan pejabat keamanan dan anggota Taliban yang berbicara dengan Wall Street Journal, beberapa mantan pasukan Pemerintah telah bergabung untuk mendapatkan gaji, dan yang lainnya karena kurangnya alternatif yang lebih baik untuk Pemerintahan Taliban.

    “Jika ada perlawanan, mereka akan bergabung dengan perlawanan,” kata mantan Kepala Intelijen, Rahmatullah Nabil kepada surat kabar itu, menambahkan bahwa “untuk saat ini, ISIS adalah satu-satunya kelompok bersenjata lainnya” [selain Taliban].

    Meskipun ISIS-K dan Taliban sama-sama kelompok fundamentalis Islam, mereka memiliki ideologi yang berbeda. Taliban adalah organisasi nasionalis yang didominasi Punjabi tanpa tujuan di luar perbatasan Afghanistan, dan memiliki toleransi terhadap sekte Muslim lainnya di negara itu.

    Sementara, ISIS-K, sebaliknya, memandang Syiah dan sekte Muslim lainnya sebagai murtad dan bertujuan untuk mendirikan kekhalifahan Islam di seluruh dunia, seperti yang coba dilakukan ISIS beberapa tahun lalu, tapi gagal, di Irak dan Suriah.

    Awalnya Taliban menekan ISIS-K yang bangkit kembali di tengah kekacauan penarikan AS dari Afghanistan, melakukan bom bunuh diri di luar Bandara Kabul pada Agustus yang menewaskan sekitar 200 warga Afghanistan dan 13 tentara AS. Bagi militer AS, itu adalah hari paling mematikan di Afghanistan sejak 2011.

    Tidak jelas “keahlian dalam pengumpulan intelijen dan teknik perang” apa yang akan dibawa oleh para rekrutan baru ini ke ISIS-K, mengingat bahwa militer Afghanistan yang diduga berkekuatan 300.000 orang, anggotanya sering melarikan diri atau menyerah tanpa melepaskan tembakan kepada Taliban.

    Namun, fakta bahwa para tentara yang didanai AS ini bergabung ke kelompok teror garis keras dalam beberapa bulan setelah AS meninggalkan Afghanistan, menggambarkan masalah yang tampaknya belum dipelajari oleh para pembuat keputusan di Washington dalam pengalaman mereka selama empat dekade.

    Sama seperti Mujahidin Afghanistan yang didanai AS pada akhirnya akan berubah menjadi Taliban pada akhir 1980-an dan 1990-an, dan militer Afghanistan akan meningkatkan kekuatan barisan ISIS-K. Sama seperti tentara Irak yang tidak puas dibiarkan tanpa pekerjaan setelah invasi AS pada 2003 berakhir, selanjutnya bergabung dengan ISIS beberapa tahun kemudian.

    Badan Keamanan AS telah membunyikan alarm tentang kebangkitan ISIS-K, dengan Wakil Menteri Pertahanan AS, Colin Kahl mengatakan kepada Senat pekan lalu bahwa kelompok itu dapat menyerang Barat dari Afghanistan dalam waktu enam bulan ke depan.

    Namun, Taliban, setidaknya secara publik, mengatakan tidak gentar. “Kami tidak menghadapi ancaman dan kami tidak khawatir tentang mereka,” kata seorang Komandan senior Taliban, Mawlawi Zubair kepada Wall Street Journal.

    “Tidak perlu, bahkan tidak sedikit pun, bagi kami untuk mencari bantuan dari siapa pun [termasuk AS] untuk melawan ISIS,” tegas Zubair.

  • Irak Tangkap Kepala Keuangan Kelompok ISIS

    Irak Tangkap Kepala Keuangan Kelompok ISIS

    TIKTAK.ID – Irak mengatakan telah menangkap Kepala Keuangan kelompok ISIS dalam sebuah operasi di luar perbatasan.

    Dilansir BBC, Senin (11/10/21) Sami Jasim al-Jaburi ditangkap dalam “operasi eksternal yang kompleks” oleh Badan Intelijen Nasional Irak, kata Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi melalui akun twitternya, tanpa menyebut lokasi penangkapan.

    Dia menambahkan bahwa Jasim, yang juga dikenal sebagai Hajji Hamid, adalah wakil pemimpin ISIS di bawah mendiang Abu Bakr al-Baghdadi.

    AS telah menawarkan hadiah $5 juta atau sekitar 71 miliar rupiah untuk informasi terkait dengan dirinya.

    Situs web Rewards for Justice FBI menuduh bahwa dia “berperan dalam mengelola keuangan untuk operasi teroris [ISIS]” dan telah mengawasi “operasi yang menghasilkan uang dari penjualan minyak, gas, barang antik, dan mineral” kelompok itu setelah merampok sebagian besar dari wilayah Irak dan Suriah pada 2014.

    Mereka tak merinci dengan detail dan hanya mengatakan bahwa dia ditangkap dalam operasi intelijen asing tanpa segera mengungkapkan lokasinya.

    Operasi tingkat tinggi ISIS diyakini tak hanya bertanggung jawab atas keuangan kelompok itu tetapi juga terhadap operasi lintas batas di Suriah dan Irak di mana mereka terus menyerang pangkalan polisi dan militer.

    Hal terpenting bagi pasukan keamanan Irak tak sebanyak kerugiannya bagi ISIS atas penangkapan itu, sebab pasti akan ada penggantinya, namun yang terpenting adalah informasi apa yang dapat dikorek darinya terkait serangan yang akan dilakukan dalam waktu dekat.

    Sejak kekalahan ISIS dan kekhalifahan yang dideklarasikan sendiri, mereka telah kembali melancarkan pemberontakan, dan melakukan serangan gerilya. Diperkirakan ada sekitar 10.000 anggota ISIS di Timur Tengah.

    Lebih jauh lagi, ISIS tetap menjadi ancaman keamanan yang berbahaya di negara-negara seperti Afghanistan dan Mozambik.

    Sel Media Keamanan Irak mengatakan Sami dekat dengan pemimpin baru ISIS, Amir Mohammed Said Abdul Rahman al-Mawla, yang menggantikan Baghdadi setelah dia bunuh diri dalam serangan pasukan khusus AS di tempat persembunyiannya di Suriah pada 2019.

    Meskipun Kadhimi tidak mengungkapkan di mana Jasim ditangkap, seorang sumber senior militer Irak mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa penangkapan itu terjadi di perbatasan dengan Turki. Tidak ada tanggapan segera dari otoritas Turki terkait laporan tersebut.

    Awal tahun ini, Pemerintah Irak mengumumkan telah membunuh seseorang yang diduga sebagai Wakil Pemimpin ISIS, Jabir Salman Saleh al-Isawi, serta Pemimpin ISIS di Irak selatan, Jabbar Ali Fayadh.

    ISIS pernah menguasai 88.000 km persegi wilayah yang membentang dari Irak timur ke Suriah barat dan memberlakukan aturan brutalnya pada hampir delapan juta orang.

    Terlepas dari kekalahan kelompok itu di perang di Irak pada 2017 dan di Suriah pada tahun berikutnya, diperkirakan ribuan militan tetap aktif di kedua negara tersebut.

  • Taliban Berhasil Rebut Salah Satu Kota Penting di Afghanistan

    Taliban Berhasil Rebut Salah Satu Kota Penting di Afghanistan

    TIKTAK.ID – Sebuah kota di Afghanistan barat daya telah menjadi Ibu Kota provinsi pertama yang jatuh ke tangan Taliban sejak gerilyawan melancarkan serangan besar-besaran awal tahun ini.

    Pejabat lokal mengatakan Taliban telah merebut kota Zaranj, di provinsi Nimroz. Ini menjadi pukulan telak bagi pasukan Pemerintah, seperti yang dilaporkan BBC.

    Kelompok Taliban telah mengambil petak pedesaan dan kini mereka menargetkan kota-kota utama.

    Ibu Kota provinsi lainnya yang berada di bawah tekanan termasuk Herat di barat, kota selatan Kandahar dan Lashkar Gah.

    Utusan khusus PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, pada Jumat (6/8/21) mengatakan perang di sana telah memasuki “fase baru, lebih mematikan, dan lebih merusak”, dengan lebih dari 1.000 warga sipil tewas dalam sebulan terakhir.

    Dia memperingatkan bahwa negara itu sedang menuju “malapetaka”, dan meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengeluarkan “pernyataan yang jelas bahwa serangan terhadap kota-kota harus dihentikan sekarang”.

    Pada hari yang sama, Pemerintah Inggris menyarankan semua warganya di Afghanistan untuk pergi karena situasi keamanan yang kian memburuk.

    Melalui sebuah postingan di Twitter, kelompok Taliban mengklaim kemenangannya di Zaranj -pusat perdagangan utama di dekat perbatasan Iran.

    “Ini adalah permulaan, dan lihat bagaimana provinsi lain segera jatuh ke tangan kami,” kata seorang komandan Taliban kepada kantor berita Reuters.

    Gambar yang diposting di media sosial menunjukkan warga sipil menjarah barang-barang dari gedung-gedung Pemerintah. Sedang anggota kelompok Taliban berfoto di dalam bandara setempat dan berpose di pintu masuk kota.

    Taliban terus berupaya merebut kota itu setelah merebut distrik-distrik di sekitarnya.

    Akan tetapi Wakil Gubernur Nimroz, Roh Gul Khairzad mengatakan kepada wartawan bahwa Zaranj telah jatuh “tanpa perlawanan”.

    Dia dan pejabat lokal lainnya mengeluhkan kurangnya bala bantuan dari Pemerintah Afghanistan.

    “Kota itu berada di bawah ancaman selama beberapa waktu, tetapi tidak ada seorang pun dari Pemerintah Pusat yang mendengarkan kami,” kata Khairzad.

    Terakhir kali Taliban merebut Ibu Kota provinsi adalah pada tahun 2016, ketika mereka secara singkat menguasai kota Kunduz di utara.

    Pasukan Pemerintah telah bersumpah untuk tidak kehilangan Zaranj, kota penting yang strategis itu, dan pertempuran di sana berlangsung sengit. Para pejabat telah mendesak warga sipil untuk mengungsi, dengan ribuan terjebak atau melarikan diri demi hidup mereka.

    Di Herat, orang-orang juga telah meninggalkan rumah mereka untuk mengantisipasi serangan pasukan Pemerintah terhadap posisi Taliban.

    “Kami tidak punya apa-apa lagi dan kami tidak tahu harus pergi ke mana,” kata seorang warga kepada kantor berita AFP.

  • Densus 88 Telusuri Lebih Lanjut Dugaan Keterlibatan Munarman di Kelompok Teroris

    Densus 88 Telusuri Lebih Lanjut Dugaan Keterlibatan Munarman di Kelompok Teroris

    TIKTAK.ID – Tim Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri saat ini tengah mendalami dugaan keterlibatan eks Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman, dalam suatu kelompok teroris tertentu.

    Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri, Brigadir Jenderal Rusdi Hartono, pendalaman itu belum rampung. Pasalnya, ia menyebut penyidik sedang mendalami pelbagai hal yang mungkin bisa terjadi.

    “Nanti kita lihat, saya belum bisa mengatakan itu [keterlibatan dalam jaringan teroris]. Masih berproses apakah Munarman berdiri sendiri atau ada pihak lain yang berada di sekeliling Munarman. Itu kita lihat nanti, karena masih diproses oleh Densus,” ujar Rusdi di Mabes Polri, Jakarta, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (18/5/21).

    Rusdi mengklaim bahwa Densus 88 terus melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang ada di sekitar Munarman. Ia menilai pendalaman terhadap rekan-rekan Munarman, bisa membuat dugaan terorisme itu bisa menjadi jelas. Meski begitu, Rusdi mengaku tidak bisa menjelaskan secara rinci mengenai rencana penyidikan tim Densus 88 Antiteror Polri ke depannya, termasuk pihak-pihak mana saja yang bakal diperiksa.

    “Pokoknya pihak-pihak yang menurut Densus dapat membuat terang kasus saudara M, pasti akan dimintakan keterangannya. Hal itu untuk memperjelas kasus yang melibatkan M sendiri,” terang Rusdi.

    Rusdi mengatakan perkara dugaan terorisme yang menjerat Munarman nantinya akan tergambar secara jelas ke publik saat persidangan.

    Untuk diketahui, Munarman berstatus sebagai tahanan sejak 7 Mei 2021. Dia ditahan karena diduga terlibat dalam sejumlah rencana aksi terorisme di Indonesia. Polisi menyatakan Munarman mengikuti baiat di beberapa kota seperti Makassar, Jakarta dan, Medan. Munarman pun ditangkap di rumahnya di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan pada Selasa (27/4/21) lalu.

    Lebih lanjut, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Ahmad Ramadhan menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengamankan sejumlah barang bukti dalam penggeledahan, termasuk bahan peledak Triaseton Triperoksida (TATP). Ia memaparkan, kesimpulan tersebut didapatkan usai tim melakukan penelitian di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri.

    “Berdasarkan hasil identifikasi tim Puslabfor yang telah melakukan identifikasi, dapat disimpulkan bahwa barang yang ditemukan yakni bahan kimia yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan peledak TATP,” ucap Ramadhan di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (30/4/21).

  • Tokoh Papua Desak Jokowi Batalkan Cap ‘Teroris’ KKB

    Tokoh Papua Desak Jokowi Batalkan Cap ‘Teroris’ KKB

    TIKTAK.ID – Tokoh Papua, Titus Pekei mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar segera menarik label “teroris” terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka (OPM). Titus sendiri merupakan salah satu sosok yang mengajukan ke Unesco supaya menetapkan noken Papua sebagai warisan budaya dunia.

    Titus mengaku cemas rakyat Papua akan menjadi korban, jika label teroris terhadap KKB tidak dicabut oleh Pemerintah Indonesia.

    “Segera tarik label teroris karena hal itu tidak sesuai dengan visi perjuangan. Agar tidak korbankan masyarakat setempat yang hidup tenang selama ini,” ujar Titus melalui keterangan tertulis, Kamis (6/5/21), seperti dilansir CNN Indonesia.

    Ia menjelaskan, ketimbang memberikan label teroris dan mengirim pasukan militer ke Papua, ia menyarankan Pemerintah untuk segera melakukan dialog damai tanpa kekerasan. Ia mengklaim selama ini Pemerintah dan OPM belum pernah menempuh jalan dialog.

    Titus juga mengatakan bahwa label teroris terhadap KKB OPM salah alamat. Pasalnya, kata Titus, OPM bukan teroris seperti kelompok ISIS di Timur Tengah, melainkan sekelompok tentara yang berjuang untuk Pembebasan Papua.

    “Sebagai presiden, Jokowi harusnya bisa memahami secara jernih tanpa labelisasi. Bahkan melabeli KKB OPM sebagai teroris berarti melabelkan pulau dan tanah Papua. Sebab, mereka adalah Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM),” tegas Titus.

    Sementara itu, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar segera menangkap KKB. Ia menyampaikan hal itu sebagai respons atas gugurnya Kepala BIN Daerah Papua, Mayor Jenderal TNI Anumerta I Gusti Putu Danny Nugraha Karya dalam baku tembak dengan KKB di Beoga, Kabupaten Puncak, Papua.

    “Panglima TNI dan Kapolri beserta jajarannya agar dapat segera mengejar, menangkap, dan memproses secara hukum anggota Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua, serta melindungi seluruh masyarakat,” tutur Puan ketika berpidato di Rapat Paripurna DPR RI, Kamis (6/5/21).

    Puan juga meminta DPR untuk memberi perhatian khusus pada kejadian ini, dan mengawasi langkah-langkah Pemerintah dalam menindak tegas KKB Papua.

  • Tujuh Sikap Gubernur Lukas Enembe Terkait Label Teroris KKB Papua

    Tujuh Sikap Gubernur Lukas Enembe Terkait Label Teroris KKB Papua

    TIKTAK.ID – Gubernur Papua, Lukas Enembe menyampaikan tujuh sikap guna merespons kebijakan Pemerintah Pusat yang memberi label teroris kepada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Enembe mengatakan sikap pertama yakni meminta Pemerintah Pusat untuk mengkaji ulang kebijakan itu. Ia meminta Pemerintah memastikan objektivitas dari kebijakan tersebut.

    “Terorisme merupakan konsep yang selalu diperdebatkan dalam ruang lingkup hukum dan politik. Oleh sebab itu, penetapan KKB sebagai kelompok teroris perlu untuk ditinjau dengan saksama dan memastikan objektivitas negara dalam pemberian status tersebut,” ujar Enembe melalui keterangan tertulis, Jumat (30/4/21), seperti dilansir CNNIndonesia.com.

    Enembe menyebut dalam poin kedua, pihaknya sepakat bahwa segala tindakan yang dilakukan oleh KKB adalah perbuatan meresahkan, melanggar hukum, dan mencederai prinsip-prinsip dasar HAM.

    Kemudian di poin ketiga, Enembe kembali mendesak Pemerintah Pusat dan DPR RI agar dapat mengkaji ulang penyematan label teroris kepada KKB. Sebab, ia menilai kajian harus komprehensif dengan memerhatikan dampak sosial, dampak ekonomi, dan dampak hukum terhadap warga Papua secara umum.

    Poin keempat, Enembe mendorong TNI-Polri untuk memetakan kekuatan, wilayah sebaran, jumlah orang, dan ciri khusus KKB.

    “Hal ini sangat diperlukan, karena Pemerintah Provinsi Papua tidak menginginkan ada peristiwa salah tembak dan salah tangkap yang menyasar penduduk sipil Papua,” tutur Enembe.

    Lantas politikus Partai Demokrat tersebut menyoroti dampak yang akan diterima warga Papua di perantauan. Dia mengaku khawatir jika penyematan label teroris kepada KKB bakal menimbulkan stigma negatif bagi warga Papua di perantauan. Untuk itu, Enembe mengimbau Pemerintah Pusat supaya berkonsultasi dengan Dewan Keamanan PBB terkait kebijakan itu.

    Sedangkan di poin ketujuh, Enembe meminta Pemerintah Pusat untuk mengubah pendekatan dalam menyelesaikan konflik di Papua.

    “Pemerintah Provinsi Papua telah mengumumkan, rakyat Papua akan tetap dan selalu setia kepada NKRI sehingga kami menginginkan agar pendekatan keamanan (security approach) di Papua dilakukan lebih humanis dan mengedepankan pertukaran kata dan gagasan, bukan dengan pertukaran peluru,” tegas Enembe.

    Seperti diketahui, Pemerintah juga menugaskan aparat keamanan untuk melakukan tindakan tegas kepada KKB di Papua.

  • BIN: Kaum Milenial Rawan Jadi Target Utama Rekrutmen Kelompok Teroris

    BIN: Kaum Milenial Rawan Jadi Target Utama Rekrutmen Kelompok Teroris

    TIKTAK.ID – Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto mengungkapkan bahwa kalangan anak muda atau milenial saat ini telah menjadi target utama rekrutmen oleh kelompok teror.

    “Memang milenial ini telah menjadi target utama dari mereka [kelompok teror],” ujar Wawan dalam diskusi daring yang disiarkan di YouTube, Sabtu (3/4/21), seperti dilansir CNN Indonesia.

    Wawan pun menyampaikan sejumlah alasan kelompok milenial menjadi target utama. Wawan menjelaskan, alasan pertama yakni kelompok milenial seringkali tidak banyak yang berpikir kritis. Menurutnya, hal itu yang membuat kelompok milenial kerap menelan mentah-mentah ajaran yang dibuat dan disasar oleh kelompok teror.

    Kemudian alasan kedua adalah kalangan milenial masih memiliki keberanian yang lebih ketimbang kalangan lainnya.

    “Selain itu, mereka tidak banyak tanggungan. Masih lebih emosional dan lebih berpikir pragmatis, terlebih ada iming-iming masuk surga dan lain-lain,” terang Wawan.

    Oleh sebab itu, Wawan mengimbau agar kalangan milenial terus melakukan konfirmasi dan mengecek kembali ajaran-ajaran yang bernuansa radikal. Ia juga meminta para orang tua untuk terus mengontrol anak-anaknya, terutama yang masuk dalam usia milenial, termasuk memantau pelbagai buku bacaan yang sedang mereka baca.

    “Yang biasanya riang jadi pemurung, dan yang biasanya enggak pergi kemana-mana jadi tahu-tahu kalau pulang minta uang. Dia [anak-anak] hanya bicara dengan networking yang ada di media sosial karena dia memang di-drive di situ untuk melakukan apa pun,” ucap Wawan.

    Wawan pun menyarankan orang tua terus melakukan patroli 24 jam untuk memantau kegiatan anak-anaknya yang masih berusia milenial di dunia maya. Ia menilai hal itu agar kalangan milenial tak terjebak oleh paham-paham radikal yang selama ini marak di dunia maya.

    “Oleh karena itu kita selalu dorong, bacaan-bacaan kaum milenial itu juga dikontrol oleh orang tuanya. Sebab, hanya orang tuanya yang paling paham,” tutur Wawan.

    Sementara mantan narapidana terorisme, Haris Amir Falah menyatakan ada banyak anak muda terpapar radikalisme dan terorisme dari media sosial. Ia menganggap kecanggihan teknologi bisa mempermudah kelompok maupun jaringan terorisme dalam merekrut anggota.

  • Komunitas Yazidi Irak Kubur 104 Jenazah Korban Pembantaian ISIS

    Komunitas Yazidi Irak Kubur 104 Jenazah Korban Pembantaian ISIS

    TIKTAK.ID – Isak tangis pecah ketika komunitas Yazidi di Irak utara membawa pulang 104 anggotanya yang dibunuh oleh kelompok ISIS selama pemerintahan terornya pada 2014 silam.

    Jenazah mereka telah digali dan diidentifikasi dari kuburan massal, dan kini mereka dimakamkan di desa Kocho dekat Gunung Sinjar di provinsi Ninevah, seperti yang dilaporkan BBC.

    Sebelum diboyong pulang ke Kocho, sebuah upacara pemakaman diadakan bagi mereka di peringatan Tentara Tak Dikenal di Baghdad pada Kamis (4/2/21). Setiap peti mati itu dihiasi dengan foto mereka yang meninggal.

    Dari total 104 orang jenazah itu semuanya pria yang telah dibunuh oleh militan ISIS pada Agustus 2014, kata Kepala Organisasi Dokumentasi Yazidi, Khairi Ali Ibrahim.

    Ketika ISIS menguasai wilayah Yazidi, ribuan pria dibunuh, wanita dan anak-anak diperbudak serta diperkosa. Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan ISIS melakukan genosida terhadap komunitas Yazidi.

    “Ini langkah awal untuk menghormati jenazah para korban ini dan juga akan menjadi langkah keadilan transisi yang para korban lainnya, perempuan, anak-anak, yang selamat dari genosida akan diberi kompensasi,” kata aktivis hak asasi manusia Yazidi Mirza Dinnayi.

    “Saya berharap kita bisa berbuat lebih banyak dalam melindungi Yazidi dan mengatakan tidak akan pernah lagi terjadi hal serupa di masa depan.”

    Yazidi mempraktikkan suatu bentuk agama yang menggabungkan unsur-unsur agama Iran kuno dengan bagian dari Yudaisme, Kristen, dan Islam. Mereka dianggap sesat oleh kelompok ISIS, dan selanjutnya dibantai.

    Pada Agustus 2014, lebih dari 300 warga Yazidi diancam dan dipaksa oleh kelompok ISIS untuk memilih antara memeluk Islam Sunni atau mati.

    Diperkirakan ada sekitar 550.000 Yazidi yang tinggal di Irak sebelum ISIS menginvasi wilayah itu pada 3 Agustus 2014. Sekitar 360.000 Yazidi kemudian melarikan diri dan mencari perlindungan ke tempat lain.

    Amnesty International mengatakan pada Juli bahwa sekitar 2.000 anak Yazidi yang selamat dari penahanan brutal di tangan ISIS masih belum mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan dan menderita masalah kesehatan fisik dan mental yang parah.

  • Kelompok Teroris Boko Haram Diduga Bantai Puluhan Petani di Nigeria

    Kelompok Teroris Boko Haram Diduga Bantai Puluhan Petani di Nigeria

    TIKTAK.ID – Kelompok militan Boko Haram diduga membunuh sedikitnya 40 petani dan nelayan saat mereka memanen tanaman di Negara Bagian Borno utara Nigeria, kata para pejabat.

    Serangan itu dilakukan pada Sabtu (28/11/20) di sawah di Garin Kwashebe, di komunitas Borno yang terkenal dengan hasil pertanian padi mereka. Hari itu warga di wilayah itu tengah memberikan suara untuk pertama kalinya dalam 13 tahun untuk memilih Dewan Pemerintah Daerah, meskipun banyak yang tidak hadir untuk memberikan suara mereka.

    Para petani dilaporkan ditangkap dan dibunuh oleh pemberontak bersenjata.

    Pemimpin Asosiasi Petani Padi di negara bagian Borno, Malam Zabarmari mengonfirmasi pembantaian itu kepada The Associated Press.

    “Para petani diserang di sawah Garin-Kwashebe di komunitas Zabarmari, dan menurut laporan yang sampai kepada kami sejak sore, sekitar 40 petani tewas,” katanya, menambahkan kemungkinan korban tewas bisa mencapai 60 orang.

    Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari menyatakan kesedihannya atas pembunuhan itu.

    “Saya mengutuk pembunuhan para petani pekerja keras kami oleh teroris di Negara Bagian Borno. Seluruh negeri terluka oleh pembunuhan yang tidak masuk akal ini. Pikiranku bersama keluarga mereka di saat kesedihan ini. Semoga jiwa mereka Beristirahat dengan Damai,” katanya dalam sebuah pernyataan.

    Buhari mengatakan, Pemerintah telah memberikan semua dukungan yang diperlukan kepada Angkatan Bersenjata “untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi warga negara dan wilayahnya”.

    Seorang anggota DPR, Ahmed Satomi, yang mewakili daerah pemilihan Federal Jere di Borno, mengatakan setidaknya 44 penguburan akan dilakukan Minggu (29/11/20).

    “Para petani dan nelayan dibunuh dengan darah dingin. Lebih dari 60 petani terkena dampaknya, tetapi sejauh ini kami baru menerima 44 mayat dari pertanian dan kami sedang mempersiapkan penguburan mereka hari ini, Minggu atas rahmat Tuhan,” kata anggota Parlemen Federal.

    Boko Haram dan faksi yang memisahkan diri, Negara Islam Provinsi Afrika Barat, keduanya aktif di wilayah tersebut. Pemberontakan Boko Haram selama lebih dari satu dekade telah menyebabkan ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya mengungsi.

    Para pejabat mengatakan anggota Boko Haram sering memaksa penduduk desa untuk membayar pajak ilegal dengan mengambil ternak atau hasil panen mereka. Namun seiring berjalannya waktu, beberapa warga desa mulai menolak pemerasan itu.