Tag: Kabul

  • Ledakan Bom di Kabul, Lima Orang Tewas

    Ledakan Bom di Kabul, Lima Orang Tewas

    TIKTAK.ID – Sedikitnya lima warga sipil tewas dalam ledakan bom di luar masjid Kabul, pada Minggu (3/10/21), kata seorang pejabat Taliban. Ini merupakan serangan paling mematikan di Ibu Kota Afghanistan sejak pasukan AS pergi pada akhir Agustus, dilansir The Associated Press.

    Belum ada klaim yang bertanggung jawab, namun ada kecurigaan serangan itu dilakukan ISIS yang telah meningkatkan serangan terhadap Taliban dalam beberapa pekan terakhir, terutama di kubu ISIS di Afghanistan timur.

    Sebuah bom di pinggir jalan meledak di pintu gerbang Masjid Idul Fitri yang luas di Kabul pada saat upacara peringatan yang diadakan untuk seorang ibu dari Jubir utama Taliban, Zabihullah Mujahid. Lima orang tewas, kata Jubir Kementerian Dalam Negeri, Qari Saeed Khosti.

    Ledakan itu menggarisbawahi meningkatnya tantangan yang dihadapi Taliban hanya beberapa minggu setelah Taliban menguasai Afghanistan dalam kampanye kilat, yang berpuncak pada pengambilalihan Kabul pada 15 Agustus.

    Jubir Taliban lainnya, Bilal Karimi menyatakan bahwa ada tiga tersangka pelaku peledakan pada Minggu di Kabul. Dia juga mengatakan pejuang Taliban tidak terluka.

    Seorang warga Kabul, Mohammad Israil mengatakan dia mendengar “suara keras” dan melihat orang-orang melarikan diri.

    Sebuah rumah sakit darurat yang didanai Italia di Kabul dalam cuitannya mengatakan telah menerima empat orang terluka akibat ledakan itu.

    Daerah di sekitar masjid ditutup oleh Taliban, yang menjaga keamanan dengan ketat. Kemudian pada sore hari situs itu mulai dibersihkan. Satu-satunya tanda ledakan adalah kerusakan ringan pada lengkungan ornamen di gerbang masuk.

    Kelompok ISIS telah meningkatkan serangan terhadap Taliban sejak pengambilalihan pertengahan Agustus, menandakan konflik yang meluas di antara mereka.

    ISIS berusaha mempertahankan kehadiran yang kuat di provinsi timur Nangarhar, di mana mereka telah mengklaim bertanggung jawab atas beberapa pembunuhan di Ibu Kota provinsi Jalalabad.

    Pada akhir Agustus, seorang pembom bunuh diri ISIS menargetkan upaya evakuasi Amerika di bandara internasional Kabul. Ledakan itu menewaskan 169 warga Afghanistan dan 13 tentara AS dan merupakan salah satu serangan paling mematikan di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

  • AS Akhirnya Ngaku Bunuh Warga Sipil Afghanistan

    AS Akhirnya Ngaku Bunuh Warga Sipil Afghanistan

    TIKTAK.ID – AS telah mengakui kesalahannya membunuh 10 warga sipil menggunakan pesawat tak berawak di Kabul pada 29 Agustus lalu.

    Serangan udara yang sebelumnya oleh AS diklaim sebagai serangan terhadap kelompok ISIS-K di Kabul, ternyata menargetkan warga sipil yang tak berdosa, seperti yang dilansir BBC.

    Dalam investigasinya, AS menemukan bahwa seorang pekerja bantuan dan sembilan anggota keluarganya termasuk tujuh anak tewas pada serangan itu.

    Serangan mematikan itu terjadi beberapa hari setelah serangan teror di bandara Kabul, di tengah upaya evakuasi yang kacau setelah Taliban secara mengejutkan kembali berkuasa.

    Serangan itu, menjadi dosa terakhir militer AS di Afghanistan, sebelum mengakhiri 20 tahun operasinya di negara itu.

    Intelijen AS mengaku telah melacak mobil pekerja bantuan itu selama delapan jam, kemudian menyimpulkannya terkait dengan militan ISIS-K, kata Komando Pusat AS, Jenderal Kenneth McKenzie.

    Penyelidikan menemukan mobil pria itu terlihat di sebuah kompleks yang terkait dengan ISIS-K, dan gerakannya selaras dengan intelijen lain tentang rencana kelompok teror itu untuk menyerang bandara Kabul.

    Pada satu titik, sebuah drone pengintai melihat orang-orang memuat sesuatu yang dicurigainya sebagai bahan peledak ke bagasi mobil, namun ternyata itu hanyalah galon air.

    Jenderal McKenzie menggambarkan serangan itu sebagai “kesalahan tragis”, dan menambahkan bahwa Taliban tidak terlibat dalam intelijen yang menyebabkan serangan itu.

    Serangan terjadi ketika pekerja bantuan -bernama Zamairi Akmadhi- berhenti di jalan masuk rumahnya, 3 km (1,8 mil) dari bandara.

    Ledakan itu memicu ledakan sekunder, yang awalnya diklaim pejabat AS sebagai bukti bahwa mobil itu memang membawa bahan peledak. Namun penyelidikan telah menemukan kemungkinan besar ledakan kedua itu disebabkan oleh tangki propana di jalan masuk.

    Konsekuensi mengerikan dari kesalahan militer AS ini menimbulkan pertanyaan tentang keakuratan operasi militer AS. Malapetaka ini mengungkap korban manusia yang mengerikan dari perang yang sebagian besar telah dilancarkan dari udara selama bertahun-tahun.

    Peristiwa yang terjadi tepat ketika Amerika mengakhiri pendudukan 20 tahun mereka ini, telah memberikan noda yang lebih gelap atas keberadaan AS di Afghanistan.

  • Serangan Roket Hantam Rumah Dekat Bandara Kabul

    Serangan Roket Hantam Rumah Dekat Bandara Kabul

    TIKTAK.ID – Seorang pejabat kementerian kesehatan mengatakan kepada BBC, Minggu (29/8/21) bahwa telah terjadi ledakan baru-baru ini di dekat bandara internasional Hamid Karzai, Kabul. Ledakan itu dilaporkan akibat tembakan roket yang menghantam sebuah rumah di dekat bandara.

    Meski demikian, bandara tidak terkena dampaknya secara langsung, kata sumber tersebut. Belum diketahui apakah ada korban jiwa, seperti yang dilaporkan BBC.

    Beberapa jam sebelumnya, Presiden AS Joe Biden telah memperingatkan kemungkinan akan terjadinya serangan berikutnya di bandara Kabul.

    “Saya memperoleh informasi bahwa serangan sangat mungkin terjadi dalam 24-36 jam ke depan,” kata Biden.

    Ia menambahkan bahwa dirinya telah menginstruksikan pasukan AS untuk mengambil semua tindakan yang mungkin untuk melindungi pasukan, yang mengamankan bandara dan membantu membawa mereka yang akan dievakuasi ke lapangan terbang. Amerika dan negara Barat lainnya putus asa untuk keluar dari kekuasaan Taliban, seperti yang dikutip dari The Associated Press.

    Sebelumnya, sedikitnya 170 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri di dekat bandara pada Kamis kemarin, yang diklaim dilakukan oleh kelompok ISIS Khurasan (ISIS-K), yaitu cabang kelompok ISIS yang ada di Afghanistan.

    Departemen Luar Negeri mendesak semua warga AS untuk segera meninggalkan wilayah Bandara karena adanya “ancaman spesifik dan kredibel”, mereka menambahkan bahwa serangan itu bisa terjadi hari ini (Minggu).

    “Serangan ini bukan yang terakhir,” kata Biden, mengacu pada serangan pada Kamis. “Kami akan terus memburu siapa pun yang terlibat dalam serangan keji itu dan membuat mereka membayarnya.”

    Pejabat Gedung Putih menambahkan bahwa beberapa hari ke depan operasi evakuasi AS kemungkinan akan menjadi yang paling berbahaya sejak dimulainya pada pertengahan Agustus ini.

    Pasukan AS telah memulai mengangkut pasukan AS dari bandara -jumlah mereka sekarang turun menjadi 4.000, dari puncak 5.800 dalam seminggu terakhir.

    Seorang pejabat keamanan Barat mengatakan kepada Reuters bahwa pasukan AS berada di tahap akhir penarikan, meskipun waktu untuk mengakhiri operasi belum diputuskan.

    Lebih dari 1.000 warga sipil masih harus diterbangkan, kata pejabat itu.

    Seorang pejabat Taliban mengatakan kepada Reuters para ahli teknis dan insinyur mereka siap untuk mengambil alih bandara ketika mereka diberi “restu terakhir dari Amerika”.

    Taliban telah mendirikan pos pemeriksaan lebih lanjut di sekitar bandara dan tidak mengizinkan sebagian besar warga Afghanistan lewat, tulis Associated Press.

    Secara keseluruhan, lebih dari 110.000 orang -baik warga Afghanistan maupun warga negara asing- telah dievakuasi dari bandara Kabul sejak pengangkutan udara dimulai dua minggu lalu.

    Pada Sabtu, penerbangan terakhir Italia dari Afghanistan tiba di Roma. Italia mengatakan telah mengevakuasi hampir 5.000 warga Afghanistan dari Kabul -jumlah tertinggi dari negara Uni Eropa mana pun.

  • Bandara Kabul Diguncang Serangan Dua Bom Bunuh Diri

    Bandara Kabul Diguncang Serangan Dua Bom Bunuh Diri

    TIKTAK.ID – Dua serangan bom bunuh diri terjadi di bandara internasional Hamid Karzai, Kabul, pada Kamis (26/8/21) yang menyebabkan sedikitnya 13 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.

    Kedua bom itu meledak di dekat Gerbang Abbey, tempat ribuan warga Afghanistan berkumpul dengan harapan bisa terbang keluar dari negara tersebut.

    “Kami dapat memastikan bahwa ledakan di gerbang itu adalah hasil dari serangan kompleks yang mengakibatkan sejumlah tentara AS dan sipil menjadi korban,” kata Jubir Pentagon John Kirby, seperti yang dilansir BBC.

    “Kami juga dapat mengonfirmasi setidaknya satu ledakan lain di dekat Baron Hotel, tidak jauh dari Abbey Gate.”

    Serangan bom di bandara Kabul terjadi setelah sebelumnya sejumlah peringatan dari beberapa negara bahwa kerumunan massa di bandara Kabul yang terdiri dari ribuan orang dapat menjadi sasaran serangan teror.

    Inggris memperingatkan hanya beberapa jam sebelum ledakan terjadi bahwa serangan teror “sangat mematikan” dapat dilakukan kapan saja.

    Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, James Heappey mengatakan ada laporan “sangat kredibel” tentang ancaman “berat” di Ibu Kota Afghanistan.

    AS sebelumnya menyarankan orang Amerika di Afghanistan untuk tidak bepergian atau berkumpul di bandara “karena ancaman keamanan di luar gerbang”.

    Australia juga mengeluarkan peringatan, memberitahu mereka yang berada di luar bandara untuk segera pergi.

    Namun, banyak warga Afghanistan yang putus asa untuk melarikan diri dari Taliban tak menghiraukan seruan tersebut dan tetap berada di gerbang bandara.

    Seorang saksi mata serangan di luar bandara Kabul mengatakan kepada wartawan di tempat kejadian bahwa ledakan itu “sangat kuat”.

    “Di mana kami berada, tiba-tiba ada ledakan,” kata pria itu dalam rekaman yang dibagikan oleh Reuters.

    Dia mengatakan melihat “setidaknya 400 hingga 500 orang” di daerah terdekat dan menggambarkan beberapa korban sebagai “pasukan asing”.

    “Kami membawa yang terluka ke sini dengan tandu dan … pakaian saya benar-benar berlumuran darah,” katanya.

    Seorang Jubir Taliban mengutuk ledakan kembar tersebut dan mengatakan bahwa serangan itu terjadi di daerah yang dikendalikan militer AS.

    “Imarah Islam mengutuk keras pemboman yang menargetkan warga sipil di bandara Kabul,” kata Zabihullah Mujahid melalui akun twitternya.

    Juru Bicara itu menambahkan ledakan itu “terjadi di daerah di mana pasukan AS bertanggung jawab atas keamanan”.

    Juru Bicara Taliban lainnya, Suhail Shaheen mengatakan Taliban “memperhatikan keamanan dan perlindungan rakyatnya” melalui akun twitternya.

    “Imarah Islam sangat memperhatikan keamanan dan perlindungan rakyatnya, dan lingkaran jahat akan ditindak dengan tegas,” tulis Suhail.

  • Dua Ledakan Hebat Hantam Ibu Kota Afghanistan

    Dua Ledakan Hebat Hantam Ibu Kota Afghanistan

    TIKTAK.ID – Ledakan hebat yang diikuti dengan tembakan sporadis menghantam Ibu Kota Afghanistan, Kabul, di dekat “Zona Hijau” yang dijaga ketat, sebuah area yang menampung gedung-gedung Pemerintah dan Kedutaan asing, pada Selasa (3/8/21) kata para pejabat.

    Seorang pejabat senior keamanan mengatakan ledakan pertama, yang terjadi tepat setelah pukul 8 malam waktu setempat, tampaknya disebabkan oleh sebuah bom mobil dan sasarannya adalah rumah pejabat menteri pertahanan dan kediaman seorang anggota parlemen yang bersebelahan.

    Menteri Pertahanan, Bismillah Mohammadi mengatakan tidak ada luka pada dirinya dan anggota keluarganya tetapi beberapa penjaga keamanannya terluka, seperti yang dilaporkan Aljazeera.

    Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Mirwais Stanekzai mengatakan orang-orang bersenjata memasuki daerah itu setelah ledakan pertama. Tiga penyerang kemudian dibunuh oleh pasukan keamanan dan kini operasi pembersihan sedang dilakukan oleh polisi. Semua jalan menuju rumah Kementerian dan wisma ditutup, tambahnya.

    Kurang dari dua jam setelah bom mobil diledakkan, ledakan keras lain diikuti dengan tembakan cepat kembali mengguncang Kabul, di wilayah kota yang sama.

    Ratusan warga di daerah itu diungsikan ke tempat yang aman, kata Jubir Kepala Polisi Kabul, Ferdaws Faramarz. Dia mengatakan personel keamanan sedang mencari dari rumah ke rumah, khawatir lebih banyak penyerang bersembunyi di daerah itu.

    Akibat serangan kedua itu, sedikitnya 10 orang terluka dan dibawa ke rumah sakit di Ibu Kota, kata Jubir Kementerian Kesehatan, Dastgir Nazari.

    Rumah Sakit Darurat kota mengatakan dalam sebuah tweetnya bahwa sejauh ini telah menerima enam orang terluka dalam serangan pertama.

    Tidak ada kelompok yang segera mengaku bertanggung jawab.

    Serangan -di jantung salah satu daerah paling aman di Kabul- terjadi di tengah eskalasi kekerasan yang dilakukan Taliban. Serangan meningkat tajam sejak Presiden Joe Biden mengumumkan pasukan AS akan pergi pada September bahkan Taliban mengintensifkan serangannya di kota-kota besar.

    Amerika Serikat mengatakan bahwa ledakan itu memiliki ciri khas serangan Taliban dan bahwa salah satu dari banyak kekhawatiran Washington tentang Afghanistan adalah bahwa hal itu dapat berkembang menjadi perang saudara.

    Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Ned Price mengatakan jika Taliban berusaha untuk melanggar keterlibatannya dalam pembicaraan damai di Doha, “Mereka akan menjadi paria internasional… hasilnya akan menjadi perang saudara.”

  • Pegawai Pemerintah Afghanistan Tewas dalam Sejumlah Serangan di Kabul

    Pegawai Pemerintah Afghanistan Tewas dalam Sejumlah Serangan di Kabul

    TIKTAK.ID – Sejumlah orang bersenjata melepaskan tembakan di lingkungan Bagh-e-Daud, Kabul, Afghanistan dan menewaskan empat pegawai Kementerian Pembangunan Pedesaan pada Selasa (9/2/21).

    Di tempat lain, masih di wilayah Kabul, sebuah bom yang dipasang di mobil meledak, melukai pegawai pemerintah lainnya, kata Juru Bicara Kepala Polisi Kota, Fardaws Faramarz, seperti yang dilaporkan Aljazeera.

    Sebelumnya, pada hari yang sama, empat polisi tewas dan lima lainnya terluka ketika kendaraan mereka terkena bom pinggir jalan di distrik Zenda Jan di provinsi Herat barat, kata Gubernur Provinsi, Wahid Qatali.

    Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas sejumlah serangan itu.

    Sedang pejabat Afghanistan dan AS menuding kelompok Taliban yang bertanggung jawab atas gelombang kekerasan yang terjadi di Afghanistan, meskipun kelompok itu menolak tuduhan tersebut.

    Kekerasan di Afghanistan terus meningkat, sementara pembicaraan damai antara Taliban dan perwakilan Pemerintah yang dimulai pada September di Qatar kini macet.

    Sementara itu, terjadi lonjakan pemboman secara nasional, pembunuhan terarah, dan kekerasan.

    Ibu Kota Kabul hampir tiap hari mengalami serangan sepanjang pagi yang sibuk, menargetkan warga Afghanistan terkemuka termasuk politisi, jurnalis, aktivis, hakim, dan cendekiawan agama.

    Serangan pada Selasa ini terjadi sehari setelah tiga ledakan bom mengguncang Ibu Lota, menewaskan sedikitnya satu orang.

    Minggu lalu, Hakim Hafizullah diserang dalam penyergapan di timur kota Jalalabad saat dia pergi bekerja. Dia adalah pejabat pengadilan ketiga yang terbunuh dalam waktu kurang dari sebulan.

    Pada 17 Januari, dua hakim wanita dibunuh oleh pria bersenjata tak dikenal di Kabul.

    Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 30 Januari, Inspektur Jenderal Khusus AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) mengatakan Taliban dan kelompok bersenjata ISIL (ISIS) telah meningkatkan pembunuhan terarah terhadap pejabat Pemerintah, pemimpin masyarakat sipil, dan jurnalis.

    Resolute Support, misi pimpinan NATO di Afghanistan, melaporkan 2.586 korban sipil yang terjadi dari 1 Oktober hingga 31 Desember tahun lalu, termasuk 810 tewas dan 1.776 luka-luka, menurut laporan SIGAR.

    Meningkatnya kekerasan di Afghanistan telah membuat pemerintahan Presiden AS, Joe Biden meluncurkan peninjauan kembali atas kesepakatan yang ditandatangani antara Washington dan Taliban tahun lalu yang menyetujui penarikan semua pasukan Amerika dari Afghanistan.

    Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi pembicaraan intra-Afghanistan antara perwakilan Taliban dan Pemerintah Afghanistan setelah konflik selama beberapa dekade. Namun kini rasa frustrasi dan ketakutan telah tumbuh karena lonjakan kekerasan baru-baru ini, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan.

  • Kabul Kembali Dihantam Empat Roket

    Kabul Kembali Dihantam Empat Roket

    TIKTAK.ID – Serangkaian roket menghantam Ibu Kota Afghanistan, Kabul pada Sabtu (12/12/20), menewaskan satu orang dan melukai sejumlah orang lainnya, kata Kementerian Dalam Negeri. Ini merupakan serangan kedua yang mengguncang Kabul dalam waktu kurang dari sebulan.

    “Empat roket ditembakkan dari wilayah Labe Jar di Kabul,” kata Jubir Kementerian, Tariq Arian kepada wartawan, menambahkan bahwa dua roket mendarat di dekat bandara Kabul. Dia menambahkan satu orang tewas dan sejumlah lainnya terluka.

    Sejauh ini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab terkait serangan itu.

    Polisi Kabul mengonfirmasi serangan pagi itu, dengan mengatakan sebagian besar roket menghantam bagian timur Ibu Kota.

    Pada 21 November lalu, serangan yang sama juga terjadi dan mengakibatkan delapan orang tewas ketika 23 roket menghantam Kabul dalam serangan yang diklaim oleh kelompok ISIS.

    Kekerasan di Afghanistan terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dengan beberapa serangan mematikan dilakukan di Kabul, meskipun saat ini kelompok Taliban dan Pemerintah Kabul masih terlibat dalam pembicaraan damai sejak 12 September di Qatar.

    Selain serangan roket November lalu, ISIS juga mengklaim dua serangan mematikan di Kabul.

    Serangan itu menargetkan pusat pendidikan di Ibu Kota yang menewaskan sebagian besar siswa, termasuk satu di Universitas Kabul yang menjadi saksi mata kelompok bersenjata memberondongkan tembakan ke ruang kelas.

    Pihak berwenang menyalahkan serangan terhadap pusat pendidikan kepada kelompok jaringan Haqqani, afiliasi dari Taliban.

    Kekerasan di Afghanistan juga terus meningkat di tengah berlangsungnya penarikan pasukan AS dari negara itu sesuai dengan kesepakatan antara AS dan kelompok Taliban pada Februari lalu.

    Pada November lalu, Pentagon mengatakan akan menarik 2.000 tentara keluar dari Afghanistan, jadwal ini lebih cepat dari yang ditetapkan dalam perjanjian Februari antara Washington dan Taliban yang membayangkan penarikan penuh pada Mei 2021.

    Kesepakatan itu antara AS dan Taliban itu juga menetapkan bahwa kelompok Taliban tidak akan menargetkan kota-kota utama di negara itu, meskipun pihak berwenang Afghanistan menuding kelompok Taliban atas banyak serangan semacam itu.

  • Serangan Roket di Kabul, Afghanistan Tewaskan 8 Orang

    Serangan Roket di Kabul, Afghanistan Tewaskan 8 Orang

    TIKTAK.ID – Sejumlah roket menghantam wilayah permukiman di Ibu Kota Afghanistan, Kabul pada Sabtu (21/11/20), menewaskan sedikitnya delapan warga sipil dan melukai 31 lainnya, kata pejabat polisi.

    Beberapa roket jatuh di dekat daerah kantong diplomatik, yang langsung memicu suara sirene peringatan yang menggelegar dari Kedutaan. Serangan ini terjadi dua hari sebelum konferensi donor besar untuk Afghanistan di Jenewa.

    Dilansir kantor berita Reuters, Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Tariq Arian mengatakan sedikitnya delapan warga sipil tewas dalam serangan itu dan 31 lainnya luka-luka. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa ada lima mayat dan 21 korban luka-luka yang dibawa ke rumah sakit akibat insiden itu.

    Arian mengatakan “teroris” memasang 14 roket di truk kecil dan meledakkannya, menambahkan bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk mengetahui bagaimana kendaraan itu masuk ke kota.

    Beberapa warga merekam roket yang ditembakkan dan mempostingnya di media sosial. Beberapa gambar yang beredar di Facebook menunjukkan mobil-mobil rusak, jendela pecah dan menciptakan lubang di rumah-rumah warga.

    Sebuah foto seorang saudara laki-laki dan perempuan, yang beredar di media sosial menurut para pejabat merupakan di antara korban tewas yang terbunuh di rumah mereka.

    Salah satu roket mendarat di sekitar Kedutaan Iran dan beberapa pecahan menghantam gedung utama tetapi tidak ada staf Kedutaan yang menjadi korban, kata rilis yang dikeluarkan Kedutaan.

    Sejak pembicaraan damai antara Pemerintah Afghanistan dan Taliban terhenti di Ibu Kota Qatar, Doha, serangan oleh Taliban dan kelompok ekstremis lainnya terus meningkat, terutama di Ibu Kota yang menampung lebih dari lima juta warga Afghanistan.

    Pemberontak Taliban, yang berperang melawan pemerintahan Kabul dan didukung sejumlah negara asing, membantah terlibat dalam serangan itu.

    Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo melakukan perjalanan ke Qatar untuk bertemu dengan delegasi Afghanistan dan negosiator Taliban.

    Pada awal bulan ini, juga telah terjadi serangan berdarah di Kabul, ketika beberapa pria bersenjata menyerbu kampus Universitas Kabul dan menewaskan sedikitnya 35 orang, kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa dan melukai lebih dari 50 orang.

    Serangan terbaru itu diklaim dilakukan oleh kelompok teroris ISIS.

  • Terus Bertambah, Korban Serangan Teror ke Kampus di Kabul Jadi 35 Orang

    Terus Bertambah, Korban Serangan Teror ke Kampus di Kabul Jadi 35 Orang

    TIKTAK.ID – Korban tewas akibat serangan ke sebuah Universitas di Kabul terus bertambah menjadi sedikitnya 35 orang tewas, kata dua sumber Pemerintah, Selasa (3/11/20), ketika para mahasiswa melancarkan protes atas serangan itu dan menandai hari berkabung.

    Dikutip dari kantor Berita Reuters, sekelompok orang bersenjata menerobos masuk ke universitas pada Senin kemarin, dalam serangan kedua terhadap sebuah universitas di Ibu Kota Afghanistan hanya dalam waktu sepekan. Kedua serangan itu diklaim oleh ISIS.

    ISIS juga mengklaim serangan sebelumnya, yang menewaskan 24 orang di daerah Dashte Barchi di Kabul.

    Dalam sebuah pesan di aplikasi perpesanan Telegram, sebuah akun yang mengaku milik ISIS mengatakan mereka telah “membunuh dan melukai 80 hakim, penyelidik, dan personel keamanan Afghanistan” yang tengah berkumpul untuk sebuah acara di Fakultas Hukum.

    Kedua sumber tersebut mengatakan bahwa sebagian besar dari korban yang tewas adalah pelajar dan sekitar 50 orang lainnya terluka, beberapa dari mereka mengalami patah anggota badan saat melompat dari jendela untuk menyelamatkan diri dari serangan pagi itu.

    Secara resmi jumlah korban tewas mencapai 22 dengan 27 lainnya luka-luka, menurut Kementerian Dalam Negeri.

    Negara itu mengumumkan hari berkabung pada Selasa ini, dengan banyak bendera dikibarkan setengah tiang.

    Selasa ini, sekitar 100 mahasiswa berkumpul di luar universitas untuk memprotes bahwa pembicaraan damai dengan kelompok Taliban di Doha ternyata tidak mengarah pada pengurangan kekerasan.

    “Meskipun kami melihat serangan semacam ini setiap hari, masih ada pembicaraan damai dengan mereka, yang benar-benar mengerikan,” kata seorang mahasiswa yang memprotes, Zaryab Paryani.

    Taliban sendiri membantah terlibat dalam serangan itu, termasuk ledakan bulan lalu -juga diklaim oleh ISIS- yang menewaskan puluhan siswa di sebuah pusat bimbingan.

    Tetapi beberapa pejabat Pemerintah Afghanistan, termasuk Wakil Presiden Pertama Amrullah Saleh, menuding Taliban terlibat.

    Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid di Twitter menuduh Pemerintah “menganggap publik sebagai orang bodoh”.

    Negosiator dari Pemerintah Afghanistan dan Taliban mengadakan pembicaraan di Doha dengan tujuan menengahi kesepakatan damai saat Amerika Serikat menarik pasukannya dari Afghanistan.

  • Wakil Presiden Afghanistan Jadi Target Serangan Bom yang Tewaskan 10 Orang

    Wakil Presiden Afghanistan Jadi Target Serangan Bom yang Tewaskan 10 Orang

    TIKTAK.ID – Sebuah serangan bom yang menargetkan wakil Presiden Afghanistan, Amrullah Saleh menyebabkan sedikitnya 10 orang tewas. Akibat serangan pada Rabu (9/9/20 itu Saleh mengalami luka ringan di wajah dan tangannya.

    Serangan bom yang terjadi di pinggir jalan Ibu Kota Afghanistan, Kabul itu terjadi ketika para pejabat Afghanistan dan Taliban bersiap untuk memulai pembicaraan damai resmi mereka untuk pertama kalinya, tulis BBC.

    Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan melalui akun Twitternya bahwa mereka bukan pelaku ledakan itu.

    Rekaman yang beredar di internet tidak lama setelah ledakan menunjukkan asap hitam besar mengepul dari tempat kejadian.

    Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Tareq Arain mengatakan bahwa serangan bom itu menargetkan konvoi Saleh saat dia berangkat bekerja. Arain mengatakan 10 warga sipil yang bekerja di daerah itu tewas dan 15 orang, termasuk salah satu pengawal Saleh, terluka.

    Seorang saksi ledakan mengatakan dia mengemudi melewati lokasi itu dalam perjalanan ke klinik ketika bom meledak.

    “Saya kehilangan salah satu saudara saya, dan yang lainnya terluka,” kata pria itu kepada kantor berita Reuters segera setelah ledakan itu. “Pemerintahan macam apa ini? Tidak ada ambulans, dan bahkan polisi pun belum datang,” protesnya.

    Saleh merupakan mantan Kepala Badan Intelijen Afghanistan dan dikenal sebagai lawan paling vokal Taliban. Dia telah selamat dari sejumlah upaya pembunuhan sebelumnya, termasuk pada tahun lalu yang menewaskan 20 orang di kantornya. Berbicara setelah ledakan pada Rabu, dia berjanji untuk melanjutkan pekerjaan politiknya.

    Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani bertemu dengan Saleh setelah serangan itu, pada Rabu pagi.

    “Para teroris dan pendukung asing mereka tidak dapat merusak keyakinan kuat rakyat pada perdamaian, demokrasi dan masa depan cerah negara kami,” kata Ghani dalam sebuah pernyataannya.

    Delegasi Uni Eropa di Afghanistan mengutuk serangan itu, menyebutnya sebagai “tindakan putus asa oleh perusak upaya perdamaian, yang harus dihadapi secara kolektif”.

    Para pejabat Afghanistan diperkirakan akan memulai pembicaraan yang lama tertunda dengan Taliban dalam beberapa hari mendatang di Doha, Qatar, dalam upaya mencapai rekonsiliasi politik setelah bertahun-tahun pertumpahan darah.

    Taliban menandatangani kesepakatan pada Februari dengan Amerika untuk mengakhiri konflik selama 18 tahun antara keduanya. Perjanjian perdamaian menyepakati penghentian serangan Taliban terhadap pasukan Amerika tetapi kelompok militan terus menargetkan militer dan Pemerintah Afghanistan.

    Namun Taliban pada Februari lalu berjanji untuk tidak melancarkan serangan di daerah perkotaan, seperti yang terjadi di Kabul pada Rabu ini.

    Kelompok yang disebut ISIS juga telah melancarkan berbagai serangan tingkat tinggi di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir.

    Pada Agustus, kelompok itu mengaku bertanggung jawab atas operasi terhadap sebuah penjara di kota Jalalabad timur yang menewaskan 29 orang dan memungkinkan ratusan narapidana melarikan diri.