Tag: G30S/PKI

  • Tudingan ke TNI Soal PKI Jadi Polemik, Barikade 98 Singgung Tujuan Politik Gatot

    Tudingan ke TNI Soal PKI Jadi Polemik, Barikade 98 Singgung Tujuan Politik Gatot

    TIKTAK.ID – Pernyataan mantan Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo mengenai isu Partai Komunis Indonesia (PKI) di lingkungan TNI AD diketahui berbuntut panjang. Ketum DPN Barikade 98, Benny Rhamdani menganggap perkataan Gatot tersebut memecah-belah TNI dan hanya untuk tujuan politik.

    Benny mengatakan sangat wajar bila Pangkostrad, Letjen TNI Dudung Abdurachman menjawab tudingan Gatot itu sebagai tudingan keji yang secara sengaja bermotif memecah-belah TNI untuk tujuan politik Gatot Nurmantyo.

    “Tuduhan Gatot ke tubuh TNI merupakan tuduhan serius. Selain dapat memunculkan ketidakpercayaan rakyat kepada TNI, juga bisa memicu kemarahan rakyat kepada TNI sebagai anak kandung rakyat,” ujar Benny, Sabtu (2/10/21), seperti dilansir Sindonews.com.

    Baca juga : Diisukan Bayar Yusril 100 Miliar, Kubu Moeldoko: Wajar Lah, Kan Tidak Ada Makan Siang Gratis

    Menurut Benny, rakyat patut curiga dengan pernyataan Gatot yang selalu bicara mengenai kebangkitan dan penyusupan PKI. Sebab, Benny menilai Gatot kerap memunculkan isu tersebut menjelang pemilihan presiden.

    ”Sekarang di saat Pemerintah dan rakyat tengah berjuang melawan Covid-19, Gatot malah melempar tuduhan yang sama. Bahkan kali ini terhadap institusi TNI yang membesarkan dan menjadikan dirinya sebagai Panglima,” tutur Benny.

    Benny menyatakan bila hal ini adalah sebuah manuver politik, mengapa Gatot tidak penah menunjuk hidung siapa yang dimaksud PKI atau komunis itu. Ia menjelaskan, bahkan ketika Gatot masih menjabat sebagai Panglima TNI, tidak satu pun yang ditangkap karena dianggap sebagai PKI.

    Baca juga : Kubu Moeldoko Ngaku Diintimidasi AHY Agar Cabut Gugatan AD/ART, Demokrat Membantah

    Kemudian Benny yang juga anak dari seorang prajurit TNI mengaku mendukung pernyataan Letjen TNI Dudung Abdurachman bahwa tuduhan Gatot itu merupakan tuduhan keji terhadap TNI.

    Untuk diketahui, Gatot memang acap kali mengangkat isu kebangkitan PKI menjelang peringatan peristiwa 30 September 1965 atau G30S. Pada tahun ini, Gatot membawa isu dugaan terdapat penyusupan kembali pendukung PKI ke tubuh TNI.

    Melalui sebuah diskusi, Gatot mengklaim indikasi itu dibuktikan dengan diputarnya video pendek yang menggambarkan hilangnya sejumlah bukti-bukti penumpasan G30S/PKI di Museum Dharma Bhakti, Markas Kostrad.

    Baca juga : Ganjar Respons Cuitan Pigai yang Dituding Rasis

    Dia menerangkan, patung yang dihilangkan itu adalah patung Presiden Soeharto, Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, dan Jenderal A.H. Nasution.

  • Panglima TNI Respons Tudingan Gatot Soal ‘Komunis Susupi Angkatan Darat’

    Panglima TNI Respons Tudingan Gatot Soal ‘Komunis Susupi Angkatan Darat’

    TIKTAK.ID – Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto ikut buka suara terkait Jenderal Purn. Gatot Nurmantyo yang menuding Kostrad telah disusupi oleh paham komunis. Hadi mengatakan bahwa tudingan tersebut tidak ilmiah, lantaran hanya didasari pada ketiadaan patung.

    Sebelumnya, Gatot menyatakan TNI disusupi komunis karena diorama di Museum Kostrad telah hilang. Diorama tersebut dilengkapi patung sejumlah petinggi militer ketika merespons Gerakan 30 September 1965.

    “Saya tidak ingin berpolemik mengenai hal yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Tidak bisa suatu pernyataan didasarkan hanya pada keberadaan patung di suatu tempat,” ujar Hadi, seperti dikutip CNN Indonesia dari Antara, Selasa (28/9/21).

    Baca juga : Jokowi Sudah Gelontorkan Bantuan Pandemi 405 T, Sisa 330 T

    Menurut Hadi, tudingan Gatot tersebut juga sudah diklarifikasi oleh Kostrad. Alumnus Sekolah Penerbang TNI AU 1987 itu pun mengklaim TNI selalu mewaspadai paham radikal, baik radikal kiri, maupun kanan.

    “Oleh sebab itu, pengawasan intensif baik secara eksternal maupun internal selalu menjadi agenda utama. Tidak hanya terhadap radikal kiri, melainkan juga terhadap radikal kanan dan radikal lainnya,” tutur Hadi.

    Kemudian Hadi mengaku dirinya tak mau larut dalam polemik tudingan TNI disusupi oleh paham komunis. Dia lantas menegaskan, pernyataan Gatot itu hanya sebatas nasihat dari senior kepada juniornya di TNI.

    Baca juga : Disebut Bisa Perkuat Pemberantasan Korupsi, Polri Siap Tampung Pegawai KPK Tak Lolos TWK

    “Saya lebih menganggap pernyataan itu adalah suatu nasihat dari senior kepada kami sebagai prajurit aktif TNI, agar senantiasa waspada, sehingga lembaran sejarah yang hitam tidak terjadi lagi,” ucap pria kelahiran Malang, 8 November 1963 tersebut.

    Seperti telah diberitakan, Gatot mengklaim paham PKI tengah menyusup ke militer Indonesia saat ini. Dia menilai hal itu terlihat dari penghilangan patung tokoh G30S/PKI di Markas Kostrad. Gatot menyampaikan itu melalui sebuah webinar secara daring yang digelar pada Minggu (26/9/21).

    Akan tetapi, Pangkostrad Letjen Dudung Abdurrachman membantah perkataan Gatot. Dia bahkan menyebut ucapan Gatot itu sebagai tudingan yang keji.

    Baca juga : Beredar Bocoran Reshuffle, Menteri Baru Jokowi dari BG hingga Andika Perkasa

    Lebih lanjut, Dudung menjelaskan, patung tersebut sudah dibongkar atas permintaan pembuatnya atas alasan keyakinan keagamaan. Pembuat patung itu yakni Pangkostrad ke-34, Letjen TNI (Purn) Azym Yusri Nasution.

  • Pangkostrad Dudung Jawab Tudingan Gatot Nurmantyo Soal PKI di TNI AD

    Pangkostrad Dudung Jawab Tudingan Gatot Nurmantyo Soal PKI di TNI AD

    TIKTAK.ID – Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letnan Jenderal Dudung Abdurachman menampik pernyataan mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo bahwa militer Angkatan Darat (AD) tengah disusupi oleh PKI.

    Sebelumnya, Gatot menyampaikan hal itu ketika mengungkap bahwa patung sejumlah tokoh nasional yang terlibat dalam persitiwa G30S/PKI telah raib di Museum Dharma Bhakti Markas Kostrad.

    “Tidak benar tudingan mengenai patung diorama itu sudah tidak ada, diindikasikan bahwa AD telah disusupi oleh PKI. Hal itu adalah tudingan yang keji terhadap kami,” ujar Dudung, seperti dilansir CNN Indonesia, Senin (27/9/21).

    Baca juga : Tingkat Kepuasan Rakyat ke Jokowi Anjlok, PDIP dan Golkar Ungkap Penyebabnya

    Menurut Dudung, seharusnya Gatot sebagai prajurit bisa melakukan klarifikasi terlebih dahulu terhadap organisasi sebelum membeberkannya ke publik luas dan menjadi prasangka. Dia pun menilai pernyataan Gatot dapat membuat fitnah dan menimbulkan kegaduhan di Indonesia.

    “Dalam Islam disebut tabayun supaya tidak menimbulkan prasangka buruk yang membuat fitnah,” terang Dudung.

    Dudung mengatakan patung-patung itu hilang dari Markas lantaran diminta kembali oleh pembuatnya, yaitu Pangkostrad terdahulu, Letjen (Purn) Azym Yusri Nasution. Ia mengaku tidak bisa menolak permintaan tersebut. Dia pun mengklaim AY Nasution merasa berdosa karena telah membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya.

    Baca juga : Tak Terima Demokrat Serang Pribadi Yusril, PBB Angkat Suara

    “Jadi saya tidak dapat menolak permintaan yang bersangkutan,” ucap Jenderal bintang tiga tersebut.

    Kemudian Dudung menepis penarikan tiga patung itu membuat Gatot menyimpulkan TNI melupakan peristiwa sejarah G30S/PKI.

    “Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution memiliki komitmen yang sama, yakni tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu,” tutur Dudung.

    Untuk diketahui, pada webinar yang digelar Minggu (26/9/21), Gatot mengaku penghilangan patung tokoh nasional G30S/PKI di Markas Kostrad itu adalah upaya penyusupan paham komunis di militer Indonesia. Secara lugas Gatot menyatakan indikasi-indikasi tersebut tidak dapat dibiarkan karena bisa mengulang sejarah kelam tahun 65.

    Baca juga : Pakar: Pengganti Anies Baswedan Diusulkan Tito, Dipilih Jokowi

    “Saya mengetuk hati para patriotisme kstaria prajurit AD, AL, dan AU, agar bahu membahu mawas diri membersihkan. Jangan sampai paham ini bisa masuk yang akan meruntuhkan nilai-nilai perjuangan patriotisme,” tegas Gatot.

  • Sejarawan: Peristiwa G30S/PKI, Proses Lengserkan Sukarno

    Sejarawan: Peristiwa G30S/PKI, Proses Lengserkan Sukarno

    TIKTAK.ID – Sejarawan Anhar Gonggong membenarkan orasi Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri yang mengatakan bahwa ayahnya, Presiden Sukarno, telah dilengserkan pascaprahara pada 1965.

    Megawati menyampaikan hal itu ketika memberikan orasi usai penyematan gelar Profesor Kehormatan dengan status Guru Besar Tidak Tetap oleh Universitas Pertahanan (Unhan), pada Jumat (11/6/21).

    Menurut Megawati, setelah Sukarno lengser, hidupnya pun berubah drastis. Pasalnya, Mega yang dibesarkan dalam lingkungan Istana, tiba-tiba harus menjalani kehidupan seperti rakyat biasa. Mega juga sempat mengikuti penelitian khusus (Litsus), yakni kebijakan pada Orde Baru untuk menjaring orang-orang yang terindikasi terkait dengan Komunisme.

    “Saya tumbuh besar di Istana, tapi akibat peristiwa politik pada 1965, saya tidak bisa melanjutkan sekolah. Tentu saja hal itu karena ayah saya dilengserkan, hidup sebagai rakyat biasa,” ujar Megawati, seperti dilansir CNN Indonesia.

    Merespons hal itu, Anhar menyatakan Sukarno dilengserkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan konsep Nasionalisme, Agama, dan Komunisme yang diusung oleh proklamator RI tersebut.

    “Kalau hanya dia mengatakan dilengserkan memang betul, dan yang melengserkan adalah mertua Prabowo (Soeharto),” tutur Anhar, Jumat (11/6/21).

    Anhar menjelaskan, ketika masih menjadi presiden, tidak semua orang setuju dengan sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Bung Karno. Terlebih, lanjutnya, saat Bung Karno mencetuskan gagasan konsep politik Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (Nasakom).

    “Nah orang yang anti dengan Nasakom, Komunis, ya melawan. Belakangan kemudian terjadilah peristiwa G30S/PKI,” ucap Anhar.

    Anhar memaparkan, peristiwa G30S merujuk pada pembunuhan sejumlah perwira tinggi militer di Indonesia pada 1965, sedangkan Sukarno lengser pada 1967. Peristiwa tersebut lantas dikaitkan dengan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI).

    Anhar menilai peristiwa G30S/PKI adalah proses menuju upaya melengserkan Sukarno. Ia menyatakan pelengseran dilakukan lewat berbagai cara, dan salah satunya melalui mekanisme sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

    “Tetap berusaha melalui MPRS yang dibentuk oleh Bung Karno sendiri. Setelah Bung Karno mau dilengserkan, maka anggota-anggota MPR, DPR, seperti orang PKI, PNI, diganti semua dengan pendukung Soeharto. Jadi memang benar dilengserkan,” jelasnya.

  • Sindir Gatot Nurmantyo Soal Isu Kebangkitan PKI, Agum Gumelar: Isu Basi!

    Sindir Gatot Nurmantyo Soal Isu Kebangkitan PKI, Agum Gumelar: Isu Basi!

    TIKTAK.ID – Ketua Umum Pepabri (Persatuan Purnawirawan TNI/Polri), Jenderal (Purn) Agum Gumelar mengatakan isu kebangkitan Komunis dan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terus disuarakan oleh pihak-pihak tertentu dalam beberapa waktu terakhir ini sudah basi. Pasalnya, dua negara leluhurnya, RRC dan Uni Soviet (Rusia) justru sudah menerapkan Kapitalisme.

    “Harus diingat bahwa PKI di Indonesia adalah bagian dari gerakan Komunisme internasional, seperti RRC dan Uni Soviet (Rusia). Namun saat ini, secara ekonomi RRC sudah sangat kapitalis, bahkan menjadi negara kapitalis terbesar di dunia,” ujar Agum, seperti dilansir detik.com, Sabtu (3/10/20).

    Agum menyatakan, bila pada 1948 dan 1965 saja PKI yang mendapat sokongan internasional gagal melakukan pemberontakan terhadap NKRI, apalagi sekarang. Ia pun menantang para pihak yang menyuarakan soal kebangkitan Komunis dan PKI untuk menunjukkan aktor, organisasi, dan kekuatannya.

    Baca juga : HUT ke-75 TNI, Kapolda Jateng Beri Kejutan ke Pangdam IV Diponegoro

    “Jadi isu mengenai Komunis ini, saya membaca komentarnya Alissa Wahid, putri Gus Dur, isu ini sudah basi. Saya yang akan menghantam mereka kalau memang benar ada,” tegas Agum.

    Kemudian Agum mengaku cukup paham dengan pola perjuangan Komunis dan PKI. Sebab, ia mengklaim pernah masuk ke dalam tim khusus Satgas Intelijen Kopkamtib di bawah Brigjen TNI Benny Moerdani yang menangani masalah G-30S. Ia menilai hal yang mesti diwaspadai dari isu bangkitnya Komunis ini justru adalah tematik dan cara-caranya.

    Agum juga mensinyalir sekarang hampir semua kekuatan yang tidak puas atau anti kepada Pemerintah, sudah menggunakan cara-cara Komunis. Ia mejelaskan, mereka melakukan narasi kontradiksi dan adu domba yang membuat keresahan di masyarakat.

    Baca juga : Soal Garam Nasional, Jokowi: Kita Tahu Masalahnya tapi Tak Pernah Cari rJalan Keluarnya

    Halaman selanjutnya…

  • Resep Tumis Genjer Tauco, Identik G30S/PKI

    Resep Tumis Genjer Tauco, Identik G30S/PKI

    TIKTAK.ID – Sayur genjer merupakan makanan penyelamat rakyat kecil dari kelaparan sebelum kemerdekaan RI. Namun, sayur genjer sering dikaitkan dengan Gerakan 30 September (G30S)/ Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasalnya, dulu terdapat lagu “Gendjer-gendjer” yang menggambarkan penderitaan masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan Jepang pada 1943. Pencipta lagu itu pun ditahan pasca G30S/PKI.

    Sejarawan yang juga akademisi Jurusan Sejarah, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko mengungkapkan bahwa sejak dulu sayur genjer telah menjadi makanan keseharian wong cilik.

    “Wong cilik sudah terbiasa mengolah bahan yang ada di sekitarnya, termasuk genjer atau paku rawan (Limnocharis flava). Jadi sayuran ini cukup akrab dalam ekologi persawahan,” ujar Heri, Sabtu (28/9/19).

    Genjer sendiri merupakan jenis tumbuhan paku, atau yang disebut juga paku rawan. Biasanya genjer tumbuh di areal persawahan.

    Genjer dapat diolah dengan cara ditumis menggunakan bumbu sederhana. Seperti dikutip Kompas.com dari buku resep “100 Resep Hidangan Sayur” karya Dapoer 2 Iboe terbitan Gramedia Pustaka Utama, berikut ini resep Tumis Genjer Tauco.

    Bahan Tumis Genjer Tauco:
    200 gram genjer, potong-potong
    4 buah cabai rawit hijau
    8 buah cabai rawit merah
    4 buah bawang merah, iris tipis-tipis
    2 siung bawang putih, iris tipis
    1 buah tomat, iris tipis
    2 lembar daun salam
    1 botol tauco Cianjur
    50 gram gula merah
    50 ml air
    2 sdm minyak goreng

    Cara membuat Tumis Genjer Tauco:
    1. Pertama, siapkan wajan, masukkan minyak goreng dan panaskan. Kemudian tumis bawang merah, bawang putih, tomat, cabai rawit, dan daun salam. Masak hingga mengeluarkan aroma yang harum.
    2. Tambahkan tauco, gula merah, dan air, lalu aduk rata. Masukkan genjer, lalu tumis sampai matang. Namun sebaiknya jangan terlalu lama agar genjer tetap segar.
    3. Tumis Genjer Tauco pun siap dinikmati selagi hangat.

    Tips: Sebelum membeli genjer, ada baiknya memilih yang masih muda, terutama pada bagian daun, batang, dan bunga genjer. Dengan begitu, ketika dimasak rasanya enak dan tetap hijau.

  • Mahfud MD: Nonton Film G30S PKI Hukumnya Mubah

    Mahfud MD: Nonton Film G30S PKI Hukumnya Mubah

    TIKTAK.ID – Pemerintah menyatakan tidak melarang maupun mewajibkan masyarakat untuk menonton film yang menggambarkan gerakan pemberontakan PKI pada 30 September 1965 atau G30S. Sebab, karya sastra yang dibuat di era Soeharto ini bisa dinikmati semua lapisan masyarakat kapan saja termasuk melalui layanan YouTube.

    “Pemerintah tidak melarang atau pun mewajibkan masyarakat untuk nonton film G 30 S PKI tersebut. Jika menggunakan istilah hukum Islam, maka hukumnya mubah,” ujar Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD melalui akun media sosialnya, @mohmahfudmd, seperti dilansir Mediaindonesia.com, Minggu (27/9/20).

    Mahfud menjelaskan, stasiun televisi (TV) swasta maupun pelat merah juga memiliki hak untuk memutar kembali cuplikan sejarah yang digarap di zaman Presiden Suharto ini. Meski begitu, Mahfud menyatakan mengenai keputusan ini dikembalikan kepada perusahaan masing-masing.

    Baca juga : Tak Terima Partainya Diacak-acak Pemerintah, Tommy Soeharto Gugat Menkumham Yasonna Laoly

    “Silakan saja, untuk TV-TV, termasuk TVRI jika mau menayangkan atau tidak, juga tergantung kontraknya dengan pemegang hak siar sesuai pertimbangan rating dan iklannya sendiri-sendiri,” terang Mahfud.

    Kemudian Mahfud mengungkapkan bahwa film yang diproduksi saat Orde Baru berkuasa ini tidak perlu dipergunjingkan. Pasalnya, ia menegaskan sikap Pemerintah sudah jelas dan masyarakat memiliki akses untuk menontonnya tanpa menunggu bulan September.

    “Tadi malam saya nonton lagi di YouTube. Dulu Menpen (Menteri Penerangan) Yunus Yosfiah juga tidak melarang, tapi juga tidak mewajibkan,” tutur Mahfud.

    Baca juga : Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia: Sekarang Jokowi Seenaknya Sengaja Menghina Kami

    Dalam kesempatan lain, Direktur Program SCTV David Suwarto menyampaikan bahwa SCTV akan menayangkan film “G30S/PKI”. Menurutnya, SCTV memiliki pertimbangan mengapa menayangkan film tersebut, meskipun sempat menjadi perbincangan.

    “Sebenarnya, memang sudah dari tahun lalu kita juga menayangkan. Jadi memang SCTV itu sering sekali, atau kita mungkin dikenal sebagai TV yang paling sering menayangkan film Indonesia. Misalnya seperti kemarin kita sudah tayangin film “Dilan”, “Gundala”, “Milea”, “Warkop”. Hampir semua film Indonesia yang top, box office. Di luar dari itu kan kita juga tayang film-film yang lain lah, misal bentuknya FTV,” ucap David, mengutip detikcom, Jumat (25/9/20).

    “Sedangkan film G30S/PKI ini salah satu film yang kita lihat sangat diminati penonton,” lanjut David.

  • Tanpa Alasan Jelas, Politisi PKPI Tantang Gatot Nurmantyo Nyatakan secara Terbuka ‘Gus Dur adalah PKI’

    Tanpa Alasan Jelas, Politisi PKPI Tantang Gatot Nurmantyo Nyatakan secara Terbuka ‘Gus Dur adalah PKI’

    TIKTAK.ID – Politisi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Teddy Gusnaidi kembali menyinggung mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo terkait polemik Partai Komunis Indonesia (PKI). Teddy pun menantang Gatot untuk menyatakan secara terbuka bahwa presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan bagian dari PKI.

    Teddy menyampaikan tantangan tersebut melalui jejaring Twitter pribadinya, pada Sabtu (26/9/20).

    “Pak Gatot, kalau Anda memang benar-benar lelaki, maka saya tantang Anda untuk menyatakan secara terbuka bahwa Gus Dur adalah PKI”, cuit Teddy, seperti dilansir Suara.com.

    Baca juga : Jokowi Diminta Cabut Keppres Pengangkatan Dua Pejabat Kemenhan Eks Tim Mawar

    Kemudian Teddy juga mengatakan apabila Gatot Nurmantyo berhasil memenuhi tantangan tersebut, ia pun akan mencabut anggapannya yang mengatakan bahwa Gatot merupakan pengecut.

    “Jika Anda bisa melakukan hal itu, maka saya cabut anggapan saya bahwa Anda seorang pengecut”, lanjut Teddy sembari menandai akun Twitter Gatot Nurmantyo.

    Sontak pernyataan Teddy itu mengundang berbagai respons publik. Sejumlah warganet menyangsikan perkataan Teddy, dan mempertanyakan, untuk apa Politisi PKPI ini melontarkan tantangan seperti itu. Meski begitu, sejumlah warganet lainnya sepakat dengan langkah Teddy menantang Gatot Nurmantyo.

    Baca juga : Gelontorkan Total Rp 203,9 T, Upaya Jokowi Lindungi Rakyat Terdampak Covid-19

    Hingga kini, masih belum ada informasi secara resmi atas dasar apa Teddy menuntut Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa Gus Dur adalah PKI. Akan tetapi, diketahui bahwa bukan hanya kali ini saja Politisi PKPI tersebut menyentil Gatot Nurmantyo.

    Sebelumnya, Teddy juga sempat mengkritisi Gatot Nurmantyo yang dinilai menyebarkan ketakutan terhadap PKI.

    “Jika menyebarkan hantu PKI ini merupakan cara Gatot untuk mencari nafkah, ya tetap digaji. Paling tidak supaya dia gak berisik lagi,” ucap Teddy.

    Baca juga : Ketum Persaudaraan Muslimin Indonesia Sebut Kondisi Pandemi Bukan Alasan Lengserkan Jokowi

    Senada dengan Teddy, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan Wanto Sugito mengingatkan Gatot untuk memperhatikan pernyataannya. Ia menilai pernyataan Gatot soal upaya penyetopan film G30S PKI dan TAP MPRS Nomor 33 sebagai langkah awal kebangkitan PKI yang dilakukan Pemerintah, turut memfitnah tiga presiden sekaligus.

    Ia menyebut ketika Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, tidak ada dendam pada Soeharto dan kroninya. Ia melanjutkan, demikian halnya Presiden Gus Dur yang menyampaikan sikapnya atas TAP MPRS Nomor 33.

  • Tak Inginkan Jabatan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo Minta Ketua DPR Robek Surat Penunjukan dari Jokowi

    Tak Inginkan Jabatan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo Minta Ketua DPR Robek Surat Penunjukan dari Jokowi

    TIKTAK.ID – Gatot Nurmantyo secara blak-blakan mengungkapkan detik-detik penunjukannya sebagai calon tunggal Panglima TNI pilihan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menuturkan, pada suatu sore dirinya sedang berada di Denmark ketika Ketua DPR RI kala itu, Setya Novanto atau biasa disapa Setnov menghubunginya.

    Melalui sambungan telepon, Gatot menyebut Setnov memberi bocoran bahwa Jokowi telah berkirim surat kepada DPR. Ia mengatakan isi surat tersebut yakni Jokowi mengajukan nama Gatot sebagai calon tunggal Panglima TNI.

    “Ketika itu, dia bilang begini ‘Pak Gatot, saya dapat surat dari presiden. Singkatnya presiden mengajukan Jenderal TNI Gatot KSAD sebagai calon tunggal Panglima TNI’,” ujar Gatot menirukan ucapan Setnov dalam wawancara bersama tvOne, seperti dilansir Kompas.tv, Jumat (25/9/20).

    Baca juga : Buntut Dangdutan Saat Pandemi, Kapolsek Tegal Selatan Dicopot, Wakil Ketua DPRD Terancam Pidana

    Kemudian usai membacakan surat rekomendasi dari Jokowi, kata Gatot, Setnov pun bertanya kepada dirinya terkait tindak lanjut dari surat Jokowi tersebut.

    “Setelah itu beliau tanya, ‘surat ini harus saya apakan?’” ucap Gatot.

    Gatot mengklaim dirinya memberikan dua pilihan kepada Setnov. Pertama, tanpa diduga Gatot menyarankan Setnov untuk merobek surat dari Jokowi tersebut. Bahkan tak hanya dirobek, Gatot juga meminta Setnov untuk membuang surat tersebut ke tong sampah setelah dirobek. Sedangkan pilihan kedua, Gatot menyerahkan kepada Setnov untuk diapakan surat tersebut.

    Baca juga : Gatot Nurmantyo Prediksi Bakal Terjadi Pertumpahan Darah Jika RUU HIP Disahkan DPR dan Pemerintah

    Halaman selanjutnya…

  • PA 212 Minta Semua Stasiun TV Tayangkan Film G30S/PKI

    PA 212 Minta Semua Stasiun TV Tayangkan Film G30S/PKI

    TIKTAK.ID – Wakil Sekjen Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin mengungkapkan bahwa pihaknya menyerukan seluruh masyarakat untuk tetap menonton bareng film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, meski sedang terjadi pandemi virus Corona (Covid-19).

    Novel mengatakan di tengah pandemi ini, nonton film dapat dilakukan dengan cara streaming sendiri di rumah masing-masing.

    “Kami juga mmeminta kepada seluruh stasiun televisi untuk serempak menayangkan film G30S/PKI. Hal itu demi mengingat kebiadaban PKI yang justru saat ini mereka sudah mulai terang-terangan bangkit,” ujar Novel kepada wartawan, seperti dilansir Jpnn.com, Jumat (25/9/20).

    Baca juga : Waduh, Jokowi Restui Usul Prabowo Angkat Mantan Anggota Tim Mawar Jadi Pejabat Kemenhan

    Menurut Novel, salah satu tanda kebangkitan PKI yakni dikeluarkannya Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang menurut PA 212 merupakan bentuk kebangkitan neo-PKI.

    Kemudian Novel juga mengungkit kembali pernyataan kontroversial Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi yang sempat menyebut agama menjadi musuh terbesar Pancasila.

    “Ini (RUU HIP, red) jelas diinisiasi oleh PDIP. Selain itu, dengan adanya BPIP yang mengatakan bahwa agama adalah musuh besar Pancasila menjadi petunjuk bangkitnya PKI,” ucap Novel.

    Baca juga : Pengamat Ungkap 6 Hal Terkait Kegaduhan yang Dibuat Gatot Nurmantyo, Ini Tujuan Akhirnya

    Halaman selanjutnya…