
TIKTAK.ID – Menanggapi gaduh dan polemik yang kembali muncul belakangan ini terkait tudingan bahwa celana cingkrang dan cadar sebagai simbol radikalisasi, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutnya sebagai isu lama yang kembali digulirkan para pihak tak bertanggung jawab. Karena itu, Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris meminta masyarakat jangan mau diprovokasi dan gampang terpancing upaya menggoreng lagi isu tersebut.
“Penampilan pakaian bukan baru, sudah lama orang ambil kesimpulan itu. Janganlah terpancing,” kata dia dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (5/11/19).
Irfan menguraikan, kriteria radikal ada empat; pertama intoleran, kedua konsep takfiri, ketiga menolak NKRI, dan yang terakhir menolak Pancasila.
“Konsep takfiri ini enggak tahu dikirim dari mana. Menolak NKRI. Sudah selesai ideologi kita Pancasila,” tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, penyebab radikal bermacam-macam tidak hanya dari satu sektor. Bisa dari kurangnya pendidikan, minimnya siraman (pemahaman) agama, dan faktor ekonomi yang diduga penyebab terbesar.
“Untuk itu kita harus ingatkan empat konsensus negara karena banyak lupa. Ini kita persiapkan bagi anak-anak kita,” pungkasnya.
Adam Humain adalah seorang pegiat dan pemerhati teknologi yang memiliki ketertarikan mendalam pada perkembangan ekosistem digital global dan lokal. Lewat tulisan-tulisannya, Adam mengulas berbagai topik hangat seputar inovasi teknologi, dinamika bisnis startup dan raksasa hulu (big tech), hingga profil serta pemikiran para tokoh pemrakarsa di balik revolusi industri 4.0.
Dengan pendekatan analitis namun tetap komunikatif, Adam berusaha menjembatani kompleksitas dunia teknologi agar mudah dipahami oleh publik awam, pelaku bisnis, maupun sesama antusias teknologi. Selain aktif mengamati tren AI, keamanan siber, dan ekonomi digital, ia kerap membagikan perspektifnya mengenai bagaimana teknologi membentuk lanskap sosial dan cara manusia berinteraksi di masa depan










