
Wagub-Kapolda Aceh Jenguk Korban Insiden Pengibaran Bendera di Pidie
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau akrab disapa Dek Fadh bersama Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan menengok sejumlah warga yang terluka dalam bentrok saat penertiban bendera Bulan Bintang oleh prajurit TNI di Kabupaten Pidie. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai wujud kepedulian sekaligus upaya memastikan para korban memperoleh penanganan terbaik.
Dialog Hangat dengan Korban dan Keluarga
Selama berada di sisi para korban, Dek Fadh dan Ruddi berbincang langsung dengan mereka maupun anggota keluarga. Keduanya menyimak keluh kesah, masukan, hingga aspirasi warga seputar peristiwa yang menimpa mereka.
Melalui unggahan video di akun Instagram-nya, Jumat (6/11), Dek Fadh mengungkapkan kesan hatinya setelah menyaksikan langsung keadaan warga korban insiden penertiban bendera di Pidie. Ia menyebut kunjungan bersama Kapolda Aceh itu dimaksudkan untuk mendengarkan unek-unek korban dan keluarga, sekaligus memastikan mereka mendapat perhatian serta penanganan yang layak.
Lelaki yang juga menjabat Ketua DPD Gerindra Aceh itu menambahkan bahwa tidak ada pihak yang mengharapkan peristiwa semacam itu terjadi. Menurutnya, di balik setiap korban selalu ada keluarga yang menanti dengan penuh harapan, sehingga luka yang mereka derita merupakan duka bersama bagi semua orang.
Pesan Damai dan Bantuan Pemerintah Aceh
Dek Fadh menegaskan seluruh persoalan harus diselesaikan secara bijaksana dengan mengutamakan dialog. Ia mengingatkan agar tidak ada lagi masyarakat yang jatuh menjadi korban. Ia juga mengajak semua pihak menjaga persaudaraan yang dibangun dengan susah payah di Aceh, mengingat daerah itu sudah terlalu banyak melewati masa-masa sulit.
Bukan sekadar memberi dukungan moril, Wagub Aceh turut menyerahkan bantuan kepada para korban sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Aceh.
Kunjungan tersebut juga diiringi sejumlah pihak, antara lain Komandan Korem 011/Lilawangsa Kolonel Inf. Teuku Mustafa Kamal, Anggota DPRA Khairil Syahrial dari Fraksi Gerindra, Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil, serta beberapa pejabat lainnya.
Kronologi Bentrok di Desa Pulo Kenari
Sebagaimana diketahui, bentrok antara aparat dan warga terjadi di Desa Pulo Kenari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, diduga dipicu oleh pengibaran bendera Bulan Bintang. Satu warga dilaporkan tewas diduga akibat tembakan, sementara sejumlah orang lainnya harus menjalani perawatan.
Peristiwa itu berawal saat warga desa menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad dengan mengibarkan sejumlah bendera Bulan Bintang, Rabu (4/11). Menjelang petang, aparat disebut dikerahkan ke lokasi guna menurunkan bendera-bendera tersebut, hingga akhirnya berujung bentrok.
Pasca-insiden, sejumlah korban dilarikan ke RSUD Tgk Abdullah Syafi’i Beureunuen dan RSUD Chik Ditiro untuk mendapatkan pertolongan medis.
14 Warga Jadi Korban, Satu Meninggal Dunia
Merujuk keterangan Dispenad, dalam peristiwa itu tercatat 14 warga menjadi korban, terdiri atas satu orang meninggal dunia dan 13 orang mengalami luka-luka. Di pihak TNI, enam personel juga terluka dan telah mendapatkan penanganan medis sesuai kondisi masing-masing.
Korban yang meninggal dunia diketahui bernama Abzalul Riza, warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Jenazahnya telah dimakamkan pada Kamis (5/11) pukul 01.00 WIB di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie.
Perkembangan situasi pasca-insiden ini masih terus dipantau. Kabar terbaru seputar situasi keamanan di Aceh dan berita politik dalam negeri akan terus diperbarui.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










