
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)Agum Gumelarmengatakan siap memberikan masukan kepadaPresiden Prabowo Subiantoterkait berbagai persoalan, mulai dari politik, ekonomi, budaya, hingga kehidupan masyarakat.
Agum mengatakan Wantimpres dapat memberikan pertimbangan agar kebijakan yang diambil Presiden lebih terarah dan terukur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya rasa ini satu langkah yang kalau saya anggap sangat bagus untuk bisa memperbaiki atau memberikan masukan kepada pertimbangan presiden, agar supaya presiden dalam mengambil langkah-langkahnya itu lebih terarah, lebih terukur,” ujar Agum usai agenda pengangkatan Wantimpres di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (2/10).
Menurutnya, ruang lingkup masukan yang dapat diberikan tidak terbatas pada satu sektor. Ia menyebut berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara dapat menjadi bahan pertimbangan Presiden.
“Dalam semua masalah yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Dalam masalah politik, masalah ekonomi, masalah budaya, masalah ideologi, masalah mungkin kehidupan masyarakat, masalah olahraga, ya semua masalah lah yang bisa dijadikan mungkin bahan pertimbangan presiden dalam mengambil kebijakan-kebijakan di bidangnya nanti,” katanya.
Agum berharap Wantimpres dapat menjalankan peran tersebut dengan memberikan pertimbangan kepada presiden dalam proses pengambilan kebijakan.
Presiden Prabowo Subianto resmi melantik anggota Wantimpres di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (2/10). Pengangkatan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 107/P/2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.
Total terdapat 24 anggota Wantimpres yang dilantik. Pratikno ditunjuk sebagai ketua, sementara Hatta Rajasa menjadi wakil ketua dan Muhammad Qodari sebagai sekretaris.
Agum Gumelar menjadi salah satu anggota bersama Shinta Nuriyah Wahid, Muhammad Quraish Shihab, Chairul Tanjung, Said Aqil Siradj, Anwar Iskandar, Yahya Cholil Staquf, Yusuf Wanandi.
Kemudian Budi Gunawan, Bambang Soesatyo, Salim Segaf Aljufri, Soekarwo, Dato Sri Tahir, Rocky Gerung, Ida Bagus Purwalaksana, Philip Kuncoro Wijaya, Budi Tanuwibowo, Anwar Usman, Muhammad Hatta, Jusuf Hamka, Margarito Kamis, Zaki Manuputty, dan Ignasius Jonan.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










