Tag: Pyongyang

  • Pyongyang Ingatkan Kaum Milenialnya Tak Gunakan Bahasa Gaul Korea Selatan

    Pyongyang Ingatkan Kaum Milenialnya Tak Gunakan Bahasa Gaul Korea Selatan

    TIKTAK.ID – Media Pemerintah Korea Utara memperingatkan kaum mudanya agar tidak menggunakan bahasa gaul Korea Selatan dan memintanya berbicara dalam bahasa standar Korea Utara.

    Selain itu, ada juga peringatan baru di surat kabar resmi Korea Utara yang melarang para milenial di negara itu mengadopsi mode, gaya rambut, dan musik Korea Selatan.

    Itu merupakan bagian dari undang-undang baru yang berusaha untuk membasmi segala jenis pengaruh asing, dengan hukuman yang keras.

    Mereka yang ditemukan melanggar hukum itu dapat diganjar hukuman penjara atau bahkan eksekusi mati.

    Surat kabar Rodong Sinmun memperingatkan kaum milenial tentang bahaya mengikuti budaya pop Korea Selatan.

    “Penetrasi ideologis dan budaya di bawah papan warna-warni borjuasi bahkan lebih berbahaya daripada musuh yang angkat senjata”, tulis artikel itu, seperti yang dilansir BBC, Minggu (18/7/21).

    Artikel itu juga menekankan bahwa bahasa Korea berdasarkan dialek Pyongyang lebih unggul, dan bahwa kaum muda harus menggunakannya dengan benar.

    Korea Utara baru-baru ini berusaha mengikis bahasa gaul Korea Selatan. Contoh bahasa gaul seperti ketika seorang wanita memanggil suaminya “Oppa” – yang berarti “kakak laki-laki” tetapi sering digunakan untuk menyebut pacar.

    Pengaruh asing dipandang sebagai ancaman bagi Pemerintah Korea Utara, dan itu karena cengkeraman Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un pada kekuasaan.

    Dia baru-baru ini menyebut K-pop sebagai “kanker ganas” yang merusak kaum muda Korea Utara, menurut New York Times.

    Siapa pun yang tertangkap dengan sejumlah besar media dari Korea Selatan, Amerika Serikat atau Jepang sekarang menghadapi hukuman. Mereka yang tertangkap menontonnya dapat berakhir di kamp penjara cukup lama.

    Namun terlepas dari risikonya, pengaruh asing terus meresap ke Utara, dan jaringan penyelundupan yang sangat canggih untuk membawa media terlarang dilaporkan terus beroperasi.

    Beberapa pembelot Korea Utara mengatakan bahwa menonton drama Korea Selatan berandil besar atas keputusan mereka untuk melarikan diri.

    Seorang profesor di Universitas Studi Korea Utara, Yang Moo-jin mengatakan kepada Korea Herald bahwa Kim, yang dididik di Swiss, “sangat menyadari bahwa K-pop atau budaya Barat dapat dengan mudah meresap ke generasi muda dan memiliki dampak negatif yang dapat berdampak pada sistem sosialisnya”.

    “Dia tahu bahwa aspek budaya ini dapat membebani sistem. Jadi dengan menghapusnya, Kim mencoba mencegah masalah lebih lanjut di masa depan.”

  • Pyongyang: Washington Gunakan Bantuan Kemanusiaan sebagai ‘Senjata Jahat’ Kuasai Negara Lain

    Pyongyang: Washington Gunakan Bantuan Kemanusiaan sebagai ‘Senjata Jahat’ Kuasai Negara Lain

    TIKTAK.ID – Sebuah artikel yang diterbitkan di situs web Kementerian Luar Negeri Korea Utara menuduh Washington menggunakan bantuan asingnya sebagai senjata untuk memberikan tekanan dan kontrol atas negara-negara yang sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

    Analisis, yang ditulis oleh Kang Hyon Chol sebagai peneliti senior di Asosiasi yang berafiliasi dengan Kementerian untuk Promosi Pertukaran Ekonomi dan Teknologi Internasional itu memberikan contoh sejumlah kesepakatan AS dengan Kamboja, Pakistan, Afghanistan, dan negara-negara di Timur Tengah untuk menyatakan bahwa Washington menggunakan bantuan “kemanusiaan” untuk melaksanakan “skema politik jahatnya” di seluruh dunia, seperti yang dilansir RTnews, Senin (12/7/21).

    Ia mencontohkan Washington menggunakan janji “bantuan kemanusiaan” untuk mendorong warga Suriah untuk bangkit melawan Pemerintah mereka. Namun, “Tawaran seperti itu pada dasarnya adalah ‘tabir asap untuk dapat ikut campur tangan dalam urusan internal negara-negara yang bersangkutan’,” kata Kang.

    Menurut peneliti Korea Utara itu, Amerika Serikat menggunakan bantuan asing sebagai “alat politik untuk mensubordinasi negara lain secara politik dan ekonomi”. Dia mencatat bahwa dalam banyak kasus, Washington pada akhirnya benar-benar berhasil “mengumpulkan uang” dengan mengamankan kondisi ekonomi atau politik yang menguntungkan dengan imbalan bantuan kemanusiaan “sepele” semacam itu.

    Dia menyarankan bahwa negara-negara yang mengalami “penderitaan dan rasa sakit” untuk tidak meminta bantuan AS. “Dalam praktik sebenarnya, banyak negara telah mengalami rasa pahit sebagai akibat dari menggantungkan banyak harapan pada ‘bantuan’ dan ‘bantuan kemanusiaan’ Amerika,” tegas Kang.

    Analisis itu muncul bertepatan ketika hubungan antara Washington dan Pyongyang terus menunjukkan ketegangan, membalikkan periode dialog singkat yang sempat terjadi antara dua rival lama selama Pemerintahan Trump.

    Bulan lalu, Menteri Luar Negeri negara itu, Ri Son-gwon, menolak tawaran utusan Amerika untuk bertemu “di mana saja, kapan saja”, menjelaskan bahwa Pyongyang “bahkan tidak mempertimbangkan kemungkinan untuk mengadakan kontak dengan AS. Diplomat top Korea Utara mengatakan bahwa negosiasi semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain “mengambil waktu yang berharga”.

    Amerika Serikat sebelumnya telah menawarkan untuk mencabut sanksi dan memberikan bantuan kepada Korea Utara dengan syarat Pyongyang mengambil langkah menuju denuklirisasi. Pyongyang menolak proposal tersebut sebagai sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di bawah ketegangan militer di wilayah tersebut saat ini.

    Isu bantuan kemanusiaan menjadi semakin mendesak di tengah pandemi virus Corona. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un secara terbuka mengakui bahwa negara itu menghadapi kekurangan pangan karena krisis kesehatan dan topan baru-baru ini.

    Namun, negara tersebut sejauh ini tidak menunjukkan minat untuk menerima bantuan dari Korea Selatan atau Amerika Serikat, meskipun telah menerima beberapa bantuan dari China dan Rusia.

  • Kim Jong Un Pimpin Pertemuan Militer Tertutup Skala Besar

    Kim Jong Un Pimpin Pertemuan Militer Tertutup Skala Besar

    TIKTAK.ID – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memimpin pertemuan besar-besaran Komisi Militer Pusat Komite Sentral Partai Buruh Korea, pada Sabtu (18/7/20). Pertemuan tertutup itu ditujukan untuk membahas langkah-langkah “pencegahan” perang di negara itu, tulis kantor berita resmi Korea Utara (KCNA).

    KCNA mengatakan bahwa komisi militer Korea Utara membahas tujuan strategis dan kesiapan untuk memobilisasi pasukan untuk mengatasi situasi militer, mengingat situasi yang sangat kompleks di Semenanjung Korea saat ini, tulis Sputnik News.

    Masalah-masalah utama yang dibahas menurut KCNA terkait dengan meningkatkan pencegahan masalah lebih lanjut, seperti terjadinya perang negara dan mengenai potensi ancaman militer.

    Pertemuan itu juga membahas cara mengintensifkan pendidikan partai dan bimbingan komandan dan pejabat politik tentara rakyat, setelah mengungkap serangkaian masalah yang timbul dalam kehidupan politik dan ideologis para komandan.

    Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, Ri Pyong Chol yang ikut menghadiri pertemuan pada Sabtu itu, mengatakan bahwa pertemuan itu juga membahas masalah yang berkaitan dengan produksi militer. Setelah pertemuan, Kim Jong Un menandatangani beberapa perintah.

    Sebelumnya, pada akhir bulan lalu, Kim Jong Un memimpin pertemuan awal Komisi Militer Pusat. Pada saat itu dia memutuskan untuk menunda rencana operasi militer terhadap Korea Selatan yang disampaikan oleh Staf Umumnya.

    Ketegangan di Semenanjung Korea terus melonjak setelah Korea Utara memutus komunikasi dengan negara tetangganya di selatan dan meledakkan kantor penghubung bersama di kota perbatasan Kaesong pada 16 Juni lalu.

    Langkah itu dilakukan Pyongyang sebagai tanggapan atas kampanye jangka panjang kelompok-kelompok tertentu di Korea Selatan yang mengirim selebaran propaganda dari seberang perbatasan wilayah Korea Selatan. Selebaran itu mengkritik kebijakan yang diambil pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

    Kemudian pada bulan Juni lalu, Staf Umum Korea Utara mengatakan bahwa mereka berencana untuk memindahkan pasukan ke Kaesong dan zona wisata bersama Gunung Kumgang di pantai timur. Dia juga berencana untuk memulihkan pos jaga di zona demiliterisasi, yang dihapus setelah pertemuan puncak antar-Korea pada 2018 lalu.

  • Korea Utara Ingatkan Korea Selatan Setop Tabiat Buruknya Ikut Campur Urusan Pyongyang

    Korea Utara Ingatkan Korea Selatan Setop Tabiat Buruknya Ikut Campur Urusan Pyongyang

    TIKTAK.ID – Korea Utara mengingatkan Korea Selatan untuk tak ikut campur dalam urusan Pyongyang. Hal ini disampaikan beberapa hari setelah Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in menawarkan untuk menengahi pertemuan antara Kim dan Trump. Dia menyarankan kedua pemimpin untuk bertemu kembali sebelum pemilihan Amerika pada November nanti.

    Pada Selasa (7/7/20), Direktur Jenderal untuk Urusan Amerika di Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Kwon Jong Gun mengatakan Seoul salah menafsirkan pernyataan Korea Utara sebelumnya yang menepis rumor sebelum waktunya, tentang pertemuan puncak lain antara pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

    “Ini adalah waktu bagi (Korea Selatan) untuk berhenti mencampuri urusan orang lain, tetapi tampaknya tidak ada obat atau resep untuk kebiasaan buruknya,” kata Kwon dalam sebuah pernyataan melalui kantor berita resmi Korea Utara KCNA, seperti yang dikutip Reuters.

    “Berbicara secara eksplisit sekali lagi, kita tidak punya niat untuk duduk berhadapan dengan Amerika Serikat.”

    Pernyataan Pyongyang itu juga bertepatan dengan kedatangan utusan Amerika, Deputi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Stephen Biegun, yang memimpin pembicaraan tingkat kerja dengan Korea Utara pada Selasa kemarin. Dia dijadwalkan bertemu pejabat Korea Selatan pada hari Rabu dan Kamis untuk memperbaharui perundingan nuklir yang macet dengan Pyongyang.

    Pada Sabtu sebelumnya, Pyongyang sudah mengatakan bahwa mereka tak berminat lagi untuk mengadakan pertemuan baru antara Amerika dan Korea Utara.

    Seorang profesor di Universitas Studi Korea Utara di Seoul, Yang Moo-jin mengatakan bahwa pernyataan Kwon mencerminkan ketegangan antar-Korea yang masih berlangsung. Dia juga menambahkan bahwa pandangan Korea Utara terkait masalah nuklir harus didiskusikan hanya dengan Amerika Serikat.

    “Itu juga mengisyaratkan bahwa Korea Utara akan membuang konsep negosiasi masa lalu di mana Korea Selatan memainkan peran perantara, dan tidak akan kembali ke meja tanpa konsesi utama Amerika,” kata Yang.

    Biegun mengatakan pekan lalu bahwa masih ada waktu bagi kedua belah pihak untuk terlibat kembali dalam perundingan dan “membuat kemajuan besar” tetapi pandemi Corona membuat pertemuan secara langsung sulit dilakukan sebelum pemilihan presiden Amerika pada 3 November mendatang.

    Kim dan Trump pertama kali bertemu pada 2018 di Singapura. Pertemuan keduanya meningkatkan harapan untuk mengakhiri negosiasi program nuklir Korea Utara. Namun pertemuan kedua mereka, pada 2019 di Vietnam, dan negosiasi tingkat kerja berikutnya berantakan.

    Bulan lalu, Korea Utara tiba-tiba meningkatkan ketegangan dengan Korea Selatan dan meledakkan kantor penghubung bersama antar-Korea, tepat di samping perbatasan. Sebelumnya Pyongyang tiba-tiba menunda rencana tindakan militer.

  • Pyongyang Anggap Tak Perlu dan Tak Ada Gunanya Berunding dengan Amerika Lagi

    Pyongyang Anggap Tak Perlu dan Tak Ada Gunanya Berunding dengan Amerika Lagi

    TIKTAK.ID – Seorang pejabat diplomat senior Pyongyang mengatakan bahwa Korea Utara sudah tak ada kepentingan lagi untuk terlibat pembicaraan dengan Amerika Serikat. Sebab, lanjutnya, pertemuan dengan Amerika tak lebih dari “alat untuk begelut” dengan “krisis politik Washington”.

    Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Korea Utara, Choe Son-hui mengatakan negosiasi antara Pyongyang dan Washington tidak akan berhasil, dan tidak akan ada perubahan pada posisi Korea Utara. Dia mengatakan Amerika bertahan dengan “kebijakan bermusuhan” terhadap Pyongyang dan pendekatan apa pun dari Washington akan menjadi “trik dangkal,” seperti yang dilaporkan kantor media berita Pemerintah Korea Utara KCNA, tulis RT News.

    Pernyataannya itu disampaikan setelah Wakil Menteri Luar Negeri Amerika, Stephen Biegun berencana mengunjungi Korea Selatan pada minggu depan. Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in mengatakan pada Rabu kemarin bahwa Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un harus bertemu lagi sebelum pemilihan presiden Amerika pada November mendatang.

    Choe menyebut rumor tentang “kebutuhan” Amerika untuk mengadakan pembicaraan sebagai “kejutan Oktober” sebelum pemilihan di Amerika. Dia mengatakan Korea Utara tidak “merasa perlu duduk berhadapan langsung dengan Amerika,” karena Korea Utara menganggap dialog apa pun antara kedua negara “tidak lebih dari alat untuk mengatasi krisis politik Washington”.

    “Sekarang adalah waktu yang sangat sensitif ketika salah membuat penilaian dan kesalahan langkah sekecil apa pun akan menimbulkan konsekuensi yang fatal dan tidak dapat dibatalkan,” katanya, seraya menambahkan bahwa Korea Utara kaget dengan rencana diskusi tentang pertemuan puncak yang “acuh tak acuh terhadap situasi hubungan saat ini antara Korea Utara-Amerika”.

    Pembicaraan bersejarah antara Washington dan Pyongyang terhenti setelah pertemuan ketiga antara kedua pemimpin pada 2019 lalu menemui kebuntuan terkait pembahasan pelonggaran sanksi Amerika kepada Korea Utara.

    Sejak itu, hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan juga ikut memburuk setelah Korea Utara meledakkan kantor penghubung antar negara di perbatasan pada Juni lalu. Hal itu dilakukan Pyongyang sebagai tanggapan terhadap para aktivis Korea Selatan yang mengirim selebaran propaganda ke Korea Utara. Pyongyang mengancam tindakan militer dan menuduh Korea Selatan sebagai “penjilat Amerika.”

  • Pyongyang kepada Washington: Tutup Mulutmu Jika Ingin Pemilumu Lancar

    Pyongyang kepada Washington: Tutup Mulutmu Jika Ingin Pemilumu Lancar

    TIKTAK.ID – Pyongyang memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak ikut campur masalah yang terjadi di antara kedua Korea saat ini. Media Pemerintah Korea Utara mengatakan pada Kamis kemarin bahwa Amerika Serikat tidak memiliki dasar untuk mengomentari masalah antar-Korea. Washington sebaiknya tetap diam jika ingin pemilihan presiden AS mendatang berjalan lancar, lanjut Media Pemerintah itu.

    Pernyataan Pyongyang itu muncul setelah Departemen Luar Negeri Amerika mengatakan kecewa kepada Korea Utara karena memutus hotline komunikasi dengan Korea Selatan pada Selasa lalu, tulis Aljazeera.

    “Jika Amerika menggerakkan hidungnya ke dalam urusan orang lain dengan pernyataan ceroboh, jauh dari mengurusi urusan internalnya, pada saat situasi politiknya berada dalam kebingungan terburuk, maka dia mungkin akan menghadapi hal yang tidak menyenangkan yang sulit untuk dihadapi,” kata Direktur Jenderal untuk Urusan AS di Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Kwon Jong Gun, dalam sebuah komentarnya yang disampaikan melalui kantor berita negara KCNA.

    Amerika Serikat harus “menahan lidah” dan mengatasi masalah dalam negerinya sendiri kecuali jika ia ingin “merasakan bulu kuduknya merinding,” katanya.

    “Akan lebih baik tidak hanya untuk kepentingan Amerika, tetapi juga untuk memudahkan pemilihan presiden mendatang.”

    Tidak jelas apa yang akan dilakukan Korea Utara untuk mengganggu Pemilu atau menyebabkan masalah bagi kampanye pemilihan kembali Presiden Donald Trump, kata James Kim, seorang peneliti di Institut Asan untuk Studi Kebijakan di Seoul.

    “Jika ada, kemungkinan provokasi bahkan dapat menggalang demonstrasi Amerika terkait petahana,” katanya.

    Setelah serangkaian KTT bersejarah pada tahun 2018 dan 2019 antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, hanya sedikit kemajuan telah dibuat untuk membongkar program senjata nuklir Korea Utara, dan Pyongyang telah menyatakan semakin frustrasi dengan penolakan Washington untuk mengurangi sanksi.

    Pada Selasa kemarin Pyongyang mengatakan bahwa mereka akan memutus hotline komunikasi dengan Korea Selatan setelah berhari-hari menyerang Seoul karena tidak menghentikan pembelot yang mengirim selebaran dan bahan lainnya ke Korea Utara.

    Esoknya, pada Rabu, Korea Selatan mengatakan akan mengambil tindakan hukum terhadap dua organisasi yang melakukan operasi tersebut.

  • Surati Kim Jong Un, Trump Tawari Korea Utara Kerjasama Lawan Corona

    Surati Kim Jong Un, Trump Tawari Korea Utara Kerjasama Lawan Corona

    TIKTAK.ID – Media resmi Pemerintah Korea Utara KCNA melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengirim surat ke Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dalam surat itu, KCNA bilang Trump terkesan atas upaya Pyongyang melindungi rakyatnya dari virus Corona, seperti yang dilaporkan Reuters, Minggu (22/3/20).

    “Trump menyatakan niatnya untuk bekerja sama melawan pandemi, dan mengatakan terkesan dengan upaya yang dilakukan oleh Pemimpin Korea Utara dalam melindungi rakyatnya dari ancaman serius epidemi,” tulis KCNA dalam sebuah pernyataan yang dibawa oleh saudara perempuan Kim, Kim Yo Jong. Tidak disebutkan kapan tepatnya surat itu diterima Jong Un.

    Baca juga: Dunia Deg-Degan Tunggu Pidato Tahun Baru Kim Jong Un, Ada Apa?

    Surat itu mengatakan bahwa meskipun hubungan pribadi keduanya (Trump dan Kim) cukup baik, “jika tak ada kejujuran dan keseimbangan dan sifat serakah tidak dibuang, maka hubungan bilateral akan terus memburuk.”

    Seorang pejabat senior administrasi Trump mengonfirmasi bahwa Trump memang mengirim surat ke Kim Jong Un dan mengatakan hal itu sebagai sikap “konsisten berupaya untuk melibatkan para pemimpin global untuk bersama-sama menghadapi pandemi yang sedang berlangsung.”

    Presiden (Trump) berharap untuk melanjutkan komunikasi dengan Pyongyang, kata pejabat itu.

    Baca juga: Trump: Ketimbang Luncurkan Rudal, Mending Kim Jong Un Beri Kado Natal Vas Bunga Indah

    Halaman selanjutnya…

  • Tegang dengan Pyongyang, Utusan Amerika untuk Korea Utara Mendarat di Seoul

    Tegang dengan Pyongyang, Utusan Amerika untuk Korea Utara Mendarat di Seoul

    TIKTAK.ID – Utusan khusus Amerika untuk Korea Utara Stephen Biegun tiba di Korea Selatan pada Minggu (15/12/19). Kedatangannya ke Seoul bertepatan dengan semakin meningkatnya tekanan Pyongyang ke Washington untuk menghidupkan kembali pembicaraan denuklirisasi yang buntu jelang akhir tahun, seperti yang dilaporkan Reuters, Minggu (15/12/19).

    Biegun datang sehari setelah Korea Utara menyatakan membuat “tes penting” di lokasi peluncuran roket untuk mengembangkan senjata strategis guna menangkal ancaman nuklir Amerika.

    Para analis menyimpulkan bahwa tes yang dilakukan Korea Utara itu membantu Pyongyang membangun rudal balistik antarbenua yang mampu menjangkau Amerika Serikat.

    Biegun tutup mulut dan tak memberi pernyataan apapun saat tiba di bandara dekat Seoul, pada Minggu sore.

    Baca juga: Perundingan dengan AS Buntu, Pyongyang Kembali Uji Coba Roket

    Biegun berencana bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada hari Senin, sebagai bagian dari tiga hari kunjungannya ke Seoul sebelum bertolak ke Tokyo untuk berkonsultasi dengan mitranya dari Jepang. Tidak jelas apakah dia akan bertemu dengan pejabat Korea Utara di perbatasan antar-Korea.

    Perjalanan Biegun memunculkan spekulasi bahwa ia mungkin akan mencoba menyelamatkan negosiasi sebelumnya dengan menjangkau Korea Utara, atau dengan mengirim pernyataan ke publik.

    Ketegangan terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, bersamaan dengan serangkaian uji coba senjata dan meningkatnya kritik kepada Amerika oleh Pyongyang. Situasi saat ini memicu kekhawatiran kedua negara akan kembali ke jalur permusuhan seperti yang telah mereka jalani sebelum ditempuh jalur diplomasi tahun lalu.

    Baca juga: Baku Umpat Kim Jong Un vs Donald Trump Terus Berlanjut

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump bertemu tiga kali sejak tahun lalu untuk merundingkan penghentian program nuklir dan rudal Pyongyang, namun belum ada hasil berarti dari pertemuan-pertemuan itu.

    Bahkan, Pyongyang berjanji menempuh “jalan baru” yang belum ditentukan bila Amerika Serikat gagal memenuhi tuntutannya sebelum akhir tahun ini.

    Pembicaraan antara Amerika dan Korea Utara mengenai denuklirisasi gagal sejak Trump meninggalkan pertemuan puncaknya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada Februari lalu. Pembicaraan mereka menemui jalan buntu setelah tak ditemui kesepakatan seberapa banyak sanksi yang akan dihapus Amerika Serikat dan berapa banyak program senjatanya yang bersedia dihentikan Pyongyang.

    Baca juga: Trump Juluki Kim Jong Un ‘Rocket Man’

  • Perundingan dengan AS Buntu, Pyongyang Kembali Uji Coba Roket

    Perundingan dengan AS Buntu, Pyongyang Kembali Uji Coba Roket

    TIKTAK.ID – Pyongyang kembali melakukan uji coba peluncuran roket di situs peluncuran satelit Sohae. Mereka mengatakan uji coba ini untuk meningkatkan “pencegah nuklir yang dapat diandalkan”. Uji coba ini dilakukan sebelum batas waktu akhir tahun yang ditetapkan Pyongyang untuk memulai kembali pembicaraan denuklirisasi dengan Amerika, seperti yang dilaporkan RTnews.

    Kantor berita Pemerintahan Korea Utara KCNA mengabarkan, sebuah “uji coba penting” dilakukan pada Jumat (13/12/19) di situs peluncuran satelit Sohae yang terletak di barat Korea Utara. Pyongyang biasanya tak sungkan membuka laporan hasil uji coba peluncuran roket mereka, namun kali ini laporan yang muncul kurang detail.

    Mereka hanya mengatakan bahwa uji coba yang mereka lakukan telah berhasil dan akan digunakan untuk “meningkatkan lebih lanjut… pencegah nuklir yang dapat diandalkan.”

    Baca juga: Merasa Negaranya Diperas Trump, Warga Korea Selatan Demo Kedutaan Amerika di Seoul

    Ini adalah uji coba kedua yang dilakukan di Sohae dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, Sabtu lalu juga dilakukan uji coba yang sama. Menteri Pertahanan Korea Selatan Jeong Kyeong-doo menduga Pyongyang melakukan uji coba mesin roket.

    Kabar dari Sohae juga melahirkan kembali isu tentang kebangkitan kegiatan peluncuran di situs itu. Sebelumnya situs Sohae telah dibongkar sebagian oleh Pyongyang pada 2018. Hal itu dilakukan di tengah perundingan denuklirisasi dengan Amerika.

    Dua hari lalu, satelit pemantau milik Amerika ‘38 North’ merilis citra satelit komersial yang menunjukkan fasilitas Sohae sedang melakukan persiapan peluncuran rudal.

    Baca juga: Uji Coba Rudal Korea Utara Bikin Gerah Jepang

    Pyongyang melakukan uji coba roket setengah bulan sebelum batas akhir tahun yang ditetapkan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un untuk membuat kesepakatan nuklir dengan AS. Pyongyang mengancam akan mengambil “jalan baru” bila pembicaraan terkait denuklirisasi dengan Amerika menemui jalan buntu.

    Namun, sejauh ini tak ada tanda-tanda pembicaraan akan dilanjutkan dalam waktu dekat. Bahkan keduanya mulai jual-beli ancaman dan saling menyerang dengan menggunakan bahasa verbal.

    Pada awal bulan ini, Pyongyang mengancam akan mengirimkan “hadiah Natal” untuk AS. Pernyataan itu kemudian ditanggapi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menyebut Pemimpin Korea Utara “Rocket Man”. Namun demikian perang mulut antara keduanya tak sampai panas seperti yang pernah terjadi pada 2017.

    Baca juga: Trump Juluki Kim Jong Un ‘Rocket Man’

    Pyongyang telah menunjukkan rasa frustrasinya atas kebuntuan negosiasi dengan Amerika. Sementara itu Duta Besar PBB Kim Song, pekan lalu mengatakan denuklirisasi sudah keluar dari meja perundingan.

    Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan, pada saat batas waktu yang diberikan Pyongyang sudah dekat, Washington meminta utusan Pyongyang ke Seoul. Mereka berencana untuk membahas cara-cara membawa kemajuan besar dalam mencapai kesepakatan denuklirisasi dan perdamaian abadi.

    Baca juga: Baku Umpat Kim Jong Un vs Donald Trump Terus Berlanjut

  • Uji Coba Rudal Korea Utara Bikin Gerah Jepang

    Uji Coba Rudal Korea Utara Bikin Gerah Jepang

    TIKTAK.ID – Ketenangan di semenanjung Korea hari ini, Kamis (28/11/19), pecah. Ini terjadi setelah Korea Utara meluncurkan dua buah misil jarak pendek ke wilayah utara negara itu. Militer Korea Selatan menyebut itu adalah upaya uji coba Korea Utara, seperti yang dilaporkan Reuters.

    Uji coba itu dilakukan ketika mendekati tempo yang diberikan Pyongyang kepada Washington untuk menunjukkan fleksibilitas atas pembicaraan denuklirisasi Pyongyang. Sekaligus bertepatan hari libur Thanksgiving di Amerika, bahkan juga sehari sebelum ulang tahun kedua uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) Pyongyang yang mampu menjangkau daratan Amerika.

    Baca juga: Lawan Cyber Bullying, Parlemen Korea Selatan Siap Godok RUU ‘Sulli Law’

    Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) menjelaskan bahwa Korea Utara menembakkan dua roket ke laut timur Yonpo, sekitar pukul 5 sore waktu setempat. Kedua roket itu menjangkau jarak hingga 380 km dengan ketinggian mencapai 97 km.

    Militer Korea Selatan menyatakan “sangat menyesalkan”, dan mendesak Korea Utara untuk berhenti menyulut ketegangan militer di kawasan.

    “Tindakan Korea Utara itu tidak membantu upaya meredakan ketegangan di semenanjung Korea,” kata Jeon, Direktur Operasi JCS Dong-jin.

    Baca juga: Aktor Taiwan Godfrey Gao Mati Mendadak Saat Syuting

    Halaman selanjutnya…