Projo Usulkan Pemerintah Bentuk Badan Khusus Pengendali LPG Subsidi

TIKTAK.ID – Projo mengusulkan agar Pemerintah membentuk Badan Khusus Pengendali LPG Subsidi menyusul gejolak pasar minyak dunia. Projo mengatakan bahwa tingginya porsi impor LPG yang mencapai 70 sampai 80 persen menunjukkan besarnya ketergantungan konsumsi domestik terhadap dinamika harga minyak mentah global.
“Kita jangan terjebak pada angka suplai dari Hormuz hanya 20% terhadap kebutuhan nasional. Kita fokus pada ketersediaan minyak mentah di pasar dunia yang disertai harga yang eksponensial,” ujar Ketua DPP Projo bidang Pertahanan dan Kajian Strategis, Abi Rekso, dalam keterangannya, pada Rabu (18/3/26), seperti dilansir detikcom.
“Kita belum dapat mengintervensi pasar minyak mentah dunia. Jadi yang bisa dilakukan adalah meregulasi konsumsi LPG tepat guna dan tepat sasaran. Oleh sebab itu, saya mengusulkan agar Pemerintah segera membentuk Badan Pengendalian LPG Bersubsidi,” imbuh Abi Rekso.
Baca juga : Usai Disindir Prabowo, Pemprov Kaltim Klaim Mobil Dinas Rp8,5 M Dibatalkan
Menurut Abi Rekso, bila sampai terjadi kelangkaan LPG, tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Pemerintah, lantaran banyak negara juga mengalami kesulitan impor minyak. Meski begitu, dia menilai negara memiliki tanggung jawab bahwa barang bersubsidi harus sampai kepada masyarakat rentan sesuai dengan mandat UUD’45.
“Mungkin Badan Pengendalian LPG Bersubsidi tersebut berdiri secara ad hoc berdasarkan peraturan presiden. Menteri ESDM sebagai Ketua Pelaksana, dengan melibatkan Pertamina, TNI-Polri, kepala daerah, serta Jaringan Masyarakat Sipil. Ini bukan bagi-bagi LPG subsidi ya, tapi Badan ini memastikan kalau kaum rentan dan UMKM tetap terjaga pasokan kebutuhan LPG, karena BPH-Migas kan tidak bekerja seperti itu,” tutur Abi Rekso.
Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengeklaim pasokan LPG dipastikan aman sampai Idulfitri. Bahlil juga mengaku bahwa Indonesia melakukan impor LPG 70–75% dari kebutuhan total kebutuhan LPG 9 juta ton per tahun.
Baca juga : Anies Baswedan Sebut Insiden Aktivis Kontras Disiram Air Keras sebagai ‘Aksi Terorganisir’
“Nah yang kita impor dari Middle East itu Bapak adalah crude-nya, sehingga minyak mentahnya itu 20% memang dari Middle East. Sisanya kita peroleh dari Angola, Nigeria, Brasil, kemudian sebagian Amerika, dan sebagian dari Malaysia,” ungkap Bahlil dalam sidang Kabinet di hadapan Presiden Prabowo Subianto.










