
Alumni Doktor IPDN Nilai Jenderal Suyudi Sosok Tepat Pimpin Polri
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dinilai layak memimpin Polri oleh para alumni doktor ilmu pemerintahan IPDN. Penilaian itu disertai catatan bahwa jenderal baru yang ditunjuk Presiden Prabowo Subianto ini akan menghadapi sejumlah tantangan besar, terutama dalam upaya memulihkan dan menguatkan kepercayaan masyarakat terhadap Korps Bhayangkara.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Achmad Baidowi atau yang akrab disapa Awiek, Ketua Bidang Organisasi Ikatan Alumni Doktor Ilmu Pemerintahan (Ikadip) IPDN sekaligus dosen ilmu pemerintahan di Institut Darul Ulum Banyuanyar (IDB). Ia mengemukakan hal itu dalam keterangan resmi pada Kamis (8/10/2026).
Visi Polisi Bersama Masyarakat
Menurut Awiek, penunjukan Suyudi sebagai pimpinan Polri merupakan langkah yang tepat untuk memperkokoh kepercayaan publik. Ia menyoroti visi Polisi Bersama Masyarakat yang diusung jenderal tersebut sebagai fondasi penting bagi transformasi kelembagaan.
“Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto yang baru ditunjuk oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan sosok yang tepat menguatkan kepercayaan publik kepada korps Bhayangkara,” ujar Awiek.
Dengan visi tersebut, ia melanjutkan, Suyudi ingin menghadirkan wajah kepolisian yang bersifat sipil sepenuhnya. Tugas beratnya kemudian adalah menerjemahkan visi itu menjadi good governance atau tata kelola yang benar-benar baik di lingkungan Polri.
Prinsip Good Governance yang Perlu Diterapkan
Awiek menjelaskan bahwa penerapan tata kelola yang baik di Polri tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sejumlah prinsip dasar. Prinsip itu mencakup transparansi, akuntabilitas, integritas, etika profesi, hingga profesionalisme dalam pelaksanaan tugas.
Dua prinsip pertama, menurutnya, dapat diwujudkan lewat keterbukaan informasi kepada publik serta pertanggungjawaban yang jelas atas kinerja, anggaran, dan operasional kepolisian. Sementara integritas dan etika profesi menuntut penegakan aturan moral serta kode etik yang tegas terhadap anggota yang melanggar.
Ia juga menekankan pentingnya profesionalisme kerja. Dalam pandangannya, pendekatan preemtif dan preventif semestinya menjadi prioritas, sedangkan tindakan represif hanya ditempuh sebagai pilihan terakhir.
Pengawasan Internal dan Eksternal
Penguatan tata kelola Polri, kata Awiek, turut membutuhkan mekanisme pengawasan dari dua arah. Untuk pengawasan internal, peran Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) serta Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) menjadi kunci.
“Adapun pengawasan eksternal melibatkan lembaga pengawas seperti Kompolnas (Komisi Kepolisian Nasional) dan pemantauan dari masyarakat serta DPR,” jelasnya.
Harapan: Polisi Lebih Dekat dengan Masyarakat
Awiek berharap visi Polisi Bersama Masyarakat dapat menghapus jarak antara aparat dan warga. Jika hal itu terwujud, polisi diharapkan lebih tanggap ketika persoalan muncul di tengah masyarakat.
“Visi besar Polisi Bersama Masyarakat dimaksudkan untuk mewujudkan good governance, sehingga masyarakat tidak lagi merasa berjarak dengan polisi. Sehingga aparat kepolisian lebih responsif ketika ada permasalahan di masyarakat sehingga tidak lagi terjadi istilah no viral no justice,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa perombakan di jajaran kepolisian juga perlu dibaca melalui sudut pandang tata kelola yang baik. Baginya, langkah tersebut menunjukkan kesungguhan Suyudi memastikan lembaga yang dipimpinnya benar-benar menjalankan visi dan misi dengan sebagaimana mestinya.
Tema seputar penguatan kelembagaan dan tata kelola aparat juga pernah dibahas dalam artikel tentang reformasi kelembagaan di Indonesia serta peran pengawasan publik terhadap institusi negara.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










