TIKTAK.ID

Main Menu

  • Home
  • Nasional
  • Olahraga
  • Selebriti
  • Teknologi
  • Tips & Tutorial

logo

TIKTAK.ID

  • Home
  • Nasional
  • Olahraga
  • Selebriti
  • Teknologi
  • Tips & Tutorial
Nasional
Home›Nasional›Monas Disebut ‘Bangunan Paling Soviet di Asia Tenggara’, Sudah Tahu Apa Sebabnya?

Monas Disebut ‘Bangunan Paling Soviet di Asia Tenggara’, Sudah Tahu Apa Sebabnya?

By Johan Arif
24 Februari 2020
3572
0
Monas Disebut 'Bangunan Paling Soviet di Asia Tenggara', Sudah Tahu Apa Sebabnya?

TIKTAK.ID – Sejak beberapa bulan terakhir hingga kini, Monumen Nasional (Monas) tiba-tiba menjadi pusat perhatian dan topik perbincangan publik. Musababnya berawal dari soal revitalisasi kawasan tersebut dan rencana perhelatan balap Formula E yang sedang diinisiasi Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan.

Hal ini tak terlepas dari nuansa politisasi yang dilakukan oleh pihak yang selama ini berseberangan secara politik dengan Gubernur DKI Jakarta yang kemudian diikuti serangan massif para buzzer alias pendengung yang tak henti berisik di media sosial, sehingga kebisingan pro-kontra dan polemik di kedua kubu tak terhindarkan.

Di luar kebisingan pro-kontra yang sebenarnya tak perlu, tahukah Anda bagaimana sejarah rancang bangun kawasan Monas yang saat ini menjadi ikon Ibu Kota tersebut?

Ide pembangunan Monas tidak lepas dari usulan Presiden Indonesia pertama yang juga memiliki latar belakang arsitek, Presiden Soekarno.

Beberapa literatur sejarah menyebut Soekarno mempunyai andil dalam rancangan Monas, mulai dari filosofi sampai inspirasi arsitektur yang ia pelajari dari negara lain.

Baca juga: Anggap Terowongan Istiqlal-Katedral ala Jokowi Tak Berguna, MUI Usul Mending Tembus Monas dan Pasar Baru Saja

Mengutip artikel Joe Cochrane di New York Times, Soekarno tertarik pada monumen dan bangunan bergaya Soviet.

Cochrane menyebut sebagian besar struktur monumen atau gedung di Jakarta yang dibangun saat pemerintahan Soekarno dari rentang waktu 1945 hingga 1967 tidak lepas dari gaya arsitektur Uni Soviet; besar, luas, megah.

Bahkan menurutnya Monas merupakan salah satu bangunan yang “paling Soviet di Asia Tenggara”.

Cochrane lanjut mengatakan, kawasan Medan Merdeka yang mengelilingi Monas modelnya mirip dengan Lapangan Merah di Moskow, Rusia.

Lalu di bagian utara Monas terdapat Istana Presiden. Berlanjut ke bagian timur, barat, selatan, ada gedung pemerintahan sampai barak militer.

Namun sebenarnya Soviet bukan satu-satunya inspirasi pembangunan monumen dan gedung di Indonesia, begitu yang dikatakan arsitek dan penulis Setiadi Sopandi.

Pria yang akrab disapa Cung itu menilai terjadi perkembangan gaya arsitektur sejak Monas selesai dibangun.

Cung menulis buku biografi Frederich Silaban, salah satu arsitek pemenang sayembara merancang Monas pada tahun 1955.

Dari gagasan-gagasan Silaban yang ia pelajari, Cung menyebut pada tahun itu Jakarta belum memiliki bangunan dengan identitas lokal, sehingga yang terjadi pada saat itu gaya arsitektur Indonesia mengadopsi gaya arsitektur negara-negara maju pada umumnya.

Baca juga: Anies dan Proyek Monas, Ditolak Untuk Disetujui?

Salah satunya gaya arsitektur ala Eropa, yang serba modern dan tinggi, yang diaplikasikan.

“Sebenarnya arsitektur tahun 1950 sampai 1970 susah dibilang gayanya, karena sejak tahun 1940 berkembang yang namanya arsitektur modern yang dijuluki international style, jadi tidak merujuk pada suatu negara tertentu,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/2/20).

Perihal rancangan tata ruang Monas yang disebut mirip Lapangan Merah bikin Soviet, Cung menjelaskan bahwa sebenarnya lazim jika suatu negara mengadopsi gaya civic center atau desain pusat kota untuk pusat pemerintahannya.

“Civic center selalu menjadi acuan pembangunan pusat pemerintahan,” kata Cung.

Cung mencontohkan rancangan civic center pada Colosseum di Roma yang di depannya terdapat tugu dan lapangan luas. Lalu Panthéon di Paris. Serta gedung parlemen di Washington, Amerika Serikat.

“Itu semuanya pusat-pusat pemerintahan yang diwujudkan dalam bentuk ruang terbuka besar di pusat kota yang simbolik,” pungkasnya.

Terlepas dari international style, Cung menyebut zaman itu Soekarno menginginkan Monas sebagai bangunan modern yang memiliki unsur kebudayaan Indonesia di dalamnya, sehingga disisipkanlah filosofi Lingga dan Yoni yang biasanya ada di Candi Hindu-Buddha.

Tugu menjulang tinggi merepresentasikan Lingga yang merupakan simbol kejantanan seorang pria (phallus), dan pelataran cawan gambaran dari Yoni sebagai simbol perempuan atau kesuburan.

Baca juga: Tarik Ulur Anies vs Setneg Berakhir Mengejutkan, Pemerintah Pusat Izinkan Formula E 2020 Tetap Digelar di Monas

“Monas gagasannya seakan dari lokal, sebenarnya tidak lokal banget karena dari mitologi Hindu asal India yang sudah lama merambah Jawa,” ujar Cung.

“Saya tidak tahu persis kenapa itu juga yang dipakai karena sebenarnya agak Jawa sentris,” lanjutnya.

Arsitek, akademisi, dan penulis buku ‘Bung Karno Sang Arsitek’, Yuke Ardhiati yang diwawancarai terpisah menyebutkan Soekarno mencetuskan ide Lingga Yoni untuk Monas setelah melihat artefak di Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah.

Setelah itu Soekarno menggelar sayembara rancangan tugu Monas pada tahun 1955.

Pada sayembara pertama ada 51 arsitek yang mengajukan rancangan. Hanya satu yang terpilih, yakni Frederich Silaban.

Namun Soekarno masih belum puas dengan rancangan Silaban, sehingga menggelar sayembara kedua pada tahun 1960.

Waktu itu pesertanya mencapai 222 arsitek. Sayang, tak ada satupun yang memenuhi keinginan Soekarno.

Akhirnya, desain Monas yang pernah diajukan Silaban diambilalih oleh Soekarno.

Ia lalu menugaskan arsitek bernama Raden Mas Soedarsono untuk melakukan modifikasi bersama dirinya.

Lalu proses pembangunan Monas dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah Soekarno.

Sejak dibuka umum pada tanggal 12 Juli 1975, hingga kini Monas masih menjulang dengan gagahnya dan setia menjadi saksi bisu perkembangan kota Jakarta beserta dinamika kehidupan warganya.

Johan Arif
Johan Arif

Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.

Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.

TagsFormula EMonasMonumen bergaya SovietMonumen NasionalPemprov DKI

Related articles More from author

  • Anggota DPRD Masuk Daftar Penerima, Bansos DKI Disebut Banyak Salah Sasaran
    Nasional

    Anggota DPRD Masuk Daftar Penerima, Bansos DKI Disebut Banyak Salah Sasaran

    23 April 2020
    By Johan Arif
  • Jokowi Siapkan Bantuan untuk Warga Jabodetabek, Berapa Nominal yang Bakal Didapatkan per Keluarga?
    Nasional

    Jokowi Siapkan Bantuan untuk Warga Jabodetabek, Berapa Nominal yang Bakal Didapatkan per Keluarga?

    7 April 2020
    By Johan Arif
  • Erick Thohir Tunjuk Ahok Jadi Pejabat Penting BUMN
    Nasional

    Ahok Bandingkan Revitalisasi Monas di Eranya dan Era Anies Baswedan

    2 Februari 2020
    By Johan Arif
  • Adik Gus Dur Wafat, Anies: Gus Im Pribadi yang Amanah dan Punya Prinsip Keindonesiaan
    Nasional

    Disindir Soal ‘Patung Jenderal Sudirman Pake Masker’, Anies Bilang Tak Ambil Pusing Omongan Orang

    22 Agustus 2020
    By Joni Sitohang
  • TIKTAK.ID - Sejarawan: soal Revitalisasi Monas Anies Salah Paham
    Nasional

    Sejarawan: Soal Revitalisasi Monas Anies Salah Paham

    24 Januari 2020
    By Rusli Qomar
  • Hadapi New Normal, Anies Baswedan Anjurkan Masker Jadi Seragam PNS
    Nasional

    DKI Langganan Banjir tapi Tak Punya Pengukur Curah Hujan, Anies: Saya Betul-betul Shock!

    9 Agustus 2020
    By Joni Sitohang

Leave a reply Batalkan balasan

Berita Menarik Lainnya

  • Isu Praveen Jordan/Melati Daeva Dicoret dari Pelatnas, Ini Kata PBSI
    Olahraga

    Isu Praveen Jordan/Melati Daeva Dicoret dari Pelatnas, Ini Kata PBSI

  • Aplikasi Gravel, Hubungkan Pemilik Proyek dengan Tukang Bangunan
    Teknologi

    Aplikasi Gravel, Hubungkan Pemilik Proyek dengan Tukang Bangunan

  • JK Kritik Sikap Jokowi Jelang Pilpres 2024, Bandingkan dengan SBY dan Megawati
    Nasional

    JK Kritik Sikap Jokowi Jelang Pilpres 2024, Bandingkan dengan SBY dan Megawati

  • Wakil Anies Buka Suara Soal Kalah Sengketa Informasi Banjir
    Nasional

    Wakil Anies Buka Suara Soal Kalah Sengketa Informasi Banjir

  • Prabowo: Keputusan Presiden Jokowi Tangani Pandemi Cocok untuk Rakyat
    Nasional

    Prabowo: Keputusan Presiden Jokowi Tangani Pandemi Cocok untuk Rakyat

Artikel Terbaru

  • Dukcapil Genjot Kepemilikan KIA dan Aktivasi IKD Hingga ke Desa 30 September 2026
  • 9 Cara Mengatasi Kamera HP Buram Tanpa Harus ke Tukang Servis 30 September 2026
  • Pemerintah Kaji Upaya Atasi Over Capacity Lapas Napi Narkoba 30 September 2026
  • Cara Menggunakan Password Manager di HP agar Akun Tetap Aman 30 September 2026
  • Cara Menjaga Postur Tubuh agar Tidak Mudah Bungkuk 30 September 2026

Kategori

  • Berita Unik (100)
  • Internasional (1,531)
  • Kesehatan (60)
  • Keuangan (10)
  • Kuliner (1,058)
  • Nasional (7,947)
  • Olahraga (1,135)
  • Opini (2)
  • Selebriti (1,175)
  • Teknologi (1,227)
  • tips (15)
  • Tips & Tutorial (1,294)
  • Viral (82)

Cari Artikel

Redaksi

  • Jalan Kebagusan III, Perum Nuansa Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
  • 0812 4664 9215
  • Hubungi Kami
  • Contact Us
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
© Copyright 2026 TIKTAK.ID. All rights reserved.