
TIKTAK.ID – Dimana-mana, trotoar pada umumnya digunakan untuk sarana melintas para pejalan kaki. Namun di Twitter beredar foto trotoar yang diklaim pengunggahnya berada di wilayah Jakarta, ada yang justru dipakai seenaknya oleh pedagang ketoprak untuk tempat berjualan. Akibatnya, ramai netizen yang kemudian menyalahkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Pada awalnya, potret trotoar yang beralih fungsi menjadi tempat jualan ketoprak ini diunggah di Twitter pada Selasa (4/2/2020) lalu, dan kemudian menjadi viral hingga sekarang.
”Ternyata fungsi garis kuning di trotoar Jakarta adalah sebagai penuntun bagi tuna netra ke warung ketoprak”, cuit salah satu akun yang lalu menimbulkan berbagai komentar dari netizen yang lain.
Anehnya, alih-alih menyalahkan si penjual ketoprak, banyak yang malah menyindir Anies Baswedan atas kondisi alih fungsi trotoar tersebut.
”Itulah keberpihakan pak @aniesbaswedan kepada saudara kita yang tuna netra, biar tidak sulit kalau pengen jajan”, sindir netizen.
Baca juga: Ditanya Cara Atasi Banjir, Cawagub DKI Nurmansjah Malah Jawab Begini
”Emang hebat gabener DKI”, komentar netizen lainnya.
“Gimana nih @aniesbaswedan, diem?” ungkap pemilik akun lainnya.
Kendati demikian, selain komentar nyinyir yang salah sasaran ke Anies Baswedan, ada juga beberapa netizen yang mencoba memberikan saran agar penyalahgunaan trotoar Jakarta ini tidak terjadi lagi. Caranya, dengan tidak makan ketoprak di warung yang pemiliknya dengan seenaknya telah terbukti melanggar aturan itu.
”Warga Jakarta kalau punya komitmen tidak mau makan di warung yang memakai trotoar seperti ini, paling lama 3 hari juga bubar tuh warung. Ayo warga, jangan makan di warung yang berdiri di atas trotoar!” tulis salah satu netizen memberi saran.
Halaman selanjutnya…
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










