
TIKTAK.ID – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti mengkritisi impor garam pada tahun 2019 yang naik hampir sebesar 60 persen. Akibat kenaikan impor itu, para petani tidak bisa menjual garamnya, meskipun harga jual dibanderol setengah harga.
“Mengingatkan kepada kita akan garam petani di musim ini yang tidak terjual karena jumlah impor yang berlebihan,” ujar Susi dikutip dari akun Twitternya @susipudjiastuti, Rabu (15/1/20).
Menurut Susi, sejak 2015-2017 impor garam di bawah kendalinya dibatasi sehingga harga garam petani bisa tembus di atas Rp1.500 – 2.000 lebih per Kilogram (Kg). Dengan kondisi itu, semua produksi petani bisa terserap oleh pasar.
Baca juga: Rupiah Terlalu Kuat, Jokowi Malah Wanti-Wanti BI Hati-Hati. Kenapa?
“Sedangkan mulai 2018, impor naik tinggi sekali,” cuitnya.
Susi menilai neraca produksi garam telah diabaikan, sehingga harga petani jatuh dan masih kesulitan menjual produksinya.
Direktur Jenderal Perdagangan Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan garam impor sudah masuk 2,2 juta ton ke dalam negeri. Jumlah tersebut merupakan bagian dari kuota impor garam tahun 2019, yakni sebesar 2,7 juta ton.
Halaman selanjutnya…
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










