
TIKTAK.ID – Dalam proses pemindahan ibu kota baru dari Jakarta ke Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang investor asing untuk ikut serta. Sebab, Jokowi ingin membawa teknologi, inovasi, dan kearifan terbaik ke ibu kota baru.
Merespons hal itu, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Feri Firdaus mengatakan skema investasi ibu kota baru yang akan didominasi oleh infrastruktur dan sarana pendukung seperti properti, energi listrik, energi air dan gas tersebut memang harus dijelaskan gamblang.
“Skema bisa kerja sama antara Pemerintah dengan investor. Pemerintah menyediakan lahan dan investor menyediakan dana untuk pembangunan infrastruktur, kepemilikannya bagaimana? Hak investor seperti apa?” ujar Ahmad, dilansir CNNIndonesia.com pada Jumat (17/1/20).
Baca juga: Jokowi Pastikan Semua ASN di Jakarta Pindah ke Kaltim 2024
Menurutnya, perjanjian investasi juga harus disertai dengan klausul perjanjian yang adil dan benar-benar bisa mengutamakan kepentingan Nasional. Ia pun mengingatkan agar undangan yang diberikan oleh Pemerintah kepada investor luar bukan menjadi tiket untuk menyetir kepentingan negara.
“Karena memiliki modal seakan-akan disetir, mereka mau apa kita turuti,” ucapnya.
Selain itu, Ahmad menyebut hal lain yang harus diperhatikan dalam investasi di ibu kota baru ialah harus adanya nilai tambah bagi Indonesia.
Ia mencontohkan nilai tambah itu seperti proyek ibu kota harus memberdayakan pekerja dalam negeri serta menggunakan bahan baku bangunan dari perusahaan konstruksi lokal. Dirinya menilai jika dalam klausulnya kelak tidak diatur persentase penggunaan sumber daya lokal, maka hal itu sama artinya dengan mengundang impor di bumi Kalimantan.
Halaman selanjutnya…
Adam Humain adalah seorang pegiat dan pemerhati teknologi yang memiliki ketertarikan mendalam pada perkembangan ekosistem digital global dan lokal. Lewat tulisan-tulisannya, Adam mengulas berbagai topik hangat seputar inovasi teknologi, dinamika bisnis startup dan raksasa hulu (big tech), hingga profil serta pemikiran para tokoh pemrakarsa di balik revolusi industri 4.0.
Dengan pendekatan analitis namun tetap komunikatif, Adam berusaha menjembatani kompleksitas dunia teknologi agar mudah dipahami oleh publik awam, pelaku bisnis, maupun sesama antusias teknologi. Selain aktif mengamati tren AI, keamanan siber, dan ekonomi digital, ia kerap membagikan perspektifnya mengenai bagaimana teknologi membentuk lanskap sosial dan cara manusia berinteraksi di masa depan










