
TIKTAK.ID – Fenomena unik munculnya banyak kerajaan baru di beberapa tempat akhir-akhir ini cukup menyita perhatian publik. Salah satunya adalah kerajaan baru King of The King di Kota Tangerang yang tidak hanya bikin geger tapi membuat banyak orang penasaran terkait jumlah harta yang diklaim para petinggi kerajaan tersebut, yang kabarnya bisa digunakan untuk melunasi seluruh utang luar negeri Pemerintah Indonesia.
Kerajaan yang mengklaim diri “Raja Diraja” seluruh dunia ini mengaku memiliki harta cukup fantastis yang disimpan di bank milik kerajaan. Yakni Union Bank Switzerland (UBS) dan Indonesia Mercusuar Dunia (IMD).
Total uang yang disimpan oleh sang Raja yang bernama Mister Dony Pedro ini di dua lembaga keuangan kerajaan itu konon mencapai Rp60 ribu triliun. Kekayaan tersebut merupakan aset yang ditinggalkan secara resmi oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno untuk King of The King, dan saat ini masih tersimpan di Bank Swiss.
Baca juga: Di 100 hari Jokowi-Ma’ruf Amin, Bank Dunia: 45% Penduduk Indonesia Keluar dari Garis Kemiskinan
Tidak hanya itu saja, baru-baru ini juga beredar foto sertifikat Konfirmasi Bank dari Bank Negara Indonesia karena telah menerbitkan format Rekening Khusus (Escrow Account) dana senilai Rp720 Triliun. Escrow Account ini dilaporkan terbagi dalam dua buah rekening masing-masing senilai Rp 360 Triliun.
“Saldo” rekening King of The King di BNI sebanyak Rp 720 T. Wuow! pic.twitter.com/V1dj36Zk2Q
— Big Alpha (@BigAlphaID) January 30, 2020
Hal ini seperti tampak pada unggahan akun Twitter Big Alpha @BigAlphaID
“Saldo” rekening King of The King di BNI sebanyak Rp 720 T. Wuow!
Halaman selanjutnya…
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










