Tag: mantan Panglima TNI

  • Pengamat Nilai Duet Anies-Andika Saling Melengkapi Secara Ideologi dan Demografi

    Pengamat Nilai Duet Anies-Andika Saling Melengkapi Secara Ideologi dan Demografi

    TIKTAK.ID – Wacana duet eks Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan mantan Panglima TNI, Andika Perkasa muncul dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Jakarta 2024 mendatang. Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro menilai Anies-Andika adalah pasangan saling melengkapi, baik secara ideologi maupun demografi.

    “Secara elektoral, duet Anies-Andika bisa saling melengkapi secara ideologi dan demografi berdasarkan partai pengusungnya,” ungkap Agung, seperti dilansir Kompas.com, pada Rabu (3/7/24).

    Untuk diketahui, munculnya wacana duet Anies-Andika berawal dari pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. PKB dan PDIP disebut-sebut telah membahas potensi terciptanya pasangan Anies-Andika.

    Baca juga : PKS Usulkan Anies Jadi Kader PKB Demi Duet Anies-Sohibul Iman di Pilgub Jakarta 

    Anies sendiri bukanlah sosok dari partai politik. Meski begitu, PKB sudah sejak lama melirik Anies untuk diusung pada Pilkada Jakarta 2024. Sedangkan Andika merupakan mantan Panglima TNI yang saat ini sudah berstatus sebagai kader partai politik besutan Megawati Soekarnoputri.

    Dalam peta politik wilayah Jakarta, PKB mengoleksi 10 kursi di DPRD Jakarta. Sementara PDI Perjuangan menyumbangkan 15 wakilnya di legislatif.

    Lebih lanjut, Agung mengatakan bila koalisi PDIP dan PKB terwujud, kedunya sudah memenuhi persyaratan parliamentery threshold atau ambang batas.

    Baca juga : Soal Wacana Duet Anies-Andika di Pilgub Jakarta, PKS: Itu kan Misalnya

    “Secara institusional, PKB (10 kursi) dan PDI-P (15 kursi) sudah cukup untuk mengusung nama karena memenuhi Pilkada threshold dengan 25 kursi dari total minimal yang harus dipenuhi 22 kursi,” ucap Agung.

    Namun Agung menegaskan bahwa Andika masih memiliki pekerjaan rumah besar, salah satunya yaitu ikut mengatrol elektabilitas Anies. Menimbang, Pilkada menjadi momen uji kualitas dan magnet figur untuk menarik suara.

    “Sebab, harus diakui kalau setelah tidak jadi Panglima, panggung depan politik bagi Andika semakin terbatas,” jelas Agung.

    Baca juga : Pilkada Jawa Barat, PKB Siap Gandeng Sandiaga Uno

    Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Utut Adianto menganggap Andika tidak pas menjadi bakal calon wakil gubernur Anies.

    “‘Kan Pak Andika (mantan) Panglima TNI, jadi kalau untuk jadi Wagub, menurut saya, enggak pas lah,” terang Utut di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, mengutip Tempo.co dari Kantor Berita Antara, Rabu (3/7/24). Utut menyebut Andika justru lebih cocok mengisi posisi sebagai bakal calon gubernur.

  • Sesalkan Manuver Moeldoko Kudeta Demokrat, Gatot Nurmantyo: Tak Cerminkan Kualitas dan Moral Prajurit

    Sesalkan Manuver Moeldoko Kudeta Demokrat, Gatot Nurmantyo: Tak Cerminkan Kualitas dan Moral Prajurit

    TIKTAK.ID – Mantan Panglima TNI yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor Staf Presiden, Jendral (purn) Moeldoko, berada di tengah seteru Partai Demokrat.

    Moeldoko ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang pada 5 Maret lalu.

    Hal itu pun mengundang respons juniornya di Angkatan Darat, Gatot Nurmantyo. Panglima TNI periode 2014-2017 tersebut menilai sikap Moeldoko tidak mencerminkan kualitas dan etika prajurit TNI. Ia juga menyatakan Moeldoko tidak memiliki jiwa prajurit TNI yang kerap mengedepankan demokrasi.

    Baca juga : Peringati 100 Hari Wafat Laskar FPI, Begini Doa Amien Rais untuk Penguasa

    Kemudian Gatot mengaku tak menyangka, pada akhirnya Moeldoko mau menerima tawaran jabatan Ketua Umum partai lewat KLB yang dipermasalahkan itu.

    “Saya ingin menggaris bawahi, bahwa apa yang beliau [Moeldoko] lakukan sama sekali tidak mencerminkan kualitas, etika, moral, serta kehormatan yang dimiliki seorang prajurit,” ujar Gatot, seperti dilansir CNN Indonesia di akun Instagram resmi miliknya, Selasa (16/3/21).

    Menurut Gatot, apa yang dilakukan Moeldoko itu tidak menunjukkan sikap seorang prajurit yang idealnya memegang teguh demokrasi dan bersikap sesuai moral serta etika. Gatot mengatakan sempat tak percaya, terlebih ia menganggap Moeldoko yang pernah menjadi atasannya di TNI itu sebagai guru dan mentor.

    Baca juga : Riza Heran, Ketua DPRD DKI Minta Anies Tanggung Jawab Soal Kasus Korupsi Program Rumah DP 0 Rupiah

    Oleh sebab itu, Gatot menyatakan sempat ragu Moeldoko mau menerima jabatan Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB di Deli Serdang. Sebab, ia menyebut Agus Harimurti Yudhoyono dan sejumlah pakar hukum menilai KLB itu ilegal.

    “Bukan apa-apa, tapi hampir saya tidak percaya bahwa akan kejadian dan beliau mau. Logika berpikir saya, saya tidak menduga, karena beliau adalah senior saya di akademi militer. Beliau juga ikut membentuk saya,” ucap Gatot.

    Di sisi lain, salah satu inisiator KLB Demokrat, Darmizal mengklaim tidak ingin ambil pusing dengan pernyataan Gatot. Dia hanya menegaskan bahwa Demokrat kubu KLB Deli Serdang tetap bekerja memperjuangkan partai.

    Baca juga : Tjahjo Kumolo: Tudingan Amien Rais Manuver Murahan dari Pihak yang Ingin ‘Nyapres’

    “Seperti pepatah, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Jadi mau ngomong apa aja silakan, karena selagi kami menjalankan koridor, aturan hukum, nilai-nilai, dan norma yang ada di negeri tercinta ini, show must go on,” terang Darmizal, Selasa (16/3/21).

  • Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo Ungkap Samar-samar Manuver ‘Orang Dekat’ SBY di Balik Kudeta Demokrat

    Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo Ungkap Samar-samar Manuver ‘Orang Dekat’ SBY di Balik Kudeta Demokrat

    TIKTAK.ID – Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo kembali angkat bicara perihal kudeta Partai Demokrat yang belum lama ini sudah sampai pada tahap Kongres Luar Biasa (KLB), dengan Moeldoko dipilih sebagai Ketua Umumnya.

    Gatot yang sebelumnya membeberkan fakta bahwa ia pernah ditawari posisi Ketum Demokrat sebagaimana Kepala Staf Presiden, Moeldoko, mengungkap bahwa tawaran itu bahkan datang dua kali kepadanya.

    Hal yang mengejutkan, ada orang kuat dan berpengaruh yang menawarinya posisi tersebut. Namun, Gatot enggan menyebut nama.

    Baca juga : Yasonna: Tolong Pak SBY dan AHY Jangan Main Tuding

    “Saya pikir dia tidak bisa dikendalikan ya, orang itu. Orang ini orang cukup berpengaruh. Hanya dia menginginkan saya untuk maju, sehingga ada alternatif,” ujar Gatot, dalam wawancara bersama TVOne.

    Saat ditanya apakah orang tersebut sama dengan orang yang menawarinya posisi Ketum Demokrat kepada Moeldoko, Gatot menyebut bukan.

    “Saya pikir tidak. Tetapi dia tahu persis dan pernah ketemu,” kata Gatot.

    Baca juga : Pemegang Proyek Jadi Tersangka KPK, PDIP Kritik Program Rumah DP Nol Rupiah Anies

    Saat tawaran itu datang kedua kali padanya, Gatot menyebut bahwa orang itu menyampaikan padanya bahwa akan ada kudeta seperti yang sudah terlihat dalam KLB di Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara.

    “Begitu AHY ngomong (mengungkapkan isu kudeta ke publik), dia datang lagi,” jelas Gatot.

    Namun kata Gatot, AHY tidak tahu akan hal itu.

    Saat ditanya motif orang tersebut mengajaknya mengkudeta Demokrat, Gatot tidak menjawab secara gamblang.

    Baca juga : Rumah DP Nol Rupiah, Janji Kampanye Anies yang Berujung Kasus Korupsi

    Halaman selanjutnya…

  • Refly Harun: Ada Tugas Jokowi yang belum Dilaksanakan Gatot Nurmantyo

    Refly Harun: Ada Tugas Jokowi yang belum Dilaksanakan Gatot Nurmantyo

    TIKTAK.ID – Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Refly Harun mengungkapkan bahwa mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menerima pemberian tanda jasa Bintang Mahaputera dari negara. Hanya saja, ia menyebut Gatot tidak bisa hadir dalam penganugerahan Bintang Mahaputera dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu (11/11/20).

    Refly mengatakan terdapat tiga alasan yang disampaikan Gatot kepada dirinya mengapa tak hadir dalam penganugerahan Bintang Mahaputera. Tidak hanya alasan pandemi virus Corona (Covid-19) dan merasa ada ketidaklaziman karena diberikan tidak seperti biasanya yakni saat menjelang perayaan Hari Kemerdekaan RI, Refly memaparkan, ada alasan lain yang lebih substantif.

    Refly menyebut ada tugas dari Jokowi yang belum terselesaikan oleh Gatot ketika masih aktif menjabat sebagai Panglima TNI. Oleh sebab itu, kata Refly, Gatot merasa tidak enak kepada Jokowi dalam menerima penghargaan tersebut.

    Baca juga : Anies, Rizal Ramli dan Sudirman Said Eks Menteri Jokowi yang Tak Dapat Tanda Jasa Kehormatan, Begini Alasan Istana

    Akan tetapi, Refly mengaku tidak bisa mengungkapkan tugas apa yang belum diselesaikan oleh Gatot. Pasalnya, ia menyatakan Gatot meminta untuk tidak menceritakan ke publik dalam waktu sekarang ini.

    “Yang lebih substantif yakni dia mengatakan ada tugas negara yang diperintahkan presiden (Jokowi) kepadanya yang belum dia selesaikan,” terang Refly, seperti dilansir Tribunnews.com.

    “Jadi dia merasa bahwa tidak enak untuk datang. Tapi untuk alasan ketiga ini dia mewanti-wanti untuk dirahasiakan katanya. Mungkin nanti suatu saat Gatot akan mengungkapkan sendiri kepada presiden, menteri, atau kepada siapa pun,” imbuhnya.

    Baca juga : Anies dan Tengku Zulkarnain Temui Habib Rizieq di Petamburan, Bahas Apa?

    Di sisi lain, terlepas dari tiga alasan yang sudah disampaikan oleh Gatot, Refly mengaku memiliki pandangan tersendiri. Ia menilai, tidak bisa dipungkiri Gatot merasa dilema untuk menerima penghargaan tersebut. Sebab, kini posisi Gatot telah berada di opsisi, usai bergabung dengan KAMI.

    “Kita juga harus bisa membaca hal itu. Tentu ada dilema bagi seorang Gatot untuk datang dan menerima bintang jasa itu, walaupun itu hak dia sebagai mantan Panglima TNI yang juga diberikan mantan Panglima TNI lainnya,” tutur Refly.

    “Tapi timing itu bukan hanya timing soal November saja. Melainkana ketika dia berada di pihak katakanlah oposisi misalnya, itu yang membuat dilema,” lanjutnya.

  • Benarkah Gatot Nurmantyo Tolak Penganugerahan Bintang Mahaputera dari Jokowi?

    Benarkah Gatot Nurmantyo Tolak Penganugerahan Bintang Mahaputera dari Jokowi?

    TIKTAK.ID – Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dikabarkan tidak menghadiri pemberian Bintang Mahaputera yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia juga disebut mengirim surat kepada Jokowi.

    Sebelumnya, penganugerahan Bintang Mahaputera berlangsung pada Rabu (11/11/20) pagi di Istana Kepresidenan. Namun Gatot tidak terlihat dalam acara tersebut. Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono, kemudian mengungkapkan sekilas isi surat Gatot kepada Jokowi.

    “Mungkin isinya ada beberapa yang beliau tidak setuju. Mungkin karena kondisi COVID, jadi harus banyak memberikan perhatian kepada TNI. Tapi itu haknya beliau,” ujar Heru kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, seperti dilansir Detik.com, Rabu (11/11/20).

    Baca juga : Apes, Tak Lama Setelah Ketemu Prabowo, Menhan AS Dipecat Trump

    Menurut Heru, negara telah menjalankan kewajiban memberikan penghargaan bagi mantan menteri, mantan Kapolri, mantan Panglima TNI, dan mantan Kepala Staf. Oleh sebab itu, ia mengatakan dengan ketidakhadirannya, maka Gatot tidak mendapat tanda jasa itu.

    “Tidak (dapat), jadi kalau memang tidak hadir ya mungkin tanda jasanya diserahkan ke negara lagi,” terang Heru.

    Kemudian mengenai alasan lebih rinci ketidakhadiran Gatot, Heru mengaku hal itu akan dijelaskan oleh Menko Polhukam Mahfud MD.

    Baca juga : Cerita Ketua DPRD DKI Bersantap Pagi di Warung Kopi Ahok

    “Detailnya nanti Pak Menko Polhukam yang akan menyampaikan,” ucapnya.

    Perlu diketahui, Gatot sudah mengambil undangan penganugerahan Bintang Mahaputera ini, bahkan ia juga bersedia untuk menerima penghargaan ini.

    Menkopolhukam Mahfud MD sempat menyatakan Gatot akan tetap menerima tanda kehormatan dari Jokowi, namun tidak bisa hadir langsung di Istana.

    Baca juga : Ombudsman RI Minta Jokowi Tegur Stafsus Milenial, Ada Apa?

    Mahfud pun memaparkan, Gatot telah menyatakan kesediaan untuk menerima Bintang Mahaputera dari Presiden Jokowi meskipun tidak hadir dalam penganugerahan di Istana. Ia mengklaim Gatot tidak hadir karena sejumlah alasan.

    “Presiden telah secara resmi menyerahkan Bintang Mahaputera dan Bintang Jasa kepada sekian banyak orang tadi, salah satunya Bapak Gatot Nurmantyo. Tapi dalam suratnya, Pak Gatot Nurmantyo menyatakan menerima pemberian bintang jasa ini tetapi beliau tidak bisa hadir karena beberapa alasan. Pertama, karena ini suasana COVID,” tutur Mahfud dalam video yang ditayangkan di YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (11/11/20).

  • Soal Penghargaan Jokowi untuk Gatot Nurmantyo, Mahfud MD: Tidak Ada Bungkam-Membungkam

    Soal Penghargaan Jokowi untuk Gatot Nurmantyo, Mahfud MD: Tidak Ada Bungkam-Membungkam

    TIKTAK.ID – Diketahui rencana pemberian penghargaan Bintang Mahaputera oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menuai beragam reaksi dari masyarakat. Merespons hal itu, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD menilai penghargaan itu adalah hal yang biasa.

    Menurut Mahfud, penghargaan Bintang Mahaputera yang diberikan oleh Jokowi bukanlah upaya untuk membungkam Gatot yang selama ini acap kali mengkritisi Pemerintah. Ia menyatakan penghargaan itu murni hak yang dimiliki Gatot sebagai eks Panglima TNI.

    “Jadi hal ini rutin saja. Tapi kalau ada macam-macam penilaian, ya biasalah. Kalau memang Gatot tidak diberi bintang, nanti orang jadi curiga. Kalau diberi malah dibilang mau membungkam. Hal ini tidak ada urusan dengan bungkam-membungkam dan tidak ada urusan diskriminasi. Jadi penghargaan ini haknya dia,” ujar Mahfud dalam keterangan tertulis, seperti dilansir Okezone.com, Kamis (5/11/20).

    Baca juga : Mahfud MD Soal Kepulangan Habib Rizieq: Masalah dengan Pemerintah Saudi Sudah Kelar

    Kemudian Mahfud menyebut tidak hanya Gatot yang nantinya mendapat penghargaan dari Jokowi. Melainkan para menteri dan kepala lembaga yang telah bertugas membantu Kabinet juga akan mendapatkan penghargaan yang sama.

    “Seluruh anggota Kabinet yang mendapat tugas di pemerintahan sampai satu periode selesai, maka akan mendapat bintang Mahaputera Adipradana. Kecuali Kapolri dan Panglima, dan Kepala Staf Angkatan itu walaupun tidak satu periode tapi pernah menjabat itu mendapat Bintang Mahaputera,” ucapnya.

    Sedangkan mengenai pemberian penghargaan tersebut di kondisi seperti saat ini, Mahfud mengaku enggan menanggapinya serius. Ia menjelaskan, seluruh mantan pembantu Jokowi di periode sebelumnya sudah dijanjikan mendapatkan penghargaan pada November.

    Baca juga : Sejumlah Perkara Hukum Habib Rizieq di Indonesia

    Mahfud memaparkan, pada Agustus lalu sudah terlalu banyak yang mendapatkan penghargaan karena dibarengi dengan pemberian penghargaan kepada tenaga medis. Ia pun beranggapan pemberian penghargaan tidak boleh lebih dari Desember.

    “Saya baca, ada yang berkomentar kalau pemberian Bintang Mahaputera kepada GN (Gatot Nurmantyo) tidak pada waktunya, ini aneh. Tapi ini tidak aneh, karena dia kan anggota Kabinet dan bersama anggota yang lain,” terang Mahfud.

    Mahfud megatakan, Presiden akan memberikan penghargaan kepada 30 orang. Sejumlah tokoh yang mendapat penghargaan yakni mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti, Luhut Pandjaitan, dan beberapa menteri yang sudah selesai menjabat, tapi belum pernah mendapat penghargaan.

  • Tanggapan Gatot Nurmantyo Soal Penghargaan Bintang Mahaputera dari Jokowi

    Tanggapan Gatot Nurmantyo Soal Penghargaan Bintang Mahaputera dari Jokowi

    TIKTAK.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan memberi penghargaan kepada sejumlah sosok di bulan November ini. Salah satunya yakni mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

    Gatot sendiri rencananya akan mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera bersama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Arief Hidayat. Tidak hanya itu, Jokowi juga berencana memberikan gelar pahlawan nasional kepada SM Amin dan Soekanto.

    Akan tetapi, Gatot Nurmantyo mengaku masih belum menerima informasi resmi soal pemberian Bintang Mahaputera itu. Dia pun mengatakan belum mau banyak bicara mengenai hal itu.

    Baca juga : Berikut ini Sederet Kejanggalan Pasal UU Ciptaker yang Diteken Jokowi

    “Mohon maaf saya tidak bisa komentar karena saya masih belum mendapat pemberitahuan resmi,” ujar Gatot kepada wartawan, seperti dilansir Detik.com, Selasa (3/11/20).

    Kemudian ketika ditanya mengenai apakah akan menunggu pengumuman resmi dari Pemerintah, Gatot pun tak menjawab.

    Perlu diketahui, berdasarkan laman Sekretariat Negara, Bintang Mahaputera diberikan untuk memberi kehormatan tinggi kepada mereka yang berjasa luar biasa atas keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan bangsa dan negara.

    Baca juga : Segera Tiba di Indonesia, Ini Daftar Agenda Habib Rizieq

    Bintang Mahaputera itu terbagi lagi atas lima kelas, yakni:
    1. Bintang Mahaputera Adipurna
    2. Bintang Mahaputera Adipradana
    3. Bintang Mahaputera Utama
    4. Bintang Mahaputera Pratama
    5. Bintang Mahaputera Nararya

    Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud MD menyebut Jokowi bakal menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada Gatot Nurmantyo. Selain Gatot, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat juga bakal mendapatkan penghargaan serupa.

    Mahfud menyampaikan hal itu melalui akun Twitter @mohmahfudmd seperti dilihat detikcom, Selasa (3/11/20).

    Baca juga : Ternyata ini Alasan Jokowi Bakal Anugerahi Gatot Nurmantyo Penghargaan Bintang Mahaputera

    Tidak hanya Bintang Mahaputera, Jokowi bakal menganugerahkan gelar pahlawan nasional.

    “Pada 10 dan 11 November 2020 Presiden akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional (PN) dan Bintang Mahaputera (BM), dan yang mendapat gelar PN adalah SM Amin dan Soekanto; yang dapat BM, antara lain, Gatot Nurmantyo dan Arief Hidayat”, cuit Mahfud.

    Lebih lanjut, Mahfud menyatakan semua mantan Panglima TNI hingga mantan menteri mendapatkan penghargaan tersebut.

    Baca juga : Habib Rizieq Resmi Umumkan Detail Jadwal Kepulangan Hingga Nomor Penerbangan Pesawat

    “Semua mantan Panglima, semua mantan menteri, serta pimpinan lembaga negara yang selesai satu periode juga dapat BM. Hal itu harus diberikan tanpa pandang bulu,” ucap Mahfud.

  • Ternyata ini Alasan Jokowi Bakal Anugerahi Gatot Nurmantyo Penghargaan Bintang Mahaputera

    Ternyata ini Alasan Jokowi Bakal Anugerahi Gatot Nurmantyo Penghargaan Bintang Mahaputera

    TIKTAK.ID – Beredar kabar mengejutkan tentang Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Gatot Nurmantyo. Gatot dikabarkan akan menerima penghargaan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Padahal, mantan Panglima TNI tersebut kerap berbeda pandangan dengan pemerintahan Jokowi.

    Tak tanggung-tanggung, Gatot bahkan akan dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputera. Namun tidak hanya Gatot, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat juga akan mendapat penghargaan serupa.

    “Pada 10 dan 11 November 2020, Presiden akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional (PN) dan Bintang Mahaputera (BM). Yang mendapat gelar PN adalah SM Amin dan Soekanto; yang mendapat BM, antara lain Gatot Nurmantyo dan Arief Hidayat,” ujar Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD melalui akun Twitter pribadinya @mohmahfudmd, seperti dilansir zonajakarta.com, Selasa (3/11/20).

    Baca juga : Habib Rizieq Resmi Umumkan Detail Jadwal Kepulangan Hingga Nomor Penerbangan Pesawat

    Selain Gatot dan Arief, Jokowi juga akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi SM Amin dan Soekanto.

    Meski begitu, bukan tanpa alasan Gatot memperoleh penghargaan tersebut. Kemudian Mahfud MD sempat membocorkan alasan mengapa Gatot Nurmantyo bakal menerima pengharaan Bintang Mahaputera yang bergengsi itu. Mahfud pun menjawab pertanyaan seorang warganet mengenai alasan Gatot memperoleh pernghargaan.

    “Semua mantan Panglima pasti mendapatkan BM (Bintang Mahaputera) kan, Pak?” tanya akun @cabernermerlott.

    “Ya, semua mantan Panglima dan semua mantan menteri, serta Pimpinan Lembaga Negara yang telah selesai satu periode juga akan mendapat BM. Penghargaan itu harus diberikan tanpa pandang bulu,” jawab Mahfud MD lewat akun Twitternya @mahfudmd pada 3 November 2020.

    Baca juga : Kejutan dari Istana: Jokowi Bakal Beri Bintang Mahaputera untuk Gatot Nurmantyo

    Mahfud MD mengatakan, alasan Jokowi memberi penghargaan ke Gatot Nurmantyo adalah atas jasanya sebagai mantan Panglima TNI.

    Sementara itu, menurut laman setkab.go.id, Bintang Mahaputera dianugerahkan atas jasa-jasa yang luar biasa dari seorang tokoh di berbagai bidang yang bermanfaat bagi kemajuan, kesejahteraan, serta kemakmuran bangsa dan negara.

    Perlu diketahui, mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon dan Fahri Hamzah juga pernah menerima penghargaan Bintang Mahaputera itu.

  • Kejutan dari Istana: Jokowi Bakal Beri Bintang Mahaputera untuk Gatot Nurmantyo

    Kejutan dari Istana: Jokowi Bakal Beri Bintang Mahaputera untuk Gatot Nurmantyo

    TIKTAK.ID – Presiden Jokowi akan memberikan penghargaan Bintang Mahaputera kepada Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo.

    Hal ini diungkap oleh Menko Polhukam Mahfud MD di akun Twitternya (3/11/20).

    Mahfud MD menjelaskan penganugerahan akan dilakukan pada tanggal 10 dan 11 November 2020.

    Baca juga : Lagi, Relawan Jokowi Ditunjuk Erick Thohir jadi Komisaris, Demokrat: Jangan Jadikan BUMN Bancakan Politik

    “Tgl 10 dan 11 November 2020 Presiden akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasiona (PN) dan Bintang Mahaputera (BM). Yg dpt gelar PN, antara lain, SM Amin dan Soekanto; yg dpt BM, antara lain, Gatot Nurmantyo dan Arief Hidayat,” tulis Mahfud MD.

    Selain Gatot Nurmantyo sejumlah tokoh seperti SM Amin dan Soekanto juga mendapatkan anugerah gelar Pahlawan Nasional. Sedangkan Bintang Mahaputera juga diberikan kepada Arief Hidayat.

    Mahfud MD menjelaskan semua mantan Panglima TNI dan semua mantan menteri serta pemimpin Lembaga Negara juga akan mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera.

    Baca juga : Apa Benar Prabowo Tak Terima Anggota TNI Dikeroyok Geng Moge? Begini Faktanya

    “Ya, semua mantan Panglima dan semua mantan menteri serta Pimpinan Lembaga Negara yg selesai satu periode juga dpt BM. Itu hrs diberikan tanpa pandang bulu,” tulis Mahfud.

  • Refly Harun Sebut Gatot-Anies Pasangan Dahsyat untuk Pilpres 2024

    Refly Harun Sebut Gatot-Anies Pasangan Dahsyat untuk Pilpres 2024

    TIKTAK.ID – Pengamat politik, Rocky Gerung dan pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun memprediksi mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan akan berduet dalam pemilihan presiden 2024 mendatang.

    Meski Pilpres 2024 masih lama, namun sejumlah pihak telah mulai memproyeksi nama-nama kandidat yang bakal maju sebagai kontestan calon presiden, tak terkecuali Refly.

    Melalui kanal YouTubenya, Refly mengatakan, apabila Gatot dan Anies dipasangkan menjadi calon presiden dan calon wakil presiden, maka akan muncul sebuah pasangan yang dahsyat.

    Baca juga : Jokowi Ingin RI Berhenti jadi Eksportir Batubara Mentah dengan Cara ini

    Sebab, menurut Refly, keduanya berpotensi mengisi kekosongan kans yang telah ditinggalkan oleh Prabowo sejak memutuskan bergabung dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Menteri Pertahanan.

    “Ceruk kosong yang ditinggalkan Prabowo akan diisi oleh Anies Baswedan. Banyak sekali pendukung Prabowo yang kecewa, kemudian menjagokan Anies Baswedan yang sekarang dianggap sebagai simbol perlawanan,” ujar Refly, seperti dilansir Hops.id -jaringan Suara.com, Sebtu (24/10/20).

    Refly pun menilai baik Gatot maupun Anies sama-sama memiliki kekuatan publik. Ia menyatakan keduanya memiliki peluang yang lebih besar ketimbang nama-nama lain yang pernah disebut akan masuk ke bursa pencalonan presiden tahun 2024 nanti. Tokoh yang ia bandingkan itu yakni Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

    Baca juga : Jokowi Blak-blakan Ungkap Alasan Kebut RUU Cipta Kerja di Tengah Pandemi

    “Tentu akan dahsyat kalau duet Gatot dan Anies dipersatukan, misalnya sebagai simbol perlawanan dari rezim,” terang Refly.

    Halaman selanjutnya…