Tag: Adian Napitupulu

  • Adian Napitupulu Dapat Mandat Pimpin Tim Pemenangan Pilkada PDIP

    Adian Napitupulu Dapat Mandat Pimpin Tim Pemenangan Pilkada PDIP

    TIKTAK.ID – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, diketahui telah membentuk Tim Pemenangan Pilkada Nasional untuk menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada November 2024 mendatang.

    Kader partai Banteng, Adian Napitupulu, ditunjuk sebagai Ketua Tim Pemenangan tersebut. Adian sendiri menyampaikan adanya pembentukan desk Pilkada 2024 PDIP itu.

    “Kini sudah dibentuk Tim Pemenangan Pilkada secara nasional yang telah ditandatangani surat keputusannya oleh Ketua Umum PDI Perjuangan,” ujar Adian dalam konferensi pers di sela-sela Rapat Kerja Nasional atau Rakernas V PDIP di Ancol, Jakarta Selatan pada Sabtu (25/5/24), seperti dilansir Tempo.co.

    Baca juga : Delegasi MPR RI Datangi Parlemen Spanyol Demi Perkuat Kerja Sama Dukung Kemerdekaan Palestina

    Menurut Adian, saat ini PDIP telah siap mencalonkan sendiri pasangan calon Kepala Daerah di 142 kabupaten atau kota di 11 provinsi. Pencalonan sendiri itu dimungkinkan, lantaran PDIP mampu memenuhi aturan ambang batas parlemen di daerah-daerah tersebut. Meski begitu, Adian tak menutup kemungkinan PDIP bakal tetap menjalin kerja sama dengan partai politik lainnya.

    Kemudian Adian turut menyinggung perbedaan pilihan PDIP dengan partai-partai lainnya di Pilpres 2024. Dia menilai PDIP tidak ingin perbedaan pilihan di Pilpres memengaruhi iklim politik di Pilkada.

    “Jika kami mau berbicara mengenai bangsa Indonesia yang satu, berbicara tentang kebutuhan berbangsa dan bernegara, satu masalah selesai di satu masalah sehingga tidak mengganggu konsolidasi Pilkada dan itu tidak menjadi persoalan di daerah-daerah,” tegas Adian.

    Baca juga : Makan Bergizi Gratis Jadi Nama Baru Program Unggulan Prabowo

    Namun Adian menyatakan PDIP tidak mau masalah netralitas aparat dan penyalahgunaan fasilitas negara yang ada di Pilpres 2024 kembali terulang di Pilkada.

    “Jangan ada lagi peristiwa seperti Pilpres kemarin yang terulang, dan jangan ada lagi aparatur negara yang bekerja secara politik demi kepentingan satu-dua calon,” tutur Adian.

    Adian menganggap penyalahgunaan aparat dan fasilitas negara merupakan hal yang sangat tidak adil karena mereka dibiayai bersama oleh rakyat. Untuk itu, Adian ingin Pilkada 2024 bisa berjalan tanpa intimidasi atau upaya-upaya memengaruhi pemilih dengan iming-iming fasilitas yang disediakan negara, seperti bantuan sosial atau Bansos.

    Baca juga : Andika Perkasa Tegaskan Siap Jadi Cagub DKI Jika Diperintah PDIP

    Perlu diketahui, PDIP melakukan konsolidasi menghadapi Pilkada 2024 dalam Rakernas kali ini. Rakernas sendiri sudah digelar sejak Jumat, 24 Mei, dan berakhir pada Minggu, 26 Mei.

  • Ganjar Safari ke Bogor Didampingi Putra Jokowi, Adian Buka Suara

    Ganjar Safari ke Bogor Didampingi Putra Jokowi, Adian Buka Suara

    TIKTAK.ID – Wali Kota Solo yang juga putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka mendampingi Bacapres PDIP, Ganjar Pranowo lari pagi dan blusukan ke pasar di Kabupaten Bogor, pada Sabtu (22/7/23).

    Menanggapi hal itu, politikus PDIP Adian Napitupulu menilai kehadiran tersebut merupakan bentuk nyata dukungan yang diberikan Gibran kepada Ganjar dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

    “Kehadiran dalam rangkaian acara ini adalah bentuk keberpihakan,” ungkap Adian, pada Sabtu (22/7/23), seperti dilansir Sindonews.com.

    Baca juga : Ganjar Ngaku Belajar dari Jokowi Soal Menjaga Hubungan dengan Relawan

    Kemudian Adian menyebut kehadiran Gibran itu dapat sekaligus membantah klaim-klaim sejumlah pihak yang menyebut Gibran bakal mendukung calon selain Ganjar.

    “Kita bisa memperdebatkan banyak hal. Namun kehadiran itu jauh lebih kuat daripada argumentasi apa pun,” tutur Adian.

    Menurut Wakil Ketua Tim Koordinasi Relawan Pemenangan Pilpres PDIP tersebut, tidak hanya Gibran yang akan berkampanye untuk Ganjar, melainkan juga Presiden Jokowi pada saatnya bakal turun langsung untuk memenangkan Ganjar.

    Baca juga : Pengamat Nilai Pertemuan Prabowo-Budiman Ancaman Bagi Ganjar

    “Ketika waktunya sudah, presiden juga boleh ikut berkampanye,” terang Adian.

    Senada dengan Adian, Ganjar mengeklaim keikutsertaan Gibran blusukan di Kabupaten Bogor merupakan bentuk dukungan kepadanya.

    “Saya kira interpretasinya tunggal, pasti itu (mendukung), tidak mungkin untuk interpretasi lain,” tegas Ganjar di kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-P Bogor, Sabtu siang, mengutip Kompas.com.

    Lebih lanjut, Ganjar menyatakan bahwa sebagai kader PDIP, Gibran juga nantinya akan menjadi juru kampanye terhadap dirinya di masa kampanye.

    Baca juga : HMI Siap Sambut Jokowi di Bengkulu dengan Demo, Apa Tuntutannya?

    “Oh iya pasti iya (juru kampanye). Saya kira Mas Gibran juga mau,” jelas Gubernur Jawa Tengah itu.

    Ganjar lantas menganggap kehadiran Gibran itu atas keinginan sendiri. Meski begitu, kata Ganjar, sebagai pejabat publik, Wali Kota Solo itu harus bisa menyesuaikan diri dengan agenda pemerintahan.

    “Dia mau ikut jalan saya. Hanya saja tentu harus sadar diri karena Mas Gibran saat ini masih menjabat, sama juga dengan saya,” jelas Ganjar.

    “Memang kita harus mengambil hari-hari yang memang memungkinkan untuk pergi dan beliau juga menyampaikan ‘Pak Gub saya akan ikut jalan,” sambung Ganjar.

  • Adian Napitupulu: Duel Ganjar vs Prabowo Kurang Asik

    Adian Napitupulu: Duel Ganjar vs Prabowo Kurang Asik

    TIKTAK.ID – Survei Poltracking Indonesia menyatakan bahwa elektabilitas Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menempati posisi tertinggi, mengalahkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Capres Koalisi Perubahan untuk Persatuan, Anies Baswedan. Survei tersebut dilakukan usai adanya polemik U-20 dan sebelum PDIP mendeklarasikan Ganjar.

    Menurut Koordinator Relawan Pemenangan Ganjar, Adian Napitupulu, pihaknya tidak khawatir atas survei tersebut. Terlebih, Adian menyebut sosok Prabowo telah berkali-kali kalah dan belum pernah memiliki pengalaman menang.

    Adian menyatakan tidak menyenangkan bagi PDIP maupun Tim Relawan Pemenangan Ganjar Pranowo, bertanding dengan orang yang sudah berkali-kali kalah. Dia menegaskan pihaknya memerlukan lawan yang pernah punya pengalaman menang.

    Baca juga : Pengamat Sarankan Golkar Segera Ambil Posisi di Pilpres, Mau Dukung Prabowo atau Ganjar

    “Mungkin Prabowo memang memiliki kemampuan memenangkan orang, namun tidak punya kemampuan memenangkan dirinya. Tidak bermaksud angkuh, tidak bermaksud merendahkan, tapi bisa tidak kita mendapatkan lawan yang seimbang,” ucap Adian, pada Jumat (28/4/23), seperti dilansir Republika.co.id.

    Kemudian Adian berharap ada perbandingan yang apple to apple, sehingga pertarungan berlangsung secara seimbang. Adian menilai pertarungan Ganjar kontra Prabowo kurang asik lantaran Prabowo belum pernah menang.

    Adian juga mengingatkan bahwa Poltracking sudah memberikan disclaimer kalau survei tidak cuma dilakukan setelah polemik Piala Dunia U-20, melainkan sebelum PDIP secara resmi mengusung Ganjar Pranowo sebagai Capres di 2024 nanti.

    Baca juga : Unggah Foto Ganjar dan Sandiaga Berdampingan, Putra Jokowi: Cocok Gak Nih?

    Selain itu, Adian mengatakan jarak elektabilitas Prabowo yang 33,0 persen dengan Ganjar yang 31,1 persen terbilang sangat kecil. Padahal, kata Adian, survei tersebut dilakukan sebelum PDIP telah secara resmi mengumumkan Ganjar Pranowo sebagai Capresnya.

    Adian melanjutkan, belum lagi melihat apa yang terjadi pada Anies Baswedan yang sempat naik seusai deklarasi. Untuk itu, Adian menganggap deklarasi sangat signifikan dalam mendongkrak elektabilitas, termasuk elektabilitas Ganjar Pranowo usai diusung PDIP.

    Hal itu membuat Adian cukup santai dalam menanggapi survei tersebut. Adian juga tampak santai merespons komentar panas politisi Partai Gerindra, Andre Rosiade, yang tidak terima Prabowo disebut tidak pernah menang.

    Baca juga : Prabowo Puncaki Hasil Simulasi 3 Capres Survei Poltracking

    “Orang menang boleh bangga, karena bangga bukan sebuah keangkuhan. Namun saat kita diadu dengan yang kalah berkali-kali itu sebuah kesombongan, kita harus diadu dengan yang sepantar,” tutur Adian.

  • Adian Klaim Bisa Atur Pertemuan Mahasiswa-Jokowi Bahas Masalah BBM

    Adian Klaim Bisa Atur Pertemuan Mahasiswa-Jokowi Bahas Masalah BBM

    TIKTAK.ID – Politikus PDIP, Adian Napitupulu mengaku dapat mengatur permintaan mahasiswa untuk berdialog dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) guna membahas polemik dan solusi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).

    Adian menyampaikan hal itu untuk menanggapi keluhan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia yang merasa tidak ditanggapi oleh Jokowi, usai melakukan rangkaian aksi demonstrasi dalam rangka menyuarakan keresahan dan menentang kenaikan harga BBM.

    “Jika teman-teman bilang mau bertemu Presiden, kalau misalkan mau ya sudah kita aturkan. Nanti saya coba ketemu Pak Jokowi saya tanya, ‘Pak Presiden, teman-teman mahasiswa ingin bertemu tuh ngobrolin soal BBM’,” ungkap Adian dalam acara “Political Show” yang disiarkan CNNIndonesia TV, Rabu (21/9/22) malam, seperti dilansir CNNIndonesia.com.

    Baca juga : ‘Dewan Kolonel’, Ancang-ancang Puan Nyapres di 2024

    Menurut Adian, sampai saat ini Pemerintah Jokowi tidak melarang aksi demonstrasi yang dilakukan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa. Dia menyebut aksi demonstrasi kenaikan BBM baru-baru ini juga sudah direspons dengan baik oleh Kantor Staf Presiden (KSP).

    Sementara itu, Tenaga Ahli Utama KSP, Ade Irfan Pulungan mengklaim selama ini Pemerintah mendengar dan menanggapi aspirasi warga. Dia menjelaskan, hal itu dengan membuktikan lewat kinerja yang saat ini masih berproses.

    Ade mengatakan salah satu upaya “menenangkan” masyarakat terkait kenaikan BBM yaitu memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dia memaparkan, Pemerintah memberikan BLT BBM kepada 20,65 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan total Rp600 ribu.

    Baca juga : Fahri Hamzah Bikin Polling Unik Terkait Pilpres 2024, Begini Hasilnya

    “Ya mari kita berdialog. Berdialog itu mencari solusi, bukan mempertahankan atau memaksakan kehendak yang tidak ada solusi. Pak Presiden senang kok melakukan dialog dengan siapa pun,” tutur Ade.

    Di sisi lain, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (Undip), Ichwan Nugraha Budjang mengkritik para elite pemerintahan yang malah asyik berdebat dan saling klaim mengenai capaian infrastruktur. Perdebatan tersebut dilakukan oleh Partai Demokrat dan PDIP.

    “Saya minta tolong hentikan komedi dan lelucon saat ini. Ini hanya menjadi pertarungan elitis yang pada akhirnya sekadar memikirkan golongan masing-masing. Bila kita melihat berdasarkan data, siapa yang paling sempurna, Pak Presiden SBY atau Jokowi? Tidak ada,” tegas Ichwan yang hadir secara daring.

  • Serangan ke Erick Thohir Makin Keras, Adian: Jokowi itu Presiden atau Pengantar Surat?

    Serangan ke Erick Thohir Makin Keras, Adian: Jokowi itu Presiden atau Pengantar Surat?

    TIKTAK.ID – Politisi PDIP Adian Napitupulu menyatakan tentang Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta dirinya menyampaikan beberapa nama aktivis 1998 untuk menempati posisi di beberapa lembaga.

    “Saya kenal Pak Jokowi itu dari 2011, sejak dia menjabat Wali Kota Solo. Ada banyak peristiwa dan obrolan dengan beliau,” ungkap Adian dalam “Bincang Santai dengan Adian Napitupulu” yang ditayangkan secara langsung via saluran media YouTube, Kamis (23/7/20).

    Lebih jauh, ia mengaku ada permintaan para aktivis agar Jokowi melepaskan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), Eva Bande.

    Baca juga : Soal Isu Anaknya Mau Jadi Menteri Jokowi, Amien Rais: Nauzubillahiminzalik!!

    Sebagai informasi, pada Hari Ibu 2014, Eva Bande diberi grasi oleh Jokowi. Saat itu, Eva Bande dihukum karena membela para petani di Luwuk, Sulawesi Tengah.

    “Kemudian soal tahanan politik dan narapidana politik Papua, itu juga dibebaskan. Kami juga meminta supaya pelaku human trafficking dihukum berat, itu Presiden langsung menelpon Kapolri. Jadi, beliau itu luar biasa menurut saya,” sebut Adian.

    Ia pun berkeyakinan, permintaan Jokowi tersebut mempunyai beberapa pertimbangan. Di antaranya merupakan pertimbangan perihal konsistensi para aktivis dalam memperjuangkan kemanusiaan di segala penjuru Indonesia.

    Baca juga : DKI Pecah Rekor Penambahan Kasus Covid-19, Anies Baswedan Malah Sangat Bersyukur. Lho?

    “Saat halalbihalal aktivis 98 Juni 2019 itu kan Presiden meminta nama. Bisa jadi menteri, Dubes, komisaris dan lain-lain. Itu kemudian dia buktikan, pada 17 Oktober 2019, dia meminta saya menjadi bagian dari Kabinet,” ungkapnya.

    Sehubungan hal tersebut, ia segera merespons bahwa dirinya telah memberikan beberapa nama. Tetapi, hingga kini belum satu pun yang diangkat.

    Halaman selanjutnya…

  • Adian Akhirnya Ngaku: Jokowi Sendiri yang Minta Setor Nama Calon Komisaris BUMN dari Kalangan Aktivis 98

    Adian Akhirnya Ngaku: Jokowi Sendiri yang Minta Setor Nama Calon Komisaris BUMN dari Kalangan Aktivis 98

    TIKTAK.ID – Politikus PDI Perjuangan dan anggota Komisi VII DPR RI, Adian Napitupulu mengaku bahwa ia diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyetorkan nama-nama calon komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari kelompok relawan hingga aktivis 1998.

    Pernyataan Adian tersebut untuk membantah sejumlah isu yang menyebut dirinya meminta jatah kursi komisaris BUMN kepada Menteri BUMN, Erick Thohir.

    “Presiden yang meminta nama-nama dari kita. Kita enggak minta, tapi kita ditawarkan. Kalau mau, serahkan ke Mensesneg. Saya sudah menyerahkan nama-nama itu,” ujar Adian di kawasan Kemang, Jakarta, seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (23/7/20).

    Baca juga : Hasil Survei: Prabowo Menteri dengan Kinerja Terbaik, Terawan Terpopuler

    Adian menyebut Jokowi sempat meminta sejumlah nama untuk menjabat kursi komisaris BUMN dalam pertemuan bersama para aktivis 1998 medio 2018-2019 lalu. Ia mengklaim setidaknya ada tiga pertemuan antara Jokowi dengan para aktivis 1998.

    Ia menyampaikan pada pertemuan terakhir atau 16 Juni 2019 lalu, para aktivis 1998 yang bertemu Jokowi mengungkapkan bahwa perjuangan setelah menang Pilpres 2019 akan dirintangi banyak tantangan.

    Adian pun mengatakan Jokowi setuju jika aktivis 1998 turut membantu dirinya. Menurutnya, Jokowi menyatakan ada banyak posisi yang bisa diisi para Aktivis 1998. Mulai dari menjadi menteri, duta besar, hingga menduduki kursi komisaris BUMN.

    Baca juga : Elektabilitas Ganjar Pranowo Terus Meningkat, PDI-P: Capres-Cawapres Tetap Ditentukan Megawati

    “Pada pidato terbuka [Jokowi] di Hotel Sahid Jaya, juga menyampaikan tentang kesempatan teman-teman 1998 untuk menjadi menteri, duta besar, atau komisaris BUMN. Kita enggak minta, tapi kita diminta dan ditawarkan,” terang Adian.

    Usai pertemuan tersebut, Adian menyatakan tidak ada lagi pertemuan bersama Jokowi yang membahas posisi jabatan tersebut. Ia menerangkan terakhir kali bertemu Jokowi saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2019 di DPR. Meski faktanya, Adian diketahui kembali bertemu Jokowi di Istana belum lama ini, saat statemennya tentang Menteri BUMN Erick Thohir dinilai kontroversial oleh publik.

    Lebih lanjut, Adian memaparkan nama-nama yang sudah disetorkan kepada Jokowi bukan dipilih secara asal. Ia menilai calon kandidat tersebut tetap mempertimbangkan standar tertentu, mulai dari latar belakang pendidikan dan asal daerah para kandidat.

    Baca juga : Komisi I Berencana Bentuk Lembaga Perlindungan Data Pribadi

    “BUMN itu kan tersebar di seluruh Indonesia, itu yang jadi dasar kita susun nama-nama. Pertama soal putera daerah, kemudian kompetensi dan tentu pendidikan,” ucapnya.

  • Kritik Adian Napitupulu ke Erick Thohir Berbuntut Saling Sindir ‘Rumor’ Dirinya dan Politisi Gerindra Andre Rosiade

    Kritik Adian Napitupulu ke Erick Thohir Berbuntut Saling Sindir ‘Rumor’ Dirinya dan Politisi Gerindra Andre Rosiade

    TIKTAK.ID – Politisi PDI-Perjuangan, Adian Napitupulu membantah pernyataan Anggota DPR Fraksi Gerindra, Andre Rosiade yang menyebut kritikan Adian kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir untuk kursi komisaris di perusahaan plat merah.

    “Tidak ada hubungannya, saya minta Andre membuktikan pernyataannya karena itu tuduhan serius,” ujar Adian kepada wartawan, seperti dilansir Wartaekonomi.co.id, Minggu (14/6/20).

    Kemudian Adian menantang anak buah Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto ini untuk mengomentari data yang ia paparkan dalam kritik ke Erick. Selain itu, ia juga meminta Andre untuk tidak melempar rumor ke publik.

    Baca juga : Gandrung Komik Mahabarata, Prabowo ‘Capres Terkuat 2024’ ini Ternyata Punya Beberapa Julukan Lagi

    “Kalau Andre kritis, komentari datanya saja, benar atau tidak. Jangan mengomentari rumor, karena terlalu mahal rakyat membiayai DPR hanya untuk mengomentari rumor,” tegas Adian.

    Adian pun menyarankan Andre untuk lebih memahami fungsi pengawasan DPR. Ia menyatakan DPR memiliki fungsi mengawasi kinerja eksekutif, bukan rumor sesama anggota DPR.

    “Karena kalau rumor yang dibicarakan, saya juga banyak mendengar rumor tentang Andre. Tapi, karena saya tahu fungsi dan tugas DPR, maka saya tidak akan mengumbar hal itu di media,” tutur Adian.

    Baca juga : Pengamat Politik: Prabowo Orang Baik, Gak Perlu Dukungan PKS dan 212

    Lebih lanjut, Adian juga meminta Andre untuk lebih banyak belajar.

    “Andre harus belajar data. Jawab data, bukan data dijawab rumor, gitu aja,” imbuhnya.

    Sebelumnya, Andre melempar rumor mengenai adanya motif tertentu dari Adian di balik kritik ke Erick Thohir.

    “Di Komisi VI, kami mendengar rumor bahwa Bung Adian memberikan usulan nama-nama ke Menteri BUMN untuk posisi komisaris. Tapi bukannya ditambah, kawan-kawan Bung Adian malah dicopot seperti di PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan Damri. Tapi ini baru rumor yang kami dengar, bisa benar atau salah,” ucap Andre.

    Baca juga : Corona di Jakarta Meningkat, PDIP DKI: Anies Seharusnya Fokus Pengawasan di Lapangan

    Seperti telah diberitakan, Adian menyoroti soal kenaikan utang BUMN. Ia membandingkan utang luar negeri BUMN sebesar Rp5.600 triliun dengan utang luar negeri Pemerintah Malaysia yang disebut hanya Rp3.500 triliun.

    Tidak hanya itu, Adian juga mengkritik BUMN yang pejabatnya diisi oleh pensiunan. Ia menduga hal itu menjadi penyebab BUMN tidak produktif.

  • Adian Napitupulu Bertemu Jokowi 1 Jam Lebih di Istana, Ada Apa?

    Adian Napitupulu Bertemu Jokowi 1 Jam Lebih di Istana, Ada Apa?

    TIKTAK.ID – Politikus PDI Perjuangan, Adian Napitupulu berdiskusi empat mata dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sekitar 1 jam 10 menit, di Istana Negara, Jakarta, Jumat (12/6/20) siang. Staf Adian di DPR, Musyafaur Rahman, menyebut Sekjen Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) itu berdiskusi soal situasi nasional di masa pandemi virus Corona (Covid-19).

    “Juga berdiskusi soal PHK yang terjadi di Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” ujar Rahman, seperti dilansir Tribunnews.com.

    Rahman mengatakan, Adian meminta skema aliran dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ke BUMN tidak menyalahi PP/23/2020, yakni bentuknya bukan utang atau talangan, melainkan Penyertaan Modal Negara (PMN).

    Baca juga : Dituding Rocky Gerung Mirip Pemerintahan Orde Baru, Jubir Jokowi Jawab Begini

    Adian juga meminta Negara agar lebih memperhatikan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) daripada BUMN. Rahman menjelaskan, Jokowi dan Adian hanya berbincang berdua, tidak didampingi menteri yang lain.

    “Menurut Abang, Presiden mencatat informasi yang masuk. Diskusi pun berlangsung hangat, Bang Adian tetap dengan gayanya yang ceplas-ceplos,” kata Rahman.

    Adian dipanggil oleh Jokowi ke Istana Negara, Jakarta, Jumat (12/6/20) siang. Namun belum jelas apa alasan Jokowi memanggil aktivis 1998 itu ke Istana.

    Baca juga : Begini Respons Ahok Usai Direksi Pertamina Disunat Erick Thohir

    Sebelumnya, anggota Komisi I DPR itu gencar menyoroti kinerja Menteri BUMN, Erick Thohir. Bahkan sehari sebelum dipanggil Jokowi ke Istana, Adian menuliskan opini soal kinerja Kementerian BUMN di bawah kepemimpinan Erick. Tulisan Adian berjudul, “BUMN dan UMKM dalam Cerita dan Angka, Siapa Pahlawan Sesungguhnya?”

    Pada awal tulisan, Adian mempertanyakan lebih banyak mana, utang BUMN atau utang luar negeri Malaysia? Kemudian ia membeberkan total utang BUMN sekitar Rp5.600 triliun, sementara total utang luar negeri Malaysia ada di kisaran Rp3.500 triliun.

    Adian pun mengajak pembacanya bertepuk tangan karena BUMN ternyata juara, yakni unggul Rp2.100 triliun mengalahkan Malaysia. Ia melanjutkan, mungkin ada yang coba ngeles dengan membedakan asal utang, tapi menurutnya utang mau dari tetangga, dari mertua atau dari bank, utang ya tetap saja utang.

    Baca juga : Komika Bintang Emon Sindir Vonis Kasus Novel Baswedan dengan Celetukan Kocak tapi Menohok

    “Mengapa utang BUMN sedemikian besar? Ada yang bilang karena korupsi, tapi ada yang katakan karena tidak efisien, tidak produktif, dan lain lain,” tutur Adian.

    Lebih lanjut, Adian menyinggung para pensiunan yang kerap mengisi jabatan di BUMN. Ia menduga hal itu menjadi penyebab BUMN tidak produktif.

  • Geregetan ke Stafsus Milenial Jokowi, Politikus PDIP: Ayo Turun ke Bawah, Kerja Nyata, Jangan Jadi Pajangan Saja!

    Geregetan ke Stafsus Milenial Jokowi, Politikus PDIP: Ayo Turun ke Bawah, Kerja Nyata, Jangan Jadi Pajangan Saja!

    TIKTAK.ID – Sejak formasi Stafsus Milenial Jokowi diumumkan secara resmi September tahun lalu, selain kehebohan soal besaran gaji mereka, hingga kini belum juga terdengar gebrakan spektakuler yang setidaknya dapat berbuah manfaat bagi rakyat lewat kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah, sebagai hasil masukan berharga kepada Presiden Jokowi yang menunjuk mereka.

    Diminta tanggapannya terkait hal ini, politikus PDI Perjuangan Adian Napitupulu menyatakan, sampai saat ini juga masih menunggu sejauh mana gebrakan para staf khusus Presiden Joko Widodo, terutama tujuh orang yang berusia milenial.

    Adian mengaku geregetan, karena sejak diperkenalkan Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/9/19) lalu, belum terlihat ada gebrakan yang luar biasa.

    Baca juga: Menyoal Ahok Masuk Bursa Kandidat Pimpinan Ibu Kota Baru, Sandiaga Uno: Bukannya Baru Jadi Komut Pertamina?

    “Saya sedang menunggu apa yang sedang dikerjakan oleh stafsus milenial ini. Maksudnya, bidang mereka apa dan segala macam belum kelihatan,” ujar Adian pada program “Ngomongin Politik” (Ngompol) yang tayang di JPNN.com.

    Menurut Anggota Komisi I DPR ini, para stafsus milenial harus menunjukkan kepada publik, mereka bukan pajangan semata. Caranya, bekerja lebih giat dibanding presiden.

    Halaman selanjutnya…