
Rizki Juniansyah: Biodata dan Perjalanan Sang Emas Olimpiade
Malam 8 Agustus 2024 di Paris, seorang anak muda asal Banten berjalan ke podium sambil tersenyum lebar. Rizki Juniansyah baru saja mengunci medali emas Olimpiade Paris 2024 dari kelas 73 kg putra cabang angkat besi. Ia membukukan total angkatan 354 kg, ditopang angkatan clean & jerk 199 kg yang menjadi rekor Olimpiade baru.
Kemenangan itu menjadikan Rizki atlet angkat besi Indonesia pertama yang mempersembahkan emas Olimpiade. Di usia 21 tahun 52 hari, ia juga resmi menjadi peraih emas Olimpiade termuda sepanjang sejarah Indonesia. Rekor tersebut memecahkan catatan legenda bulu tangkis Susi Susanti yang bertahan sejak Barcelona 1992.
Lantas, siapa sosok di balik angka-angka fantastis itu? Mari kita telusuri perjalanan lifter jenius ini dari sasana kecil di Serang sampai puncak podium Olimpiade.
Biodata Rizki Juniansyah
Sebelum masuk ke kisah kariernya, kenali dulu profil singkat atlet kelahiran Serang ini lewat tabel berikut:
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Nama lengkap | Rizki Juniansyah |
| Nama panggilan | Kijun |
| Tempat, tanggal lahir | Kota Serang, Banten, 17 Juni 2003 |
| Usia | 23 tahun (per September 2026) |
| Cabang olahraga | Angkat besi |
| Kelas berat | 73 kg (hingga 2024), 79 kg (saat ini) |
| Pelatih pertama | Sang ayah, M. Yasin |
| Orang tua | M. Yasin (ayah) dan Yeni Rohaeni (ibu) |
| Saudara | Randy Maulida Yasin dan Riska Anjani Yasin |
| Pendidikan | STKIP Situs Banten, jurusan ilmu olahraga |
| Prestasi utama | Emas Olimpiade Paris 2024 (73 kg), Juara Dunia 2025 (79 kg) |
| Rekor dunia aktif | Clean & jerk 205 kg dan total 365 kg (kelas 79 kg) |
Lahir di Keluarga Atlet: Masa Kecil Rizki Juniansyah
Rizki lahir di Kota Serang, Banten, pada 17 Juni 2003. Rumah keluarganya praktis berfungsi ganda sebagai sasana angkat besi. Sang ayah, M. Yasin, adalah mantan atlet angkat besi nasional yang berprestasi di SEA Games dari 1983 sampai 1993. Sang ibu, Yeni Rohaeni, juga pernah berkompetisi untuk tim angkat berat Provinsi Banten.
Dua kakaknya, Randy Maulida Yasin dan Riska Anjani Yasin, mengikuti jejak yang sama sebagai atlet angkat besi. Kakak iparnya, Triyatno, bahkan punya koleksi medali Olimpiade: perunggu Beijing 2008 dan perak London 2012. Sulit mencari keluarga Indonesia dengan “DNA” lebih angkat besi daripada keluarga ini.
Di lingkungan itulah Rizki mulai berlatih sejak usia 7 tahun di sasana milik ayahnya. Ia tidak dipaksa, tapi tumbuh di tengah barbel dari pagi ke pagi. Fondasi teknik yang dibangun sang ayah kelak menjadi modal utama efisiensi angkatannya di panggung dunia.
Awal Karier: Juara Nasional sampai Penguasa Junior Dunia
Nama Rizki mulai disorot nasional saat ia menyabet emas Kejurnas Antar-PPLP 2017 dan Kejurnas PPLP 2018. Gelar-gelar Popda, Porprov, dan PON juga ia kumpulkan mewakili Banten di jenjang usia muda. Panggung senior internasional kemudian menyambutnya lewat medali perak kelas 81 kg di SEA Games 2021 Hanoi yang digelar 2022.
Di Kejuaraan Asia Remaja 2019 di Pyongyang, Korea Utara, Rizki membawa pulang tiga perak di kelas 67 kg. Setahun kemudian, di Kejuaraan Asia Junior 2020 di Tashkent, angkatan snatch 139 kg dan total 307 kg-nya tercatat sebagai dua rekor dunia remaja.
Menorehkan Rekor Dunia Junior
Rizki juga menyapu tiga emas kelas 73 kg pada IWF Online Youth World Cup 2020, turnamen daring era pandemi.
Panggung senior junior-nya sendiri terbuka penuh pada Kejuaraan Dunia Junior 2021 di Tashkent. Rizki menyapu tiga emas dengan angkatan 155-194-349 kg. Ketiganya langsung menjadi rekor dunia junior.
Gelar juara dunia junior berhasil ia pertahankan di Heraklion, Yunani, 2022, sekaligus mempertajam rekor snatch ke 156 kg. Bulan Juli 2022, rekor itu naik lagi menjadi 157 kg di Kejuaraan Asia Junior di Tashkent. Rekor tersebut masih dipegangnya sampai kelas 73 kg akhirnya dihapus IWF.
Perjalanan Penuh Rintangan Menuju Olimpiade Paris
Transisi ke level senior tidak mulus total, tapi Rizki cepat membuktikan dirinya. Di Kejuaraan Dunia 2022 di Bogotá, Kolombia, ia merebut emas snatch serta dua perak di clean & jerk dan total. Mei 2023, ia menjuarai kelas 73 kg di SEA Games Kamboja dengan tiga rekor SEA Games baru: 156-191-347 kg.
Nasib lalu menghadapkannya dengan ujian berat. Agustus 2023, Rizki menjalani operasi usus buntu dan harus berhenti berlatih sekitar enam bulan, persis di tengah periode kualifikasi Olimpiade. Kegagalan mencatatkan hasil total di Kejuaraan Dunia 2023 Riyadh menambah tekanan. Tiket Paris nyaris hilang begitu saja.
Intensitas pemulihan semacam itu menuntut disiplin ekstra. Kalau kamu rutin berolahraga, bacaan soal cara mengatasi pegal otot setelah olahraga bisa jadi pelengkap yang berguna.
Kualifikasi Lewat Rekor Dunia di Phuket
Rizki kembali berlatih pada awal Januari 2024 dengan tubuh yang belum sepenuhnya bugar. Fokusnya cuma satu: Piala Dunia IWF 2024 di Phuket, Thailand. Di sana ia tampil luar biasa dan merebut emas clean & jerk 201 kg.
Emas total 365 kg menyusul sekaligus menjadi rekor dunia baru kelas 73 kg. Angka itu menggeser rekor sebelumnya, 364 kg, milik lifter Tiongkok Shi Zhiyong. Tiket Olimpiade pun diamankan. Dari sasana rumah ayahnya, Rizki resmi melangkah ke Olimpiade pertamanya sebagai pencetak rekor dunia berjalan.
Momen Emas di Olimpiade Paris 2024
Debut Olimpiade Rizki berlangsung 8 Agustus 2024. Di babak snatch, ia berhenti di 155 kg. Bagian kedua justru menjadi panggung miliknya: angkatan clean & jerk 199 kg diakhiri sebagai rekor Olimpiade, membukukan total 354 kg dan merebut emas.
Medali itu menyimpan lapisan makna sejarah. Ia adalah emas kedua Indonesia di Paris 2024, hadir beberapa jam setelah emas panjat speed Veddriq Leonardo. Keduanya sekaligus menjadi emas Olimpiade pertama Indonesia di luar bulu tangkis.
Selama puluhan tahun, bulu tangkis menjadi satu-satunya lumbung emas Indonesia di Olimpiade, dari era Susi Susanti sampai Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di Tokyo. Perjalanan pebulu tangkis seperti Anthony Ginting dan Jonatan Christie menunjukkan betapa tingginya standar di sana. Khusus angkat besi, koleksi medali sebelumnya banyak disumbang generasi seperti Eko Yuli Irawan.
Rizki mengalahkan peraih perak Weeraphon Wichuma dari Thailand. Juara bertahan Shi Zhiyong dari Tiongkok bahkan gagal mencatatkan total akhir. Catatan paling personal justru hadir di luar lapangan: pada usia 21 tahun 52 hari, ia menjadi peraih emas Olimpiade termuda dalam sejarah Indonesia.
Setelah Paris: Juara Dunia 2025 dan Duo Rekor Dunia 79 kg
Kejutan datang tak lama setelah Olimpiade. IWF merombak kelas berat pada 2025 dan menghapus kelas 73 kg dari kalender internasional. Rizki naik ke kelas 79 kg, sempat mencoba 81 kg di Kejuaraan Asia 2025 dengan dua perak dan satu perunggu, sebelum menetap di 79 kg.
Hasilnya memukau. Di Kejuaraan Dunia 2025 di Førde, Norwegia, Rizki tampil sebagai juara dunia senior pertamanya. Angkatan snatch 157 kg membawa perunggu, sementara clean & jerk 204 kg dan total 361 kg membawa dua emas sekaligus dua rekor dunia.
Dua bulan kemudian, di SEA Games Thailand, ia menajamkan lagi angkatannya: clean & jerk 205 kg dan total 365 kg. Kedua rekor dunia kelas 79 kg tersebut resmi diakui Guinness World Records pada Maret 2026 sekaligus menjadi rekor Asia. Meski kelas 73 kg tak lagi dipertandingkan, rekor Olimpiade clean & jerk 199 kg milik Rizki tetap tercatat dalam sejarah.
Kehidupan Pribadi dan Pangkat Militer
Di luar panggung kompetisi, Rizki menjalani kuliah ilmu olahraga di STKIP Situs Banten. Negara memberinya apresiasi yang tidak kecil. Setelah emas Paris, Presiden Prabowo Subianto mengangkatnya sebagai perwira TNI AL berpangkat Letnan Dua. Setelah emas dan rekor dunia baru di SEA Games 2025, ia dipindahkan ke TNI AD. Kenaikan Pangkat Luar Biasa dua tingkat kemudian mengantarnya ke pangkat Kapten Infanteri.
Duka juga menyapa pada 2024 ketika sang ayah sekaligus pelatih pertamanya, M. Yasin, meninggal dunia. Rizki melanjutkan lari yang sudah diperjuangkan keluarganya selama puluhan tahun. Bagi banyak penggemarnya, setiap angkatan di panggung dunia kini terasa seperti penghormatan untuk sang guru pertama.
Daftar penghargaannya kian panjang: masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2025, meraih The Game Changer Award kategori Best of the Best dari Komite Olimpiade Indonesia, serta SIWO PWI Award 2026 sebagai atlet putra terbaik.
Fakta Menarik tentang Rizki Juniansyah
-
Nama panggilannya Kijun, kependekan dari nama Rizki Juniansyah.
-
Ia adalah atlet angkat besi Indonesia pertama yang mempersembahkan medali emas Olimpiade.
-
Seluruh keluarga intinya adalah lifter: ayah, ibu, dua kakak, dan kakak iparnya pernah atau masih bertanding.
-
Rekor dunia junior kelas 73 kg untuk angkatan snatch (157 kg) tak pernah terpecahkan sampai kelas itu dihapus IWF.
-
Dua rekor dunianya di kelas 79 kg tercatat resmi oleh Guinness World Records pada Maret 2026.
-
Pada usia 21 tahun 52 hari, ia menjadi peraih emas Olimpiade termuda sepanjang sejarah Indonesia.
Pertanyaan Umum
Berapa total angkatan Rizki Juniansyah saat meraih emas Olimpiade Paris 2024?
Totalnya 354 kg, terdiri dari snatch 155 kg dan clean & jerk 199 kg. Angkatan clean & jerk itu sekaligus menjadi rekor Olimpiade kelas 73 kg.
Mengapa emas Rizki Juniansyah disebut bersejarah?
Karena ia menjadi lifter Indonesia pertama yang memenangkan emas Olimpiade. Medali itu turut menjadi emas Olimpiade pertama Indonesia di luar bulu tangkis. Pencapaiannya di usia 21 tahun 52 hari menjadikannya peraih emas Olimpiade termuda Indonesia.
Kelas berat apa yang kini ditempuh Rizki Juniansyah?
Kelas 79 kg, setelah IWF menghapus kelas 73 kg dalam restrukturisasi 2025. Di kelas baru inilah ia menjadi juara dunia 2025 sekaligus pemegang dua rekor dunia.
Rekor dunia apa saja yang dipegang Rizki Juniansyah?
Saat ini ia memegang rekor dunia clean & jerk 205 kg dan total 365 kg di kelas 79 kg putra. Rekor Olimpiade clean & jerk 199 kg di kelas 73 kg juga tetap tercatat dalam sejarah.
Profil Atlet yang Terus Menulis Sejarah
Perjalanan Rizki Juniansyah terasa belum sampai garis akhir. Baru berusia 23 tahun, ia sudah mengoleksi emas Olimpiade, gelar juara dunia, dan dua rekor dunia. Namanya kini tercatat sejajar dengan atlet Indonesia yang menembus panggung dunia, seperti kapten Timnas Jay Idzes. Olimpiade Los Angeles 2028 masih menunggu, dan ruang lemari untuk medali-medali berikutnya sepertinya perlu disiapkan lebih luas.










