
Apriyani Rahayu: Dari Raket Kayu ke Puncak Olimpiade Tokyo
Raket kayu dengan senar benang pancing adalah peralatan pertama Apriyani Rahayu. Lapangan latihannya sendiri dibangun ayahnya di halaman rumah, di sebuah desa terpencil di Sulawesi Tenggara. Belasan tahun kemudian, putri desa itu berdiri di podium tertinggi Olimpiade Tokyo 2020 dan membawa pulang emas ganda putri pertama Indonesia. Kisah Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, layak dibaca ulang karena tumbuh jauh di luar jalur pembinaan biasa.
Biodata Apriyani Rahayu
Sebelum masuk ke kisah kariernya, kenali dulu profil singkat pebulutangkis kelahiran 29 April 1998 ini.
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Nama lengkap | Apriyani Rahayu |
| Tempat, tanggal lahir | Lawulo, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, 29 April 1998 |
| Usia | 28 tahun (per September 2026) |
| Tinggi badan | 163 cm |
| Berat badan | 60 kg |
| Spesialisasi | Ganda putri |
| Tangan dominan | Kanan |
| Klub | Pelita Bakrie, kemudian Jaya Raya Jakarta |
| Pelatnas | Cipayung, Jakarta, sejak 2017 |
| Pasangan ganda putri | Greysia Polii (2017–2022), Siti Fadia Silva Ramadhanti (sejak 2022) |
| Prestasi terbesar | Emas Olimpiade Tokyo 2020 (ganda putri) |
| Medali internasional utama | Perak Kejuaraan Dunia 2023, perunggu Kejuaraan Dunia 2018 dan 2019, emas SEA Games 2019 dan 2021, perunggu Asian Games 2018 |
Masa Kecil di Lawulo dan Raket Kayu Buatan Ayah
Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, dilahirkan di desa Lawulo, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Ia anak terakhir dari pasangan Ameruddin Pora dan Sitti Jauhar. Keluarganya hidup sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ibunya gemar berolahraga.
Cara Apriyani masuk ke bulu tangkis terdengar seperti film. Ia kecil dulu gemar berkelahi dengan anak-anak tetangga. Ayahnya kemudian menyarankan agar energi itu dialihkan ke lapangan bulu tangkis, dan ia setuju. Lapangan latihannya sendiri dibangun di belakang rumah, di sela-sela pohon pinang.
Perlengkapan pertamanya pun buatan tangan. Ayahnya melilitkan senar benang pancing ke rangka raket kayu, lalu Apriyani memakainya berlatih setiap hari. Saat dana penjualan sayur cukup, barulah ia mendapatkan raket sungguhan. Konon ayahnya juga kerap menemandani ia berlari sejauh sekitar 10 kilometer menuju ajang pertandingan desa.
Sembilan tahun, ia mewakili Kabupaten Konawe dalam kejuaraan regional pada 2007. Kemampuannya kemudian menarik perhatian pemandu bakat Yuslan Kisra. Pada akhir 2011, usia 13 tahun, ia direkrut ke Pelita Bakrie di Jakarta, klub yang diasuh legenda tunggal Icuk Sugiarto. Awal perjalanan Apriyani Rahayu, juara SEA Games Filipina 2019, dimulai di situ.
Karier Junior: Ganda Putri dan Ganda Campuran
Sebelum dikenal sebagai spesialis ganda putri, Apriyani turun di dua nomor di level junior. Di Kejuaraan Dunia Junior 2014 di Alor Setar, ia meraih medali perak nomor ganda putri bersama Rosyita Eka Putri Sari. Mereka kalah di laga final oleh pasangan Tiongkok Chen Qingchen/Jia Yifan, dua nama yang kelak jadi lawan barunya di final Tokyo.
Di nomor ganda campuran, koleksinya juga tak buruk. Ia menyumbang perunggu Kejuaraan Dunia Junior 2015 bersama Fachryza Abimanyu, lalu perunggu Kejuaraan Asia Junior 2015 pada gelar yang sama. Satu perunggu lagi ia tambahkan di Kejuaraan Asia Junior 2016, kali ini berpasangan dengan Rinov Rivaldi. Dua nomor itu menempa Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, jauh sebelum namanya meledak di level senior. Pada pertengahan 2015, ia pindah klub ke Jaya Raya Jakarta untuk menempuh jenjang lebih serius.
Pelatnas Cipayung dan Duet dengan Greysia Polii
Awal 2017 menjadi titik belok. Apriyani resmi masuk pelatnas Cipayung, Jakarta, dan mulai bermain di level senior. Federasi memasangkannya dengan Greysia Polii pada Mei 2017, menggantikan Nitya Krishinda Maheswari yang sedang cedera. Apriyani Rahayu, juara SEA Games 2021, nyaris tak dikenal publik saat itu, sementara Greysia sudah veteran dua Olimpiade.
Debut duo baru itu terjadi di Sudirman Cup 2017. Hasil pertama menyusul cepat: gelar Thailand Terbuka 2017 di jenjang Grand Prix Gold, lalu gelar Prancis Terbuka 2017 di jenjang Superseries. Itu gelar Superseries pertama bagi Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, yang saat itu baru menapaki level senior. Sampai November 2017, pasangan ini menempel di peringkat 10 dunia. Pembaca yang ingin mengenal sosok pasangannya lebih dalam bisa membuka profil Greysia Polii.
Kenaikan Kelas pada 2018–2019
Musim 2018 menegaskan status duo ini di peta dunia. Apriyani Rahayu, juara India Open 2018, meraih gelar itu di New Delhi. Pada September 2018, mereka naik ke peringkat 3 dunia, rekor karier terbaik duo ini. Di akhir musim, perunggu Kejuaraan Dunia 2018 di Nanjing melengkapi koleksi mereka.
Tahun 2019 makin padat. Gelar India Open kedua diraih pada Januari, lalu perunggu Kejuaraan Dunia 2019 di Basel. Medali perunggu tim juga datang lewat Sudirman Cup 2019 di Nanning. Puncaknya di ajang SEA Games Filipina 2019: Apriyani Rahayu, juara SEA Games 2019, meraih emas ganda putri pertama bagi Greysia di ajang tersebut. Asian Games 2018 di Jakarta–Palembang sempat jadi pahit karena mereka pulang dengan perunggu ganda putri, tetapi tren mereka terus menanjak menuju Olimpiade.
Emas Olimpiade Tokyo 2020
Olimpiade Tokyo 2020, yang digelar pada 2021, menjadi panggung terbesar Apriyani Rahayu. Bersama Greysia, ia tampil tanpa status unggulan dan masuk babak grup dengan langkah mantap. Duet Apriyani Rahayu, juara India Open 2019, terus menang hingga melenggang ke laga puncak di Musashino Forest Sport Plaza.
Laga Final Melawan Juara Dunia 2017
Lawan di final tak dicerahi: Chen Qingchen/Jia Yifan, juara dunia 2017 dari Tiongkok. Gim pertama berjalan ketat dan dimenangkan Indonesia 21–19. Gim kedua Apriyani Greysia menguasai tempo lewat serangan beruntun, ditutup kemenangan 21–15 pada 2 Agustus 2021.
Emas itu berlapis sejarah. Mereka menjadi pasangan tanpa unggulan pertama yang menjuarai ganda putri Olimpiade. Bagi Indonesia, ini emas ganda putri Olimpiade pertama sepanjang sejarah, sekaligus satu-satunya emas kontingen di Tokyo. Kemenangan itu juga menjadikan Indonesia negara satu-satunya di luar Tiongkok yang pernah menjuarai kelima sektor bulu tangkis Olimpiade.
Nama Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, kini tersandar pada Susi Susanti (1992) dan Lilyana Natsir (2016) sebagai peraih emas Olimpiade perempuan Indonesia. Tahun itu ia berusia 23 tahun. Pemerintah memberinya bonus Rp5 miliar sebagai peraih emas Olimpiade. Di Olimpiade yang sama, pebulutangkis tunggal putra Anthony Ginting turut menyumbang medali perunggu, seperti yang terekam dalam profil Anthony Ginting. Namanya pun kini sejajar dengan rekan-rekan seangkatan seperti Jonatan Christie.
Era Baru Bersama Siti Fadia Silva Ramadhanti
Greysia resmi gantung raket pada 12 Juni 2022 di Istora Senayan. Tidak lama sebelum perpisahan itu, Apriyani sudah memulai babak baru bersama partner muda Siti Fadia Silva Ramadhanti. Kemitraan Apriyani Rahayu, juara SEA Games 2021, langsung teruji di SEA Games Hanoi 2022. Mereka menjuarai ganda putri setelah menaklukkan duet Thailand Benyapa/Nuntakarn Aimsaard di final.
Sebelas bulan kemudian, duo ini menulis sejarah lain: medali perak Kejuaraan Dunia 2023 di Kopenhagen, hasil terbaik ganda putri Indonesia di kejuaraan tersebut saat itu. Pada April 2023 mereka sempat menempel di peringkat 4 dunia. Satu gelar dunia tur BWF juga datang lewat Hong Kong Terbuka 2023, gelar pertama bagi ganda putri Indonesia di turnamen itu.
Kontribusi mereka pada tim nasional pun nyata. Indonesia meraih perak Piala Uber 2024 di Chengdu, dengan Apriyani sebagai salah satu penyerang ganda putri. Lalu datang Olimpiade Paris 2024: Apriyani/Siti Fadia tampil di babak grup dan gugur lebih awal setelah kalah dari Matsumoto/Nagahara serta Chen/Jia. Tradisi emas olimpiade Indonesia menyusul di Paris 2024, lewat angkat besi Rizki Juniansyah.
Gaya Bermain Apriyani Rahayu
Apriyani dikenal sebagai pebulutangkis dengan smash keras dan insting menyerang tinggi. Ia paling nyaman mengawasi area belakang, menghantam shuttlecock dengan tenaga penuh untuk memburu poin langsung. Greysia berperan sebagai otak permainan di area depan, membaca pola lawan dan menyusun serangan. Kombinasi tenaga muda dan pengalaman senior itulah yang membuat mereka sulit dihadapi, apalagi saat gim memasuki poin kritis. Mental kuat Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, jadi fondasi di momen-momen seperti itu.
Kehidupan Pribadi dan Inspirasi Anak Daerah
Di luar lapangan, Apriyani menjaga gaya hidup sederhana. Ia dekat dengan keluarga dan kerap pulang ke Sulawesi Tenggara saat jadwal longgar. Baginya, keluarga adalah alasan terbesar untuk terus berjuang, seperti yang ia sampaikan di berbagai kesempatan.
Kisahnya kini menjadi inspirasi banyak anak di daerah. Dua analogi Indonesia yang juga berangkat dari keterbatasan adalah pelari Lalu Muhammad Zohri (profil Lalu Muhammad Zohri) serta angkat besi veteran Eko Yuli Irawan. Jejak Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, menegaskan bahwa lahir di tempat terbatas bukan penghalang menjuarai dunia.
Fakta Menarik tentang Apriyani Rahayu
-
Raket pertamanya buatan ayah. Rangka kayu dengan senar benang pancing dipakainya berlatih bertahun-tahun di lapangan rumahan.
-
Berpasangan dengan Greysia pada Mei 2017. Federasi memasangkannya saat Nitya Krishinda Maheswari cedera, dan duo ini langsung menjuarai Thailand Terbuka 2017.
-
Peraih emas Olimpiade perempuan Indonesia ketiga. Ia menyusul Susi Susanti dan Lilyana Natsir. Duo ini juga pasangan tanpa unggulan pertama yang menjuarai ganda putri Olimpiade.
-
Bonus Rp5 miliar. Sesuai skema penghargaan pemerintah untuk peraih emas Olimpiade Tokyo 2020, ia menerima hadiah tunai Rp5 miliar. Hak yang sama melekat pada Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, bersama Greysia sebagai rekan duetnya.
-
Peraih dua emas SEA Games ganda putri. Edisi Filipina 2019 bersama Greysia, lalu edisi Hanoi 2021 bersama Siti Fadia Silva Ramadhanti.
Pertanyaan Umum
Berapa usia Apriyani Rahayu?
Lahir 29 April 1998, Apriyani Rahayu berusia 28 tahun per September 2026.
Di mana Apriyani Rahayu dilahirkan?
Ia dilahirkan di desa Lawulo, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dan memulai bulu tangkis di lapangan rumahan buatan ayahnya.
Apa prestasi terbesar Apriyani Rahayu?
Emas ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 bersama Greysia Polii, emas Olimpiade ganda putri pertama untuk Indonesia. Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, juga mengoleksi perak Kejuaraan Dunia 2023 dengan Siti Fadia.
Siapa pasangan Apriyani Rahayu saat ini?
Pebulutangkis muda Siti Fadia Silva Ramadhanti, pasangannya sejak 2022. Duo ini lolos ke final Kejuaraan Dunia 2023 dan Olimpiade Paris 2024.
Apakah Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, masih aktif bertanding?
Ya. Ia masih membela Indonesia di sirkuit BWF dengan beberapa pasangan ganda putri, termasuk Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Febi Setianingrum.
Apriyani Rahayu, juara olimpiade Tokyo 2020, membuktikan bahwa bakat plus kerja keras bisa menembus batas geografis. Jejak raket kayunya di Lawulo kini menjadi pengingat bahwa sejarah olahraga Indonesia bisa ditulis dari tempat paling sederhana.
Data dalam artikel ini disarikan dari profil publik BWF serta pemberitaan olahraga nasional yang beredar. Angka usia mengikuti waktu artikel ini ditulis.










