TIKTAK.ID

Main Menu

  • Home
  • Nasional
  • Olahraga
  • Selebriti
  • Teknologi
  • Tips & Tutorial

logo

TIKTAK.ID

  • Home
  • Nasional
  • Olahraga
  • Selebriti
  • Teknologi
  • Tips & Tutorial
Nasional
Home›Nasional›Kali ini, Giliran GUSDURian Kecam Aksi Brutal Laskar Intoleran Solo

Kali ini, Giliran GUSDURian Kecam Aksi Brutal Laskar Intoleran Solo

By Johan Arif
10 Agustus 2020
1011
0
Kali ini, Giliran GUSDURian Kecam Aksi Brutal Laskar Intoleran Solo

TIKTAK.ID – Seperti diberitakan sebelumnya, sekelompok orang, sebut saja Laskar Intoleran Solo, tiba-tiba datang dan berusaha membubarkan acara Midodareni (doa menjelang prosesi akad nikah dalam tradisi Jawa) yang digelar oleh warga Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.

Tiga warga, yang merupakan pihak keluarga tuan rumah penyelenggara acara, menjadi korban penyerangan dan dibawa ke rumah sakit. Selain itu, massa beringas itu juga merusak 5 kendaraan di lokasi.

Baca juga: Dari Ormas Hingga Anggota DPR Desak Kepolisian Usut Tuntas Kasus Penyerangan Acara Keluarga di Rumah Habib di Solo

Pasca-penyerangan Tim Gabungan TNI-Polri berjaga di sekitar lokasi dan terus mengusut pelaku dan provokator dalam peristiwa ini.

Menurut Kapolresta Solo, Kombes Andy Rifai pihaknya telah mengantongi identitas para penyerang yang terjadi pada Sabtu (8/8/20) malam tersebut.

“Akan kita lakukan penegakan hukum. Sudah dilakukan identifikasi dan tim sudah bergerak di lapangan,” kata Kapolresta Surakarta Kombes Andy Rifai pada Minggu (9/8/20).

Baca juga: Tanggapi ‘Tragedi Sabtu Malam Kelabu’, Banyak Pihak Desak Aparat Tindak Tegas Pelaku dan Otak Penggerak Aksi Barbar ‘Laskar Intoleran Solo’

Peristiwa anarkistis tersebut disesalkan dan dikecam keras oleh banyak pihak. Kali ini, giliran Jaringan GUSDURian, yang secara resmi turut merilis pernyataan sikap sebagai berikut:

Pernyataan Sikap Jaringan GUSDURian
Terkait Penyerangan Keluarga Assegaf di Solo

Kekerasan terhadap warga negara kembali terjadi di Indonesia. Di tengah upaya keras menanggulangi pandemi Covid-19 sebuah peristiwa memilukan terjadi di Solo, Jawa Tengah. Sekitar dua ratus orang menyerang acara Midodareni yang tengah berlangsung di kediaman almarhum Segaf Al-Jufri, Jl. Cempaka No. 81 Kp. Mertodranan Rt 1/1 Kel/Kec. Pasar Kliwon Kota Surakarta. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 8 Agustus 2020 malam.

Midodareni merupakan tradisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk mempersiapkan hari pernikahan. Sebagaimana diberitakan 5news.co.id, ratusan orang tiba-tiba mendatangi lokasi dan memaksa tuan rumah membubarkan acara tersebut.

Mereka juga merusak sejumlah mobil dan memukul beberapa anggota keluarga. Sembari meneriakkan takbir, penyerang meneriakkan bahwa Syiah bukan Islam dan darahnya halal.

Syiah merupakan salah satu mazhab teologi dalam Islam yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Di Indonesia, Syiah termasuk dalam kategori kelompok minoritas dan kerap menerima perlakuan diskriminatif.

Tiga orang dilaporkan menjadi korban tindakan brutal kelompok tersebut, sehingga harus menjalani perawatan medis akibat luka-luka yang diderita.

Peristiwa ini menambah catatan buruk intoleransi di Indonesia yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman. Apalagi beberapa waktu yang lalu, peristiwa intoleransi juga terjadi pada masyarakat adat di Kuningan, Jawa Barat.

Hal ini sungguh ironis mengingat Presiden Joko Widodo pernah menyerukan tidak ada tempat bagi intoleransi di Indonesia.

Perlu langkah kongkrit dari berbagai pihak agar tidak ada lagi kasus intoleransi atas nama agama. Oleh karena itu, Jaringan GUSDURian sebagai perkumpulan yang berupaya meneruskan perjuangan KH. Abdurrahman Wahid, pejuang kemanusiaan, menyatakan sikap sebagai berikut.

Pertama, mengutuk peristiwa penyerangan tersebut karena mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Kekerasan tidak bisa dibenarkan atas alasan apapun.

Kedua, meminta kepolisian setempat untuk menuntaskan kasus ini melalui mekanisme konstitusi. Sebagai lembaga negara, kepolisian harus menegakkan hukum tanpa mempertimbangkan opsi harmoni sosial yang hanya akan melanggengkan praktik kekerasan di masa mendatang. Pelaku harus dihukum setimpal dengan undang-undang yang berlaku.

Ketiga, meminta kepada pemerintah daerah agar menjamin keamanan warga negara, khususnya yang berstatus sebagai kelompok rentan. Setiap jengkal wilayah Indonesia harus memberikan rasa aman kepada penduduknya. Negara memiliki tugas untuk mewujudkan keamanan bagi warga negara tersebut.

Keempat, meminta tokoh agama setempat untuk bahu membahu menebar gagasan agama yang penuh rahmah. Intoleransi terjadi salah satunya karena adanya ideologisasi nilai-nilai eksklusivisme yang dibalut dengan semangat keagamaan. Padahal sejatinya agama mengajarkan manusia untuk mensyukuri perbedaan sebagai karunia dari Allah SWT.

Kelima, mengajak para GUSDURian dan masyarakat pada umumnya untuk terus merawat semangat “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai warisan para pendiri bangsa.

Sejak didirikan, Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, adat istiadat, dan lain sebagainya.

Keenam, menyerukan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk tidak menggunakan kekerasan dan ujaran kebencian pada mereka yang berbeda.

Sebagaimana kata Gus Dur, kemajemukan harus bisa diterima tanpa adanya perbedaan.

Yogyakarta, 9 Agustus 2020
Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian

Alissa Wahid

Hotline: 082141232345 (Rifa Mufidah)

Johan Arif
Johan Arif

Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.

Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.

TagsAksi BrutalAlissa WahidGusdurianIntoleranPenyeranganSolo

Related articles More from author

  • Terseret Polemik Museum SBY, Alissa Wahid Klarifikasi Kader Demokrat Soal 'Makam Gus Dur Dibangun Negara'
    Nasional

    Terseret Polemik Museum SBY, Alissa Wahid Klarifikasi Kader Demokrat Soal ‘Makam Gus Dur Dibangun Negara’

    20 Februari 2021
    By Joni Sitohang
  • Mahfud MD Ungkap Ujaran Kebencian Turun Semenjak Prabowo Bergabung
    Nasional

    Mahfud MD Klaim Ujaran Kebencian Menurun Drastis Usai Prabowo Gabung Jokowi

    28 Desember 2019
    By Adam Humain
  • Ketua Baitul Muslimin Indonesia: Wali Kota Bandung Suburkan Intoleransi
    Nasional

    Ketua Baitul Muslimin Indonesia: Wali Kota Bandung Suburkan Intoleransi

    1 September 2022
    By Joni Sitohang
  • Aturan TOA Dinarasikan Anti Azan, Putri Gus Dur: Indonesia Darurat Logika
    Nasional

    Aturan TOA Dinarasikan Anti Azan, Putri Gus Dur: Indonesia Darurat Logika

    1 Maret 2022
    By Joni Sitohang
  • Otak alias Dalang Aksi Penyerangan Acara Midodareni Solo Akhirnya Terungkap
    Nasional

    Otak alias Dalang Aksi Penyerangan Acara Midodareni Solo Akhirnya Terungkap

    21 Agustus 2020
    By Joni Sitohang
  • Otak Aksi Penyerangan Midodareni Solo Diciduk Densus 88 di Rumah Terduga Teroris
    Nasional

    Otak Aksi Penyerangan Midodareni Solo Diciduk Densus 88 di Rumah Terduga Teroris

    1 Oktober 2020
    By Joni Sitohang

Leave a reply Batalkan balasan

Berita Menarik Lainnya

  • Projo dan Relawan Prabowo Bertemu, Bakal Gabungkan Dukungan di Pilpres 2024?
    Nasional

    Projo dan Relawan Prabowo Bertemu, Bakal Gabungkan Dukungan di Pilpres 2024?

  • Simulasi 3 Capres Versi Litbang Kompas: Ganjar dan Prabowo Lolos Putaran Kedua
    Nasional

    Simulasi 3 Capres Versi Litbang Kompas: Ganjar dan Prabowo Lolos Putaran Kedua

  • Banyak Tidur Bikin Kurus, Gimana Caranya?
    Tips & Tutorial

    Banyak Tidur Bikin Kurus, Gimana Caranya?

  • Bukan Cuma Melarang Ekspor Baby Lobster, Susi Juga Tak Setuju Lobster Dibudidaya, Apa Alasannya?
    Nasional

    Bukan Cuma Melarang Ekspor Baby Lobster, Susi Juga Tak Setuju Lobster Dibudidaya, Apa Alasannya?

  • Sindir Anies, Hasto PDIP Sebut Tanah Abang Mirip Tarian Poco-Poco
    Nasional

    Sindir Anies, Hasto PDIP Sebut Tanah Abang Mirip Tarian Poco-Poco

Artikel Terbaru

  • Kapolres Sukoharjo dan 3 Anggota Dicopot Buntut Geledah Ponpes Dini Hari 2 November 2026
  • Kapolri Bertemu Kepala BPOM, Bahas Regulasi Kratom hingga Vape 2 November 2026
  • Polri Larang Seluruh Personel Pakai Vape Mulai 30 Oktober 2026, Ini Alasannya 2 November 2026
  • Cara Mempercepat Koneksi WiFi di Rumah Tanpa Ganti Router 2 November 2026
  • Cara Memperkecil Ukuran Foto di HP Tanpa Menurunkan Kualitas 2 November 2026

Kategori

  • Berita Unik (100)
  • Internasional (1,531)
  • Kesehatan (97)
  • Keuangan (24)
  • Kuliner (1,070)
  • Nasional (8,037)
  • Olahraga (1,148)
  • Opini (2)
  • Selebriti (1,175)
  • Teknologi (1,306)
  • tips (15)
  • Tips & Tutorial (1,294)
  • Viral (82)

Cari Artikel

Redaksi

  • Jalan Kebagusan III, Perum Nuansa Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
  • 0812 4664 9215
  • Hubungi Kami
  • Contact Us
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
© Copyright 2026 TIKTAK.ID. All rights reserved.