Tag: rapid test

  • Bareskrim Tangkap Pelaku Penipuan Modus Email Bisnis yang Gasak Uang Korban 276 Miliar

    Bareskrim Tangkap Pelaku Penipuan Modus Email Bisnis yang Gasak Uang Korban 276 Miliar

    TIKTAK.ID – Bareskrim Polri menangkap dua tersangka kasus penipuan internasional dengan modus Business Email Compromise (BEC), inisial UDEZE alias Emeka dan Hafiz. Mereka berperan membuat dokumen fiktif dan berpura-pura menjadi Direktur sebuah perusahaan fiktif.

    “Dari kegiatan tersebut, maka Bareskrim Polri kemudian berhasil mengamankan tersangka atas nama UDEZE alias Emeka dan tersangka lain berhasil diamankan yaitu tersangka Hafiz yang bertugas untuk membuat dokumen fiktif dan seolah-olah menjadi Direktur perusahaan fiktif tersebut dan kemudian dibantu oleh saudara Belen alias Dani dan Nurul alias Iren,” kata Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (16/12/20).

    Sigit menuturkan dua tersangka menjalankan aksi dengan cara mengirim email palsu memberi informasi perubahan nomor rekening untuk pembayaran Rapid Test yang telah dipesan oleh korban. Akibat penipuan tersebut, korban yang merupakan warga negara (WN) Belanda mengalami kerugian Rp52 miliar lebih.

    Baca juga : 23 Tersangka Teroris JI yang Ditangkap Densus 88 Tiba di Jakarta

    “Modus operandi dilakukan dengan cara mereka mengirim email terkait dengan perubahan nomor rekening, terkait dengan rencana pembayaran untuk memesan Rapid Test Covid yang telah dipesan oleh WN Belanda. Sehingga kemudian korban mentransfer dana ke rekening atas nama CP Bio Sensor di mana ini perusahaan fiktif sejumlah USD 3.597.875 atau senilai Rp52,3 miliar,” tuturnya.

    Sigit menyampaikan, terkait penipuan internasional modus email bisnis ini, Bareskrim Polri sudah menangani 5 kasus lintas negara. Tiga kasus di antaranya terkait Covid-19 sedangkan dua kasus lainnya terkait transfer dana dan investasi.

    “Terkait dengan kejahatan ini Bareskrim telah menangani 5 kasus melibatkan lintas negara. 3 kasus terkait dengan Covid-19 dan 2 kasus terkait transfer dana dan investasi,” ujarnya.

    Baca juga : Bareskrim Polri Jelaskan Penanganan Perkara Terbunuhnya Laskar FPI

    “Terkait dengan COVID itu, negara Itali, Belanda dan Jerman. Sedangkan terkait dana dan investasi, Argentina dan Yunani,” lanjutnya.

    Lebih lanjut Sigit mengatakan, total kerugian yang disebabkan oleh dua tersangka mencapai Rp276 miliar. Sementara Rp141 miliar telah berhasil disita Bareskrim Polri.

    “Sehingga total kerugian yang ditimbulkan adalah kurang lebih dari rangkaian kegiatan mereka, sebesar Rp276 miliar dan saat ini kita sita Rp141 miliar,” imbuhnya.

  • (CEK HOAKS atau FAKTA) Seruan MUI Agar Ulama Lawan Rapid Test Corona ala PKI

    (CEK HOAKS atau FAKTA) Seruan MUI Agar Ulama Lawan Rapid Test Corona ala PKI

    TIKTAK.ID – Sebuah foto surat berlabel Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang ditujukan kepada seluruh ulama dan kiai di pelosok Nusantara, beredar luas di media sosial. Surat tersebut berisikan seruan untuk para ulama serta kiai waspada terhadap rencana Rapid Test.

    Pesan di dalam surat tersebut juga memuat narasi bahwa rapid test merupakan permainan PKI. Andai hasil tes terkonfirmasi positif lantas para kiai atau ulama bakal dikarantina lantas disuntik dengan alasan pengobatan. Bahkan tertulis dalam surat tersebut, para kiai atau ulama bakal disuntik dengan racun, lalu mati yang berujung penguburan langsung. Melalui surat tersebut ditekankan kepada para kiai dan ulama
    untuk melawan.

    Baca juga: Tuntut Habib Bahar Dibebaskan, FPI dan MUI DKI Ancam Ajak Umat Lakukan Pembangkangan Sipil

    Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid menegaskan surat tersebut merupakan hoaks atau kabar bohong. Dia menerangkan MUI tidak pernah mengeluarkan seruan tersebut.

    “Itu pasti hoaks, disebabkan MUI tidak pernah menerbitkan pemberitahuan semacam itu,” ungkap Zainut saat dihubungi Minggu (24/5/20).

    Zainut juga menerangkan bahwa surat dan susunan konten di dalamnya tak sesuai dengan standar MUI, misalnya KOP MUI. Serta bahasa atau kalimatnya pun tak mengikuti standar MUI.

    “Dari kop surat dan isi pemberitahuannya tak sesuai standar MUI,” terang Zainut memastikan.

    Halaman selanjutnya…

  • Rapid Test di Sukabumi, 300 Siswa Sekolah Polisi Positif Terpapar Corona

    Rapid Test di Sukabumi, 300 Siswa Sekolah Polisi Positif Terpapar Corona

    TIKTAK.ID – Sebanyak 300 dari 1.550 siswa Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lembaga Pendidikan Polri (Lemdikpol) di Sukabumi, Jawa Barat, telah dinyatakan terpapar virus Corona atau Covid-19. Hal itu diketahui setelah para siswa sekolah polisi tersebut menjalani rapid test.

    “Sesuai dengan perintah Kapolri, karena adanya pemberitaan tentang siswa Setukpa yang ada di Sukabumi ini terjangkit atau positif Corona, maka kami cek ke sini,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono, seperti dilansir Kompas.com, Rabu (1/4/20).

    Sehari sebelumnya, diberitakan tujuh siswa telah dinyatakan positif terjangkit virus Corona. Ketujuh siswa tersebut saat ini tengah diisolasi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

    Baca juga: Cerita 4 Pasien Corona Sembuh di Semarang, Ternyata ini Kuncinya

    ”Kami bersama Kepala SDM Polri dan Kepala Biro Psikologi langsung mengecek, mengawasi, melihat, memberikan beberapa arahan berkaitan dengan siswa tersebut,” tutur Argo.

    Argo menyatakan seluruh siswa Setukpa, yakni 1.550 siswa, menjalani pemeriksaan dengan rapid test. Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan, 300 siswa yang terpapar virus tetap berada di Setukpa, sedangkan 1.250 siswa lainnya telah diberikan cuti.

    ”Dari 300 siswa ini sudah saya lihat, juga sudah dilakukan langkah-langkah oleh Setukpa dan Pusdokkes Polri dan SDM,” kata Argo.

    Halaman selanjutnya…

  • Sudah Terima 100 Ribu Alat Rapid Test, Anies Pilih Tak Gunakan untuk Tes Massal, Kenapa?

    Sudah Terima 100 Ribu Alat Rapid Test, Anies Pilih Tak Gunakan untuk Tes Massal, Kenapa?

    TIKTAK.ID – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diketahui menerima bantuan sebanyak 100 ribu alat rapid test dan 50 ribu masker, Senin (23/3/20) malam, untuk penanganan virus Corona (Covid-19).

    Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan menyebut alat rapid test tersebut tak akan dipakai secara random dan tidak akan melakukan pengetesan massal di tempat terbuka.

    “Alat rapid-testing ini bukan digunakan secara random, bukan pula untuk dilakukan pengetesan massal di kawasan terbuka,” ujar Anies melalui instagram pribadinya, @aniesbaswedan, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (24/3/20).

    Baca juga: Tukang Ojek, Supir Taksi dan Nelayan Layak Gembira, Jokowi Longgarkan Angsuran Kredit Motor dan Mobil Hingga Setahun

    Anies menyatakan Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah memiliki prosedur dan kriteria masyarakat yang akan diprioritaskan untuk pemeriksaan terkait virus Corona. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengaku pada fase ini, pihaknya perlu mengetes mereka yang berisiko menularkan terlebih dahulu.

    Anies mengungkapkan, alat rapid test tersebut merupakan bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Menurut Anies, bantuan tersebut disalurkan melalui Gugus Tugas Nasional penanganan virus Corona.

    “Hari Sabtu kemarin mereka mengabarkan, dan sesuai rencana Senin tiba di Jakarta. Mereka tertib, semua disalurkan terlebih dahulu lewat Gugus Tugas Nasional, baru diteruskan ke Gugus Tugas Jakarta,” terang Anies.

    Baca juga: Gerindra Desak Jokowi Pecat Luhut yang Membuat Rakyat Marah Soal 49 TKA China

    Mengutip dari laman corona.jakarta.go.id, sampai pukul 07.45 WIB, jumlah kasus positif Corona di Ibu Kota secara kumulatif mencapai 356 orang. Dari total kasus tersebut, 31 orang meninggal dunia, 22 orang dinyatakan sembuh, dan 218 orang dalam perawatan.

    Sementara data secara nasional hingga Selasa (24/3/20) hari ini, jumlah pasien positif Corona secara kumulatif sebanyak 686 orang. Dari jumlah tersebut, 55 orang di antaranya meninggal dunia, dan 30 pasien dinyatakan sembuh.

    Seperti diketahui, Juru Bicara Pemerintah khusus penanganan virus Corona, Achmad Yurianto memaparkan, 125 ribu alat rapid test mulai dibagikan ke seluruh wilayah di Indonesia. Yuri menjelaskan, pemeriksaan menggunakan metode rapid test ini untuk mempercepat pencarian kasus positif virus Corona di tengah masyarakat.

  • Ternyata Segini Harga Rapid Test Corona yang Diimpor Indonesia dari China

    Ternyata Segini Harga Rapid Test Corona yang Diimpor Indonesia dari China

    TIKTAK.ID – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon membocorkan obrolannya dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto soal rencana impor alat rapid test virus Corona. Melalui akun Twitter pribadinya @fadlizon, ia mengaku sempat menanyakan harga alat rapid test virus Corona ke Prabowo.

    Seperti yang dibocorkan oleh Fadli Zon, menurut penuturan Prabowo, harga alat rapid test sekitar Rp55 ribu.

    “Waktu saya ketemu @prabowo Sabtu lalu, saya sudah dengar rencana impor alat tes cepat ini. Saya tanya beliau, berapa harganya? Kata Prabowo, hanya USD 3,5 (sekitar Rp55 ribu),” cuit Fadli Zon.

    Baca juga : KPU Tunda Gelar Pilkada Serentak 2020, Kenapa?

    Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan pelaksanaan rapid test virus Corona untuk mendeteksi Covid-19 secara massal di Indonesia. Dengan adanya rapid test itu, Jokowi berharap bisa dilakukan deteksi dini atas indikasi awal seseorang menderita Covid-19.

    Rapid test sendiri sudah dilakukan sejak Jumat (20/3/20) sore terhadap sejumlah warga di Jakarta Selatan. Pelaksanaan rapid test itu diprioritaskan untuk masyarakat yang diduga terinfeksi virus Corona karena melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19. Metode menggunakan alat rapid test dengan cara mengambil usapan lendir dari hidung atau tenggorokan.

    “Rapid test sudah dilakukan sore hari ini di wilayah yang dulu sudah diketahui ada kontak tracing pasien positif, dan didatangkan dari rumah ke rumah,” ujar Jokowi melalui siaran live streaming di akun YouTube Sekretariat Presiden, seperti dilansir Tribunnews.com, Jumat (20/3/20).

    Baca juga : Gerindra Desak Jokowi Pecat Luhut yang Membuat Rakyat Marah Soal 49 TKA China

    Jokowi menjelaskan, Jakarta Selatan dipilih menjadi lokasi rapid test massal pertama karena banyak warga yang diketahui melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19. Ia menyatakan Pemerintah memprioritaskan wilayah yang paling rawan.

    Selain itu, untuk menekan penyebaran virus Corona, Pemerintah juga menerapkan metode social distancing. Masyarakat diimbau untuk tetap berada di rumah dan hanya keluar dalam keadaan mendesak.

    Diketahui, kasus positif virus Corona di wilayah Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data terbaru yang disampaikan Pemerintah, kasus positif COVID-19 mencapai 514 orang.

    Baca juga : Ternyata ini Alasan Kenapa Lockdown Tak Jadi Pilihan Jokowi

    “Berdasarkan data yang dihimpun Pemerintah sampai pukul 12.00 WIB, penambahan kasus positif Corona sebanyak 64 orang,” jelas Juru Bicara Pemerintah terkait penanganan wabah Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang ditayangkan di channel YouTube BNPB, Minggu (22/3/20).

  • Ternyata ini Alasan Kenapa Lockdown Tak Jadi Pilihan Jokowi

    Ternyata ini Alasan Kenapa Lockdown Tak Jadi Pilihan Jokowi

    TIKTAK.ID – Juru Bicara Pemerintah RI untuk Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan opsi lockdown untuk memberantas penyebaran virus Corona di Tanah Air terlalu ekstrem. Hal ini yang menjadi dasar Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak berpikir memilih kebijakan lockdown.

    “Di dalam penyakit menular yang kemudian massif, lockdown merupakan salah satu alternatif yang paling ekstrem. Oleh karena itu, kita tidak akan menuju ke sana karena harus ada alternatif-alternatif lebih rasional yang harus kita kerjakan,” ujar Yuri dalam acara Hitam Putih yang tayang 18 Maret 2020 seperti dilansir CNBCIndonesia.com.

    Yuri menjelaskan, lockdown bukan hanya menutup penyebaran tetapi seluruh kehidupan ditutup, seperti masuknya bahan pokok makanan, bisnis, dan sebagainya.

    Baca juga: Biar Gak Salah Paham, Yuk Simak Arti Lockdown Versi Undang-Undang

    “Sederhana saja, kalau ada pasokan air minum dari luar Jakarta dan pasokan LPG nggak bisa masuk karena betul-betul ditutup. Jadi itu bukan pilihan yang terbaik, ini adalah yang ekstrem,” tutur Yuri.

    Menurut Yuri, untuk saat ini pilihan untuk mengurangi kemungkinan orang untuk bisa kontak dekat atau yang disebut pembatasan sosial (social distancing) lebih dianjurkan. Ia memaparkan, bentuk dari social distancing yakni menghindari kerumunan, mengurangi berada di tempat-tempat umum, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah.

    Yuri pun berharap bahwa masyarakat di Indonesia mampu melakukan social distancing dengan baik, sehingga cara ini berhasil meredam penyebaran virus Corona.

    Baca juga: Soal Wacana RI Lockdown, Sri Mulyani: Anggaran Sudah Siap, Tapi….

    Halaman selanjutnya…