Tag: Politik

  • JK Minta Aktivis Muda Sempurnakan urusan Duniawi Sebelum Terjun ke Politik, Kenapa?

    JK Minta Aktivis Muda Sempurnakan urusan Duniawi Sebelum Terjun ke Politik, Kenapa?

    TIKTAK.ID – Mantan Wakil Presiden (Wapres) RI, Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan bahwa siapa saja yang terlibat dalam dunia politik, harus menyempurnakan kehidupan duniawi (dunia usaha).

    “Jika masuk politik, maka sempurnakan dulu kehidupan duniawi. Jangan terlalu cepat (masuk ke dalam dunia politik),” ungkap JK, ketika memberikan sambutan dalam Rakernas 2023 Himpunan Pengusaha KAHMI/Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Hipka) dan pengukuhan anggota baru Hipka tahun 2023, di Hotel Grand Sahid, Jakarta, pada Rabu (8/2/23), seperti dilansir Republika.co.id.

    JK mengatakan sebelum masuk ke dalam dunia politik, dirinya sudah terlibat dalam dunia bisnis selama 35 tahun. Dia menyatakan pada umur 58 tahun, barulah dirinya terpilih menjadi menteri setelah diminta.

    Baca juga : Pengamat Nilai Kebiasaan Masa Lalu Bisa Bikin Golkar Pindah Haluan Usung Anies Baswedan

    Akan tetapi, JK mengeklaim tren yang berkembang saat ini adalah mahasiswa ingin berperan dalam pelbagai bidang. Mulai dari aktivis, politisi dengan menjadi anggota DPR, DPRD, bupati, dan sebagainya. Padahal, kata JK, berbagai pilihan cita-cita itu sangat terbatas, adapun yang tidak terbatas itu adalah berkiprah di dunia usaha.

    “Artinya, jangan terlalu cepat menginginkan semua ini (menjadi aktivis dan lain sebagainya) jika tidak ingin mempunyai perkara di belakang hari,” tutur JK.

    Kemudian JK meminta seluruh anggota Hipka agar mampu menjadikan organisasi ini memajukan dunia usaha. Dia menjelaskan bahwa sebuah organisasi bisnis dinilai bermanfaat untuk memajukan bisnis anggotanya masing-masing, bukan sekadar membayar iuran organisasi.

    Baca juga : Muncul Isu Hapus Gubernur Hingga Kades 9 Tahun, DPR Curiga Upaya Perubahan Regulasi

    “Kita berkumpul di sini demi kepentingan bangsa. Tidak ada bangsa yang maju tanpa ekonomi yang maju dan tidak ada ekonomi yang maju tanpa pengusaha-pengusaha hebat,” terang mantan Wapres ke-6 dan ke 10 tersebut.

    Sebelumnya, JK sempat mengaku dirinya tidak pernah mencari jabatan.

    “Kalau pengusaha ke penguasa itu, saya tak pernah mencari itu (jabatan), tapi saya yang dicari,” ucap JK dalam acara “Dari Pengusaha ke Pengusaha untuk Masa Depan Indonesia”, di Wisma Kalla, Senin (30/1/23), mengutip Herald.id.

    JK pun bercerita ketika dirinya ditawari menjadi Menteri Koordinator (Menko) bidang Kesejahteraan Rakyat Indonesia langsung oleh Megawati Soekarnoputri, Presiden kala itu.

    Baca juga : Usai Bubar, Ketum GP Mania Dilabeli Kadrun Varian Baru

    “Begitu juga Menko. Saya ditelepon oleh Ibu Mega, besok Bapak ke Jakarta yah. Saya tanya untuk apa? Ibu Mega mengatakan, mau dilantik jadi Menko,” sambungnya.

    JK menganggap hal itu bukan tanpa alasan. Dia mengeklaim selalu bekerja mementingkan masyarakat banyak.

  • Gibran Ngaku Dirinya dan Jokowi Kaget Usai Kaesang Nyatakan Ingin Masuk Dunia Politik

    Gibran Ngaku Dirinya dan Jokowi Kaget Usai Kaesang Nyatakan Ingin Masuk Dunia Politik

    TIKTAK.ID – Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming mengaku kaget atas pernyataan terbuka adik bungsunya, Kaesang Pangarep, yang menyampaikan ketertarikan pada dunia politik selama makan siang bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan keluarga di Ono Solo Coffee & Eatery, pada Senin (23/1/23). Gibran pun menyebut Jokowi juga kaget mendengar pengakuan Kaesang tersebut.

    “Kemarin malah yang kita bicarakan itu Kaesang. Kemarin aku juga kaget, dia secara terbuka kemarin ke saya dan Bapak (Jokowi) mengatakan ada ketertarikan ke politik,” ungkap Gibran di Balai Kota Solo, pada Selasa (24/1/23), seperti dilansir Republika.co.id.

    Meski begitu, Gibran mengeklaim tidak mengetahui langkah ke depan apa yang akan diambil oleh adik bungsunya tersebut. Gibran sendiri sempat mempertanyakan keseriusan pernyataan Kaesang.

    Baca juga : Singgung Pejabat Bongkar-Pasang Kebijakan, Erick Thohir Minta Pemimpin Berikutnya Lanjutkan Pencapaian Jokowi

    “Endak tahu, saya kan baru dengar kemarin saya kaget, benar atau tidak,” ucap putra sulung Jokowi itu.

    Gibran menilai Jokowi sempat kaget atas pernyataan terbuka Kaesang tersebut. Sebab, kata Gibran, adiknya jarang menyinggung perihal politik, apalagi menunjukkan minat untuk terjun ke dalamnya.

    “Bapak juga kaget, (Bapak mendukung?) Kaget dulu, (tapi) Biasanya enggak pernah ngomongin kayak gitu, aku juga kaget,” tutur Gibran.

    Lebih lanjut, Gibran menganggap ketertarikan Kaesang pada dunia politik masih di tahap mencari tahu.

    Baca juga : Prabowo Tegaskan Koalisi Gerindra-PKB Solid

    “Ketok e (kelihatannya) Kaesang masih penjajakan, masih tanya-tanya, kemarin masih tanya-tanya saya, tanya-tanya Bapak, intinya masih tanya-tanya. Namun dia kemarin mengatakan pengin (terjun ke politik),” jelas Gibran.

    Kemudian saat disinggung mengenai partai mana yang akan dipilih Kaesang, Gibran menyatakan sepenuhnya menyerahkan keputusan itu kepada adiknya. Gibran sendiri berpendapat Kaesang mampu jika ingin terjun ke politik.

    “Itu ya nanti biar Kaesang saja yang memutuskan (partainya) tapi kalau saya lihat seperti Persis itu kan yang kerja keras Kaesang, kayak KLB kan memang intens di situ. Saya kira Kaesang mampu lah ya, karena mengerti manajemen, cah nom (anak muda), tapi belajarnya cepat,” terang Gibran.

    Baca juga : PDIP dan Ganjar Dinilai ‘Utang Budi’ ke Jokowi, Kok Bisa?

    Gibran menduga ketertarikan Kaesang kepada dunia politik muncul usai sering diajak atau dilibatkan untuk melihat kondisi perkembangan pembangunan kota dalam berbagai kegiatan, khususnya di Kota Solo.

    “Kan kemarin memang kita ajak juga (tinjauan) di Solo Safari, Solo Techno Park, Ngarsopuro, dan ternyata ya bisa gitu memunculkan keinginan. Pokoknya ada ketertarikan gitu bagi dia untuk ikut membantu membangun,” kata Gibran, mengutip Tempo.co.

  • Ungkap Perjalanan Kariernya di Dunia Musik dan Politik, Ahmad Dhani Merasa ‘Sendiri’

    Ungkap Perjalanan Kariernya di Dunia Musik dan Politik, Ahmad Dhani Merasa ‘Sendiri’

    TIKTAK.ID – Sejak 2014 silam, musisi Ahmad Dhani mulai lantang menyuarakan suara politiknya. Langkah pertama Dhani yakni dengan mendukung Prabowo Subianto dalam gelaran Pemilihan Presiden kala itu.

    Walaupun jagoannya gagal meraih kursi RI-1, namun Dhani terus bersuara soal politik. Hingga akhirnya pada 2016, Dhani memutuskan seutuhnya menjadi politisi. Di tahun itu pula, Dhani mengajukan diri jadi Calon Wakil Bupati Bekasi, dan berjanji bakal membawa band funk Red Hot Chili Peppers (RHCP) ke Bekasi.

    Akan tetapi, Dhani kalah dari pesaing, padahal dia sudah “memesiunkan diri” dari dunia musik. Tangan-tangan politisi memang makin sering berada di sampingnya, tapi berbeda dengan mereka yang dulu pernah sepanggung dengannya.

    Kemudian pada 2011, Dhani menyatakan Dewa 19 telah sampai pada titel band nostalgia, yang tinggal menikmati karya saja. Namun dia mengaku tidak jenuh bermusik, bahkan tengah menggarap sejumlah kolaborasi dengan penyanyi lintas generasi dan lintas genre.

    Di tengah perbincangan tersebut, Dhani tiba-tiba menyinggung rasa kesendiriannya di komunitas musik. Ia mengatakan kesal.

    “Di komunitas musisi saja saya sendiri merasa saya sendirian kok,” ujar Dhani, seperti dilansir CNNIndonesia.com.

    “Teman-teman seniman kok tidak kaya saya, kenapa ya. Kadang-kadang saya melihat postingan-postingan teman-teman seniman kok seperti ini ya,” imbuhnya.

    Menurut Dhani, sejumlah temannya di industri musik kerap menyudutkan, dan bernarasi dengan rasa Islamofobia. Dhani pun berusaha membuka diskusi terkait perbedaan yang ia dapati, khususnya unggahan yang tak ia suka. Akan tetapi, tidak melulu bersambut, justru banyak yang hanya mendiamkan Dhani.

    Dhani menyatakan perbedaan tersebut juga ada pada diri Andra Ramadhan, gitaris Dewa 19, teman setia Dhani di musik sejak bangku SMP. Ia menganggap kesendirian, jalur politik, dan wacana yang ia ungkapkan ke publik kerap menjadi pisau yang berbalik ke arahnya.

    Lantas ucapan “idiot” pada kelompok yang menolak gerakan #2019GantiPresiden yang ia dukung, telah menyeret seorang Ahmad Dhani ke penjara. Untuk itu, Dhani merasa belum sepenuhnya merdeka.

    “Kalau sekarang bahagia iya, tapi kalau merdeka ya belum. Buktinya saya masuk penjara kemarin kan, berarti belum merdeka,” tegasnya.

  • Denny Indrayana: Jokowi Sulit Dimakzulkan Baik Secara Konstitusional Maupun Politik

    Denny Indrayana: Jokowi Sulit Dimakzulkan Baik Secara Konstitusional Maupun Politik

    TIKTAK.ID – Menurut Pendiri Integrity Law Firm, Denny Indrayana, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sulit dimakzulkan secara Politik maupun konstitusional. Sulitnya memenuhi syarat-syaratnya, juga disebabkan mayoritas partai politik di parlemen mendukung pemerintahan Jokowi.

    Denny mengacu pada Pasal 7A UUD 1945 mengatur presiden bisa diberhentikan oleh MPR atas usul DPR jika terbukti melanggar hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat, atau melakukan perbuatan tercela.

    “Di sini saja prosesnya sudah berat, dengan oposisi yang tinggal PKS dan Partai Demokrat, dapat kita duga (usulan pemakzulan) bakal ditolak oleh DPR. Sehingga baru langkah pertama saja presiden sudah aman,” terangnya dalam diskusi daring pada Senin (1/5/20) dengan tema “Menyoal Kebebasan Berpendapat dan Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Masa Pandemi Covid-19”.

    Baca juga : Polisi Periksa 11 Saksi Kasus Bendera Merah Putih Berlogo Palu Arit di UNHAS

    Misalkan DPR setuju usulan pemakzulan, tahapan selanjutnya berupa mengajukannya kepada Mahkamah Konstitusi (MK) agar memeriksa dan mengadili tindak pidana yang dilakukan presiden. Ada tiga hal yang mungkin terjadi pada langkah tersebut: usulan ditolak, tak bisa diterima, dan mendengarkan pendapat DPR.

    “Andai ditolak atau tak bisa diterima maka selesai. Kecuali tetap berkehendak mendengar pendapat DPR, maka itu kembali ke DPR lagi,” jelasnya.

    Andai MK ternyata memutuskan presiden telah melakukan tindak pidana, maka tahap selanjutnya ialah sidang MPR.

    Baca juga : Mahfud MD Minta Polisi Kejar Pelaku Teror Acara Diskusi Pemberhentian Presiden

    “Di MPR belum tentu juga diberhentikan. Dapat saja keputusan MK tersebut dianulir MPR,” ungkap Denny.

    Di samping itu, pemakzulan presiden kini kemungkinan besar tersandung oleh syarat kuorum di DPR dan MPR yang diatur dalam Pasal 7B ayat 3 UUD 1945. Pengajuan pemakzulan di rapat paripurna DPR mensyaratkan harus memperoleh dukungan dan dihadiri sekurang-kurangnya dua pertiga anggota.

    “Mencapai ini saja telah setengah mati sebab koalisi Jokowi mayoritas mutlak. Andai tiada perubahan arah koalisi sulit terjadi pemberhentian presiden di periode sekarang,” lanjutnya.

    Baca juga : Hadapi New Normal, Anies Baswedan Anjurkan Masker Jadi Seragam PNS

    Syarat kuorum tersebut pun kian berat andai nantinya pemakzulan dibawa ke sidang paripurna MPR. UUD 1945 mengatur pemberhentian presiden di sidang MPR dapat terjadi andai dihadiri tiga perempat anggota MPR dan disetujui dua pertiga anggota.

  • Pernah Berseteru Politik, Ini Momen Kebersamaan Jokowi dan Djoko Santoso yang Sama-sama Asli Solo

    Pernah Berseteru Politik, Ini Momen Kebersamaan Jokowi dan Djoko Santoso yang Sama-sama Asli Solo

    TIKTAK.ID – Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Djoko Santoso meninggal pada Minggu (10/5/20) akibat sakit stroke. Kemudian sempat muncul sorotan soal Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Djoko melalui media sosial.

    Diketahui Jokowi dan Djoko memang sempat memiliki pandangan politik yang berbeda. Pada Pilpres 2019 silam, Djoko dipercaya menjadi Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN), Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, melawan Jokowi dan Ma’ruf Amin.

    Namun perbedaan politik itu berakhir ketika Prabowo memutuskan bergabung dalam Pemerintahan Jokowi dengan menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
    Baca juga : Amien Rais Buka-bukaan Soal Prabowo Versus Anies pada Pilpres 2024

    Meski sempat memiliki perbedaan pandangan politik, kebersamaan Jokowi dan Djoko sempat terekam belasan tahun lalu dan menjadi peninggalan berarti bagi masyarakat Solo.

    Berikut rangkuman seputar kebersamaan Jokowi dan Djoko, hingga profil keduanya yang berasal dari Solo:

    1. Bersama Meresmikan Patung Slamet Riyadi
    Jokowi bersama dengan Djoko Santoso meresmikan Patung Slamet Riyadi di Solo, Senin, 12 November 2007. Kala itu, Jokowi menjabat sebagai Wali Kota Solo, dan Djoko masih aktif di militer dan menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

    Baca juga : Resmikan PP Manajemen PNS, Jokowi Kini Bisa Angkat, Mutasi dan Copot ASN

    2. Sama-sama dari Solo
    Djoko Santoso dan Jokowi sama-sama berasal dari Kota Solo. Djoko sukses meniti karier hingga puncaknya menjabat sebagai Panglima TNI di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama tiga tahun, 2007 hingga 2010.

    Sementara Jokowi memulai karier politiknya saat menjabat sebagai Wali Kota Solo pada 2004, hingga kemudian menjadi Presiden RI saat ini.

    3. Ucapan Duka yang Dipertanyakan hingga Karangan Bunga Jokowi
    Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon, mempertanyakan tidak adanya ucapan duka cita di media sosial Jokowi. Ia pun membandingkan ketika ada artis yang meninggal, Jokowi mengunggah ucapan duka cita di akun media sosialnya.

    Baca juga : Iuran BPJS Kesehatan Naik, Ganjar Sebut Jokowi Pasti Berat Ambil Keputusan Tak Populer

    Namun setelah dipertanyakan Fadli Zon, kini beredar foto yang menunjukkan adanya karangan bunga dari Jokowi untuk Djoko. Pada karangan bunga bernuansa warna kuning itu tertulis dikirim oleh Presiden Jokowi dan keluarga.

    Belum ada informasi pasti kapan karangan bunga itu dikirim. Ada warganet yang mengatakan karangan bunga itu dikirim terlambat atau beberapa hari setelah meninggalnya Djoko. Foto karangan bunga itu sendiri diunggah paling awal oleh warganet di Facebook pada 12 Mei atau atau hari yang sama dengan Fadli Zon membuat cuitan.

  • Prabowo Tidak Tinggalkan Kivlan Zen, Hanya Jaga Jarak karena Perhitungan Politik Tertentu

    Prabowo Tidak Tinggalkan Kivlan Zen, Hanya Jaga Jarak karena Perhitungan Politik Tertentu

    TIKTAK.ID – Mantan kuasa hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno di Pilpres 2019, Nicholay Aprilindo, menyebut Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen merupakan seorang patriot sejati yang tidak mau berkompromi dengan rezim. Nicholay mengatakan Kivlan Zen tetap mempunyai idealisme perjuangan sapta margais seorang prajurit sejati.

    Oleh karena itu, Nicholay mengaku yakin bahwa Prabowo tidak akan meninggalkan salah seorang pendukung setianya itu. Ketua umum Partai Gerindra itu, kata Nicholay, hanya menjaga jarak lantaran sudah masuk dalam jajaran pemerintahan Jokowi untuk kepentingan strategi politik yang dibangunnya.

    “Pak Prabowo tidak meninggalkan Pak Kivlan, karena ada perhitungan politik tertentu dari Pak Prabowo,” ujar Nicholay, seperti dilansir SINDOnews, Sabtu (9/5/20).

    Baca juga : Effendi Gazali: Jokowi Kesal Dikibulin Menterinya, Diberi Laporan Palsu Covid-19

    Aktivis politik, hukum dan hak asasi manusia (polhukham) tersebut menyatakan kesetiaan Prabowo pada teman seperjuangan tetap terjaga, hanya saja caranya yang berbeda. Apalagi, lanjut Nicholay, Kivlan Zen adalah senior Prabowo di militer dan Kepala Staf Kostrad ketika Prabowo menjadi Pangkostrad.

    “Prabowo dan Kivlan Zen memiliki ikatan batin tersendiri, namun tidak terekspos ke publik,” terang alumnus Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVII Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI 2011 itu.

    Sebelumnya, Kivlan Zen didakwa melanggar Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1951 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 atau juncto 56 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    Baca juga : Sebut Pemerintah Tak Konsisten Terapkan Kebijakan, PA 212: Jokowi Gagal Tangani Virus Corona

    Proses sidang kasus Kivlan Zen terkait kepemilikan senjata api ilegal dan peluru tajam itu pun masih berjalan. Tak hanya itu, Kivlan juga tersangkut dugaan upaya pembunuhan sejumlah tokoh nasional. Pada sidang terakhir kasusnya, majelis hakim menolak eksepsi Kivlan Zen.

    Kivlan Zen sendiri merupakan salah satu tokoh militer yang menjadi pendukung Prabowo menjadi Capres pada Pilpres 2014 dan 2019.

    Sementara itu, pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai Prabowo sulit membebaskan Kivlan karena kasus ini telah masuk ke pengadilan. Menurutnya, hal itu menimbulkan dilema karena akan muncul kesan ada intervensi politik dalam pengadilan Kivlan Zen.

    Baca juga : Jokowi Kaget Ada PHK Massal di Tangerang, Ternyata…

    Ubedilah menjelaskan, secara hubungan, sebenarnya Prabowo dan Kivlan sudah lama berkawan dan sama-sama berkarier di militer. Setiap Pemilu, Kivlan juga selalu berada di barisan pendukung Prabowo. Namun, Ubedilah beranggapan setelah Pemilu hubungan keduanya seperti tak berbekas. Kivlan menjalani proses hukum, sedangkan Prabowo masuk ke Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.

  • Mustahil Biarkan Karier Politik Anaknya Redup, Amien Rais Diyakini Bakal Siapkan Parpol Baru untuk Hanafi

    Mustahil Biarkan Karier Politik Anaknya Redup, Amien Rais Diyakini Bakal Siapkan Parpol Baru untuk Hanafi

    TIKTAK.ID – Meski dalam beberapa tahun terakhir aktivitasnya tak banyak lagi disorot media, namun sebagai politikus kawakan, Amien Rais tidaklah benar-benar hilang dari peredaran. Apalagi selama ini Amien cukup dikenal sebagai jago manuver yang kiprahnya di belakang layar kadang tak banyak diketahui orang.

    Mungkin itu pula yang membuat pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi memperkirakan mundurnya Hanafi Rais masih erat kaitannya dengan ayahnya. Amien Rais diperkirakan akan menyiapkan panggung politik untuk Hanafi Rais dengan mendirikan partai baru.

    “Sebagai politisi kawakan, Amien Rais tidak menginginkan karier politik Hanafi menjadi pudar dengan bergabung bersama PAN. Amin akan menyiapkan panggung politik bagi Hanafi ke depan dengan mendirikan partai baru,” kata Ahmad Atang, Sabtu (9/5/20).

    Baca juga : Sebut Pemerintah Tak Konsisten Terapkan Kebijakan, PA 212: Jokowi Gagal Tangani Virus Corona

    Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan mundurnya Hanafi Rais dari kepengurusan PAN periode 2019-2024, dan kemungkinan pembentukan partai baru oleh Amien Rais dan pendukungnya.

    Mantan Pembantu Rektor I UMK itu menambahkan, mundurnya Hanafi Rais membuat drama PAN akan terus berlangsung, apakah Amien Rais dan loyalis akan mendirikan partai baru yang telah diwacanakan ataukah Hanafi akan mengakhiri kariernya di dunia politik yang telah membesarkannya.

    Menurut dia, Amien Rais masih menjadi sentral “opinion” terhadap karier politik Hanafi Rais. Sehingga mundurnya Hanafi sedikit banyak karena pengaruh Amien Rais.

    Baca juga : Meski Terapkan PSBB, Angka Covid-19 di Surabaya Tetap Naik, Jokowi Kirim 3 Jenderal Bantu Risma

    Sebelumnya, saat RakernasPAN di Jakarta, Hanafi Rais menyampaikan pengunduran dirinya melalui surat. Hanafi menyatakan diri mundur baik sebagai Pengurus Pusat PAN dan mundur dari parlemen.

  • Kenapa Makin Banyak Orang, Termasuk yang Selama ini Selalu Berseberangan, Tampak Mulai Menerima Anies?

    Kenapa Makin Banyak Orang, Termasuk yang Selama ini Selalu Berseberangan, Tampak Mulai Menerima Anies?

    TIKTAK.ID – Bagi sebagian orang, Anies dianggap musuh. Pertama, mereka yang merasa kalah di Pilgub DKI. Sebagian sportif dan mengaku kalah. Lalu melupakannya. Sebagian kecil lainnya belum bisa “move on”.

    Kedua, mereka yang terganggu kepentingan politik dan projectnya. Siapapun yang merasa terganggu, akan melawan. Anda kalau kepentingannya terganggu, pasti juga akan melawan. Baru berhenti melawan kalau sudah terakomodir kepentingannya. Atau sudah merasa kalah. Atau mulai sadar dan waras.

    Ketiga, buzzer yang melihat peluang. Ada kesempatan kerja. Cukup poduksi bullyan dan ajak 30 sampai 50 orang untuk demo di balaikota. Ini cara efektif mendatangkan uang recehan. Memang gak akan kaya, tapi cukup untuk ganjal perut dalam posisi nganggur.

    Baca juga : Luhut Siapkan 4 Pengacara untuk Seret Said Didu ke Polisi

    Tiga kelompok ini akan selalu hadir di sepanjang sejarah jika ketemu seorang pemimpin macam Anies. Pemimpin non kompromis terhadap oligarki. Penghentian reklamasi, penutupan Alexis, pencabutan kelola apartemen oleh pengembang, adalah beberapa contoh kebijakan non kompromi itu. Orang bilang: Anies terlalu nekat. Ambil risiko.

    Anies hanya salah satu contoh nyata yang bisa kita saksikan hari ini tentang tipologi pemimpin yang non kompromis. Sejarah model ini telah ada dan berulang di masa lalu. Dan akan terus berulang di masa yang akan datang. Secara ilmiah, inilah hukum sejarah. Orang yang paham sejarah mengerti betul soal ini. Nggak perlu kaget jika orang seperti Anies banyak musuh.

    Tapi, angin politik nampaknya sudah mulai berubah. Satu persatu mulai memberi apresiasi terhadap Anies. “Lakon iku menange mburi”, kata orang Jawa. Artinya? Cari saja di kamus. Sekalian nyari arti “mudik” dan “pulang kampung”. Kalau sudah ketemu, gak usah diperpanjang diskusinya. Ora mutu!

    Baca juga : Ditanya Kapan Kehidupan Ibu Kota Kembali Normal, Begini Jawaban Anies Baswedan

    Saat ini, PSI mulai dukung Anies. Nggak usah kaget ketika dengar Raja Juli Antoni mengajak semua anggota DPRD untuk kerjasama dengan Anies soal memberi tempat tinggal bagi tunawisma. Covid-19 membuat sejumlah orang gak bisa bayar kontrakan. Karena itu, mesti difasilitasi. Dalam hal ini, PSI apresiasi Anies.

    Tidak saja PSI, Tito Karnavian, Mendagri juga berulangkali memuji kinerja Anies. Tito menganggap langkah Anies terbaik dan sangat cepat dalam menangani covid-19. Tito obyektif!

    Halaman selanjutnya…

  • Ini Jawaban Susi Pudjiastuti Saat Ditanya Kesiapannya Nyapres 2024

    Ini Jawaban Susi Pudjiastuti Saat Ditanya Kesiapannya Nyapres 2024

    TIKTAK.ID – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti buka suara soal kemungkinan dirinya menjadi calon presiden (Capres) pada 2024. Seperti diketahui, banyak masyarakat yang mendukung Susi untuk maju sebagai presiden berikutnya, menggantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sudah menjabat selama dua periode.

    “Nyapres itu apa sih, nyapres di negeri keong? Susi akan menjadi orang terakhir yang diperhitungkan mereka, yang dilirik oleh mereka (partai politik),” ujar Susi Pudjiastuti saat diskusi virtual bersama Opini.id, seperti dilansir Tempo.co, Jumat (24/4/20).

    Susi menyatakan mempunyai alasan menyebut dirinya sebagai orang pilihan terakhir partai politik. Sebab, menurut Susi, beberapa orang memandangnya agak sedikit gila dan memiliki pola pikir yang terbalik-balik.
    Baca juga : Jokowi Beri Kejutan, Buruh Tak Jadi Turun ke Jalan

    Kemudian Susi menjelaskan, sistem politik di Indonesia tak memungkinkan dirinya mencalonkan diri sebagai Kepala Negara secara independen. Biasanya, kata Susi, setiap partai di Republik Indonesia telah mempunyai Capres pilihan masing-masing untuk dicalonkan menjadi presiden nantinya.

    “Ya tidak bisa, partainya juga tidak mau. Tidak akan suka sama saya, orang seperti Susi yang lulus SMA bisa jadi menteri itu sudah keajaiban, itu pun karena Pak Jokowi angkat saya,” kata pemilik perusahaan maskapai Susi Air ini.

    Susi mengaku tak percaya soal keajaiban yang datang dua kali. Dia meyakini, keajaiban hanya datang sekali saat dirinya diangkat jadi Menteri KKP oleh Jokowi pada lima tahun lalu.

    Baca juga : Anies Pede Jakarta Bakal Jadi yang Pertama Kali Pulih Dari Covid-19

    “Keajaiban hanya datang satu kali dalam hidup kita biasanya, tidak ada dua kali,” ucapnya.

    Pada kesempatan lain, Susi berkelakar akan menenggelamkan siapapun yang bertanya kesiapan dirinya menjadi calon presiden.

    “Kalau ada yang bertanya lagi, saya tenggelamkan,” tulis Susi melalui akun Twitternya pada Jumat (24/4/20).

    Dalam cuitannya tersebut, Susi juga menautkan artikel dari Tempo berjudul “Ditanya Kesiapan Jadi Capres 2024, Ini Jawaban Susi Pudjiastuti” yang tayang pada Jumat (24/4/20). Artikel itu berisi pernyataannya terkait menjadi Capres sehingga masyarakat tidak perlu lagi membahasnya.

    Baca juga : Survei Sebut DKI Kalah Responsif dari Jateng dan Jatim, Sebaliknya Mendagri Puji Anies Paling Aktif dan Progresif Tangani Corona

    “Semoga menjadi jelas dan tidak ada lagi pertanyaan,” tegas Susi.

  • Ngaku Jenuh Geluti Politik, Wanda Hamidah Balik Kandang ke Dunia Hiburan

    Ngaku Jenuh Geluti Politik, Wanda Hamidah Balik Kandang ke Dunia Hiburan

    TIKTAK.ID – Wanda Hamidah mengaku sudah jenuh menggeluti dunia politik dan mulai memanfaatkan waktu senggangnya saat ini untuk balik kandang, kembali aktif di dunia hiburan.

    Sama sekali tak merasa canggung atau kagok ketika harus kembali melakoni seni peran, Wanda bahkan tampak sangat menikmati waktunya untuk terlibat lagi dalam sebuah produksi film.

    “Ya, ini memang jalan yang diberikan oleh Allah. Setelah tidak lagi dalam dunia politik, saya akan fokus ke film, ngajar yoga, dan saya juga fokus lagi untuk menjadi notaris,” ujar Wanda.

    Baca juga: Kepo Perkembangan Virus Corona, Boy William Sampai Telepon Mahasiswi Indonesia di Wuhan

    Banyak hal yang membuat Wanda bosan berkarier di dunia politik. Salah satu yang paling membuatnya jenuh adalah sistem oligarki kekuasaan.

    “Selama ini kan sangat banyak orang yang membawa kepentingan pribadi, kelompok, dan lain–lain. Politik di Indonesia ini masih sangat oligarki, dalam artian banyak hal politik yang tidak terjadi dalam rapat,” imbuh Wanda.

    Halaman selanjutnya…