Tag: Pembicaraan Damai

  • Pembicaraan Damai Rusia-Ukraina Resmi Dimulai

    Pembicaraan Damai Rusia-Ukraina Resmi Dimulai

    TIKTAK.ID – Pembicaraan damai antara delegasi tingkat tinggi dari Rusia dan Ukraina, yang bertujuan untuk mengakhiri pertempuran antara kedua negara telah dimulai, di Belarus. Moskow meluncurkan operasi khusus, pekan lalu, dan pasukannya ditempatkan di pinggiran Ibu Kota, Kiev.

    Pada Senin (28/2/22), sebuah rekaman video menunjukkan dua helikopter Ukraina tiba di wilayah Gomel, di dekat perbatasan, seperti yang dilansir RT.

    Kantor Presiden negara itu Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa delegasi Kiev yang hadir pada pembicaraan damai itu antara lain Menteri Pertahanan, Alexey Reznikov, Kepala Faksi Hamba Rakyat yang berkuasa, David Arakhamia, dan Wakil Menteri Luar Negeri Nikolay Tochitskiy, serta yang lainnya.

    Menurut pernyataan itu, tujuan utama Kiev dalam pembicaraan genting dengan Moskow adalah dilakukannya gencatan senjata segera dan penarikan pasukan Rusia dari negara itu.

    Sekretaris Pers Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan bahwa Moskow tidak mengumumkan posisinya menjelang pembicaraan dengan perwakilan Kiev karena diskusi “harus berlangsung dalam keheningan”.

    Dia juga menyatakan penyesalan bahwa negosiasi berisiko tinggi tidak dimulai sehari sebelumnya, bersikeras bahwa sebenarnya peluang itu ada.

    Pihak Ukraina setuju untuk mengadakan pembicaraan dengan rekan-rekan Rusia mereka pada Minggu setelah awalnya menolak untuk mengirim tim perwakilan atas ketidaksepakatan tentang lokasi dan persyaratan awal. Kiev berpendapat bahwa tidak pantas untuk mengadakan diskusi krisis di Belarus, mengklaim bahwa Angkatan Bersenjata Moskow menggunakan wilayah itu untuk melakukan serangan. Minsk, bagaimanapun, bersikeras bahwa pasukannya tidak memfasilitasi dalam operasi militer Rusia tersebut.

    Presiden Rusia, Vladimir Putin melancarkan serangan “operasi khusus” terhadap Ukraina pekan lalu menyusul permintaan dari para pemimpin Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Luhansk (LPR) yang baru diakui untuk melawan apa yang mereka klaim sebagai peningkatan tajam “agresi Ukraina”. Putin berpendapat bahwa tujuan dari operasi itu adalah untuk “demiliterisasi” dan “de-nazifikasi” negara tersebut.

    Tak lama setelah pidato yang disiarkan televisi, serangkaian ledakan melanda situs-situs di seluruh negara Eropa Timur, termasuk instalasi militer dan lapangan terbang. Diplomat top Kiev, Dmitry Kuleba mengatakan, “Putin baru saja meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina,” menambahkan bahwa “kota-kota Ukraina yang damai sedang diserang. Ini adalah agresi perang.”

  • Pembicaraan Damai antara Taliban dan Pemerintah Kabul Kembali Digelar

    Pembicaraan Damai antara Taliban dan Pemerintah Kabul Kembali Digelar

    TIKTAK.ID – Pembicaraan damai antara kelompok Taliban dan Pemerintah Afghanistan dilanjutkan kembali di Ibu Kota Qatar, Doha. Pembicaraan itu Kembali digelar setelah penundaan berminggu-minggu, akibat meningkatnya kekerasan dan perubahan dalam kepemimpinan diplomatik AS saat Pemerintahan Biden menggantikan Donald Trump.

    Tidak ada rincian tentang pembicaraan tersebut kecuali pengumuman bahwa item pertama pembicaraan perjanjian damai akan menjadi agenda utama, seperti yang dilansir Al Jazeera, Selasa (23/2/21)

    Sebelumnya, Pemerintahan Presiden Joe Biden sedang meninjau ulang perjanjian yang bertujuan untuk mengakhiri perang terpanjang yang telah dilakukan AS itu. Taliban telah memerangi pasukan gabungan Pemerintah Kabul yang didukung Barat dan pasukan asing sejak digulingkan dalam invasi pimpinan AS ke Afghanistan pada 2001.

    Pekan lalu, Taliban dalam sebuah surat terbukanya meminta AS untuk sepenuhnya menerapkan perjanjian Doha, termasuk penarikan semua pasukan internasional dari Afghanistan. Mereka mengatakan bahwa pihaknya telah memenuhi komitmennya dalam kesepakatan itu -untuk mengamankan kepentingan keamanan AS di negara yang dilanda perang selama hampir dua dekade.

    Namun, ketika pembicaraan damai berakhir tiba-tiba pada Januari lalu, kedua belah pihak menyerahkan daftar keinginan mereka untuk agenda yang sekarang harus mereka saring untuk menyepakati butir-butir negosiasi dan urutan yang mereka harus penuhi.

    Prioritas bagi Pemerintah Afghanistan, Washington, dan NATO adalah pengurangan serius kekerasan yang dapat mengarah pada gencatan senjata, tapi Taliban sampai sekarang menolak gencatan senjata tersebut.

    Kini, Washington sedang meninjau perjanjian perdamaian Doha yang ditandatangani sebelumnya oleh Pemerintahan Trump dengan Taliban ketika konsensus meningkat di Washington bahwa penundaan tenggat waktu penarikan diperlukan. Taliban menolak usulan itu, meskipun hanya perpanjangan singkat.

    Muncul saran agar pasukan berbasis intelijen yang lebih kecil tetap tinggal, dan akan fokus hampir secara eksklusif pada “kontraterorisme” dan afiliasi ISIL (ISIS) yang semakin aktif dan mematikan di Afghanistan timur.

    Namun, meski demikian, baik Washington maupun NATO belum mengumumkan keputusan tentang nasib sekitar 10.000 tentara asing mereka, termasuk 2.500 tentara Amerika, yang masih ditempatkan di Afghanistan.

    Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg mengatakan pekan lalu bahwa pasukan dari aliansi transatlantik itu tidak akan mundur dari Afghanistan “sebelum waktunya tepat”.

    Ia menambahkan bahwa Taliban harus berbuat lebih banyak untuk memenuhi persyaratan perjanjian dengan AS.

  • Di Tengah Pembicaraan Damai dengan Kabul, Taliban Tewaskan 28 Polisi Afghanistan

    Di Tengah Pembicaraan Damai dengan Kabul, Taliban Tewaskan 28 Polisi Afghanistan

    TIKTAK.ID – Kelompok Taliban kembali melancarkan gelombang serangan terhadap pos pemeriksaan keamanan di Afghanistan selatan semalam dan menewaskan total 28 polisi Afghanistan, kata para pejabat, seperti yang dilaporkan Al Jazeera, Kamis (24/9/20).

    Juru Bicara Gubernur Uruzgan, Zelgai Ebadi mengatakan bahwa kelompok Taliban meminta 28 pejabat polisi lokal dan nasional kesempatan untuk pulang jika mereka menyerah pada Selasa (22/9/20) malam, “tetapi para polisi itu memilih mengangkat senjata mereka, Taliban kemudian membunuh mereka semua”.

    Seorang Juru Bicara Taliban, Qari Mohammad Yousuf Ahmadi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut dan mengatakan kelompok bersenjata melakukan serangan setelah polisi di daerah tersebut menolak untuk menyerah kepada para pejuang.

    Pejabat lokal lainnya, yang berbicara tanpa menyebutkan namanya, mengatakan sedikitnya 28 korban petugas polisi, dan menambahkan bahwa tiga orang lainnya berhasil melarikan diri.

    Bala bantuan tidak dapat mencapai pos-pos terdepan untuk menyelamatkan para perwira itu, tetapi Ebadi mengatakan pasukan keamanan Afghanistan kemudian kembali mengambil alih pos pemeriksaan itu.

    Kekerasan terjadi ketika para pemimpin Taliban dan negosiator yang ditunjuk Pemerintah Afghanistan memulai pembicaraan damai yang telah lama tertunda di Qatar awal bulan ini.

    Negosiasi dimaksudkan untuk mengakhiri pertempuran dan menetapkan rencana untuk masyarakat pasca perang hampir dua dekade itu.

    Pembunuhan pada Rabu kemarin itu terjadi setelah setidaknya 14 polisi dan tentara Afghanistan tewas pada bentrokan dengan kelompok Taliban pada Minggu malam kemarin.

    Selama negosiasi di Qatar, kedua belah pihak telah menghabiskan lebih dari seminggu untuk memutuskan agenda dan cara kedua belah pihak akan melakukan negosiasi.

    Pemerintah Afghanistan dan AS telah menyerukan pengurangan kekerasan saat pembicaraan diadakan, tetapi Taliban mengatakan tidak akan berkomitmen untuk melakukan pengurangan sampai ketentuan gencatan senjata dinegosiasikan dan masalah kepercayaan di kedua belah pihak diselesaikan.

    Perjanjian antara Pemerintah Kabul dan Afghanistan disepakati setelah pada Februari lalu AS dan Taliban mencapai kesepakatan. Salah satu syarat dilakukannya pembicaraan damai adalah dengan melakukan pertukaran tawanan.

    Taliban sepakat membebaskan 1.000 tentara Afghanistan, dan Kabul sepakat membebaskan 5.000 tahanan Taliban. Namun Kabul mengklaim bahwa banyak di antara tawanan Taliban yang dibebaskan kembali melancarkan serangan ke tentara Pemerintah Afghanistan.

  • Baku Tembak Warnai Pembicaraan Damai Afghanistan-Taliban

    Baku Tembak Warnai Pembicaraan Damai Afghanistan-Taliban

    TIKTAK.ID – Dimulainya pembicaraan damai antara Afghanistan dan Taliban di Doha pada Sabtu (12/9/20) kemarin bukan berarti bentrokan antara keduanya berakhir. Buktinya, beberapa jam setelah pembicaraan damai, kedua kubu kembali terlibat bentrok, kata para pejabat Afghanistan.

    Pembicaraan antara kedua belah pihak akan dimulai tak lama setelah perjanjian Amerika-Taliban pada Februari lalu, namun pembicaraan itu hanya bisa dimulai pada akhir pekan ini setelah penundaan berbulan-bulan, sebagian disebabkan oleh serangan Taliban yang berkelanjutan di negara yang dilanda perang itu.

    “Dengan dimulainya pembicaraan intra-Afghanistan kami mengharapkan Taliban mengurangi jumlah serangan mereka, tetapi sayangnya serangan mereka masih tetap tinggi,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Fawad Aman.

    Perwakilan dari sejumlah negara yang berbicara pada peresmian perundingan perdamaian meminta Taliban untuk segera mengumumkan gencatan senjata sebelum negosiator duduk untuk menemukan cara mengakhiri perang selama puluhan tahun di Afghanistan.

    Namun Taliban tidak mengatakan apa-apa tentang kemungkinan akan dilakukannya gencatan senjata pada pertemuan itu.

    Pengurangan kekerasan yang signifikan dan bagaimana mencapai gencatan senjata permanen akan menjadi salah satu masalah pertama yang akan dibahas kedua belah pihak ketika mereka bertemu pada Minggu ini, kata Kepala Dewan Perdamaian Afghanistan, Abdullah Abdullah, kepada Reuters pada Sabtu kemarin.

    Tidak ada laporan pertemuan antara kedua belah pihak di Doha pada Minggu ini, namun kantor berita Qatar melaporkan tim yang dipimpin oleh Kepala Politik Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar dan Abdullah telah bertemu dengan Emir Qatar.

    Aman mengatakan bahwa, pada Jumat sebelumnya, menjelang pembukaan perundingan, Taliban telah melakukan 18 serangan terhadap pasukan dan instalasi Pemerintah di seluruh negeri, yang menimbulkan banyak korban.

    “Kami tidak memiliki informasi pasti tentang serangan Taliban pada Sabtu kemarin, tetapi saya dapat mengatakan jumlah serangan telah meningkat, bukannya menurun.”

    Serangan Taliban pada Sabtu malam dikonfirmasi oleh para pejabat di provinsi Kapsia dan Kunduz.

    Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan dalam sebuah pernyataannya bahwa kelompok Taliban menyerang konvoi pasukan Afghanistan yang datang untuk melancarkan operasi di sepanjang jalan raya utama di Kunduz.

    Dia menambahkan bahwa pasukan keamanan melakukan serangan udara dan artileri pada Sabtu malam di provinsi Baghlan dan Jowzjan.

  • Pembicaraan Damai Afghanistan-Taliban Kini di Depan Mata

    Pembicaraan Damai Afghanistan-Taliban Kini di Depan Mata

    TIKTAK.ID – Utusan khusus Amerika Serikat, Zalmay Khalilzad telah melakukan pertemuan dengan Kepala Tim Negosiasi terbaru Taliban di Doha, setelah pembicaraan damai dengan tim yang mewakili Pemerintah Afghanistan terbuka, kata kelompok Taliban pada Selasa (8/9/20).

    Negosiasi, hasil dari kesepakatan antara Washington dan Taliban, akan dimulai di Doha setelah pembebasan sekitar lima ribu tahanan Taliban dilakukan oleh Pemerintah Kabul.

    Para negosiator Afghanistan diperkirakan akan terbang dari Kabul ke Doha pada minggu ini, namun masih sedang menunggu sinyal dari Pemerintah Afghanistan bahwa sisa pembebasan tahanan akan dilanjutkan.

    Di Doha, Kepala Kantor Politik Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar dan Kepala Tim Perunding Taliban yang baru, Abdul Hakim Haqqani bertemu dengan Khalilzad dan Wakil Perdana Menteri Qatar pada Senin (7/9/20), kata Juru Bicara Taliban, Dr Mohammad Naeem dalam sebuah pernyataannya di Twitter.

    “Masalah yang terkait dengan pembebasan tahanan dan segera dimulainya pembicaraan intra-Afghanistan telah dibahas,” kata Naeem.

    Pembicaraan dengan para pejabat Amerika selama dua tahun terakhir dipimpin oleh Baradar, yang menandatangani kesepakatan damai dengan Washington tahun ini yang membuka jalan bagi penarikan pasukan internasional dan negosiasi intra-Afghanistan.

    Minggu lalu, Pemimpin Tertinggi Taliban Haibatullah Akhunzada mengumumkan bahwa tim baru beranggotakan 21 orang akan dipimpin oleh Haqqani dan bukan Baradar, salah satu pendiri Taliban, yang telah ditinggalkan pengikutnya.

    Tiga komandan Taliban yang berbasis di Afghanistan mengatakan kepada Reuters bahwa pejuang senior di lapangan dalam beberapa pekan terakhir menyatakan keberatan tentang dominasi Baradar dalam pembicaraan tersebut.

    Namun, pejabat Taliban mengatakan kepada Reuters bahwa tim tersebut telah diubah untuk memberinya kekuasaan mengambil keputusan saat itu juga.

    Haqqani, mantan Hakim Ketua bayangan Taliban, juga mengepalai Dewan Ulama yang kuat, menurut dua pejabat senior Taliban yang tidak ingin disebutkan namanya.

    Seorang pejabat mengatakan Akhunzada memercayai Haqqani lebih dari siapa pun dalam kelompok itu: “Kehadiran (nya) pada dasarnya berarti pemimpin tertinggi kami sendiri yang akan menghadiri pembicaraan damai.”

    Seorang diplomat yang mengikuti proses perdamaian dari Kabul mengatakan kepada Reuters, tanpa menyebut nama: “Baradar mungkin efektif, tetapi Haqqani lebih senior. Yang kami tahu adalah pergantian ini dilakukan untuk memiliki tim lebih berwibawa yang dapat mengambil keputusan di sana.”

  • Sempat Terhenti, Pembicaraan Damai di Afghanistan Kembali Berlanjut

    Sempat Terhenti, Pembicaraan Damai di Afghanistan Kembali Berlanjut

    TIKTAK.ID – Perundingan perdamaian di Afghansitan berjalan seperti siput. Meski sejak Februari lalu digadang-gadang, namun hingga detik ini perdamaian di negara itu masih sebatas angan. Namun kali ini kebuntuan itu sedikit mulai terkuak. Kabul disebut telah sepakat untuk melanjutkan pembebasan sisa tahanan Taliban.

    Perundingan seharusnya sudah dimulai pada Maret lalu, namun berulang kali ditunda karena Taliban dan Pemerintah Afghanistan tak menemukan kata sepakat terkait pertukaran tahanan, termasuk ratusan tahanan anggota Taliban kelas kakap, tulis France24.

    “Tahanan kami telah dibebaskan dan kami melihat ini sebagai langkah positif yang membuka jalan bagi dimulainya pembicaraan intra-Afghanistan,” kata Juru Bicara Taliban, Suhail Shaheen kepada AFP Selasa (1/9/20) malam.

    Pejabat Taliban lainnya dari Komisi Penjara kelompok itu mengatakan 200 tahanan telah dibebaskan oleh Kabul sejak Senin (31/8/20) lalu.

    Dia menambahkan, sebagai imbalan atas pembebasan tahanan mereka, para militan telah membebaskan empat komando Afghanistan yang ditahan, menambahkan bahwa dua lagi akan dibebaskan pada Rabu (2/9/20).

    Seorang pejabat senior Pemerintah Afghanistan mengatakan kepada AFP tanpa menyebutkan namanya bahwa “lusinan” tahanan Taliban telah dibebaskan pada Senin kemarin.

    “Tahanan yang tersisa akan dibebaskan dalam beberapa hari ke depan,” katanya.

    Delapan tahanan Taliban yang dibebaskan diarak di depan media lokal di Kandahar, benteng kelompok Taliban.

    Berdasarkan ketentuan kesepakatan AS-Taliban pada Februari, Kabul seharusnya membebaskan 5.000 militan dan Taliban dimaksudkan untuk membebaskan 1.000 tentara Afghanistan.

    Kedua belah pihak memenuhi sebagian besar kewajiban mereka, namun Kabul sebelumnya telah menolak pembebasan 400 narapidana terakhir yang menurut Presiden Ashraf Ghani sendiri adalah “bahaya bagi dunia”.

    Pada 9 Agustus, ribuan orang terkemuka Afghanistan menyetujui pembebasan 400 tahanan ini, termasuk banyak tahanan yang melakukan serangan brutal terhadap warga Afghanistan dan orang asing.

    Pembebasan mereka ditentang oleh para pejabat di Paris dan Canberra karena mereka yang ada dalam daftar itu termasuk militan yang terkait dengan pembunuhan warga sipil dan pasukan Prancis dan Australia di Afghanistan.

    Tidak ada penjelasan apakah anggota Taliban yang dibebaskan pada Senin itu termasuk mereka yang ditentang oleh Paris dan Canberra.

    Kementerian Luar Negeri Afghanistan untuk Urusan Perdamaian mengatakan pada Selasa kemarin bahwa pihak berwenang telah mengambil semua upaya untuk memastikan pembicaraan damai segera dimulai.

    “Upaya-upaya ini telah membuat kami lebih dekat dari sebelumnya untuk memulai pembicaraan langsung,” kata Juru Bicara Kementerian, Najia Anwari kepada AFP.

    Mantan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai memuji dimulainya kembali pembebasan tahanan, melalui akun Twitternya dia menyebut langkah itu sebagai “langkah positif” menuju perdamaian di Afghanistan.

    “Saya berharap langkah-langkah yang diperlukan akan diambil untuk membuka jalan bagi pembicaraan intra-Afghanistan dan bahwa delegasi dari kedua belah pihak akan segera bertemu,” cuitnya.

  • Pembicaraan Damai Afghanistan-Taliban Kembali Membentur Tembok

    Pembicaraan Damai Afghanistan-Taliban Kembali Membentur Tembok

    TIKTAK.ID – Pemerintah Afghanistan dan Taliban kembali menemui tembok tebal terkait rencana pembebasan ratusan anggota kelompok Taliban sebagai bagian dari syarat pembicaraan damai kedua belah pihak. Ganjalan pembebasan ratusan anggota Taliban ini datang dari beberapa negara di luar Afghanistan, kata para pejabat Afghanistan, Senin (17/8/20).

    Sebelumnya pembicaraan damai diperkirakan akan dimulai dalam beberapa hari setelah Majelis Tinggi Afghanistan bertemu di Kabul pada 9 Agustus dan menyetujui pembebasan 400 tahanan Taliban. Dari jumlah itu, termasuk banyak tahanan yang terlibat dalam serangan mematikan.

    Baca juga: Turki Ngotot Serang Terus Suku Kurdi di Wilayah Irak

    Sementara, pada Kamis lalu, Afghanistan hanya membebaskan 80 tahanan Taliban dan belum ada pembebasan lebih lanjut sejak itu, tulis France24.

    “Tidak ada rencana untuk membebaskan tahanan hari ini juga,” kata seorang pejabat Dewan Keamanan Nasional (NSC) negara itu kepada AFP.

    Penundaan pembebasan itu “terkait dengan kekhawatiran beberapa negara terhadap beberapa orang dalam daftar itu,” kata seorang anggota tim perunding Afghanistan, Ghulam Farooq Majroh, kepada AFP.

    Baca juga: Israel Kembali Gempur Jalur Gaza

    Pejabat NSC lainnya mengatakan bahwa beberapa “mitra internasional mengaku keberatan” dengan pembebasan para tahanan.

    Pejabat NSC dan Majroh tidak mengidentifikasi negara-negara tersebut, tetapi Paris dan Canberra menyatakan keberatan dengan pembebasan beberapa anggota Taliban yang dituduh membunuh warga negara dan tentara kedua negara.

    Halaman selanjutnya…

  • Taliban Janjikan Pembicaraan Damai dengan Afghanistan Bulan Depan

    Taliban Janjikan Pembicaraan Damai dengan Afghanistan Bulan Depan

    TIKTAK.ID – Taliban mengatakan siap melakukan pembicaraan damai dengan Pemerintah Afghanistan usai liburan Hari Raya Idul Adha, dengan syarat pertukaran tahanan seperti yang disetujui sebelumnya selesai dilakukan, tulis Al-Jazeera.

    Tawaran damai dengan syarat ini menandai kesempatan pertama untuk kedua belah pihak yang bertikai untuk memulai negosiasi yang telah melewati batas kesepakatan sejak 10 Maret lalu.

    Pernyataan itu disampaikan pada Kamis kemarin di tengah melonjaknya kekerasan yang mengancam gagalnya upaya untuk membawa Kabul dan Taliban ke meja perundingan dan berusaha mengakhiri perang Afghanistan yang hampir dua dekade dan didukung Amerika itu.

    “Taliban kemungkinan … siap untuk memulai negosiasi intra-Afghanistan segera setelah Idul Adha kalau-kalau proses pembebasan tahanan selesai,” kata Juru Bicara Taliban, Suhail Shaheen melalui akun Twitter-nya.

    Dia menambahkan bahwa Taliban siap untuk mebebaskan tahanan pasukan keamanan Afghanistan yang tersisa dalam tahanan mereka, selama Kabul membebaskan semua tahanan Taliban “sesuai daftar kami yang telah dikirimkan” kepada mereka.

    Belum ada tanggapan langsung dari Pemerintah Kabul terkait pernyataan Taliban itu.

    Pertukaran tahanan menjadi salah satu syarat yang telah disepakati antara Amerika dan Taliban, namun menjadi masalah utama jelang pembicaraan damai karena kedua belah pihak, Kabul dan Afghanistan belum sepenuhnya membebaskan tahanan sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati.

    Pemerintah Afghanistan seharusnya membebaskan hingga 5.000 tahanan Taliban, sementara kelompok bersenjata itu berjanji untuk membebaskan 1.000 pasukan keamanan Afghanistan dalam tahanan mereka, menurut perjanjian Amerika-Taliban.

    Kabul telah memprotes pertukaran itu karena menganggap banyak di antara tahanan Taliban adalah pejuang berbahaya yang bisa saja kembali ke medan perang.

    Sejauh ini, Kabul telah membebaskan sekitar 4.400 tawanan Taliban. Sementara Taliban mengaku telah membebaskan 864 pasukan keamanan Pemerintah.

    Di tengah rencana pembicaraan perundingan damai yang terus tersendat karena persoalan pertukaran tahanan, tingkat kekerasan terus melonjak di seluruh Afghanistan, bahkan Taliban hampir setiap hari melakukan serangan ke pasukan keamanan.

    Namun, salah satu serangan udara pasukan Afghanistan pada pekan ini mendapat sorotan paling tajam setelah menewaskan delapan warga sipil dan 16 lainnya luka-luka.

    Serangan itu menghantam sekelompok orang yang berkumpul di provinsi Herat barat untuk merayakan pembebasan seorang komandan Taliban dari penjara pada Rabu kemarin, kata seorang pejabat kepada kantor berita AFP.

    “Serangan udara dilakukan selama upacara dan warga sipil yang berpartisipasi termasuk di antara mereka yang tewas,” kata Gubernur Distrik di daerah serangan itu terjadi, Ali Ahmad Faqir Yar.

    Namun, Kementerian Pertahanan membantah laporan itu dan mengatakan tidak satu pun dari mereka yang tewas adalah warga sipil.

    Pasukan Afghanistan telah melakukan serangan “berdasarkan foto dan video intelijen”, kata Kementerian itu.

    “Investigasi Kementerian Pertahanan sedang berlangsung, tetapi informasi awal menunjukkan bahwa tidak ada warga sipil yang terbunuh,” katanya.

  • Kabul: Jelang Pembicaraan Damai, Taliban Malah Bunuh dan Lukai 400 Pasukan Afghanistan dalam Sepekan

    Kabul: Jelang Pembicaraan Damai, Taliban Malah Bunuh dan Lukai 400 Pasukan Afghanistan dalam Sepekan

    TIKTAK.ID – Kementerian Dalam Negeri Afghanistan menuduh Taliban telah meningkatkan serangan ketika persiapan pembicaraan damai sedang dilakukan. Buktinya, selama sepekan terakhir kata Kementerian itu, Taliban telah membunuh atau melukai lebih dari 400 personel.

    Kekerasan di Afghanistan turun drastis sejak Taliban mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari pada 24 Mei untuk menandai peringatan Idulfitri. Namun, para pejabat menuduh bahwa kelompok ini meningkatkan serangan dalam beberapa hari terakhir.

    “Dalam satu minggu terakhir, Taliban melakukan 222 serangan terhadap pasukan keamanan Afghanistan, yang mengakibatkan kematian dan mecederai 422 orang,” kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Tariq Arian pada konferensi pers Minggu ini, seperti yang dikutip dari Aljazeera.

    Dia juga menuduh Taliban menargetkan para ulama dalam upaya untuk memberikan “tekanan psikologis” kepada Pemerintah Afghanistan.

    Serangan bom di masjid-masjid di Kabul yang menewaskan dua imam salat bulan ini adalah pekerjaan Taliban, klaim Arian.

    “Ini telah menjadi tujuan Taliban untuk menargetkan para cendekiawan agama, terutama dalam dua minggu terakhir,” katanya, menuduh para pejuang bersenjata itu sebagai “kelompok payung bagi jaringan teroris lainnya”.

    Empat orang, termasuk seorang imam salat, terbunuh ketika sebuah ledakan merusak sebuah masjid di Kabul selama salat Jumat.

    Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan yang terjadi lebih dari seminggu setelah serangan ISIS di sebuah masjid di tepi Zona Hijau Kabul yang dijaga ketat dan menewaskan seorang ulama terkemuka.

    Setelah awalnya melaporkan penurunan kekerasan secara keseluruhan pasca gencatan senjata, Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Javid Faisal pada Minggu mengatakan bahwa serangan Taliban “tidak berkurang, tetapi lebih meningkat di seluruh negeri”.

    Dewan pada Sabtu lalu juga menuduh bahwa Taliban telah membunuh 89 warga sipil dan melukai 150 dalam dua minggu terakhir.

    Tuduhan itu disampaikan setelah Pemerintah dan Taliban mengisyaratkan bahwa mereka semakin dekat untuk melakukan perundingan damai yang sudah lama sekali tertunda.

    Presiden Ashraf Ghani telah berjanji untuk menyelesaikan pembebasan tahanan Taliban yang merupakan syarat utama untuk memulai negosiasi dengan kelompok Taliban yang bertujuan untuk mengakhiri perang hampir dua dekade itu.