Tag: Olimpiade Tokyo 2020

  • Sempat Ingin Pensiun, Ini Cara Greysia Polii Bisa Bangkit

    Sempat Ingin Pensiun, Ini Cara Greysia Polii Bisa Bangkit

    TIKTAK.ID – Greysia Polii bersama Apriyani Rahayu telah sukses meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Ternyata, Greysia merupakan salah satu sosok pebulutangkis veteran Indonesia yang memiliki jalan karier panjang. Ia pun telah dikenal sejak usia muda, dan selalu jadi tumpuan nomor ganda putri Indonesia dalam lebih dari satu dekade terakhir.

    Untuk diketahui, pada Olimpiade London 2012, Greysia dan pasangannya di ganda putri, Meiliana Jauhari sempat didiskualifikasi. Greysia dan Meiliana diduga telah melanggar kode etik dengan sengaja mengalah dari lawan ketika menghadapi Ha Jung Eun dan Kim Min Jung dari Korea Selatan.

    Usai insiden tersebut, Greysia mengaku 90 persen yakin ingin pensiun. Sebab, ia mengatakan ketika itu dirinya sudah tidak memiliki lagi keinginan dan gairah untuk melanjutkan bulutangkis sebagai kariernya.

    “Saat itu saya memiliki waktu karena kena hukuman. Jadi saya mencoba mengembalikan semuanya ke jalan yang benar. Motivasi dikembalikan lagi, dan traumanya dihilangkan,” ujar Greysia, seperti dilansir CNN Indonesia.

    Kemudian Greysia menyatakan sudah tidak mau terlalu ambil pusing dengan pencapaian. Ia mengaku hanya ingin menjalani, meski bukan berarti tidak berniat mendapat prestasi yang maksimal.

    “Selama Tuhan masih memberi kesempatan, banyak orang yang mendukung, dan saya juga memilih untuk mau, maka saya yakin prestasi yang tertinggi itu akan datang. Namun saya tidak tahu apa dan kapan, melainkan hanya menjalani saja. Segala pencapaian itu saya serahkan semua kepada Tuhan yang bisa kontrol, karena saya tidak bisa kontrol,” tutur Greysia.

    “Itu yang mengubah pikiran saya pada saat itu. Saya pada akhirnya mampu berjalan dengan kekuatan iman dan keyakinan dalam hati untuk menjalani karier,” imbuh wanita kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1987 tersebut.

    Lebih lanjut, saat menjelang final ajang Olimpiade Tokyo 2020, Greysia sempat merasa terbebani dan tegang. Namun ia dan Apri tidak terlalu memikirkan mengenai hal itu. Ia pun menyebut rasa tegang itu bagus karena membuat adrenalin tetap terjaga saat bertanding di partai final, bahkan menguntungkannya agar tetap fokus hingga akhir.

  • Usai Olimpiade Tokyo, Ini 3 Target Badminton Indonesia Sampai Akhir 2021

    Usai Olimpiade Tokyo, Ini 3 Target Badminton Indonesia Sampai Akhir 2021

    TIKTAK.ID – Meski telah meraih medali emas yang diwujudkan Greysia Polii/Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo, tim Badminton Indonesia tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai. Pasalnya, ada tiga target besar Tim Badminton Indonesia sampai akhir 2021.

    Seperti dilansir CNNIndonesia.com, berikut ini tiga target besar yang bakan menjadi fokus utama Tim Badminton Indonesia di sisa tahun ini:

    1. Piala Sudirman
      Ajang ini akan berlangsung pada 26 September hingga 3 Oktober mendatang di Vantaa, Finlandia. Piala Sudirman merupakan kejuaraan beregu campuran yang mempertandingkan lima disiplin nomor badminton, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran.

    Piala Sudirman sendiri diambil dari nama Dick Sudirman, yaitu tokoh bulutangkis Indonesia. Indonesia pernah menjadi juara Piala Sudirman di edisi pertama pada 1989, tetapi setelah itu belum lagi berhasil membawa pulang piala tersebut.

    1. Piala Thomas-Uber
      Piala Thomas-Uber dijadwalkan berlangsung pada 9-17 Oktober di Aarhus, Denmark. Pertandingan ini adalah edisi yang tertunda dari jadwal semula pada tahun lalu.

    Piala Thomas adalah kejuaraan beregu putra, dan Piala Uber merupakan kejuaraan beregu putri. Dalam ajang ini, tiap negara akan mempertandingkan tiga nomor tunggal dan dua nomor ganda. Untuk diketahui, Indonesia terakhir kali meraih juara Piala Thomas pada 2002 dan terakhir kali mengangkat Piala Uber pada 1996.

    1. Kejuaraan Dunia
      Tim Badminton Indonesia masih memiliki peluang memenangkan gelar juara dunia, yaitu kejuaraan perorangan yang akan berlangsung di Huelva, 12-19 Desember 2021. Namun sebelum bertolak ke Huelva, para pemain badminton nantinya akan berduel di tiga seri turnamen yang berlangsung di Indonesia selama November sampai awal Desember.

    Mulai 16 November hingga 5 Desember, bakal berlangsung pertandingan Indonesia Masters, Indonesia Open, dan BWF World Tour Finals 2021 di Bali. Kejuaraan Dunia tahun ini pun terasa unik karena berlangsung usai BWF World Tour Finals yang biasanya menjadi turnamen penutup tahun.

    Pada edisi terakhir Kejuaraan Dunia pada 2019 silam, satu wakil Indonesia yang menjadi juara adalah Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

  • Apriyani Ungkap Makna Cium Tangan Greysia Saat Olimpiade Tokyo

    Apriyani Ungkap Makna Cium Tangan Greysia Saat Olimpiade Tokyo

    TIKTAK.ID – Atlet ganda putri Indonesia, Apriyani Rahayu mengungkapkan alasannya kerap mencium tangan pasangannya, Greysia Polii, selama pertandingan badminton Olimpiade Tokyo 2020. Selama laga berlangsung, Apriyani memang kerap tertangkap kamera mencium tangan Greysia.

    Ternyata Apriyani mempunyai alasan tersendiri. Pemain kelahiran Konawe, Sulawesi Tenggara, itu mengaku cium tangan tersebut adalah bentuk hormat kepada Greysia sebagai pemain yang lebih senior.

    “Itu refleks saja, karena kebiasaan saya sih sering cium tangan ke yang lebih tua,” ujar Apriyani, seperti dilansir CNN Indonesia.

    Untuk diketahui, Greysia/Apriyani merupakan pasangan ganda putri dengan usia yang terpaut cukup jauh, 10 tahun. Greysia kini berusia 33 tahun, sementara Apriyani berusia 23 tahun.

    Meski begitu, Greysia dan Apriyani tidak menjadikan perbedaan usia tersebut sebagai kendala di lapangan. Hal itu dibuktikan dengan keduanya tetap kompak dan tampil solid sehingga membuahkan emas Olimpiade Tokyo. Komunikasi pemain senior dan junior tersebut pun bagus.

    Emas yang diraih oleh Greysia/Apriyani menjadi kejutan di nomor ganda putri. Hal itu karena Greysia/Apriyani bukan termasuk pemain unggulan. Namun mereka mampu mengalahkan pasangan China Chen Qing Chen/Jia Yi Fan yang merupakan unggulan kedua di Olimpiade.

    Dalam pertandingan final yang digelar di Musashino Forest Plaza, pada Senin (2/8/21), Greysia/Apriyani berhasil menang dua gim langsung dengan skor 21-19, 21-15.

    Lebih lanjut, terkait bonus besar yang akan diterima oleh Greysia/Apriyani usai meraih emas Olimpiade Tokyo, keduanya mengklaim akan menggunakan bonus tersebut sebagai tabungan di masa depan.

    “Masih belum tau sih buat apa, tapi yang jelas buat masa depan, tua nanti. Harus mikirin masa depan karena kita kan tidak tahu masa tua nanti,” terang Apriyani.

    Sekadar informasi, sebelum berangkat, Pemerintah Indonesia telah menjanjikan bonus sebesar Rp5 miliar bagi siapa saja atlet Tanah Air yang bisa mendapatkan medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Namun tidak sampai di situ, Greysia Polii/Apriyani Rahayu juga memperoleh beragam bonus tambahan.

    Salah satunya, Apriyani mendapatkan rumah dan tanah dari Pemerintah Kabupaten Konawe. Selain itu, Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa memberikan bonus pribadi kepada Apriyani Rahayu, yaitu lima ekor sapi.

  • Menpora Minta Publik Tak Beri Beban Berlebihan Greysia/Apriyani yang Lolos ke Final

    Menpora Minta Publik Tak Beri Beban Berlebihan Greysia/Apriyani yang Lolos ke Final

    TIKTAK.ID – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali telah mengimbau publik agar tidak memberikan beban berlebihan kepada ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang lolos ke final Olimpiade Tokyo 2020.

    Seperti diketahui, Greysia/Apriyani dipastikan lolos ke final badminton Olimpiade Tokyo 2020, usai berhasil mengalahkan wakil Korea Selatan, Lee So Hee/Shin Seung Chan 21-19 dan 21-17 di Musashino Forest Sports Plaza, Tokyo, pada Sabtu (31/7/21) silam.

    Menpora Zainudin Amali mengatakan bahwa apa pun masih bisa terjadi di Olimpiade. Hal itu karena setiap pertandingan di Olimpiade tidak ada yang bisa memprediksi.

    “Setiap pertandingan itu tidak bisa diprediksi, terkadang yang diunggulkan bisa kalah, dan ini berlaku untuk semua cabang dan nomor pertandingan,” ujar Zainudin, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Sabtu (31/7/21).

    “Yang paling menentukan yaitu kondisi fisik maupun mental saat pertandingan. Makanya kita tidak boleh memberi target yang berlebihan kepada atlet. Sebab, itu malah bisa menjadi beban mereka, sehingga mengurangi fokus dan konsentrasi untuk pertandingan yang sedang dijalani. Biarkan saja mereka main lepas tanpa beban apa pun,” imbuhnya.

    Zainudin pun menyatakan kerja keras pasangan peringkat enam dunia tersebut di Olimpiade Tokyo 2020 tetap mendapatkan apresiasi darinya.

    “Alhamdulillah bisa ke babak final, perjuangan luar biasa ini harus kita apresiasi. Mohon doa dari seluruh masyarakat supaya dapat memenangkan pertandingan berikutnya,” tutur Zainudin Amali.

    Sekadar informasi, pada partai final ganda putri badminton Olimpiade Tokyo, Greysia/Apriyani akan berhadapan dengan pasangan peringkat tiga dunia, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan. Ganda putri asal China tersebut melenggang ke final setelah sukses mengalahkan wakil Korea Selatan Kim Soy Eong/Kong Hee Yong dalam dua gim langsung 21-15 dan 21-11 di semifinal, Sabtu (31/7/21).

    Greysia/Apriyani pun memiliki peluang untuk mencatatkan sejarah sebagai ganda putri Indonesia pertama yang meraih medali emas di Olimpiade, jika memang berhasil memenangkan pertandingan final. Hingga saat ini, catatan pertemuan menyebut Greysia/Apriyani baru tiga kali menang dari sembilan pertemuan dengan Qing Chen/Yi Fan.

    Pertandingan final ganda putri untuk merebut medali emas Olimpiade Tokyo 2020 akan digelar di Musashino Forest Sport Plaza pada Senin (2/8/21).

  • Simak Perjalanan Greysia/Apriyani Lolos Final Olimpiade Tokyo 2020

    Simak Perjalanan Greysia/Apriyani Lolos Final Olimpiade Tokyo 2020

    TIKTAK.ID – Ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu telah dipastikan lolos melaju ke final Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza, Sabtu (31/7/21).

    Seperti dilansir CNNIndonesia.com, simak perjalanan Greysia/Apriyani hingga mencapai final Olimpiade Tokyo.

    Greysia/Apriyani menyelesaikan laga semifinal dengan baik, setelah berhasil mengalahkan wakil Korea Selatan Lee So Hee/Shin Seung Chan 21-19 dan 21-17. Sebelum itu, keduanya memulai perjuangan di Olimpiade Tokyo dari babak penyisihan Grup A. Pada pertandingan pertama, mereka mengalahkan wakil Malaysia Mei Kuan Chow/Meng Yean Lee 21-14, 21-17, di hari pertama setelah Olimpiade Tokyo resmi dibuka, Sabtu (24/7/21).

    Kemudian pada laga kedua fase Grup A, Greysia/Apriyani kembali meraih kemenangan. Mereka mengalahkan wakil Inggris Raya Chloe Brich/Lauren Smith 21-11, 21-13 hanya dalam waktu 42 menit.

    Dalam pertandingan terakhir di fase Grup A, Greysia/Apriyani mengalahkan unggulan pertama dari tuan rumah Jepang, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota lewat tiga gim 24-22, 13-21, 21-8. Hal itu pun membuat Greysia/Apriyani lolos ke babak perempat final Olimpiade Tokyo sebagai juara grup.

    Saat masuk di babak perempat final, perjuangan berat harus kembali dilalui oleh Gresyia/Apriyani. Sebab, keduanya harus menghadapi perlawanan ganda putri China, Yue Du/Yun Hui Li. Pada pertandingan tiga gim yang berlangsung selama 100 menit, Greysia/Apriyani sukses merebut tiket ke semifinal dari wakil China dengan skor akhir 21-15, 20-22 dan 21-17.

    Lebih lanjut, di babak semifinal, Greysia/Apriyani kembali menampilkan permainan sabar namun ngotot agar dapat terus mencuri poin saat menghadapi unggulan keempat dari Korea Selatan. Pertandingan dengan durasi 71 menit tersebut lantas membawa Greysia/Apriyani melaju untuk memperebutkan medali emas pertama buat Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020.

    Berikut ini perjalanan Greysia/Apriyani ke Final Olimpiade Tokyo 2020

    Babak Grup

    • Menang vs Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean (Malaysia) dengan skor 21-14 dan 21-17
    • Menang vs Chloe Brich/Lauren Smith (Inggris Raya) dengan skor 21-11 dan 21-13
    • Menang vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) dengan skor 24-22, 13-21 dan 21-8

    Perempat Final

    • Menang vs Yue Du/Yun Hui Li (China) dengan skor 21-15, 20-22 dan 21-17
      Semifinal
    • Menang vs Lee So Hee/Shin Seung Chan (Korea Selatan) dengan skor 21-19 dan 21-17
  • Tragis, 3 Unggulan Pertama Badminton Tumbang di Olimpiade Tokyo 2020

    Tragis, 3 Unggulan Pertama Badminton Tumbang di Olimpiade Tokyo 2020

    TIKTAK.ID – Banyak kejutan menyertai gelaran cabang olahraga badminton dalam Olimpiade Tokyo 2020 lantaran kegagalan tiga unggulan pertama dalam meraih medali.

    Pada umumnya kejuaraan yang tidak cuma dicapai oleh tiap unggulan pertama, dalam gelaran Olimpiade saat ini membekaskan kegagalan untuk atlet-atlet unggulan pertama dalam meraih posisi juara.

    Tiga unggulan pertama dari lima nomor yang dipertandingkan dalam cabang badminton, terdepak dari Olimpiade Tokyo 2020. Selain itu dua unggulan pertama yang bertahan melanjutkan langkahnya ialah Chen Yufei di nomor tunggal putri serta pasangan Zhen Siwei/Huang Yaqiong di nomor ganda campuran.

    Beberapa unggulan nomor satu yang tumbang adalah di nomor tunggal putra, ganda putra, dan ganda putri.

    Ini 3 unggulan pertama di tiga nomor yang terhenti langkahnya dalam cabang olahraga badminton Olimpiade 2020:

    1. Kento Momota (Tunggal Putra)

    Unggulan utama wakil tuan rumah (Jepang) yang berada di posisi nomor satu dunia ini memulai langkah dalam Olimpiade dengan berhasil menumbangkan wakil Amerika Serikat Timohty Lam.

    Momota lantas terhenti langkahnya dalam Olimpiade usai tumbang saat bertanding melawan Heo Kwang-hee pada laga pamungkas fase grup.

    Kwang-hee menang meyakinkan dengan skor 21-15 dan 21-19 menumbangkan Momota, sehingga menjadikannya juara Grup A serta bakal berhadapan dengan Kevin Cordon dalam babak perempat final.

    1. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (Pasangan Ganda Putra)

    Pasangan ganda putra asal Indonesia ini tumbang karena gagal mengalahkan Aaron Chia/Soh Woi Yik di babak perempat final. Hasil yang mengagetkan lantaran pada tujuh pertemuan sebelumnya, The Minions meraih kemenangan berturut-turut menjadikan Chia/Woi Yik mengakui keunggulan pasangan ganda putra asal Indonesia tersebut.

    Terhentinya langkah Kevin/Marcus berlanjut ke babak berikutnya turut menyingkirkan harapan all Indonesian final dalam nomor ganda putra lantaran terdapat pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang menempati pool lain serta memungkinkan berlaga di final.

    1. Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Pasangan Ganda Putri)

    Unggulan nomor satu dunia di nomor ganda putri ini berlaga dalam kondisi Sayaka Hirota tengah menderita cedera pada kakinya.

    Fukushima/Hirota mengalami kekalahan kala berhadapan dengan andalan Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu dalam laga penyisihan grup.

    Meski begitu, Fukushima/Hirota dapat lolos ke babak perempat final Olimpiade lantaran statusnya sebagai runner up Grup.

    Fukushima/Hirota lantas berhadapan dengan pasangan unggulan ketiga, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan.

    Meski sukses memenangi gim pertama, Fukushima/Hirota kalah dalam gim kedua dan ketiga sehingga langkahnya terhenti dalam perebutan medali Olimpiade.

  • Pasangan Malaysia Sulit Percaya Mampu Kalahkan Kevin/Marcus

    Pasangan Malaysia Sulit Percaya Mampu Kalahkan Kevin/Marcus

    TIKTAK.ID – Pasangan bulutangkis ganda putra asal Malaysia Aaron Chia dan Soh Woii Yik berhasil mengalahkan pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon dalam laga babak perempatfinal bulutangkis Olimpiade Tokyo 2020. Mereka sulit percaya mampu mencapai hasil tersebut.

    Pada laga nomor ganda putra di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo (Jepang) Kamis (29/7/21) pagi WIB, Kevin yang berpasangan dengan Marcus tumbang dengan skor 14-21 dan 17-21 dari unggulan asal Malaysia tersebut. Akhirnya, pasangan yang terkenal berjuluk Minions ini perlu angkat koper serta pulang lebih awal dari perkiraan dalam gelaran Olimpiade Tokyo 2020.

    Tumbangnya Kevin/Marcus tentu saja merupakan hal yang tak terduga, apalagi mereka merupakan pasangan ganda putra yang menempati peringkat nomor satu dunia. Bahkan dalam tujuh laga sebelumnya, pasangan Kevin/Marcus berhasil memperoleh kemenangan berturut tanpa kalah terhadap pasangan Aaron Chia/Soh Woii Yik!

    Sebagaimana dilansir DetikSport mengutip dari laman resmi BWF, Soh Woii Yik menyatakan bahwa keberhasilan mengalahkan pasangan Kevin/Marcus merupakan pencapaian yang luar biasa. Semakin istimewa lagi lantaran diraih dalam laga sebesar Olimpiade.

    “Saya sungguh-sungguh tak percaya jika kami menang atas mereka, terutama di Olimpiade. Sebelumnya, kami kesulitan mengalahkan mereka,” ujar Soh.

    “Ini merupakan pertandingan terbaik dalam karier saya,” lanjutnya.

    Aaron Chia menyatakan hal senada, sebagai pasangan yang dipandang bakal mengalami kekalahan lantaran tidak diunggulkan.

    “Tak ada yang berpikir bakal seperti ini hasilnya. Kami puas dengan kinerja sejauh ini. Kami bakal gunakan semangat yang sama pada babak selanjutnya,” terangnya.

    Aaron Chia/Soh Woii Yik sukses melanjutkan ke babak semifinal Olimpiade Tokyo 2020. Berikutnya, mereka akan berhadapan dengan pasangan ganda putra asal China Li Junhui/Liu Yuchen pada Jumat (30/7/21).

    Bagi Indonesia, di nomor ganda putra masih terdapat pasangan Mohamad Ahsan/Hendra Setiawan yang sukses mengalahkan pasangan ganda putra asal Jepang K. Sonada/T. Kamura dengan skor 21-14, 16-21, dan 21-9 sehingga sukses melaju ke babak semifinal.

  • Panahan Beregu Putra Terhenti di 16 Besar, Terkendala Angin

    Panahan Beregu Putra Terhenti di 16 Besar, Terkendala Angin

    TIKTAK.ID – Panahan beregu putra Indonesia diketahui harus terhenti di 16 besar Olimpiade Tokyo 2020. Mereka mengaku terkendala angin.

    Indonesia kalah dengan skor 0-6 dari Britania Raya ketika tampil di babak eliminasi 1/8 di Yumenoshima Final Field, pada Senin (26/7/21). Riau Ega Agatha, Arif Dwi Pangestu, dan Bagas Prastyadi mencetak skor 51, 52, dan 51. Sedangkan tim Inggris yang diperkuat Tom Hall, Patrick Huston, dan James Woodgate mencetak skor 55, 53, dan 55 dalam tiga set.

    Menurut pelatih Permadi Sandra Wibawa, timnya masih belum bisa mengatasi hembusan angin di Yumenoshima. Apalagi, ia mengatakan kondisi angin pagi tadi lebih kencang ketimbang hari-hari sebelumnya.

    “Kami sudah melakukan yang terbaik, namun memang ini hasilnya. Kondisi angin yang seperti ini jarang kami temui di Jakarta,” ujar Permadi dalam keterangan tertulis, seperti dilansir detik.com.

    “Meski begitu, teman-teman sudah berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik. Hari ini, kami memperoleh informasi dari pelatih dayung bahwa anginnya lebih kencang dari sebelumnya, seperti badai kecil. Hal itu yang membuat tim kesulitan karena kurang siap dengan angin kencang,” imbuh Permadi.

    Hal senada disampaikan Ega Agatha. Ega mengklaim dirinya dan tim terlambat melakukan adaptasi, sehingga membuat mereka ketinggalan poin.

    “Kami terlambat menyesuaikan diri di lapangan ini, jadi kami kalah poin dulu. Inggris mampu mendapatkan poin 10 dengan cepat, dan kami terlambat. Lawan juga bermain lebih baik, sehingga agak berat juga untuk mengejar poin mereka,” terang Ega.

    Ega menjelaskan, kekalahan telak ini akan menjadi evaluasi bagi dirinya dan teman-teman yang akan tampil di nomor perorangan Olimpiade Tokyo 2020 pada Selasa (27/7/21). Terlebih untuk Arif yang bakal menghadapi atlet Jerman Florian Unruh.

    Sedangkan Bagas, Ega, dan Diananda Choirunisa masih mempunyai waktu dua hari berlatih dan mencari solusi untuk mengantisipasi hembusan angin Yumenoshima di Olimpiade Tokyo 2020. Mereka dijadwalkan bertanding pada Kamis (29/7/21) mendatang.

    “Saya mendapat pool bawah dan akan main sore. Jadi, saya akan latihan sore juga, dan saya akan berusaha untuk lebih konsisten. Kuncinya fokus pada diri sendiri, menembak lebih baik, serta fokus,” tutur Ega.

  • Gregoria Tegang Tampil Perdana Olimpiade Tokyo

    Gregoria Tegang Tampil Perdana Olimpiade Tokyo

    TIKTAK.ID – Tunggal putri Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung mengaku sempat merasakan ketegangan dalam laga penyisihan grup M Olimpiade Tokyo 2020. Ia mengatakan hal itu karena semua serba perdana.

    Gregoria sendiri menjadi pembuka cabang bulutangkis di hari kedua Olimpiade 2020. Ia pun berhasil meraih kemenangan pertamanya dengan skor 21-11, 21-8 saat menghadapi Thet Htar Thuzar (Myanmar) yang berlangsung di Musashino Forest Sports Plaza, Minggu (25/7/21).

    Kemudian setelah selesai pertandingan, Gregoria menyatakan merasakan ketegangan karena Olimpiade kali ini adalah turnamen terbesar pertama yang ia ikuti. Gregoria juga menganggap faktor hasil-hasil kurang bagus pada turnamen sebelumnya ikut memengaruhi perfomanya.

    “Pertandingan pertama hari ini saya masih lumayan tegang karena ini merupakan turnamen terbesar yang pernah saya ikuti. Selain itu, di beberapa turnamen sebelumnya hasil saya kurang bagus, sehingga saya ingin sekali mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang saya inginkan,” ujar Gregoria melalui rilis Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

    “Tadi masih terasa sekali tegangnya, bahkan tangan masih lumayan kaku. Namun Puji Tuhan di pertengahan game 1 dan di game 2 sudah bisa tenang,” imbuh Gregoria.

    Meski begitu, Gregoria mengklaim merasa beruntung mampu mengatasi rasa gugup tersebut. Ia sebenarnya juga telah merasakan hal itu sejak bulan-bulan menuju Olimpiade Tokyo ini.

    “Begitu sampai di sini hanya memikirkan main saja, tapi sebenarnya tegangnya sudah dari bulan-bulan sebelumnya karena memikirkan persiapan dan lain-lain,” kata Gregoria.

    Untuk diketahui, Gregoria dijadwalkan akan kembali bermain melawan Lianne Tan (Belgia) pada Rabu (28/7/21) mendatang. Gregoria pun akan menyiapkan mental.

    “Sekarang sudah lumayan enak, karena telah ketemu (pola mainnya). Kalau ada jeda biasanya seperti mulai dari awal lagi. Untuk itu, dalam dua hari ini saya ingin lebih mempersiapkan semua, bukan hanya teknik, melainkan juga mental harus disiapkan. Sebab, tidak bisa dipungkiri saya masih sedikit merasa tegang,” ungkap pebulutangkis berusia 21 tahun tersebut.

    Gregoria tergabung dalam grup M bersama Thet dan Lianne Tan dari Belgia. Bila Gregoria mampu mengalahkan Tan dalam pertandingan berikutnya pada Rabu (28/7/21), maka ia akan melaju ke babak berikutnya.

  • Resep Mi Somen, Mi Dingin Menu Olimpiade Tokyo 2020

    Resep Mi Somen, Mi Dingin Menu Olimpiade Tokyo 2020

    TIKTAK.ID – Mi Somen merupakan mi dingin khas Jepang yang menjadi salah satu menu makanan atlet Olimpiade Tokyo 2020. Mi Somen memiliki bentuk lebih pipih ketimbang jenis mi khas Jepang lainnya.

    Mi Somen pun dapat dimasak dengan ragam bahan makanan lain. Saat Olimpiade Tokyo 2020 sendiri, Mi Somen disajikan bersama salmon panggang, ayam kukus, kacang edamame, brokoli, pasta plum, dan taburan ubi parut.

    Jika penasaran dengan Mi Somen, kamu bisa membuatnya sendiri di rumah. Gunakan bahan yang lebih sederhana seperti sayuran dan telur rebus.

    Seperti dikutip Kompas.com dari Cooking Nytimes, berikut ini resep Mi Somen.

    Bahan Mi Somen:
    2 sdm minyak sayur
    3 batang daun bawang, potong putih dan hijau dipisahkan, lalu iris tipis
    225 gr jamur shiitake segar, buang bagian batang dan tutupnya, iris tipis
    Garam sesuai selera
    1 buah pakcoy sedang (sekitar 115 gr), dan potong-potong
    3 sdm kecap asin
    2 sdt minyak wijen panggang, tambah lagi sebagai penyajian
    200 gr mi somen
    2 butir telur berukuran besar

    Cara membuat Mi Somen:

    1. Siapkan panci besar berisi air, didihkan.
    2. Panaskan minyak sayur di dalam panci sedang. Masukkan daun bawang putih dan irisan jamur, lalu bumbui dengan garam dan masak hingga kecokelatan. Aduk sesekali sampai sekitar enam menit.
    3. Tuang 700 mililiter air ke dalam panci dan didihkan menggunakan api sedang-tinggi. Tambahkan pakcoy dan masak hingga teksturnya empuk selama satu menit. Aduk dengan kecap dan dua sendok teh minyak wijen, lalu bumbui dengan garam. Matikan api dan tutup panci agar tetap hangat.
    4. Selanjutnya masak Mi Somen sesuai petunjuk kemasan dalam air mendidih di panci dan tiriskan.
    5. Setelah itu, masukkan telur ke dalam mangkuk. Aduk air mendidih dalam panci dengan sendok kayu sehingga membentuk pusaran. Tambahkan telur satu demi satu dan masak dengan api sedang-rendah hingga putih telur mengeras, sekitar tiga menit.
    6. Berikutnya pindahkan telur ke mangkuk mi menggunakan sendok berlubang. Sendokkan kaldu shiitake ke dalam mangkuk, lalu taburi dengan irisan daun bawang dan tuang minyak wijen.