Tag: mitos atau fakta

  • Kalori Terbakar Saat Berkeringat, Mitos atau Fakta?

    Kalori Terbakar Saat Berkeringat, Mitos atau Fakta?

    TIKTAK.ID – Banyak orang meyakini semakin banyak berkeringat, maka semakin banyak pula membakar kalori. Untuk itu, tak sedikit yang berpanas-panas di dalam ruangan spa atau lari menggunakan jaket parasut demi menguruskan badan. Namun apakah berkeringat merupakan tanda kalori terbakar?

    Olahraga merupakan salah satu cara terbaik untuk membakar kalori supaya tidak disimpan tubuh menjadi lemak. Umumnya ketika sedang berolahraga, tubuh mengeluarkan keringat. Semakin lama atau semakin berat gerakan olahraga yang kita lakukan, maka keringat yang dikeluarkan semakin banyak pula.

    Meski begitu, banyaknya keringat tidak menunjukan jumlah kalori yang terbakar. Terdapat sejumlah faktor, seperti aktivitas kelenjar keringat, yang turut memainkan peranan penting dalam jumlah produksi keringat tubuh.

    Lantas apa fungsi berkeringat?

    Seperti dilansir Kompas.com, berkeringat memberikan beberapa manfaat bagi tubuh. Tubuh mengeluarkan keringat untuk menghilangkan kotoran, misalnya sisa metabolisme dan racun, atau penumpukan di kulit. Keluarnya keringat juga menjadi cara tubuh melindungi dirinya dari sengatan panas matahari.

    Selain itu, keringat membantu tubuh mengatur suhunya secara otomatis. Suhu internal tubuh meningkat selama latihan yang intens, seperti latihan interval intensitas tinggi. Peningkatan suhu tersebut akan memberi tahu tubuh Anda bahwa sudah waktunya berkeringat untuk menenangkan diri.

    Berkeringat memang bisa memengaruhi jumlah kalori yang Anda bakar, namun pada tingkat yang tidak signifikan. Hal itu terjadi karena tubuh memakai kalori untuk memproduksi keringat. Kelenjar keringat menggunakan glukosa sebagai energi supaya bisa berfungsi.

    Fungsi ini berada di bawah metabolisme, yang mencakup setiap proses penggunaan energi atau konversi energi di dalam tubuh. Metabolisme turut berhubungan langsung dengan intensitas olahraga yang Anda lakukan, sehingga lebih penting saat proses pembakaran kalori.

    Adapun kalori terbakar lebih banyak ketika kita melakukan olahraga aerobik, ketimbang olahraga angkat beban. Meski begitu, semua jenis olahraga mampu membantu proses pembakaran kalori.

    Semakin intens Anda berolahraga, maka makin banyak pula kalori yang digunakan oleh tubuh. Tak hanya melakukan olahraga, Anda juga bisa membakar kalori dengan cara menaiki tangga, membersihkan rumah, atau berkebun.

  • Tidak Makan Malam Efektif Turunkan Berat Badan, Mitos atau Fakta?

    Tidak Makan Malam Efektif Turunkan Berat Badan, Mitos atau Fakta?

    TIKTAK.ID – Sejumlah orang yang ingin menurunkan berat badan memutuskan melakukan diet ketat dengan cara tidak makan malam. Bahkan, terdapat pula beberapa orang yang tidak makan sama sekali setelah pukul empat sore. Namun benarkah pendapat yang menyebut makan malam bikin gemuk?

    Seperti dikutip Kompas.com dari WebMD, otoritas kesehatan AS menyatakan kenaikan berat badan tidak ditentukan oleh jam makan semata. Pasalnya, berat badan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas asupan yang dikonsumsi, serta aktivitas fisik yang dikerjakan sepanjang hari.

    Peneliti asal Northwestern University AS sempat menemukan bukti bahwa makan malam bikin gemuk karena memicu kenaikan berat badan. Akan tetapi, penelitian tersebut baru sebatas uji pada hewan, bukan pada manusia, sehingga perlu studi lanjutan untuk membuktikan validitas penelitian yang diterbitkan di jurnal Obesity itu.

    Ahli menyebut tidak makan malam justru bisa membuat seseorang lemas, kehilangan nutrisi penting, serta rentan memicu ngemil dan makan makanan tak sehat di lain waktu.

    Meski masih memerlukan studi lanjutan, namun hasil penelitian tersebut bisa jadi pengingat agar setiap orang lebih bijak dalam mempertimbangkan asupan saat makan, termasuk makan malam. Sebab, masih banyak orang yang makan tanpa mempertimbangkan pemenuhan gizi atau nutrisinya.

    Perlu dicatat, pola makan asal kenyang, tinggi kalori, dan terlalu dekat dengan jadwal tidur bisa meningkatkan berat badan. Bahkan pola makan tak sehat tersebut juga bisa menyebabkan gangguan pencernaan serta pemicu susah tidur.

    Mengutip NHS, tidak makan malam bukanlah cara yang tepat untuk menurunkan berat badan. Cara menurunkan berat badan yang paling efektif yakni dengan cara mengurangi kalori yang masuk ke tubuh, dan membakar lebih banyak kalori lewat olahraga.

    Jika Anda sedang berupaya menjalankan diet sehat, berikut ini sejumlah tips makan malam sehat agar berat badan tetap terjaga:
    Makan malam dengan jadwal teratur. Upayakan makan malam lebih awal, seperti pukul enam sore dan hindari makan di atas jam 10 malam.
    Ketika sedang makan, upayakan untuk fokus pada makanan. Hindari gangguan seperti sambil bermain gadget. Luangkan waktu untuk menikmati setiap sendok makanan yang masuk ke mulut.
    Minum air putih sebelum, selama, dan sesudah makan malam. Hal ini untuk mencegah makan berlebihan.
    Mengunyah makanan yang masuk ke mulut secara perlahan-lahan dan sadari isyarat apabila tubuh sudah merasa kenyang.
    Sebaiknya mengonsumsi makanan sehat dan bergizi lengkap. Pilih asupan tanpa lemak jahat. Lengkapi dengan sayur dan buah, dan makan masakan yang tidak digoreng atau dibakar.
    Berolahraga ringan setelah makan malam. Tetapi jadwal olahraga sebelum tidur lebih baik memiliki jeda dengan waktu istirahat setidaknya 30 menit atau satu jam.
    Ada baiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalankan diet untuk menurunkan berat badan. Sebab, diet sembarangan justru dapat merusak kesehatan.

  • Masak dengan Air Fryer Lebih Sehat, Mitos atau Fakta?

    Masak dengan Air Fryer Lebih Sehat, Mitos atau Fakta?

    TIKTAK.ID – Beberapa waktu terakhir, popularitas air fryer melonjak. Pasalnya, alat memasak air fryer digadang-gadang bisa memberikan kenikmatan gurih dan renyah setara gorengan, namun lebih minim lemak dan kalori ketimbang gorengan biasa.

    Mengutip Healthline, air fryer merupakan alat dapur dengan tenaga listrik yang dapat digunakan untuk menggoreng bahan masakan dengan penggunaan minyak yang minim. Alat tersebut dapat digunakan untuk menggoreng daging, kentang, sampai kue kering.

    Meski sama-sama bisa menghasilkan tampilan dan tekstur renyah pada masakan, cara kerja air fryer berbeda dengan penggorengan biasanya. Air fryer bekerja dengan mengedarkan udara panas di sekitar makanan, serta menghasilkan reaksi kimia yang dalam dunia kuliner dikenal sebagai efek Maillard.

    Efek Maillard melibatkan asam amino dan gula, sehingga menyebabkan perubahan warna dan rasa makanan.

    Air fryer hanya butuh satu sendok makan minyak untuk mendapat rasa dan tekstur yang sama dengan gorengan biasa yang menggunakan banyak minyak goreng.

    Oleh karena itu, gorengan dari air fryer diklaim sebagai gorengan alternatif yang lebih sehat karena lebih minim lemak dan kalori. Contohnya, dada ayam yang digoreng dengan minyak banyak, mengandung lebih banyak lemak sekitar 30 persen daripada ayam panggang.

    Sejumlah produsen air fryer menyebut alat memasak modern ini bisa mengurangi kandungan lemak gorengan sampai 75 persen.

    Proses menggoreng makanan dengan minyak berlimpah juga dapat memicu timbulnya senyawa berbahaya akrilamida. Senyawa itu dapat terbentuk dalam makanan kaya karbohidrat yang dimasak dengan suhu tinggi.

    International Agency for Research on Cancer menyatakan akrilamida adalah senyawa yang berpotensi memicu kanker ginjal, endometrium, dan ovarium.

    Namun, menggoreng makanan dengan air fryer dapat menurunkan kadar akrilamida dari gorengan. Satu studi memaparkan, kandungan akrilamida dari gorengan air fryer lebih rendah 90 persen ketimbang gorengan biasa.

    Meski begitu, ahli juga memperingatkan senyawa berbahaya lain masih bisa terbentuk selama memasak dengan menggunakan suhu tinggi, termasuk air fryer. Di antaranya aldehida, amina heterosiklik, dan hidrokarbon aromatik polisiklik, yang dapat meningkatkan risiko kanker (karsinogenik).

    Ahli diet dari Cleveland Clinic Ariana Cucuzza, RD menjelaskan, mengonsumsi gorengan dari air fryer secara umum memang lebih baik karena kandungan kalori dan lemaknya lebih minim ketimbang gorengan biasa.

    Tetapi Cucuzza mewanti-wanti agar konsumsi segala jenis gorengan tetap diminimalkan. Menurutnya, gorengan dari air fryer dan deep fried dimasak dengan suhu tinggi, sehingga masih memiliki risiko karsinogenik. Ia pun menyarankan agar mengonsumsi makanan yang dipanggang, dikukus, atau direbus ketimbang digoreng.