Tag: Konflik Afghanistan

  • Sedikitnya 60 Anggota Taliban Tewas di Kandahar

    Sedikitnya 60 Anggota Taliban Tewas di Kandahar

    TIKTAK.ID – Direktorat Keamanan Nasional Afghanistan (NDS) mengatakan pada Minggu (13/12/20), bahwa 63 anggota kelompok Taliban, termasuk tujuh penyerang bunuh diri, telah tewas dan 29 lainnya terluka di provinsi selatan Kandahar selama 72 jam terakhir.

    Dilansir Sputniknews, Kelompok Taliban terus diburu di tempat persembunyian mereka di seluruh provinsi oleh tim mortir dari Unit NDS 03, kata pihak berwenang melalui siaran persnya.

    Kandahar menjadi saksi mata bentrokan hebat antara pasukan keamanan nasional Afghanistan dan Taliban pada minggu lalu. Menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Afghanistan, lebih dari 150 anggota kelompok Taliban tewas dalam bentrokan dengan tentara sejak 9 Desember.

    Pada hari sebelumnya, Sabtu (12/12/20), USFOR-A, kontingen pasukan AS di Afghanistan, mengonfirmasi telah melakukan serangan udara terhadap Taliban setelah kelompok itu menyerang sebuah pos pemeriksaan tentara Afghanistan di distrik Zhari Kandahar pada 10 Desember.

    Pada Minggu ini, Kementerian Pertahanan Afghanistan melaporkan 60 korban di antara militan Taliban di Kandahar -51 anggota kelompok itu tewas dan sembilan lainnya cedera di distrik Dand, Zhari, Arghandab, Maiwand dan Shah Wali Kot menyusul serangan mereka terhadap posisi tentara Afghansitan.

    Tentara Afghanistan juga telah menjinakkan 13 alat peledak rakitan, serta menemukan dan menghancurkan empat tempat persembunyian senjata dan amunisi milik Taliban.

    Sementara kelompok Taliban, menuduh pasukan keamanan nasional membom rumah-rumah di provinsi Kandahar dan menewaskan 13 warga sipil termasuk anak-anak. Sebagai tanggapan atas tuduhan itu, Kementerian Pertahanan berjanji untuk menyelidiki insiden tersebut.

    Lonjakan kekerasan yang terus meningkat membuat optimisme perdamaian antara Afghanistan dan kelompok Taliban, di Doha, Qatar yang disponsori AS menurun secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

    Sebuah survei yang dilakukan Institut Studi Perang dan Perdamaian yang berbasis di Kabul menemukan bahwa optimisme telah menurun menjadi 57% ketika survei dilakukan dari 29 September hingga 18 Oktober. Angka itu turun 86% dari survei sebelumnya yang dirilis pada Agustus lalu.

    Survei tersebut menemukan bahwa hampir 76% responden mengatakan gencatan senjata harus menjadi prioritas utama dalam pembicaraan damai untuk mencegah bertambahnya korban sipil di Afghanistan.

  • Peneliti: Warga Sipil yang Tewas di Afghanistan Meningkat Sampai 330 Persen

    Peneliti: Warga Sipil yang Tewas di Afghanistan Meningkat Sampai 330 Persen

    TIKTAK.ID – Jumlah warga sipil Afghanistan yang tewas akibat serangan udara yang dilakukan oleh AS dan sekutunya meningkat menjadi 330 persen sejak 2017, kata sebuah studi dari sebuah universitas di AS.

    Dilansir dari BBC, pada 2019 saja, sekitar 700 warga sipil terbunuh, kata Proyek Biaya Perang dari Universitas Brown. Jumlah itu merupakan angka tertinggi sejak tahun-tahun pertama invasi AS setelah serangan 9/11 pada 2001.

    Peneliti itu mengaitkan angka yang naik cukup tinggi, setelah AS melonggarkan aturan keterlibatannya di Afghanistan pada 2017.

    Para peneliti mengatakan peningkatan serangan udara sebagian karena ada pengurangan pasukan AS di darat, tetapi juga tampaknya bertujuan untuk memberikan lebih banyak tekanan kepada kelompok Taliban untuk bersedia melakukan perundingan perdamaian.

    Setelah mencapai kesepakatan dengan kelompok Taliban pada Februari 2020, AS berjanji mengurangi jumlah pasukannya di negara itu, juga menarik serangan udaranya.

    Namun, para peneliti menemukan bahwa militer Afghanistan telah meningkatkan serangan udaranya sendiri dalam beberapa bulan sejak perjanjian AS-Taliban diteken, karena Pemerintah di Kabul masih dalam pembicaraan dengan kelompok militan tersebut.

    Angkatan Udara Afghanistan sekarang “menimbulkan lebih banyak warga sipil Afghanistan yang tewas daripada kapan pun dalam sejarahnya”, sebut makalah penelitian kelompok itu.

    Dalam enam bulan pertama tahun 2020, 86 warga sipil tewas dan 103 lainnya luka-luka dalam serangan udara oleh militer Afghanistan.

    Bulan lalu, badan amal Save the Children menemukan bahwa rata-rata lima anak terbunuh atau terluka setiap hari selama 14 tahun terakhir di Afghanistan.

    Data dari PBB menunjukkan setidaknya 26.025 anak tewas atau cacat sejak 2005 hingga 2019, kata kelompok itu.

    Badan amal tersebut telah mendesak negara-negara donor untuk melindungi masa depan anak-anak Afghanistan menjelang pertemuan penting di Jenewa.

    Kekerasan di Afghanistan telah meningkat di tengah pembicaraan damai yang terhenti dan penarikan pasukan AS.

    Afghanistan adalah salah satu dari 11 negara paling berbahaya di dunia untuk anak-anak, menurut Save the Children.

    Pada tahun lalu, jumlah terbesar pembunuhan dan pelanggaran melukai pada semua konflik global dengan 874 anak-anak Afghanistan tewas dan 2.275 cacat.

    Lebih dari dua pertiga dari mereka yang terbunuh dan cacat tahun lalu adalah anak laki-laki.

    “Mereka terbunuh akibat pertempuran darat antara pasukan pro dan anti-Pemerintah atau alat peledak rakitan dalam serangan bunuh diri dan non-bunuh diri”.

    Laporan tersebut mencatat bahwa sekolah-sekolah secara rutin menjadi target serangan dalam konflik yang sedang berlangsung yang mengadu-domba Pemerintah Afghanistan, didukung oleh pasukan AS, melawan Taliban dan pemberontak lainnya.

    Save the Children mengatakan bahwa antara 2017 dan 2019 ada lebih dari 300 serangan terhadap sekolah.

  • Afghanistan dan Taliban Capai Kesepakatan Awal Menuju Perdamaian

    Afghanistan dan Taliban Capai Kesepakatan Awal Menuju Perdamaian

    TIKTAK.ID – Pemerintah Afghanistan dan perwakilan Taliban mengumumkan pencapaian kesepakatan awal untuk melanjutkan pembicaraan damai, yang akan diawali dengan mendiskusikan tentang peta jalan politik untuk kedua belah pihak.

    Dikutip dari RTnews, kesepakatan tertulis pertama antara kedua belah pihak menandai terobosan baru bagi negara yang telah dilanda perang hampir dua dekade itu.

    “Prosedur yang disepakati itu, termasuk pembukaan negosiasi, telah diselesaikan dan sekarang dimulai dengan beberapa agenda,” kata Anggota tim Pemerintah Afghanistan, Nader Nadery, Rabu (2/12/20).

    Perwakilan dari kantor politik Taliban di Doha, Qatar, Muhammad Naeem memposting pernyataan yang sama di akun Twitter-nya, sementara Juru Bicara kelompok Taliban, Zabihullah Mujahid, kemudian me-retweet-nya.

    Kabul dan Taliban telah melakukan diskusi yang ditengahi oleh Amerika Serikat selama berbulan-bulan di Doha, namun di Afghanistan, anggota kelompok Taliban terus menerus menyerang pasukan Pemerintah. Situasi ini sempat membuat frustasi dan memunculkan kekhawatiran akan menganggu pembicaraan damai kedua belah pihak.

    Perwakilan Khusus AS untuk Rekonsiliasi Afghanistan, Zalmay Khalilzad menyambut baik langkah yang diumumkan pada Rabu ini dan menyebutnya sebagai “tonggak penting,” dan menjelaskan bahwa dokumen yang disepakati di Doha mengatur “aturan dan prosedur untuk negosiasi mereka terkait peta jalan politik dan gencatan senjata yang komprehensif”.

    Terobosan itu berarti bahwa “pihak-pihak yang bernegosiasi dapat menyetujui masalah-masalah yang sulit”, cuit Khalilzad, menambahkan bahwa “kemajuan cepat pada peta jalan politik” sekarang dibutuhkan.

    Selama tahap awal negosiasi, Taliban menolak untuk menyetujui gencatan senjata, dan kelompok itu menolak isi pembukaan dokumen itu pada bulan lalu karena menyebutkan Pemerintah Afghanistan, yang oleh para Taliban dipandang sebagai boneka Washington.

    Namun, kelompok Taliban kemudian membuat kesepakatan damai dengan AS pada 29 Februari, dan sebagai imbalannya, AS setuju untuk dilakukan penarikan semua pasukan AS dan NATO dari Afghanistan pada Mei 2021.

    Taliban, yang digulingkan dari kekuasaan di Afghanistan oleh pasukan pimpinan AS pada 2001, juga mengatakan pada awal November bahwa mereka mengharapkan Presiden terpilih AS, Joe Biden untuk tetap berpegang pada perjanjian damai yang bertujuan mengakhiri perang di Afghanistan.

  • Afghanistan Diguncang Dua Ledakan Bom, 14 Orang Tewas

    Afghanistan Diguncang Dua Ledakan Bom, 14 Orang Tewas

    TIKTAK.ID – Dua ledakan hantam provinsi Bamiyan, Afghanistan tengah, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 45 lainnya, kata pejabat provinsi itu pada Selasa (24/11/20), saat komunitas internasional menjanjikan bantuan dana untuk Afghanistan pada konferensi di Swiss.

    Kedua bom itu disembunyikan di pinggir jalan di pasar utama kota Bamiyan, menewaskan 12 warga sipil dan dua polisi lalu lintas, kata Zabardast Safai, Kepala Polisi provinsi itu, seperti yang dilaporkan Reuters.

    Sementara 45 orang lainnya terluka yang sebagian besar merupakan pengunjung restoran dan toko terdekat, kata Safai menambahkan.

    Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Tariq Arian mengatakan dua bom magnetis meledak di pasar yang ramai, dan menyebutnya sebagai “kejahatan yang tak termaafkan”.

    “Saat saya sampai di pasar… masih ada darah dan bagian tubuh dimana-mana. Ledakan itu terjadi saat orang-orang sedang ramai berbelanja,” kata warga setempat Anwar Saadatyar kepada kantor berita AFP.

    “Saya kemudian mengunjungi rumah sakit dan melihat orang-orang menangisi kerabat mereka yang tewas atau terluka dalam ledakan itu,” katanya.

    “Ada begitu banyak orang yang terluka sehingga dokter tidak tahu siapa yang harus dirawat terlebih dahulu. Saya tidak akan pernah melupakan peristiwa itu.”

    Pada hari yang sama, lusinan negara mulai menjanjikan bantuan miliaran dolar untuk Afghanistan pada konferensi di Jenewa. Mereka berharap bahwa negosiasi perdamaian yang baru-baru ini dimulai antara Pemerintah dan Taliban akan mengakhiri perang selama hampir dua dekade.

    Bamiyan selama ini telah dilihat sebagai provinsi teraman di negara itu karena lokasinya yang terpencil di pegunungan tengah. Suku lokal yang dominan di wilayah itu, Hazara, menentang Taliban, sementara sebagian besar etnis Pashtun membantai ribuan Hazara selama pemerintahan mereka.

    Taliban, yang telah melancarkan pemberontakan terhadap Pemerintah Kabul yang didukung asing sejak digulingkan pada akhir 2001, membantah terlibat dalam pemboman itu.

    Hazara sebagian besar adalah Muslim Syiah. Minoritas Syiah telah berulang kali menjadi korban penyerangan militan Sunni, terutama dari kelompok teroris ISIS di Afghanistan.

    Hampir 6.000 warga sipil Afghanistan tewas atau terluka dalam sembilan bulan pertama tahun ini karena pertempuran sengit antara pasukan Pemerintah dan kelompok Taliban terus berlangsung meskipun ada upaya untuk mencapai perdamaian, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

  • Terus Bertambah, Korban Serangan Teror ke Kampus di Kabul Jadi 35 Orang

    Terus Bertambah, Korban Serangan Teror ke Kampus di Kabul Jadi 35 Orang

    TIKTAK.ID – Korban tewas akibat serangan ke sebuah Universitas di Kabul terus bertambah menjadi sedikitnya 35 orang tewas, kata dua sumber Pemerintah, Selasa (3/11/20), ketika para mahasiswa melancarkan protes atas serangan itu dan menandai hari berkabung.

    Dikutip dari kantor Berita Reuters, sekelompok orang bersenjata menerobos masuk ke universitas pada Senin kemarin, dalam serangan kedua terhadap sebuah universitas di Ibu Kota Afghanistan hanya dalam waktu sepekan. Kedua serangan itu diklaim oleh ISIS.

    ISIS juga mengklaim serangan sebelumnya, yang menewaskan 24 orang di daerah Dashte Barchi di Kabul.

    Dalam sebuah pesan di aplikasi perpesanan Telegram, sebuah akun yang mengaku milik ISIS mengatakan mereka telah “membunuh dan melukai 80 hakim, penyelidik, dan personel keamanan Afghanistan” yang tengah berkumpul untuk sebuah acara di Fakultas Hukum.

    Kedua sumber tersebut mengatakan bahwa sebagian besar dari korban yang tewas adalah pelajar dan sekitar 50 orang lainnya terluka, beberapa dari mereka mengalami patah anggota badan saat melompat dari jendela untuk menyelamatkan diri dari serangan pagi itu.

    Secara resmi jumlah korban tewas mencapai 22 dengan 27 lainnya luka-luka, menurut Kementerian Dalam Negeri.

    Negara itu mengumumkan hari berkabung pada Selasa ini, dengan banyak bendera dikibarkan setengah tiang.

    Selasa ini, sekitar 100 mahasiswa berkumpul di luar universitas untuk memprotes bahwa pembicaraan damai dengan kelompok Taliban di Doha ternyata tidak mengarah pada pengurangan kekerasan.

    “Meskipun kami melihat serangan semacam ini setiap hari, masih ada pembicaraan damai dengan mereka, yang benar-benar mengerikan,” kata seorang mahasiswa yang memprotes, Zaryab Paryani.

    Taliban sendiri membantah terlibat dalam serangan itu, termasuk ledakan bulan lalu -juga diklaim oleh ISIS- yang menewaskan puluhan siswa di sebuah pusat bimbingan.

    Tetapi beberapa pejabat Pemerintah Afghanistan, termasuk Wakil Presiden Pertama Amrullah Saleh, menuding Taliban terlibat.

    Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid di Twitter menuduh Pemerintah “menganggap publik sebagai orang bodoh”.

    Negosiator dari Pemerintah Afghanistan dan Taliban mengadakan pembicaraan di Doha dengan tujuan menengahi kesepakatan damai saat Amerika Serikat menarik pasukannya dari Afghanistan.

  • Kelompok Bersenjata Serbu Universitas di Afghanistan

    Kelompok Bersenjata Serbu Universitas di Afghanistan

    TIKTAK.ID – Sekelompok pria bersenjata menyerbu sebuah universitas di Kabul, Afghanistan ketika sedang berlangsung pembukaan pameran buku Iran pada Senin (2/11/20). Serangan itu melukai sedikitnya enam orang, kata pejabat Pemerintah.

    Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Tariq Arian mengatakan beberapa pria bersenjata tiba-tiba masuk kampus, membuat mahasiswa terkejut dan melarikan diri.

    “Musuh Afghanistan, musuh pendidikan … telah memasuki Universitas Kabul,” kata Arian kepada wartawan.

    Dikutip dari BBC, dia mengatakan, selanjutnya pasukan keamanan langsung memblokir kampus dan membalas tembakan ke arah orang-orang bersenjata itu.

    “Aparat keamanan berada di daerah itu mencoba mengendalikan situasi. Mereka maju dengan hati-hati untuk mencegah bahaya apa pun terhadap para mahasiswa.”

    Kelompok Taliban membantah terlibat dalam serangan itu.

    Pusat pendidikan Afghanistan bukan sekali dua kali mendapat serangan, sudah sering kali menjadi sasaran kelompok militan dalam beberapa tahun terakhir.

    “Kami tidak tahu apakah kami akan menghadapi serangan terkoordinasi atau yang lainnya lagi,” kata Arian.

    Juru Bicara Kementerian Pendidikan Tinggi Afghanistan, Hamid Obaidi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa serangan itu berawal ketika pejabat Pemerintah diperkirakan akan tiba untuk membuka pameran buku itu.

    Sementara rekaman video dari tempat kejadian menggambarkan bagaimana para mahasiswa berjalan dan melarikan diri dari universitas untuk menyelamatkan diri, dengan suara tembakan di belakang mereka. Beberapa dinding terkelupas digunakam untuk berlindung ketika mereka melarikan diri.

    Wakil Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Masooma Jafari mengatakan kepada AFP bahwa empat orang korban luka-luka telah dilarikan ke rumah sakit.

    Ini bukan serangan pertama, sebelumnya pada bulan lalu, serangan di luar pusat pendidikan di Kabul oleh kelompok Negara Islam (ISIS) menewaskan 24 orang. Kelompok itu juga mengaku bertanggung jawab atas serangan pada 2018 di depan universitas yang menewaskan puluhan orang.

    Kekerasan di Afghanistan memburuk dalam beberapa bulan terakhir bahkan ketika Taliban melakukan pembicaraan damai dengan Pemerintah Kabul di Doha, Qatar.

    Seorang pejabat senior PBB mengatakan kepada BBC pekan lalu bahwa al-Qaeda masih “tertanam kuat” di dalam Taliban, meskipun ada jaminan dari pejabat Taliban kepada AS bahwa kelompok Taliban akan memutuskan hubungan dengan kelompok teror itu.

  • Bom Bunuh Diri di Afghanistan Tewaskan 24 Orang

    Bom Bunuh Diri di Afghanistan Tewaskan 24 Orang

    TIKTAK.ID – Sedikitnya 24 orang tewas termasuk para pelajar dan melukai puluhan lainnya, karena serangan bom bunuh diri di sebuah pusat pendidikan di Kabul, Afghanistan, Sabtu (24/10/20).

    Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Tariq Arian mengatakan penjaga keamanan telah mengidentifikasi seorang pembom yang meledakkan bahan peledak di jalan di luar pusat Kawsar-e Denmark.

    Kementerian Kesehatan mengatakan, sebagian besar korban adalah pelajar yang berusia antara 15 dan 26 tahun. Sementara, 57 orang terluka dalam serangan itu, kata Kementerian Dalam Negeri.

    Juru Bicara Taliban melalui akun Twitter-nya membantah bertanggung jawab atas serangan itu. Serangan itu terjadi pada waktu yang sensitif ketika Taliban dan Pemerintah bertemu di Qatar untuk mencari kesepakatan damai.

    Sementara, ISIS mengklaim bertanggung jawab dalam pernyataannya di Telegram, tanpa menyertakan bukti.

    Kerumunan terjadi di rumah sakit terdekat, ketika anggota keluarga berkumpul untuk mencari orang-orang terkasih yang hilang di antara kantong mayat yang berisi sisa-sisa tubuh mereka yang tewas, diletakkan di lantai rumah sakit. Sementara petugas di luar mendorong pasien yang terluka dengan tandu untuk perawatan, kata seorang saksi mata kepada Reuters.

    Serangan itu terjadi di daerah Kabul barat yang merupakan rumah bagi banyak komunitas Syiah di negara itu, kelompok minoritas Islam di Afghanistan yang menjadi sasaran kelompok-kelompok seperti ISIS di masa lalu.

    Puluhan siswa tewas di daerah yang sama di Kabul dalam serangan terhadap pusat pendidikan lain pada 2018 lalu.

    Seorang guru di pusat Kawsar-e Denmark, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena masalah keamanan, mengatakan bahwa dia dan staf pengajar lainnya terkejut dengan penargetan lembaga yang telah memberikan bimbingan untuk memberi ribuan anak jalanan ke pendidikan tinggi.

    “Semua siswa penuh energi, termasuk keluarga miskin, tapi berharap masa depan lebih cerah,” ujarnya.

    Serangan terbaru terjadi setelah pertempuran sengit di beberapa provinsi dalam beberapa pekan terakhir, yang telah membuat ribuan warga sipil mengungsi.

    Utusan Khusus AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad pada Minggu (25/10/20) pagi, menyerukan pengurangan segera segala bebtuk kekerasan dan percepatan dalam proses perdamaian, mengutip meningkatnya kekerasan di negara itu dalam beberapa pekan terakhir termasuk temuan oleh komisi hak asasi manusia bahwa serangan udara Pemerintah Afghanistan telah menewaskan 12 anak-anak.

    “Berapa banyak lagi yang bisa kita tanggung, sebagai individu dan sebagai masyarakat? Berapa kali kita bisa bangkit?” tanya Shaharzad Akbar, Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Independen Afghanistan di Twitter tak lama setelah serangan pada Sabtu kemarin. Dia menegaskan bahwa penargetan warga sipil adalah kejahatan perang.

  • Bom Mobil di Afghanistan Tewaskan 15 Orang

    Bom Mobil di Afghanistan Tewaskan 15 Orang

    TIKTAK.ID – Sedikitnya 15 orang tewas dan lebih dari 40 lainnya luka-luka dalam sebuah serangan bom mobil bunuh diri yang menargetkan gedung Pemerintah di provinsi Nangarhar, Afghanistan Timur, kata para pejabat, Sabtu (3/10/20).

    Namun, ada kekhawatiran jumlah korban tewas dapat bertambah pada serangan bom di pintu masuk gedung administrasi yang juga menampung beberapa fasilitas militer di distrik Ghani Khel itu, tulis Al Jazeera.

    “Bom mobil meledak di pintu masuk gedung markas distrik. Setelah itu, beberapa orang bersenjata mencoba memasuki gedung setelah serangan itu, namun mereka tewas oleh pasukan keamanan,” kata Juru Bicara Gubernur Attaullah Khogyani kepada kantor berita AFP.

    “Akibatnya, 13 warga sipil termasuk satu perempuan dan empat anak tewas. Dua anggota pasukan keamanan juga tewas,” katanya.

    “Empat puluh dua orang, termasuk empat anggota pasukan keamanan, terluka,” tambah Khogyani.

    Juru Bicara Polisi provinsi, Farid Khan mengonfirmasi rinciannya.

    Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

    Kelompok bersenjata seperti ISIL (ISIS) dan Taliban telah melakukan sejumlah serangan terhadap Pemerintah Afghanistan, personel keamanan dan pertahanan nasional, serta warga sipil.

    Serangan itu terjadi ketika perwakilan Pemerintah Afghanistan dan Taliban terlibat dalam negosiasi di Ibu Kota Qatar, Doha, untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

    Pembicaraan intra-Afghanistan mengikuti perjanjian Amerika Serikat-Taliban yang ditandatangani pada Februari di Doha.

    Ini bukan serangan bom pertama sejak dimulainya perundingan perdamaian antara Kabul dan Taliban di Doha. Pada bulan lalu serangan bom juga terjadi di Ibu Kota Afghanistan, Kabul. Serangan bom itu menarget konvoi Wakil Presiden Afghanistan, Amrullah Saleh yang mengalami luka bakar ringan. Namun 10 orang tewas dan sedikitnya 31 orang lainnya luka-luka akibat serangan itu. Beberapa korban termasuk pengawal Wakil Presiden.

    Bom itu disembunyikan di gerobak yang diletakkan di pinggir jalan dan diledakkan ketika iring-iringan mobil Wakil Presiden lewat.

    Tak ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan pemboman itu, bahkan Taliban dengan cepat menyangkal mereka berada di balik serangan itu.

  • Baku Tembak Warnai Pembicaraan Damai Afghanistan-Taliban

    Baku Tembak Warnai Pembicaraan Damai Afghanistan-Taliban

    TIKTAK.ID – Dimulainya pembicaraan damai antara Afghanistan dan Taliban di Doha pada Sabtu (12/9/20) kemarin bukan berarti bentrokan antara keduanya berakhir. Buktinya, beberapa jam setelah pembicaraan damai, kedua kubu kembali terlibat bentrok, kata para pejabat Afghanistan.

    Pembicaraan antara kedua belah pihak akan dimulai tak lama setelah perjanjian Amerika-Taliban pada Februari lalu, namun pembicaraan itu hanya bisa dimulai pada akhir pekan ini setelah penundaan berbulan-bulan, sebagian disebabkan oleh serangan Taliban yang berkelanjutan di negara yang dilanda perang itu.

    “Dengan dimulainya pembicaraan intra-Afghanistan kami mengharapkan Taliban mengurangi jumlah serangan mereka, tetapi sayangnya serangan mereka masih tetap tinggi,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Fawad Aman.

    Perwakilan dari sejumlah negara yang berbicara pada peresmian perundingan perdamaian meminta Taliban untuk segera mengumumkan gencatan senjata sebelum negosiator duduk untuk menemukan cara mengakhiri perang selama puluhan tahun di Afghanistan.

    Namun Taliban tidak mengatakan apa-apa tentang kemungkinan akan dilakukannya gencatan senjata pada pertemuan itu.

    Pengurangan kekerasan yang signifikan dan bagaimana mencapai gencatan senjata permanen akan menjadi salah satu masalah pertama yang akan dibahas kedua belah pihak ketika mereka bertemu pada Minggu ini, kata Kepala Dewan Perdamaian Afghanistan, Abdullah Abdullah, kepada Reuters pada Sabtu kemarin.

    Tidak ada laporan pertemuan antara kedua belah pihak di Doha pada Minggu ini, namun kantor berita Qatar melaporkan tim yang dipimpin oleh Kepala Politik Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar dan Abdullah telah bertemu dengan Emir Qatar.

    Aman mengatakan bahwa, pada Jumat sebelumnya, menjelang pembukaan perundingan, Taliban telah melakukan 18 serangan terhadap pasukan dan instalasi Pemerintah di seluruh negeri, yang menimbulkan banyak korban.

    “Kami tidak memiliki informasi pasti tentang serangan Taliban pada Sabtu kemarin, tetapi saya dapat mengatakan jumlah serangan telah meningkat, bukannya menurun.”

    Serangan Taliban pada Sabtu malam dikonfirmasi oleh para pejabat di provinsi Kapsia dan Kunduz.

    Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan dalam sebuah pernyataannya bahwa kelompok Taliban menyerang konvoi pasukan Afghanistan yang datang untuk melancarkan operasi di sepanjang jalan raya utama di Kunduz.

    Dia menambahkan bahwa pasukan keamanan melakukan serangan udara dan artileri pada Sabtu malam di provinsi Baghlan dan Jowzjan.

  • Wakil Presiden Afghanistan Jadi Target Serangan Bom yang Tewaskan 10 Orang

    Wakil Presiden Afghanistan Jadi Target Serangan Bom yang Tewaskan 10 Orang

    TIKTAK.ID – Sebuah serangan bom yang menargetkan wakil Presiden Afghanistan, Amrullah Saleh menyebabkan sedikitnya 10 orang tewas. Akibat serangan pada Rabu (9/9/20 itu Saleh mengalami luka ringan di wajah dan tangannya.

    Serangan bom yang terjadi di pinggir jalan Ibu Kota Afghanistan, Kabul itu terjadi ketika para pejabat Afghanistan dan Taliban bersiap untuk memulai pembicaraan damai resmi mereka untuk pertama kalinya, tulis BBC.

    Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan melalui akun Twitternya bahwa mereka bukan pelaku ledakan itu.

    Rekaman yang beredar di internet tidak lama setelah ledakan menunjukkan asap hitam besar mengepul dari tempat kejadian.

    Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Tareq Arain mengatakan bahwa serangan bom itu menargetkan konvoi Saleh saat dia berangkat bekerja. Arain mengatakan 10 warga sipil yang bekerja di daerah itu tewas dan 15 orang, termasuk salah satu pengawal Saleh, terluka.

    Seorang saksi ledakan mengatakan dia mengemudi melewati lokasi itu dalam perjalanan ke klinik ketika bom meledak.

    “Saya kehilangan salah satu saudara saya, dan yang lainnya terluka,” kata pria itu kepada kantor berita Reuters segera setelah ledakan itu. “Pemerintahan macam apa ini? Tidak ada ambulans, dan bahkan polisi pun belum datang,” protesnya.

    Saleh merupakan mantan Kepala Badan Intelijen Afghanistan dan dikenal sebagai lawan paling vokal Taliban. Dia telah selamat dari sejumlah upaya pembunuhan sebelumnya, termasuk pada tahun lalu yang menewaskan 20 orang di kantornya. Berbicara setelah ledakan pada Rabu, dia berjanji untuk melanjutkan pekerjaan politiknya.

    Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani bertemu dengan Saleh setelah serangan itu, pada Rabu pagi.

    “Para teroris dan pendukung asing mereka tidak dapat merusak keyakinan kuat rakyat pada perdamaian, demokrasi dan masa depan cerah negara kami,” kata Ghani dalam sebuah pernyataannya.

    Delegasi Uni Eropa di Afghanistan mengutuk serangan itu, menyebutnya sebagai “tindakan putus asa oleh perusak upaya perdamaian, yang harus dihadapi secara kolektif”.

    Para pejabat Afghanistan diperkirakan akan memulai pembicaraan yang lama tertunda dengan Taliban dalam beberapa hari mendatang di Doha, Qatar, dalam upaya mencapai rekonsiliasi politik setelah bertahun-tahun pertumpahan darah.

    Taliban menandatangani kesepakatan pada Februari dengan Amerika untuk mengakhiri konflik selama 18 tahun antara keduanya. Perjanjian perdamaian menyepakati penghentian serangan Taliban terhadap pasukan Amerika tetapi kelompok militan terus menargetkan militer dan Pemerintah Afghanistan.

    Namun Taliban pada Februari lalu berjanji untuk tidak melancarkan serangan di daerah perkotaan, seperti yang terjadi di Kabul pada Rabu ini.

    Kelompok yang disebut ISIS juga telah melancarkan berbagai serangan tingkat tinggi di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir.

    Pada Agustus, kelompok itu mengaku bertanggung jawab atas operasi terhadap sebuah penjara di kota Jalalabad timur yang menewaskan 29 orang dan memungkinkan ratusan narapidana melarikan diri.