Tag: Konflik Afghanistan

  • Ledakan Bom di Kabul, Lima Orang Tewas

    Ledakan Bom di Kabul, Lima Orang Tewas

    TIKTAK.ID – Sedikitnya lima warga sipil tewas dalam ledakan bom di luar masjid Kabul, pada Minggu (3/10/21), kata seorang pejabat Taliban. Ini merupakan serangan paling mematikan di Ibu Kota Afghanistan sejak pasukan AS pergi pada akhir Agustus, dilansir The Associated Press.

    Belum ada klaim yang bertanggung jawab, namun ada kecurigaan serangan itu dilakukan ISIS yang telah meningkatkan serangan terhadap Taliban dalam beberapa pekan terakhir, terutama di kubu ISIS di Afghanistan timur.

    Sebuah bom di pinggir jalan meledak di pintu gerbang Masjid Idul Fitri yang luas di Kabul pada saat upacara peringatan yang diadakan untuk seorang ibu dari Jubir utama Taliban, Zabihullah Mujahid. Lima orang tewas, kata Jubir Kementerian Dalam Negeri, Qari Saeed Khosti.

    Ledakan itu menggarisbawahi meningkatnya tantangan yang dihadapi Taliban hanya beberapa minggu setelah Taliban menguasai Afghanistan dalam kampanye kilat, yang berpuncak pada pengambilalihan Kabul pada 15 Agustus.

    Jubir Taliban lainnya, Bilal Karimi menyatakan bahwa ada tiga tersangka pelaku peledakan pada Minggu di Kabul. Dia juga mengatakan pejuang Taliban tidak terluka.

    Seorang warga Kabul, Mohammad Israil mengatakan dia mendengar “suara keras” dan melihat orang-orang melarikan diri.

    Sebuah rumah sakit darurat yang didanai Italia di Kabul dalam cuitannya mengatakan telah menerima empat orang terluka akibat ledakan itu.

    Daerah di sekitar masjid ditutup oleh Taliban, yang menjaga keamanan dengan ketat. Kemudian pada sore hari situs itu mulai dibersihkan. Satu-satunya tanda ledakan adalah kerusakan ringan pada lengkungan ornamen di gerbang masuk.

    Kelompok ISIS telah meningkatkan serangan terhadap Taliban sejak pengambilalihan pertengahan Agustus, menandakan konflik yang meluas di antara mereka.

    ISIS berusaha mempertahankan kehadiran yang kuat di provinsi timur Nangarhar, di mana mereka telah mengklaim bertanggung jawab atas beberapa pembunuhan di Ibu Kota provinsi Jalalabad.

    Pada akhir Agustus, seorang pembom bunuh diri ISIS menargetkan upaya evakuasi Amerika di bandara internasional Kabul. Ledakan itu menewaskan 169 warga Afghanistan dan 13 tentara AS dan merupakan salah satu serangan paling mematikan di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

  • Selain Siap Berunding, Pemimpin Veteran Afghanistan Nyatakan Siap Berperang dengan Taliban

    Selain Siap Berunding, Pemimpin Veteran Afghanistan Nyatakan Siap Berperang dengan Taliban

    TIKTAK.ID – Sekelompok pemimpin veteran Afghanistan, termasuk dua komandan regional, berupaya untuk melakukan pembicaraan dengan Taliban dan berencana untuk bertemu dalam beberapa minggu ke depan guna membentuk front baru untuk mengadakan negosiasi tentang Pemerintah negara berikutnya.

    Putra Atta Mohammad Noor, Gubernur yang pernah berkuasa di provinsi Balkh Afghanistan utara, Khalid Noor mengatakan bahwa kelompok itu terdiri dari pemimpin veteran etnis Uzbekistan Abdul Rashid Dostum dan lainnya yang menentang pengambilalihan Taliban.

    “Kami lebih suka berunding secara kolektif, karena masalah Afghanistan tidak akan diselesaikan hanya oleh salah satu dari kami,” kata Noor, 27, dalam sebuah wawancara dari lokasi yang dirahasiakan, seperti yang dilaporkan Aljazeera, Minggu (29/8/21).

    “Jadi, penting bagi seluruh komunitas politik negara untuk terlibat, terutama para pemimpin adat, mereka yang berkuasa, dengan dukungan publik,” kata Noor.

    Atta Noor dan Dostum, veteran 40 tahun konflik di Afghanistan, keduanya melarikan diri dari negara itu ketika kota utara Mazar-i Sharif jatuh ke tangan Taliban tanpa perlawanan.

    Pemerintah dan militer yang didukung AS gulung tikar di tempat lain ketika Taliban menyerbu Kabul pada 15 Agustus.

    Diskusi itu adalah tanda orang kuat tradisional negara itu hidup kembali setelah kampanye militer Taliban yang menakjubkan.

    Akan menjadi tantangan bagi entitas mana pun untuk memerintah Afghanistan dalam waktu lama tanpa konsensus antara tambal sulam etnis di negara itu, kata sebagian besar analis.

    Tidak seperti periode kekuasaan mereka sebelumnya pada 2001, Taliban yang didominasi Pashtun memang mencari dukungan dari sejumlah pihak seperti Tajik, Uzbek, dan minoritas lainnya saat mereka mempersiapkan serangan mereka bulan lalu.

    “Taliban pada saat ini sangat, sangat arogan karena mereka baru saja menang secara militer. Tetapi apa yang kami asumsikan adalah bahwa mereka tahu risiko memerintah seperti yang mereka lakukan sebelumnya,” kata Noor, merujuk pada pengecualian rezim Taliban sebelumnya terhadap kelompok etnis minoritas.

    Meskipun ada komitmen untuk negosiasi, Noor mengatakan ada “risiko besar” pembicaraan bisa gagal, membuat kelompok itu sudah bersiap untuk perlawanan bersenjata melawan Taliban bila hal itu terjadi.

    “Menyerah tidak mungkin bagi kami,” kata Noor, anggota termuda dari tim mantan Pemerintah Afghanistan yang mengadakan pembicaraan dengan Taliban di Qatar.

    Ahmad Massoud, pemimpin pos terdepan terakhir perlawanan anti-Taliban Afghanistan, pekan lalu juga mengatakan dia berharap pembicaraan dengan Taliban akan mengarah pada Pemerintahan yang inklusif, yang jika gagal, pasukannya siap untuk melawan.

    Masih belum pasti berapa banyak dukungan rakyat yang sebenarnya didapat oleh para pemimpin seperti Atta Noor, yang secara luas dituduh melakukan korupsi, dan Dostum, yang dituduh melakukan berbagai tindakan penyiksaan dan kebrutalan yang dijelaskan dalam laporan Departemen Luar Negeri AS sebagai “panglima perang klasik”. Meski kedua pemimpin membantah tuduhan itu.

    Taliban, yang sudah menjadi kekuatan militer yang tangguh, sekarang memiliki sekitar 2.000 kendaraan lapis baja, hingga 40 pesawat, merupakan senjata yang ditinggalkan oleh pasukan Afghanistan yang melarikan diri, yang berpotensi memperkuat daya tembak mereka.

    Namun, Noor mengatakan Taliban tidak akan mampu bertahan melawan perlawanan rakyat.

    “Sejarah telah menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun di Afghanistan yang dapat memerintah dengan paksaan, itu tidak mungkin,” kata politisi berpendidikan Barat itu. “Tidak peduli berapa banyak dukungan yang mereka dapatkan dari komunitas internasional, hal itu akan gagal.”

  • Angelina Jolie Tulis Surat untuk Remaja Afghanistan

    Angelina Jolie Tulis Surat untuk Remaja Afghanistan

    TIKTAK.ID – Setelah lama tidak terdengar kabarnya, kini aktris Angelina Jolie kembali membuka diri kepada publik dunia. Mantan istri Brad Pitt tersebut sekarang memiliki akun Instagram dengan jumlah pengikut mencapai 3,6 juta.

    Padahal akun Instagram Angelina Jolie baru saja dibuat sekitar 8 jam yang lalu. Pada bio akunnya, ia menuliskan keterangan dirinya yang merupakan seorang sutradara, dan utusan khusus PBB untuk pengungsi.

    Unggahan pertama Angelina Jolie di akunnya, memberikan penghormatan kepada para perempuan Afghanistan. Dalam unggahan perdana itu, Angelia Jolie menuliskan surat yang ditulis tangan dan dikirimkan kepada seorang remaja Afghanistan.

    “Saat ini, masyarakat Aghanistan sedang kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi di media sosial dan mengekspresikan diri secara bebas,” tulis Angelina Jolie, Sabtu (21/8/21), seperti dilansir detik.com.

    Kemudian Angelina Jolie mengaku ingin berbagi cerita dan perjuangan agar suaranya didengar.

    Angelina Jolie mengklaim sempat berada di perbatasan Afghanistan sebelum peristiwa 9/11 dan bertemu dengan pengungsi Afghanistan.

    “Sungguh memuakkan ketika melihat warga Afghanistan telantar lagi karena ketakutan dan ketidakpastian yang telah mencengkeram negara mereka,” kata pemain film “Maleficent” itu.

    Angelina Jolie pun mengatakan sudah selama beberapa dekade menyaksikan bagaimana pengungsi Afghanistan diperlakukan seperti beban dan juga memuakkan.

    “Saya juga bertemu dengan banyak perempuan yang tidak hanya menginginkan pendidikan, melainkan juga berjuang untuk itu. Seperti orang lain yang berkomitmen, maka saya tidak akan berpaling. Saya akan terus mencari cara untuk membantu, dan saya harap Anda juga akan bergabung dengan saya,” tutur Angelina Jolie.

    Seperti diketahui, saat ini ribuan warga Afghanistan sedang berada dalam ketakutan dan berusaha untuk keluar dari negaranya. Pasalnya, usai penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, Taliban dengan cepat mengambil alih kekuasaan, sehingga ketakutan pun menyebar secara luas di negara itu.

    Sekadar informasi, Taliban telah memegang kekuasaan pada 1999 sampai 2001 dan memimpin rezim dengan penuh penindasan. Ketika itu, para perempuan dikurung di rumah dan eksekusi atas kejahatan warga sering terjadi.

    Saat ini, meski Taliban menyatakan bahwa mereka telah berubah, tetapi masyarakat Afghanistan tetap banyak yang tidak percaya.

  • Taliban Deklarasikan Terbentuknya Negara ‘Imarah Islam Afghanistan’

    Taliban Deklarasikan Terbentuknya Negara ‘Imarah Islam Afghanistan’

    TIKTAK.ID – Tak membutuhkan waktu lama bagi Taliban untuk mengumumkan pembentukan negara baru di Afghanitan dengan nama “Imarah Islam Afghanistan”. Pengumuman itu disampaikan setelah mereka berhasil merebut Kabul dari Pemerintahan yang didukung Barat dan 102 tahun setelah Inggris melepaskan kekekuasaannya atas negara itu.

    Dalam sebuah posting Twitter pada Kamis, Jubir resmi Taliban, Zabiullah Mujahid mengumumkan pembentukan negara baru, “Imarah Islam Afghanistan”. Dia juga membagikan gambar bendera emirat yang tampaknya digabungkan dengan Taliban, seperti yang dilaporkan RTnews.

    Deklarasi itu dilakukan kurang dari seminggu setelah jatuhnya Ibu Kota negara, Kabul, ke tangan kelompok militan Islam. Mujahid juga menyatakan bahwa pendirian “Imarah Islam Afghanistan” dilakukan 102 tahun setelah Inggris melepaskan kendali atas negara itu. Pada 19 Agustus diperingati sebagai hari libur nasional di Afghanistan, yaitu memperingati kemerdekaannya dari negara adidaya kolonial.

    Organisasi Islam itu telah lama menggunakan nama “Imarah Islam Afghanistan” untuk menyebut dirinya dalam komunikasi resmi.

    Pada Minggu kemarin, kelompok Taliban mengklaim kendali atas Kabul ketika Presiden terguling Ashraf Ghani melarikan diri, mencari perlindungan di Uni Emirat Arab. Pada Selasa, tanpa ketidakhadiran Ghani, Wakil Presiden Pertama Amrullah Saleh mengatakan dia saat ini berada di negara itu dan oleh karena itu, menurut konstitusi, maka dengan ketidakadaan presiden, ia pemimpin yang sah negara itu.

    Pada Selasa malam, salah satu pendiri Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar kembali ke Afghanistan dari pengasingannya di Ibu Kota Qatar, Doha. Baradar disambut hangat di tempat kelahiran Taliban di Kandahar, dengan ratusan orang berbaris di jalan-jalan untuk menyambut tokoh masyarakat dan pemimpin politik kelompok itu.

    Beberapa percaya dia akan menjadi presiden negara berikutnya, meskipun Haibatullah Akhundzada yang ilusif dianggap sebagai pemimpin Taliban.

    Pada Rabu, timbul kerusuhan yang setidaknya mengakibatkan tiga orang tewas di Jalalabad, menurut saksi mata, ketika orang-orang bersenjata Taliban menembaki kerumunan pengunjuk rasa.

    Rekaman dari kota timur menunjukkan demonstran meruntuhkan standar Taliban dan mengibarkan bendera Afghanistan.

    Sejak pengambilalihan Taliban, ada juga protes di Khost dan Asadabad, meskipun tidak ada laporan tentang penembakan ke arah demonstrasi tersebut.

  • Taliban Tegaskan Perang di Afghanistan Sudah Berakhir

    Taliban Tegaskan Perang di Afghanistan Sudah Berakhir

    TIKTAK.ID – Menurut laporan, Taliban telah mengambil alih stasiun televisi Pemerintah di Kabul, mereka kemudian meminta warga untuk tetap tenang. Sebelumnya Taliban menegaskan bahwa mereka telah menguasai Ibu Kota Afghanistan, dengan video yang beredar secara online menunjukkan mereka telah menduduki Istana Kepresidenan.

    Juru bicara kantor politik Taliban, Mohammad Naeem, kepada Al-Jazeera mengatakan bahwa perang di Afghanistan telah berakhir.

    Naeem berpendapat bahwa Taliban “mengakhiri perang yang meletus di negara kita 20 tahun lalu”.

    “Kami siap untuk berdialog dengan semua tokoh Afghanistan dan akan menjamin perlindungan yang mereka perlukan,” kata Naeem kepada saluran tersebut. “Kami tidak berpikir bahwa pasukan asing akan mengulangi pengalaman gagal mereka di Afghanistan sekali lagi.”

    Juru bicara itu juga menggarisbawahi bahwa Taliban tidak akan “mengizinkan siapa pun menggunakan tanah kami untuk menargetkan siapa pun” dan mengatakan bahwa kelompok itu “tidak ingin menyakiti orang lain”, seperti yang dikutip dari Sputniknews.

    “Kami telah mencapai apa yang kami cari, yaitu kebebasan negara kami dan kemerdekaan rakyat kami,” katanya.

    Ketika Taliban mengklaim kendali atas Ibu Kota Afghanistan, beberapa negara mengevakuasi personel diplomatik mereka dari negara itu, dan kerumunan orang berbondong-bondong ke bandara Kabul berusaha untuk meninggalkan Afghanistan.

    Naeem menyatakan bahwa semua kedutaan dan misi diplomatik asing aman di Kabul, mendesak “semua orang” di kota itu untuk tetap “dalam kepercayaan penuh”.

    “Kami menjamin semua kedutaan, misi diplomatik, institusi, dan tempat tinggal warga negara asing di Kabul bahwa tidak ada bahaya bagi mereka. Setiap orang di Kabul harus dalam kepercayaan penuh, dan pasukan Imarah Islam ditugaskan untuk menjaga keamanan di Kabul dan kota-kota lain di negara ini”, katanya melalui akun twitternya.

    Taliban memasuki Kabul pada Minggu (15/8/21), sementara Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, melarikan diri dari negara itu tak lama kemudian, ia dilaporkan menuju ke Tashkent. Ghani mengatakan dia melakukan itu untuk menghindari pertumpahan darah, juga mengumumkan pengunduran dirinya.

    Menurut Ghani, kelompok Taliban mungkin telah memenangkan “peperangan pedang dan senjata”, tetapi belum memenangkan hati rakyat Afghanistan.

    “Tidak pernah dalam sejarah yang memiliki kekuatan mentah memberikan legitimasi kepada siapa pun dan tidak akan pernah. [Taliban] sekarang menghadapi ujian bersejarah baru: apakah mereka akan melindungi nama dan kehormatan Afghanistan atau mereka akan memprioritaskan tempat dan jaringan lain”, Ghani memposting di Facebook.

  • Selangkah Lagi Taliban Kuasai Kabul

    Selangkah Lagi Taliban Kuasai Kabul

    TIKTAK.ID – Taliban terus bergerak lebih dekat untuk merebut kembali kendali penuh atas Afghanistan, dengan Ibu Kota Kabul kini menjadi satu-satunya kota besar yang tersisa di tangan Pemerintah.

    Pada Minggu (15/8/21) kelompok Taliban mulai menguasai Jalalabad, sebuah kota penting di timur, tanpa perlawanan. Itu artinya mereka sekarang menguasai semua jalan ke negara tetangga Pakistan.

    Koresponden di Ibu Kota mengatakan ada antrian di bandara dengan orang-orang yang berbondong-bondong mencoba melarikan diri, dan beberapa toko dan kantor Pemerintah telah dievakuasi.

    Taliban telah memerintahkan pejuang mereka untuk tinggal di beberapa titik masuk ke Ibu Kota, mendesak orang untuk tinggal di negara itu.

    Pembicaraan dengan pejabat senior di Pemerintahan Presiden Ashraf Ghani tentang transfer kekuasaan secara damai terus berlanjut, tulis pernyataan kelompok Taliban, seperti yang dilaporkan BBC.

    Benteng utara terakhir Pemerintah, Mazar-i-Sharif, juga telah jatuh pada Sabtu kemarin tanpa perlawanan.

    Bersamaan dengan kemajuan yang diperoleh Taliban, Pemerintah AS sedang mengevakuasi stafnya dari Kedutaan Kabul, dengan orang-orang terlihat menaiki pesawat militer di bandara, di mana 5.000 tentara AS telah dikerahkan untuk membantu operasi tersebut.

    Presiden Joe Biden tetap kukuh pada keputusannya untuk mempercepat penarikan militer AS, dengan mengatakan bahwa dia tidak dapat membenarkan tindakan “tanpa akhir”.

    Laporan pada Minggu pagi mengatakan Taliban menyerbu kota Jalalabat, Ibu Kota provinsi Nangarhar, tanpa perlawanan.

    “Tidak ada bentrokan yang terjadi saat ini di Jalalabad karena gubernur telah menyerah kepada Taliban,” kata seorang pejabat Afghanistan setempat kepada kantor berita Reuters.

    “Membiarkan Taliban adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa warga sipil.”

    Wartawan Tariq Ghazniwal men-tweet gambar yang tampaknya menunjukkan gubernur provinsi menyerahkan kendali kepada Taliban.

    Sementara di Kabul, koresponden Wall Street Journal, Yaroslav Trofimov di Kabul mengatakan kepada BBC World Service bahwa penembakan sporadis masih terdengar.

    Dia mengatakan orang-orang menarik uang dari ATM, di Zona Hijau, tempat misi diplomatik berbasis, sudah kosong, dan penerbangan ke luar negeri sudah penuh dipesan.

    Bagian dari taktik Taliban adalah dengan mengirim para pejuang mereka masuk ke Kabul dengan cara menyamar.

    “Taliban tidak mengirimkan pasukan lapis baja untuk merebut Kabul, mereka sudah berada di kota… siap untuk muncul. Itulah yang terjadi di kota-kota lain seperti Herat, di mana pertempuran tiba-tiba dimulai dari dalam pusat kota,” kata Trofimov.

    Lebih dari seperempat juta orang telah mengungsi akibat pertempuran dan banyak yang mencari perlindungan di Ibu Kota.

    Dalam pidato TV yang direkam sebelumnya pada Sabtu, Presiden Ghani mengatakan prioritasnya adalah remobilisasi Angkatan Bersenjata Afghanistan untuk mencegah penghancuran lebih lanjut dan eksodus lebih banyak orang.

    Pidato itu muncul di tengah spekulasi oleh beberapa orang bahwa Ghani mungkin akan mengumumkan pengunduran dirinya.

  • Takut Aksi Biadab Taliban, Banyak Negara Evakuasi Staf Kedutaannya dari Afghanistan

    Takut Aksi Biadab Taliban, Banyak Negara Evakuasi Staf Kedutaannya dari Afghanistan

    TIKTAK.ID – Kemajuan yang terus diperoleh Taliban dengan menguasai wilayah yang semakin besar di Afghanistan, memaksa banyak negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Denmark dan Norwegia menarik sebagian staf diplomatik mereka keluar dari Kedutaan di Kabul.

    Laporan intelijen mengutip sumber diplomatik yang tak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa Ibu kota Afghansitan, Kabul dapat dikepung dalam seminggu atau 72 jam ke depan, tulis CNN.

    Outlet itu juga mengatakan perkiraan itu muncul di tengah para pejabat Amerika menarik staf diplomatik dari Kabul, serta menginstruksikan mereka untuk menghancurkan materi dan barang sensitif yang dapat “disalahgunakan dalam upaya propaganda”.

    Orang Amerika bukan satu-satunya yang meninggalkan Kedutaan mereka, dengan Inggris, Kanada, Denmark, dan Norwegia juga melakukan hal yang sama, mereka mengevakuasi para staf. Amerika, bersama dengan negara-negara lain, akan mengerahkan pasukan tambahan di wilayah tersebut untuk membantu evakuasi, seperti yang dilansir Sputniknews.

    Keputusan Amerika itu muncul di tengah penilaian Pentagon yang mengatakan bahwa Ibu Kota Afghanistan tidak menghadapi “ancaman yang akan segera terjadi”.

    “Kabul saat ini tidak berada dalam ancaman yang akan segera terjadi,” kata Juru Bicara Pentagon, John Kirby kepada wartawan. “Tapi jelas,” katanya, “jika Anda hanya melihat apa yang telah dilakukan Taliban, Anda dapat melihat bahwa mereka mencoba mengisolasi Kabul.”

    Kirby juga mengulangi “keprihatinan besar” Washington atas kecepatan gerakan Taliban di negara itu dan “kurangnya perlawanan yang mereka hadapi”.

    Taliban telah memperoleh kemajuan pesat di Afghanistan sejak pasukan Amerika mulai keluar dari negara itu, membangun kendali atas setidaknya selusin dari 34 Ibu Kota provinsi negara itu, termasuk kota terbesar kedua di negara itu, Kandahar. Menurut pejabat kemanusiaan, gerilyawan sekarang berada dalam jarak 50 kilometer dari Ibu Kota, dengan Kabul mengalami pemadaman listrik dan menjadi “hampir sepenuhnya terisolasi”.

    Direktur Dewan Pengungsi Norwegia di Afghanistan juga mengatakan bahwa Afghanistan mendekati krisis kemanusiaan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan banyak keluarga “ketakutan” dan melarikan diri ke Kabul.

    Pemerintahan Biden kini menghadapi kritik atas aksi penarikan militernya, terutama mengingat Biden sendiri pada Juli lalu mengatakan bahwa “sangat tidak mungkin” Taliban mengambil alih kekuasaan setelah keluarnya Amerika.

  • Dua Ledakan Hebat Hantam Ibu Kota Afghanistan

    Dua Ledakan Hebat Hantam Ibu Kota Afghanistan

    TIKTAK.ID – Ledakan hebat yang diikuti dengan tembakan sporadis menghantam Ibu Kota Afghanistan, Kabul, di dekat “Zona Hijau” yang dijaga ketat, sebuah area yang menampung gedung-gedung Pemerintah dan Kedutaan asing, pada Selasa (3/8/21) kata para pejabat.

    Seorang pejabat senior keamanan mengatakan ledakan pertama, yang terjadi tepat setelah pukul 8 malam waktu setempat, tampaknya disebabkan oleh sebuah bom mobil dan sasarannya adalah rumah pejabat menteri pertahanan dan kediaman seorang anggota parlemen yang bersebelahan.

    Menteri Pertahanan, Bismillah Mohammadi mengatakan tidak ada luka pada dirinya dan anggota keluarganya tetapi beberapa penjaga keamanannya terluka, seperti yang dilaporkan Aljazeera.

    Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Mirwais Stanekzai mengatakan orang-orang bersenjata memasuki daerah itu setelah ledakan pertama. Tiga penyerang kemudian dibunuh oleh pasukan keamanan dan kini operasi pembersihan sedang dilakukan oleh polisi. Semua jalan menuju rumah Kementerian dan wisma ditutup, tambahnya.

    Kurang dari dua jam setelah bom mobil diledakkan, ledakan keras lain diikuti dengan tembakan cepat kembali mengguncang Kabul, di wilayah kota yang sama.

    Ratusan warga di daerah itu diungsikan ke tempat yang aman, kata Jubir Kepala Polisi Kabul, Ferdaws Faramarz. Dia mengatakan personel keamanan sedang mencari dari rumah ke rumah, khawatir lebih banyak penyerang bersembunyi di daerah itu.

    Akibat serangan kedua itu, sedikitnya 10 orang terluka dan dibawa ke rumah sakit di Ibu Kota, kata Jubir Kementerian Kesehatan, Dastgir Nazari.

    Rumah Sakit Darurat kota mengatakan dalam sebuah tweetnya bahwa sejauh ini telah menerima enam orang terluka dalam serangan pertama.

    Tidak ada kelompok yang segera mengaku bertanggung jawab.

    Serangan -di jantung salah satu daerah paling aman di Kabul- terjadi di tengah eskalasi kekerasan yang dilakukan Taliban. Serangan meningkat tajam sejak Presiden Joe Biden mengumumkan pasukan AS akan pergi pada September bahkan Taliban mengintensifkan serangannya di kota-kota besar.

    Amerika Serikat mengatakan bahwa ledakan itu memiliki ciri khas serangan Taliban dan bahwa salah satu dari banyak kekhawatiran Washington tentang Afghanistan adalah bahwa hal itu dapat berkembang menjadi perang saudara.

    Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Ned Price mengatakan jika Taliban berusaha untuk melanggar keterlibatannya dalam pembicaraan damai di Doha, “Mereka akan menjadi paria internasional… hasilnya akan menjadi perang saudara.”

  • Pegawai Pemerintah Afghanistan Tewas dalam Sejumlah Serangan di Kabul

    Pegawai Pemerintah Afghanistan Tewas dalam Sejumlah Serangan di Kabul

    TIKTAK.ID – Sejumlah orang bersenjata melepaskan tembakan di lingkungan Bagh-e-Daud, Kabul, Afghanistan dan menewaskan empat pegawai Kementerian Pembangunan Pedesaan pada Selasa (9/2/21).

    Di tempat lain, masih di wilayah Kabul, sebuah bom yang dipasang di mobil meledak, melukai pegawai pemerintah lainnya, kata Juru Bicara Kepala Polisi Kota, Fardaws Faramarz, seperti yang dilaporkan Aljazeera.

    Sebelumnya, pada hari yang sama, empat polisi tewas dan lima lainnya terluka ketika kendaraan mereka terkena bom pinggir jalan di distrik Zenda Jan di provinsi Herat barat, kata Gubernur Provinsi, Wahid Qatali.

    Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas sejumlah serangan itu.

    Sedang pejabat Afghanistan dan AS menuding kelompok Taliban yang bertanggung jawab atas gelombang kekerasan yang terjadi di Afghanistan, meskipun kelompok itu menolak tuduhan tersebut.

    Kekerasan di Afghanistan terus meningkat, sementara pembicaraan damai antara Taliban dan perwakilan Pemerintah yang dimulai pada September di Qatar kini macet.

    Sementara itu, terjadi lonjakan pemboman secara nasional, pembunuhan terarah, dan kekerasan.

    Ibu Kota Kabul hampir tiap hari mengalami serangan sepanjang pagi yang sibuk, menargetkan warga Afghanistan terkemuka termasuk politisi, jurnalis, aktivis, hakim, dan cendekiawan agama.

    Serangan pada Selasa ini terjadi sehari setelah tiga ledakan bom mengguncang Ibu Lota, menewaskan sedikitnya satu orang.

    Minggu lalu, Hakim Hafizullah diserang dalam penyergapan di timur kota Jalalabad saat dia pergi bekerja. Dia adalah pejabat pengadilan ketiga yang terbunuh dalam waktu kurang dari sebulan.

    Pada 17 Januari, dua hakim wanita dibunuh oleh pria bersenjata tak dikenal di Kabul.

    Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 30 Januari, Inspektur Jenderal Khusus AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) mengatakan Taliban dan kelompok bersenjata ISIL (ISIS) telah meningkatkan pembunuhan terarah terhadap pejabat Pemerintah, pemimpin masyarakat sipil, dan jurnalis.

    Resolute Support, misi pimpinan NATO di Afghanistan, melaporkan 2.586 korban sipil yang terjadi dari 1 Oktober hingga 31 Desember tahun lalu, termasuk 810 tewas dan 1.776 luka-luka, menurut laporan SIGAR.

    Meningkatnya kekerasan di Afghanistan telah membuat pemerintahan Presiden AS, Joe Biden meluncurkan peninjauan kembali atas kesepakatan yang ditandatangani antara Washington dan Taliban tahun lalu yang menyetujui penarikan semua pasukan Amerika dari Afghanistan.

    Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi pembicaraan intra-Afghanistan antara perwakilan Taliban dan Pemerintah Afghanistan setelah konflik selama beberapa dekade. Namun kini rasa frustrasi dan ketakutan telah tumbuh karena lonjakan kekerasan baru-baru ini, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan.

  • Kelompok Bersenjata Serang Pos Pemeriksaan, 13 Tentara Afghanistan Tewas

    Kelompok Bersenjata Serang Pos Pemeriksaan, 13 Tentara Afghanistan Tewas

    TIKTAK.ID – Sedikitnya 13 petugas polisi Afghanistan tewas dalam sebuah serangan ke pos pemeriksaan mereka di provinsi utara Afghanistan, Baghlan, kata para pejabat pada Rabu (16/12/20).

    Tiga polisi lainnya terluka dalam serangan malam itu yang terjadi di daerah Wazirabad di kota Pol-e-Khumri, Anggota Dewan Provinsi Firuzuddin Aimaq dan Shamsulhaq Barakzai mengatakan kepada kantor berita dpa.

    Aimaq mengatakan sebuah tank lapis baja dan beberapa kendaraan polisi dibakar dalam pertempuran itu. Sementara, para pejabat Afghanistan menuduh kelompok Taliban yang melakukan serangan itu.

    Namun, kelompok bersenjata Taliban belum mengomentari insiden tersebut, seperti yang dilansir Al Jazeera.

    Kelompok Taliban juga dituduh telah melakukan serangan terhadap pasukan Pemerintah di provinsi selatan Uruzgan.

    Juru Bicara Gubernur, Ahmad Shah Sahel dan Anggota Dewan Provinsi, Hayatullah Fazly mengatakan serangan itu terjadi di distrik Dehrawood.

    Pemerintah Afghanistan dan Taliban telah mengadakan pembicaraan damai selama lebih dari dua bulan yang bertujuan untuk mengakhiri perang selama beberapa dekade di negara itu, namun konflik brutal negara itu terus berlanjut.

    Pembicaraan, yang diluncurkan pada September di Qatar itu, menyusul kesepakatan penting antara Amerika Serikat dan Taliban yang dicapai pada Februari lalu, kini ditunda dan akan dilanjutkan pada 5 Januari nanti.

    Pada Senin kemarin, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengatakan dia berharap pembicaraan akan berlanjut di Afghanistan.

    Sejak awal pembicaraan, kedua belah pihak telah melaporkan kemajuan awal yang disambut baik secara luas.

    AS setuju untuk menarik semua pasukan dari Afghanistan pada Mei 2021 dengan imbalan jaminan keamanan dan komitmen dari Taliban untuk mengadakan pembicaraan damai dengan Pemerintah Afghanistan.

    “Kami lebih suka perundingan damai putaran kedua dilaksanakan di Afghanistan”, tulis Juru Bicara Afghanistan, Sediq Sediqqi dalam cuitannya mengacu pada ucapan Presiden Ghani dalam pertemuan Kabinet.

    “Pemerintah Afghanistan siap untuk bernegosiasi di mana saja di Afghanistan, di bawah tenda atau di luar dalam cuaca dingin”.

    Sebelumnya, kedua pihak telah melakukan negosiasi damai pertama di sebuah hotel mewah di Doha pada September lalu. Seperti diketahui, Taliban memiliki kantor politik di Doha.

    “Tidak pantas jika kami ngotot membahas kesepakatan damai di hotel-hotel mewah. Masyarakat perlu melihat bagaimana pembicaraan itu terjadi, isu mana yang menjadi fokus dan mengapa,” ujar Sediq seperti dilansir AFP.

    Pernyataan Ghani itu senada dengan seruan pejabat Dewan Keamanan Nasional Afghanistan yang menyerukan negosiasi damai selanjutnya dilakukan di Kabul.