Tag: Kesehatan Anak

  • Bentakan Bisa Pengaruhi Otak Anak, Ini Penjelasannya

    Bentakan Bisa Pengaruhi Otak Anak, Ini Penjelasannya

    TIKTAK.ID – Anak yang sering dibentak kerap mengembangkan perilaku agresif dan depresi pada dirinya. Para peneliti mengungkapkan bahwa kekerasan verbal seperti bentakan dan hinaan dapat memengaruhi perkembangan otak anak.

    Psychology Spot melaporkan bahwa sejumlah psikolog di University of Pittsburgh melakukan sebuah studi terhadap 976 keluarga dan anak-anak mereka selama 2 tahun, guna melihat risiko bentakan terhadap perkembangan anak.

    Hasilnya, bentakan setiap hari sebagai bagian dari gaya pendidikan keluarga mampu menimbulkan masalah perilaku ketika anak remaja usia 13 tahun, atau munculnya gejala depresi saat anak usia 14 tahun.

    Selain itu, para psikolog menyatakan alih-alih mengurangi masalah, anak yang sering dibentak sampai membuatnya menangis, acapkali mengembangkan sikap memberontak terhadap aturan. Mereka pun melihat “kehangatan” orangtua setelahnya tidak dapat mengurangi efek psikologis dari bentakan.

    Seperti dikutip Kompas.com dari Psychology Spot, suatu penelitian dilakukan oleh sekelompok psikiater di Harvard Medical School. Penelitian itu menyebut kekerasan verbal seperti membentak dan menghina, bakal mengubah struktur otak anak-anak secara signifikan dan permanen.

    Para peneliti tersebut menganalisis otak dari 51 anak yang punya masalah psikologis, lalu membandingkannya dengan 97 anak sehat. Ternyata pengabaian, hukuman fisik, dan kekerasan verbal menyebabkan penurunan signifikan dari corpus callosum, yakni sekelompok akson (semacam kabel) yang terdiri dari sel-sel saraf yang menghubungkan dua belahan otak.

    Corpus callosum yang lebih kecil membuat integrasi kedua bagian otak menjadi lebih rendah, sehingga menyebabkan perubahan suasana hati dan kepribadian yang dramatis. Kemudian studi menyatakan terdapat penurunan aktivitas di bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan perhatian. Anak-anak itu memiliki aliran darah yang lebih rendah ke cerebellar vermis, yaitu bagian otak yang berfungsi menjaga keseimbangan emosi dengan baik.

    Optimist Minds menjelaskan bahwa bentakan menghasilkan perubahan neurokognitif dan neuropsikologis pada otak manusia.

    Berikut ini perubahan pada neurokognitif otak anak sebagai dampak sering dibentak:

    • Bentakan dan kekerasan verbal yang intens menimbulkan peningkatan volume materi abu-abu di gyrus temporalis superior.
    • Bentakan dapat memengaruhi area wernicke dan frontal otak pada orang dewasa muda yang mengakibatkan perubahan fungsi eksekutif dan perkembangan bahasa yang tidak normal.
    • Bentakan menimbulkan penurunan nilai fractional anisotropy di daerah fasikulus arkuata otak.
    • Teriakan/berteriak menghasilkan gangguan perkembangan korteks asosiasi pendengaran, yang mengakibatkan penurunan kemampuan pemrosesan bahasa.
  • Anak-anak Wajib Minum Susu untuk Pertumbuhan, Mitos atau Fakta?

    Anak-anak Wajib Minum Susu untuk Pertumbuhan, Mitos atau Fakta?

    TIKTAK.ID – Banyak orang meyakini minum susu penting untuk anak, khususnya kalau mereka masih dalam masa pertumbuhan. Di pasaran sendiri ada banyak susu yang dijual dengan klaim membantu mengoptimalkan pertumbuhan anak.

    Ketika anak masih berusia di bawah satu tahun, nutrisi terbaik untuk tumbuh kembangnya yaitu ASI. Anda sudah bisa memberikan Si Kecil susu sapi atau susu formula yang banyak dijual di toko saat anak menginjak usia 1 tahun. Akan tetapi, apakah susu benar-benar penting untuk anak?

    Menurut Ahli nutrisi dari Universityof North Carolina, Amy Lanou, sebetulnya susu tak terlalu penting untuk anak-anak. Namun susu merupakan sumber nutrisi yang bagus lantaran mengandung protein, kalsium, vitamin, dan berbagai nutrisi yang tidak disediakan dalam makanan sehari-hari. Artinya, susu merupakan cara termudah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

    Kemudian selama masa pertumbuhan, kebutuhan nutrisi anak sangat tinggi. Susu sapi termasuk makanan padat nutrisi dan sumber nutrisi yang diperlukan anak untuk mendukung perkembangan mereka secara keseluruhan. Susu sapi juga sumber vitamin B yang baik termasuk vitamin B12, yang mendukung sel darah merah dan B2 yang mampu membantu mengubah makanan menjadi energi.

    Susu juga termasuk sumber kalsium yang membantu memperkuat tulang dan gigi anak. Sejumlah susu yang dijual di toko juga pun kerap diperkaya dengan vitamin D.

    Sementara itu, sangat sedikit makanan yang mengandung vitamin D. Padahal, kekurangan vitamin D dapat menimbulkan rakhitis, penyakit yang memicu pembengkokan dan melemahnya tulang, serta berbagai masalah pada otot dan saraf.

    Selain itu, lemak dalam susu menyediakan kalori penting untuk anak kecil. Pasalnya, anak-anak tidak punya kapasitas untuk mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, namun membutuhkan pilihan yang kaya nutrisi untuk memenuhi kebutuhan mereka.

    Lemak sendiri diperlukan tubuh untuk melarutkan beberapa jenis vitamin, salah satunya vitamin A. Vitamin yang larut dalam lemak tersebut akan mendorong pertumbuhan dan membantu tubuh membangun selaput lendir yang kuat, yang penting untuk membantu melawan infeksi. Vitamin A juga penting bagi kesehatan kulit dan mata.

    Meski begitu, Anda tidak perlu kahwatir jika anak enggan minum susu, karena hal yang harus Anda utamakan yakni memenuhi kebutuhan nutrisinya. Susu hanya menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Jadi saat anak tidak mau minum susu, Anda dapat memberikan makanan lain yang kaya nutrisi.

  • Terapkan Kebiasaan Ini Supaya Anak Tumbuh Tinggi

    Terapkan Kebiasaan Ini Supaya Anak Tumbuh Tinggi

    TIKTAK.ID – Semua orang tua tentu ingin anaknya dapat tumbuh tinggi dengan optimal, karena bisa menjadi tanda perkembangannya baik dan sehat. Meski begitu, setiap orang tua juga harus memahami kalau laju pertumbuhan tinggi anak berbeda-beda. Hal itu dapat terjadi karena dipengaruhi oleh faktor genetik, sumber asupan nutrisi, dan kadar hormon pertumbuhan dalam tubuh.

    Tapi bukan berarti anak tidak bisa punya tubuh yang tinggi. Pertumbuhan tinggi anak masih dapat dioptimalkan lewat beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan.

    Seperti dikutip detik.com dari berbagai sumber, berikut ini sejumlah kebiasaan yang mampu membantu tumbuh tinggi anak mmaksimal

    1. Pola Tidur yang Baik

    Jika anak-anak sesekali melewati waktu tidurnya, memang tak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan. Namun anak-anak yang memiliki waktu tidur cukup setiap malam akan membuat mereka tumbuh dengan tinggi dan kuat.

    Pasalnya, hormon pertumbuhan pada anak-anak atau yang disebut Human Growth Hormon (HGH) dilepaskan hanya saat anak tidur. Sebaliknya kalau anak kurang tidur, maka produksi hormon ini mungkin akan berkurang. Anak usia 3-5 tahun sebaiknya memiliki waktu tidur antara 10-13 jam, sedangkan waktu tidur yang dibutuhkan anak usia 6-13 tahun yaitu 9-12 jam.

    1. Beri Paparan Sinar Matahari

    Jangan ragu memberikan paparan sinar matahari kepada anak, lantaran sinar matahari merupakan sumber vitamin D yang membantu pertumbuhan otot dan tulang dalam meningkatkan tinggi anak.

    Di masa anak-anak, tulang mengalami pertumbuhan dan memerlukan banyak vitamin D. Oleh sebab itu, membiarkan mereka bermain di luar ruangan selama 10-15 menit disebut mampu membantu tubuh memproduksi nutrisi penting tersebut. Beberapa penelitian menyarankan anak-anak untuk diberikan sinar matahari pada sekitar pukul 7-9 pagi.

    1. Olahraga

    Olahraga akan membantu anak-anak memperoleh tubuh yang tinggi dan kuat. Salah satu olahraga yang dapat dilakukan adalah berenang. Berenang akan membuat anak menggerakkan semua otot di dalam tubuh dengan efek yang besar.

    Kemudian berenang dengan waktu yang lama disebut-sebut mampu menghilangkan lemak ekstra yang ada pada anak dan membantu mereka tetap aktif. Latihan tersebut bakal memperkuat tulang belakang dan meletakkan dasar bagi tubuh yang tinggi dan sehat.

  • Waspadai Dampak Buruk Obesitas pada Anak

    Waspadai Dampak Buruk Obesitas pada Anak

    TIKTAK.ID – Sebagian masyarakat menilai anak yang gemuk dengan pipi tembam merupakan simbol kemakmuran orangtua dan tanda cukup mendapat makanan. Anggapan tersebut pun cenderung membuat orangtua berusaha menggemukkan anaknya, sehingga tanpa sadar menerapkan gaya parenting yang kurang tepat dengan pola makan kurang sehat.

    Orangtua perlu menerapkan kebiasaan makan yang baik sejak dini. Idealnya, hal itu dimulai sejak anak melewati masa ASI eksklusif dan mulai memperoleh MPASI (makanan pendamping ASI) pada usia 6 bulan.

    “Asupan makanan tambahan setelah ASI bakal menentukan pertumbuhan anak,” ungkap dokter spesialis anak konsultan endokrinologi, dr. Frida Soesanti Sp.A(K), seperti dilansir Kompas.com.

    Lebih lanjut dr. Frida menjelaskan bahwa berat badan berlebihan atau obesitas menyimpan bahaya untuk kesehatan.

    “Pasti akan menimbulkan komplikasi, seperti diabetes, kolesterol tinggi, hingga perlemakan hati dini. Kemudian dalam jangka panjang, bisa menyebabkan kegagalan hati,” jelas dr. Frida.

    Oleh sebab itu, orangtua harus terus memantau berat badan dan tumbuh kembang anak sejak bayi, dengan kurva pertumbuhan. Lewat kurva ini, akan terlihat penambahan berat badan bayi/anak; apakah sudah sesuai dengan tinggi badan maupun usianya.

    Orangtua perlu waspada jika berat badan si kecil menurut tinggi badannya +2 SD (standar deviasi), yang menunjukkan kalau ia sudah mengalami kegemukan. Kalau angkanya mencapai +3 SD, maka si kecil tergolong obesitas.

    Menurut dr. Frida, menurunkan berat badan anak yang obes bukan dengan cara diet ketat dan melarang anak makan makanan tertentu.

    “Apalagi sampai mengurangi jumlah kalori secara drastis. Hal itu akan membuat anak craving atau kelaparan, sehingga terjadi efek yoyo,” tutur dr. Frida.

    Dia memaparkan bahwa yang diperlukan yakni mengembalikan pola makan sesuai kebutuhan kalori yang normal. Karena itu, orangtua perlu membuat jadwal makan teratur yang terdiri dari tiga kali makan besar (sarapan, makan siang, makan malam), serta dua kali selingan.

    “Paling bagus adalah menu yang berwarna-warni di dalam satu piring. Kalau berwarna-warni pasti sehat karena terdapat warna sayuran,” jelas dr. Frida.

    Kemudian dr. Frida pun menekankan bahwa untuk membentuk pola makan yang baik, perlu kerja sama seluruh anggota keluarga di rumah.

    “Berikan contoh langsung karena anak akan meniru apa yang dimakan oleh anggota keluarga lain,” terangnya.

  • Berikan Makanan Sumber Zat Besi Ini pada Anak untuk Cegah Stunting

    Berikan Makanan Sumber Zat Besi Ini pada Anak untuk Cegah Stunting

    TIKTAK.ID – Manfaat zat besi untuk anak yang sangat penting yaitu mendukung perkembangan otak dan pertumbuhan fisik secara optimal.

    Menurut dokter spesialis gizi klinik, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, Sp.GK dalam acara Aksi Gizi Generasi Maju di Lombok Barat, pada Kamis (10/2/23), makan makanan sumber zat besi yang cukup bisa mencegah stunting pada anak.

    Sementara itu, kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia pada anak. Anemia pada anak pun bisa menjadi faktor penyebab faltering growth, yang merupakan awal dari stunting. Berdasarkan hasil penelitian pada anak usia 6-12 bulan, anak yang anemia cenderung mengalami growth faltering.

    Mengutip Parents, umumnya anak lahir dengan simpanan zat besi yang cukup untuk bertahan selama 4-6 bulan. Selama 6 bulan pertama, bayi yang menyusu akan menyerap zat besi dari ASI. Kemudian saat bayi mencapai usia 6 bulan, di mana masa pertumbuhan cepat dan dimulainya ia diberikan MPASI, makanan pertamanya harus mengandung zat besi.

    Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019, kebutuhan zat besi anak sebagai berikut:

    Usia 1-3 tahun: 7 mg
    Usia 4-6 tahun: 10 mg

    Anak yang punya cukup zat besi dalam tubuh bakal membantu mencegah kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi.

    Seperti dikutip Kompas.com dari data komposisi pangan Indonesia Kementerian Kesehatan dan Healthline, berikut ini contoh makanan sumber zat besi yang bisa mencegah stunting pada anak:

    Hati ayam 100 gram mengandung 15,8 mg zat besi

    Kerang 100 gram mengandung 15,6 mg zat besi

    Udang segar 100 gram mengandung 8 mg zat besi

    Bayam merah 100 gram mengandung 7 mg zat besi

    Tempe 100 gram mengandung 4 mg zat besi

    Bayam hijau 100 gram mengandung 3,5 mg zat besi

    Tahu 100 gram mengandung 3,4 mg zat besi

    Daging sapi 100 gram mengandung 2,8 mg zat besi

    Telur 1 butir mengandung 2 mg zat besi

    Ayam 100 gram mengandung 1,5 mg zat besi

    Kacang hitam 86 gram mengandung 1,8 gram zat besi

    Lentil 198 gram mengandung 6,6 mg zat besi

    Hati sapi 100 gram mengandung 6,5 mg zat besi

    Daging giling 100 gram mengandung 2,7 mg zat besi

  • Orang Tua Harus Hindari Kebiasaan Ini, Bisa Picu Diabetes pada Anak

    Orang Tua Harus Hindari Kebiasaan Ini, Bisa Picu Diabetes pada Anak

    TIKTAK.ID – Kebiasaan orang tua dapat memicu diabetes pada anak, khususnya diabetes tipe 2. Tidak seperti tipe 1, diabetes tipe 2 dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat. Dokter anak subspesialis endokrinologi, Jose R.L Batubara menjelaskan bahwa pemicu diabetes tipe 2, pada anak maupun orang dewasa, sebenarnya sama.

    “Makan junk food, nonton TV terlalu lama, kurang olahraga, sama seperti orang dewasa. Kebanyakan main gawai, bukan olahraga,” ungkap Jose, seperti dilansir CNNIndonesia.com, pada Selasa (7/2/23).

    Di luar itu, tanpa disadari sejumlah kebiasaan orang tua turut berpotensi memengaruhi risiko diabetes pada anak. Berikut ini di antaranya:

    1. Orang tua memberi anak banyak asupan gula

    Gula memang penting bagi tubuh sebagai sumber energi. Akan tetapi, orang tua sebaiknya lebih mengatur konsumsi gula untuk anak. Jose menyarankan jumlah karbohidrat atau sumber energi anak hanya sebesar 40 persen dari kebutuhan kalori harian.

    Jose mengatakan karbohidrat juga akan diolah jadi glukosa dalam tubuh dan punya indeks glikemik lebih rendah dari gula biasa. Sumber karbohidrat juga sangat bervariasi, seperti nasi, sagu, atau kentang.

    1. Makanan sebagai iming-iming supaya anak tidak rewel

    Sebaiknya orang tua tidak memakai makanan dan minuman, terutama yang tinggi kalori, sebagai iming-iming supaya anak tidak rewel.

    Menurut psikolog anak dan remaja di Personal Growth, Monica Sulistiawati, banyak orang tua yang memilih cara mudah untuk meredakan anak rewel. Dia menyebut salah satu cara termudah yaitu memberikan makanan. Padahal, hal itu tak hanya berisiko membuat anak jadi kegemukan, tapi juga ada efek lain kepada mental yang dipengaruhi oleh kebiasaan tersebut.

    “Secara tidak langsung orang tua memberikan efek pembelajaran kalau rewel itu boleh, menangis itu boleh. Nantinya anak akan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan,” terang Monica, mengutip CNNIndonesia.com, Rabu (9/2/23).

    1. Makanan dijadikan sebagai hadiah

    Ada sejumlah orang tua yang menjadikan makanan sebagai reward atau hadiah atas prestasi anak. Monica menilai memberikan apresiasi atas prestasi anak tidak salah, namun dia tidak menganjurkan makanan dijadikan hadiah.

    Monica memaparkan hal itu bisa membuat anak menganggap bahwa dengan prestasi atau keberhasilan, ia bisa makan sepuasnya. Kondisi tersebut akan berdampak negatif saat anak sudah dewasa, seperti sulit mengendalikan perilaku makan, gangguan psikologis atau gangguan makan misalnya bulimia atau anoreksia.

  • Cara Terapkan Pola Makan Sehat pada Anak untuk Cegah Diabetes

    Cara Terapkan Pola Makan Sehat pada Anak untuk Cegah Diabetes

    TIKTAK.ID – Dengan menerapkan pola makan yang sehat sejak dini, bisa mencegah diabetes pada anak, terutama untuk anak dengan jenis diabetes tipe 2.

    Berdasarkan data teranyar dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebanyak 1.645 anak di Indonesia saat ini terkena diabetes. Data tersebut diambil dari laporan 15 kota yang tercatat.

    Sebesar 90 persen kasus diabetes pada anak yaitu diabetes tipe 1, yang umumnya disebabkan oleh kondisi autoimun yang merupakan bawaan lahir. Sedangkan 10 persen lainnya adalah diabetes tipe 2 yang biasanya disebabkan oleh faktor gaya hidup tidak sehat. Padahal, diabetes tipe 2 sangat identik dengan orang dewasa.

    “Diabetes tipe 2 pada anak berkaitan dengan lifestyle. Jadi pandemi pun turut menyumbang, karena saat pandemi banyak anak-anak yang berat badannya naik,” ungkap dokter spesialis gizi, Juwalita Hapsari, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Senin (6/2/23).

    Juwalita mengatakan naiknya berat badan pada anak akan membuatnya berisiko terkena penyakit diabetes, kolesterol tinggi, hingga tekanan darah tinggi. Dia pun menjelaskan pola makan yang direkomendasikan pada anak untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut. Berikut ini di antaranya.

    ASI eksklusif sampai usia 6 bulan

    “Begitu bayi lahir hingga usia 6 bulan, rekomendasinya ya berikan ASI (Air Susu Ibu) ekslusif,” terang Juwalita.

    Namun bagi ibu yang tidak bisa memberikan ASI secara eksklusif karena indikasi tertentu, Juwalita menyarankan melakukan konsultasi kepada dokter spesialis anak terlebih dahulu.

    MPASI berkualitas

    Selesai pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6 bulan, Juwalita menyarankan orang tua agar memberikan MPASI yang berkualitas.

    Juwalita memaparkan bahwa MPASI yang berkualitas berarti memenuhi kebutuhan semua zat gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak baik, sayur, dan buah. Dia juga menyarankan untuk orang tua sebisa mungkin tidak memakai gula dan garam di periode MPASI tersebut.

    Hati-hati ketika anak berusia 1 tahun

    Juwalita menyatakan saat anak sudah menginjak usia 1 tahun ke atas, sudah bisa mendapatkan makanan keluarga, yakni apa yang dimakan oleh orang tua dan keluarganya. Juwalita menilai hal itu kerap membuat orang tua kesulitan membatasi asupan gula per harinya.

    “Orang tua harus membatasi asupan gula pada anak. Jangan sampai anak terpapar atau dibiasakan mengonsumsi makanan-makanan yang manis-manis semua sehingga membuat dia kelebihan kalori. Jadi, gula tetap harus dibatasi,” terangnya.

    Juwalita menyebut batas maksimal asupan gula untuk anak usia 2-18 tahun adalah 25 gram atau setara dengan 2 sendok makan.

  • Waspadai Dua Penyebab Utama Anak Kurang Gizi

    Waspadai Dua Penyebab Utama Anak Kurang Gizi

    TIKTAK.ID – Kurang gizi adalah musuh utama bagi tumbuh kembang anak yang optimal. Pasalnya, banyak hal akan dialami anak bila mengalami kekurangan gizi terus-menerus, mulai dari kenaikan berat badan yang tidak memadai, hingga stunting.

    Prof. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K) mengatakan bahwa terdapat dua hal yang menyebabkan anak kurang gizi. Dia menjelaskan, pertama, asupan makanan yang tidak memadai.

    “Hal ini dapat terjadi karena kemiskinan, penelantaran, atau ketidaktahuan,” ujar Damayanti dalam siaran pers, seperti dilansir Kompas.com.

    Damayanti melanjutkan bahwa penyebab kedua yakni anak yang sering sakit atau infeksi berulang sehingga punya gangguan makan, atau pun anak memiliki masalah lahir dengan berat badan rendah, prematur, serta kelainan metabolisme bawaan, yang harus ditangani dengan pemberian nutrisi khusus.

    Dia menilai bila kebutuhan kalori dan gizi anak tidak tercukupi, maka berat badannya pun tidak memadai, yang dikenal dengan istilah weight faltering.

    “Contohnya pada bayi berusia 0-3 bulan yang mengalami kenaikan berat badan kurang dari 750 gram per bulan. Jika tidak segera melakukan intervensi, lama kelamaan berat badannya akan berkurang. Akibatnya, daya tahan tubuh rendah, mudah sakit, dan akhirnya mengalami gizi buruk,” terang Damayanti.

    Damayanti menyatakan gizi buruk juga berpengaruh pada pembentukan hormon pertumbuhan, sehingga penambahan tinggi badan terhambat. Menurutnya, bila tidak diatasi, maka anak akan sampai pada titik yang disebut dengan stunting.

    “Untuk mengetahui anak stunting atau tidak, dokter anak yang memiliki kompetensi keilmuan yang menentukan. Hal ini perlu dikenali sejak awal, supaya bisa ditentukan tindakan tepat yang diperlukan anak,” jelasnya.

    Tak hanya kurang gizi, Damayanti memaparkan bahwa ada penyebab lain anak berperawakan pendek. Mulai dari karena berasal dari keluarga yang berperawakan pendek, late bloomer atau pubertas terlambat, hingga karena kelainan genetika, yang tentu memerlukan penanganan berbeda dari stunting.

    Damayanti menyebut tinggi badan yang kurang sebenarnya bukan masalah utama yang harus ditakutkan saat anak stunting, melainkan pertumbuhan otaknya yang terhambat, yang menyebabkan kecerdasannya menurun.

    “Anak yang mengalami weight faltering pada usia kurang dari 2 bulan, berpotensi mengalami penurunan IQ sekitar 3-4 poin. Jika tidak diatasi, maka dampaknya akan lebih buruk,” ucap Damayanti.

    Damayanti menerangkan bahwa untuk mencegah stunting, asupan yang bergizi, khususnya protein hewani sangat penting. Sebab, kelengkapan, kecukupan, dan daya serap asam amino esensial pada protein hewani lebih tinggi ketimbang protein nabati.

    Kemudian strategi pencegahan stunting bisa dimulai dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, serta pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) paling lambat di usia 6 bulan sambil diteruskan pemberian ASI.

    Pemberian MPASI sendiri harus dilakukan tepat waktu, kandungan nutrisinya cukup dan seimbang, termasuk mengandung protein hewani.

  • Christian Sugiono Bagikan Tips Tanamkan Kebiasaan Cuci Tangan pada Anak

    Christian Sugiono Bagikan Tips Tanamkan Kebiasaan Cuci Tangan pada Anak

    TIKTAK.ID – Christian Sugiono merupakan selebriti yang dikenal sebagai family man. Ayah dua anak tersebut memang sayang sekali dengan keluarga.

    Di tengah masa pandemi virus Corona (Covid-19) yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Tian pun memanfaatkan momen ini untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga dengan berbagai kegiatan bermanfaat. Misalnya, Tian mulai mengajarkan kebiasaan cuci tangan sejak dini kepada dua anaknya, Juna dan Kai.

    Suami artis Titi Kamal ini pun berbagi tips menanamkan kebiasaan cuci tangan kepada anak lewat virtual press conference “C untuk Cuci Tangan, Edukasi Cuci Tangan Pada Anak Sejak Usia Dini” yang diselenggarakan Lifebuoy pada Kamis (15/10/20).

    Christian Sugiono yang juga Brand Ambassador Lifebuoy mengungkapkan bahwa kebiasaan mencuci tangan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama di keluarganya. Tetapi, ia menyebut di situasi pandemi seperti sekarang ini, kebiasaan tersebut semakin ditingkatkan.

    “Saya dan Titi sudah membiasakan Arjuna dan Kai untuk mencuci tangan, jauh sebelum pandemi. Namun sekarang pembiasaan mencuci tangan dengan baik dan benar pada anak-anak menjadi semakin penting. Kami juga terus mengingatkan anak-anak untuk mencuci tangan setiap saat, sebelum dan sesudah beraktivitas, terutama ketika beraktivitas di luar,” ujar pria yang akrab disapa Tian itu, seperti dilansir Kapanlagi.com.

    “Kami menyadari pandemi ini belum selesai, sehingga tetap harus waspada. Melalui kesempatan ini, saya juga ingin mengajak para orang tua Indonesia, sebagai sosok yang berperan besar dalam hidup anak-anak, untuk mengajarkan dan mengingatkan anak-anak untuk mencuci tangan dengan benar agar terhindar dari kuman,” lanjut Tian.

    Kemudian Tian mengaku memiliki cara tersendiri dalam menanamkan kebiasaan mencuci tangan. Untuk Kai yang masih kecil, Tian memanfaatkan video mengenai kuman dan bakteri, sehingga lebih menarik untuk anak seusianya. Sedangkan Juna sudah lebih memahami apa itu virus, jadi tinggal diberi contoh saja.

    “Anak-anak lebih gampang melakukan jika orang tua juga melakukan hal yang sama. Jadi ini sudah seperti family bonding gitu karena dilakukan bersama-sama. Kalau pun anak masih ada yang kurang nanti kita kasih tahu, nanti lama-lama jadi lebih ngerti dan terbiasa,” tutur pemilik bisnis MBDC ini.

    Meski begitu, Tian mengaku mendapat tantangan tersendiri dalam menanamkan kebiasaan cuci tangan pada anak. Ia mencontohkan, ketika Juna sedang asyik main lalu malas diajak cuci tangan, atau Kai yang malah bermain dengan busa sabunnya.

    “Memang kadang ada malasnya saat Juna lagi asyik main, tapi balik lagi, jadikan momen cuci tangan lebih fun bersama-sama. Kai kalau ada busa dia malah nggak mau stop. Lucu sih, tapi kita buat fun aja,” ucapnya.