Tag: daging anjing

  • Janji Ubah Budaya Warga Solo Makan Daging Anjing, Gibran: Bukan Soal Halal atau Haram

    Janji Ubah Budaya Warga Solo Makan Daging Anjing, Gibran: Bukan Soal Halal atau Haram

    TIKTAK.ID – Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka mengaku ingin mengubah budaya makan daging anjing di wilayahnya. Pasalnya, Gibran menilai kebiasaan itu berpotensi menghambat upaya Solo menjadi kota bertaraf internasional.

    Gibran mengungkapkan hal itu setelah menemui lima anggota Fraksi PKS DPRD Kota Solo di rumah dinasnya, Loji Gandrung, pada Rabu (14/9/22).

    “Dengan semakin banyaknya event-event nasional dan internasional, tentunya kebiasaan mengonsumsi daging anjing ini harus kita ubah,” ungkap Gibran usai pertemuan, seperti dilansir CNN Indonesia.

    Baca juga : Eks Ketua MK Sebut Jokowi ‘Tak Layak’ Maju Cawapres 2024, Kok Bisa?

    Untuk diketahui, sejak menjadi Wali Kota, Gibran memang kerap mendorong agar event-event berskala nasional dan internasional banyak diselenggarakan di Solo. Promosi juga gencar dilakukan dengan merangkul para penggiat media sosial.

    Kemudian anak sulung Jokowi itu mengatakan kebiasaan mengonsumsi daging anjing menghambat upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mencitrakan Kota Solo sebagai kota budaya yang modern.

    “Masalah konsumsi daging anjing ini tak selaras dengan branding yang kita gencarkan selama ini. Ini branding-nya kurang baik untuk Kota Solo,” tutur Gibran.

    Baca juga : Jokowi Dapat ‘Global Citizen Awards’ dari Lembaga Think-Tank Amerika, Untuk Apa?

    “Ini bukan masalah halal atau haram, namun masalah branding kota ke depan. Sebab, ini bukan sesuatu yang layak dikonsumsi,” imbuhnya.

    Meski begitu, Gibran mengklaim belum mencanangkan kebijakan khusus untuk menghilangkan budaya mengonsumsi daging anjing di Solo. Dia menyatakan hal itu cukup kompleks, lantaran berkaitan dengan penghidupan sebagian warga Solo.

    Berdasarkan data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertan-KPP) Kota Solo, terdapat 22 warung yang menjajakan olahan daging anjing. Akan tetapi, Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) melaporkan angka tersebut mencapai 82 atau hampir empat kali lebih banyak dari data Dispertan-KPP.

    Baca juga : Jokowi dan Prabowo Kompak Bagi-bagi 40 Motor Trail di Maluku

    “Ini tidak semudah membalik telapak tangan. Misalnya pedagang disuruh jualan ayam, enggak bisa sesederhana itu,” ucap Gibran.

    Di sisi lain, Wakil Ketua FPKS DPRD Solo, Sugeng Riyanto menyebut pihaknya sudah mengusulkan peraturan daerah (Perda) agar melarang konsumsi daging anjing di Solo. Namun usulan tersebut kandas karena tak dianggap sebagai prioritas.

    ng memaparkan, regulasi mengenai konsumsi daging anjing penting karena bakal berdampak pada citra Kota Solo di mata internasional.

  • Cegah Terjangkit Virus Corona, Saatnya Stop Konsumsi Daging Hewan Liar

    Cegah Terjangkit Virus Corona, Saatnya Stop Konsumsi Daging Hewan Liar

    TIKTAK.ID – Investigasi Journal of Medical Virology menyebutkan, saat ini wabah virus Corona tengah menyerang belasan negara dan sumbernya berasal dari luar negeri. Akan tetapi, hasil investigasi tersebut langsung ditampik oleh peneliti dari Pasteur Institute of Shanghai, Tiongkok. Alih-alih menyatakan dari luar negeri, mereka yakin wabah virus Corona tersebut juga berpotensi terjadi akibat mengonsumsi daging hewan liar, baik di Tiongkok sendiri maupun di negara yang bersangkutan.

    Tiongkok disebut bukan satu-satunya negara yang memiliki kebiasaan mengonsumsi daging hewan liar. Banyak warga negara di seluruh belahan dunia juga memiliki kebiasaan yang sama, termasuk di Indonesia.

    Jadi pemicu wabah virus Corona, kenapa daging hewan liar tetap digemari?

    Pasar Huanan disebut menjadi tempat awal munculnya wabah virus Corona yang terjadi belakangan ini. Di pasar ini tidak dijual makanan laut saja, namun juga 112 jenis hewan liar. Mulai dari tikus, ular, kelelawar, landak, bahkan burung merak.

    Baca juga: Tubuh Sehat dan Usia Muda Tak Jamin Kebal Virus Corona

    Selain itu, Pasar Huanan juga menyediakan makanan olahan dari daging hewan liar tersebut. Parahnya, makanan yang menjadi favorit pengunjung di sana adalah sup kelelawar, yang ditengarai sebagai pemicu awal tersebarnya wabah virus Corona.

    Peneliti asal Tiongkok di University of Waterloo Kanada, Zhengzhong Si mengatakan ada beberapa alasan pasar hewan bisa berkembang. Di antaranya adalah:

    1. Menjadi simbol kekayaan
    Zhengzhong Si menyatakan daging hewan liar disebut sebagai simbol kekayaan. Hal ini karena daging hewan liar dijual dengan harga relatif mahal dan sulit didapatkan.

    Baca juga: Disorot Dunia, China Pilih Isolasi Kota Wuhan, Biang Asal Muasal Munculnya Virus Corona

    2. Rasa penasaran wisatawan
    Para wisatawan yang penasaran menjadi faktor bertumbuhnya pasar hewan liar ini. Tak dapat dipungkiri lagi keberadaan pasar hewan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dari luar negeri. Sehingga, apabila mereka terserang wabah virus Corona di pasar hewan liar tersebut, maka risikonya akan semakin besar ketika mereka kembali ke tempat asal.

    3. Dianggap sebagai makanan lezat dan ciri khas wilayah
    Bagi sebagian wisatawan, masakan berbahan daging hewan liar dianggap makanan lezat dan ciri khas dari wilayah yang mereka kunjungi.

    Banyak juga yang menganggap bahwa hewan liar lebih banyak kandungan nutrisinya ketimbang hewan ternak. Hal ini karena hewan liar hidup secara alamiah, tanpa campur tangan manusia.

    4. Jadi bahan obat tradisional
    Daging hewan liar kerap dijadikan bahan pengobatan tradisional di Tiongkok. Bahkan banyak yang percaya daging hewan liar dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit.

  • Ganjar Pranowo Imbau Pemkot Solo Terbitkan Perda Larangan Makan Daging Anjing

    Ganjar Pranowo Imbau Pemkot Solo Terbitkan Perda Larangan Makan Daging Anjing

    TIKTAK.ID – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengimbau Pemerintah Kota Solo segera membuat Perda terkait larangan mengonsumsi daging anjing. Alasannya, karena anjing bukan termasuk hewan yang dagingnya untuk dikonsumsi.

    “Kita harus mendorong Pemerintah Kota Solo untuk membuat peraturan yang tegas, DPRD-nya membuat regulasi yang melarang orang mengonsumsi atau berjualan daging anjing,” ucap Ganjar saat bertemu aktivis perlindungan hewan Dog Meat Free Indonesia pada Selasa, (03/12/19).

    Baca juga: Jadi Bos BUMN, Ahok Hengkang dari PDIP?

    Ganjar menyebutkan larangan mengonsumsi daging anjing sebenarnya telah tertuang di Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan. Pasal 1 aturan ini mengatakan bahwa anjing bukan termasuk dalam makanan konsumsi karena tidak tergolong sumber hayati produk peternakan, kehutanan, atau jenis lainnya.

    Dog Meat Free Indonesia menyebutkan sekitar 13.700 ekor anjing dibunuh setiap bulannya untuk dikonsumsi di wilayah Solo Raya. Bahkan dari belasan ribu ekor anjing tersebut, banyak di antaranya dipasok dari Jawa Barat yang masih berstatus belum bebas rabies.

    Kota Surakarta merupakan daerah tertinggi konsumsi anjing. Diikuti kabupaten dan kota lain di sekitarnya seperti Sukoharjo, Salatiga, Sragen, serta Semarang.

    Baca juga: Cerita Megawati Selamatkan Prabowo yang Dulu Sempat ‘Keleleran’

    Koordinator DMFI Karin Franken menuturkan wilayah Jawa Tengah yang berstatus bebas rabies sejak 1995 menjadi terancam kembali dikarenakan tingginya konsumsi anjing. “Kondisi saat ini banyak (anjing) yang dikirim ke Jateng,” kata dia, Selasa, (03/12/19).

    TIKTAK.ID - Ganjar Pranowo Imbau Pemkot Solo Terbitkan Perda Larangan Makan Daging Anjing

    Karin meminta Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah cepat untuk menghentikan konsumsi anjing. Menurut Karin, selain dapat menular karena mengonsumsi, rabies juga dapat menular melalui kendaraan yang digunakan mengangkut anjing.

    “Makanya kami meminta Pemerintah (Kota Solo) ambil langkah cepat untuk menghentikan konsumsi itu,” pinta Karin.

    Baca juga: Putra Sulung Megawati Soekarnoputri Terlibat Suap Impor Bawang Putih?