Tag: Covid

  • Mengenal Fenomena Super Flu

    Mengenal Fenomena Super Flu

    TIKTAK.ID – Belakangan ini laporan kasus super flu di Amerika Serikat meningkat, sehingga menjadi sorotan dunia kesehatan. Istilah super flu sendiri ramai dipakai masyarakat untuk menggambarkan flu yang terasa lebih berat, bertahan lama, dan menimbulkan kelelahan ekstrem.

    Walaupun terdengar mengkhawatirkan, para ahli menyatakan super flu bukan istilah medis resmi. Akan tetapi, lonjakan kasus influenza dengan gejala berat tetap perlu diwaspadai, khususnya di tengah mobilitas tinggi dan rendahnya cakupan vaksinasi di sejumlah negara.

    Menurut Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, super flu sejatinya bukan diagnosis medis.

    Baca juga : Ketahui Risiko dan Aturan Pakai Obat Dexamethasone

    “Super flu bukan terminologi medis, melainkan kerap dipakai oleh orang awam untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 subclade K,” ungkap Piprim, seperti dilansir Kompas.com sebelumnya, pada Rabu (31/12/25).

    Virus influenza A H3N2 yang bermutasi ini disebut-sebut lebih sulit dikenali oleh sistem imun, termasuk pada orang yang sebelumnya sudah memiliki kekebalan akibat infeksi flu atau vaksinasi. Hal itu pun sejalan dengan penjelasan Andrew Pekosz, Ph.D., ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

    “Virus flu bermutasi dengan cepat, dan mutasi ini dapat memberikan keuntungan bagi virus tersebut,” terang Pekosz, disadur dari Today.

    Baca juga : Ketahui Perbedaan Jalan Kaki di Luar Ruangan dan di Treadmill untuk Kesehatan Tubuh

    Pekosz menyebut salah satu jenis H3N2 yang muncul memiliki mutasi yang memungkinkan virus menghindari perlindungan dari vaksin. Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa flu kali ini lebih berat ketimbang flu musiman pada umumnya.

    Para ahli mengungkapkan, secara umum gejala super flu mirip dengan influenza A musiman. Bedanya, intensitas keluhannya sering kali lebih berat dan muncul secara mendadak. Berikut ini gejala yang paling sering dilaporkan:

    – Demam tinggi dan berkepanjangan
    – Panas dingin dan menggigil
    – Nyeri otot dan tubuh terasa sangat pegal

    Baca juga : Ketahui Penyebab Makin Banyak Orang Muda Nyeri Lutut

    – Sakit kepala berat
    – Kelelahan ekstrem sampai sulit beraktivitas
    – Hidung tersumbat atau pilek berat
    – Batuk dan nyeri tenggorokan.

    Dr. Piprim menambahkan, pada anak-anak, flu berat dapat disertai kelelahan luar biasa dan risiko komplikasi, kalau tidak ditangani dengan baik. Perlu dicatat, gejala flu bisa menyerupai COVID-19 atau infeksi virus pernapasan lain, sehingga melakukan test menjadi langkah penting.

  • Kemlu RI Berhasil Pulangkan 158 Pekerja Migran Indonesia termasuk ABK dari Berbagai Titik di Pasifik

    Kemlu RI Berhasil Pulangkan 158 Pekerja Migran Indonesia termasuk ABK dari Berbagai Titik di Pasifik

    TIKTAK.ID – Setelah melalui berbagai upaya diplomasi, 158 pekerja migran Indonesia, termasuk ABK, berhasil dipulangkan ke Tanah Air dari Marshal Island, Papua Nugini, Solomon Island dan Fiji. Mereka tiba dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (28/1/21) malam.

    Dari total 158 PMI tersebut, sejumlah 35 ABK sempat tertahan selama 5 bulan di Majuro, Marshal Island seusai menyelesaikan kontrak kerjanya di kapal ikan berbendera Republik Rakyat Tiongkok. Mereka tidak dapat segera pulang akibat penerapan kebijakan karantina oleh Pemerintah Marshal Island.

    Kondisi yang sama juga dialami oleh PMI di titik lainnya yaitu 29 PMI di Fiji, 15 PMI di Papua Nugini, serta 78 PMI di Solomon Islands.

    Baca juga : Postingan Sandiaga Ajak Lari Pagi Bikin Anggota DPR Meradang, Gerindra Bantu Klarifikasi

    Pada rombongan yang sama, turut dipulangkan jenazah ABK yang meninggal dunia di Fiji akibat kecelakaan kerja di atas kapal berinisial AW.

    Misi repatriasi ini dilakukan Kemlu berkoordinasi dengan KBRI Manila, KBRI Port Moresby, dan KBRI Suva. Proses kepulangan dilakukan dengan tetap mengedepankan tanggung jawab perusahaan yang mempekerjakan para ABK.

    Kondisi pandemi Covid, kebijakan penutupan pelabuhan, terbatasnya akses penerbangan dan tersebarnya PMI stranded di berbagai daerah terpencil di Samudera Pasifik menjadi tantangan utama.

    Baca juga : Korban Banjir Ajukan Banding Usai Gugatan ke Anies Ditolak Pengadilan

    Selama pandemi, Kementerian Luar Negeri RI telah memfasilitasi pemulangan sebanyak lebih dari 27.064 ABK baik ABK kapal niaga maupun kapal ikan yang terdampar di luar negeri akibat kebijakan pembatasan mobilitas di banyak negara.

  • Begini Guna Fitur ‘Jejaki’ dari Pemprov DKI untuk Permudah Akses Info Covid

    Begini Guna Fitur ‘Jejaki’ dari Pemprov DKI untuk Permudah Akses Info Covid

    TIKTAK.ID – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyadari diperlukan kerja sama dalam mempersempit penyebaran Covid-19. Lantaran itulah, Pemprov DKI berkolaborasi bersama Pemerintah Pusat beserta sejumlah perusahaan rintisan atau start-up mewujudkan fitur anyar dalam aplikasi Jakarta Kini (JAKI).

    Aplikasi JAKI itu telah dihadirkan awalnya oleh Jakarta Smart City, dengan nama Jejaki. Kepala BLUD Jakarta Smart City, Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Yudhistira Nugraha menjelaskan Jejaki mempermudah warga untuk menggali informasi seputar Covid-19.

    “Warga Jakarta, baik yang menetap maupun cuma beraktivitas, tak perlu lagi mengakses bermacam-macam laman beragam guna mendapatkan data atau informasi berkaitan wabah Corona. Fitur ini disematkan dalam aplikasi JAKI yang bisa diunduh masyarakat di Play Store maupun App Store,” jelasnya.

    Baca juga : Buya Syafi’i: Mendewa-dewakan Habib itu Bentuk Perbudakan Spiritual

    Yudhistira menerangkan, Jejaki merupakan peran integrator yang memadukan layanan, termasuk aplikasi pencegahan Covid-19 dari Pemerintah Pusat. Lima fitur utama dalam Jejaki, antara lain Contact Tracing, Zonasi, Checkpoint Monitoring, dan tes mandiri JakCLM, kesemuanya hasil kolaborasi dengan beberapa lembaga.

    Fitur Contact Tracing diwujudkan guna melacak warga yang mengalami kontak dengan orang yang positif atau terkonfirmasi Covid-19. Fitur itu ada berkat kolaborasi Pemprov DKI Jakarta bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia via aplikasi PeduliLindungi.

    Kemudian, cara kerja PeduliLindungi pada contact tracing berdasar data yang dihasilkan oleh gawai pengguna JAKI dengan bluetooth aktif agar merekam informasi yang diperlukan. Saat terdapat gawai lain dalam radius bluetooth yang turut terdaftar dalam PeduliLindungi, maka bakal berlangsung pertukaran id anonim yang bakal terekam dalam gawai tersebut masing-masing.

    Baca juga : Viral Video Penghinaan, Kali ini Jokowi dan Puan Disebut Keturunan Binatang

    “PeduliLindungi selanjutnya bakal mengidentifikasi orang- orang yang sempat berada dalam jarak dekat dengan orang yang dinyatakan positif Covid-19. Tetapi, untuk memanfaatkan fitur Contact Tracing pada Jejaki ini, masyarakat perlu pastikan telah mengunduh atau terdaftar pula dalam aplikasi PeduliLindungi,” sebut Yudhistira.

    Di samping itu, PeduliLindungi turut membantu Pemprov dalam mengabarkan status zona risiko penyebaran Covid-19 tiap kelurahan dalam wilayah DKI Jakarta. Status dalam fitur zonasi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu zona risiko tinggi berupa warna merah, zona risiko sedang berupa warna kuning, dan zona risiko rendah yang ditandai menggunakan warna hijau.

  • 3 Pekan Anies Pilih PSBB Diperketat, Covid DKI Malah Melesat

    3 Pekan Anies Pilih PSBB Diperketat, Covid DKI Malah Melesat

    TIKTAK.ID – Kasus positif virus Corona (Covid-19) di DKI Jakarta masih terus menanjak. Padahal, DKI Jakarta telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diperketat selama tiga pekan.

    Bahkan dalam sepekan ini, Jakarta melaporkan sebanyak 8.409 kasus Covid-19 baru dan paling tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Pada Minggu (4/10/20) kemarin, DKI mencatat jumlah penambahan kasus 1.398 orang.

    Secara total kasus pun Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah 78.850 orang. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan Jawa Timur yang sempat menjadi hotspot Corona. Selain itu, jika dilihat lebih jauh, kasus aktif di Ibu Kota juga masih tinggi dibandingkan yang lainnya.

    Baca juga : Jokowi Bandingkan Kondisi di RI, AS, India dan Singapura Selama Pandemi. Hasilnya?

    Kasus aktif Jakarta sebanyak 12.866 orang, yakni jumlah orang yang masih membutuhkan perawatan dan isolasi mandiri. Kemudian jumlah pasien sembuh mencapai 64.229 orang dan kasus meninggal 1.755.

    Meski secara keseluruhan kasus Jakarta paling tinggi, tetapi untuk kasus kematian, Jawa Timur masih lebih tinggi yakni sebanyak 3.280.

    Perlu diketahui, secara nasional, kasus positif virus Corona di Indonesia sampai dengan Minggu (4/10/20) atau tepat 7 bulan sejak wabah pertama kali ditemukan, telah mencapai 303.498 orang. Kasus baru pun bertambah 3.992 orang dari hari sebelumnya. Sementara jumlah kematian bertambah sebanyak 96 orang menjadi 11.151 orang dari hari sebelumnya sebanyak 11.055 orang.

    Baca juga : Ahok Bentuk Tim Khusus di Pertamina, Andre Rosiade Ingatkan Soal ini

    Hingga kemarin, pandemi Covid-19 telah menyebar di 497 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia. Tidak hanya itu, Pemerintah juga masih memantau 139.401 orang yang berstatus suspek Covid-19. Namun terdapat kabar baik, yaitu pada hari ini kasus sembuh bertambah 3.402 orang menjadi 229.453 orang dari Sabtu kemarin 225.052 orang.

    Terus bertambahnya kasus positif Covid-19 di Indonesia menunjukkan bahwa pandemi ini masih belum terkendali. Oleh sebab itu, untuk mencegah penularan dan penambahan kasus, maka masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Di antaranya menjaga jarak, mencuci tangan sesering mungkin, dan memakai masker.

    Selain itu, masyarakat juga harus menjauhi keramaian dan kerumunan. Sebab, hal itu merupakan tempat di mana Corona bisa menyebar dengan cepat.