Tag: Berita Dunia

  • Aktivis AS: Trump Ikut Bersalah atas Jatuhnya Pesawat Ukraina

    Aktivis AS: Trump Ikut Bersalah atas Jatuhnya Pesawat Ukraina

    TIKTAK.ID – Seorang aktivis anti-perang Amerika, Medea Benjamin menyatakan bahwa Presiden Amerika Donald Trump “ikut menanggung kesalahan” atas jatuhnya pesawat Ukraina di dekat Teheran, Iran, Rabu lalu. Ia menyatakan insiden itu terjadi setelah Trump terus-menerus meningkatkan ketegangan di wilayah itu dengan memerintahkan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani di Irak.

    Medea merupakan salah satu pendiri Code Pink, sebuah kelompok anti-perang yang dipimpin wanita. Melalui akun Twitternya, ia menulis kecelakaan itu adalah “kerusakan tragis yang beruntun”, seperti yang dilaporkan PessTV.

    “Militer Iran mengatakan pihaknya pada tingkat siaga tertinggi di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS dan dalam kebingungan, mereka secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat,” tweet Medea, Sabtu 11 Januari 2020.

    Baca juga: 6 Fakta Di Balik Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani yang Tidak Diungkap Media

    “Trump ikut bersalah, bukan begitu?” Kerusakan parah nan tragis akibat pembunuhannya terhadap Soleimani, ”tambahnya.

    Ukraine International Airlines dengan nomor Penerbangan 752, yang mengoperasikan Boeing 737-800, jatuh di dekat Teheran pada Rabu lalu setelah lepas landas dari Teheran dalam penerbangan ke Kiev dan menewaskan semua 176 penumpang di dalamnya.

    Iran mengatakan pesawat itu terbang dekat situs militer yang sensitif dan ditembak jatuh karena kesalahan manusia “pada saat krisis yang disebabkan oleh ‘petualangan’ AS.”

    Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu, Staf Umum Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran mengatakan bahwa pada saat kejadian, pasukan sedang dalam posisi siaga tertinggi.

    Halaman selanjutnya…

  • Selain Diotaki AS, Analis Independen Bongkar Benang Merah Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Qassem Soleimani

    Selain Diotaki AS, Analis Independen Bongkar Benang Merah Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Qassem Soleimani

    TIKTAK.ID – Selain pengakuan langsung Washington pasca kejadian, fakta bahwa pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani diotaki Amerika Serikat, sudah banyak diungkap ke publik.

    Namun berkenaan dengan respons tegas Iran pasca serangan yang menyatakan tak mengecualikan keterlibatan Israel dalam konspirasi keji pembunuhan terhadap Komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran tersebut, pada awalnya masih belum benar-benar dipahami oleh banyak pihak.

    Hingga akhirnya muncul analisa yang disampaikan Federico Piaracinni dari The Strategic Culture Foundation, sekaligus analis independen tentang geopolitik, yang menulis di situs The Duran, Kamis (9/1/20), bahwa sebab pembunuhan Qassem Soleimani menurutnya jauh lebih pelik dari yang dibayangkan orang.

    Baca juga: 6 Fakta Di Balik Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani yang Tidak Diungkap Media

    Peristiwa itu termasuk klimaks ketegangan antara Trump dan PM Irak Adel Abdul Mahdi. Juga bahwa spektrum peristiwanya menyangkut kepentingan besar China, Saudi Arabia, dan juga Qatar. Tak terkecuali dan utamanya, duet sekutu abadi Amerika dan Israel.

    Kasusnya juga menyangkut bisnis migas Timur Tengah, pemenuhan infrastruktur dan kelistrikan di Irak, serta masa depan dolar AS sebagai alat transaksi dagang internasional.

    Kok bisa? Begini konstruksi ceritanya menurut Pieracinni.

    Kisah gelap ini sesungguhnya sebagian kecil sudah dibuka Adel Mahdi lewat serangkaian pernyataannya di televisi setelah Soleimani terbunuh, dan lebih detil lagi diungkapkannya di parlemen Irak. Meski usahanya membuka rahasia ini, dihalang-halangi AS lewat Ketua DPR Irak, Mohammad al-Halboussi, tokoh berlatar Sunni, dan punya loyalis cukup kuat. Gedung Putih menggunakan golongan ini untuk menekan Adel Abdul Mahdi.

    Baca juga: Bunuh Jenderal Soleimani, Muhammadiyah: Amerika Negara Teroris

    Lantas kenapa Abdul Mahdi yang digencet?

    Trump dan Abdul Mahdi selama berminggu-minggu ternyata terlibat pembicaraan sangat serius. Aksi demonstrasi besar di Irak akhir tahun lalu, tak lepas dari masalah ini.

    AS memang ada di balik gerakan mendelegitimasi pemerintahan Abdul Mahdi dengan isu korupsi. Persis seperti pola gerakan massa yang digunakan di Mesir 2009, Libya 2011, Maidan 2014.

    Irak di tengah gejolak ini ternyata sedang bernegosiasi dengan China terkait proyek kelistrikan.

    Dalam usaha membuka kedok hitam ini di parlemen dan kepada publik, Halboussi benar-benar berusaha mematahkannya. Tapi Mahdi berusaha keras menyuarakan usaha Amerika untuk membuat Irak kembali hancur. Bahwa Washington ingkar janji terkait proyek pemulihan infrastruktur dan kelistrikan Irak, dan meminta bagian 50 persen pendapatan sektor minyak Irak, tapi Abdul Mahdi menolaknya. Karena itulah Abdul Mahdi berpaling ke China, meneken perjanjian proyek konstruksi.

    Baca juga: BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    Halaman selanjutnya…

  • 6 Fakta Di Balik Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani yang Tidak Diungkap Media

    6 Fakta Di Balik Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani yang Tidak Diungkap Media

    TIKTAK.ID – Banyak media yang mengabaikan fakta terkait pembunuhan AS terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani yang dianggap tak sesuai dengan narasi Washington. Hal ini seperti yang diungkap oleh seorang komedian sekaligus penulis, aktor, dan aktivis Amerika, Lee Camp.

    Dilansir Redacted Tonight, ada enam fakta tentang pembunuhan Soleimani oleh AS yang sengaja dikurangi atau ditutupi media.

    Baca juga: Trump Memilih Berbicara Lembut dalam Pidato Pertamanya Usai Serangan Iran

    Lee Camp mendobrak narasi media yang tidak kritis dan terkesan dibuat-buat dengan bertanya: Apakah kita benar-benar ingin memasuki perang yang akan membunuh jutaan orang, hanya untuk tahu bahwa itu semua berdasar kebohongan seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya?

    Berikut fakta-fakta terkait pembunuhan yang dilakukan Amerika terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani yang diungkap oleh Lee Camp:

    Halaman selanjutnya…

  • Saat Situasi Timteng Masih Tegang, Kenapa Jokowi Justru Kunjungi UEA?

    Saat Situasi Timteng Masih Tegang, Kenapa Jokowi Justru Kunjungi UEA?

    TIKTAK.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA), pada 11 hingga 14 Januari mendatang. Padahal, kawasan Timur Tengah saat ini sedang memanas usai Amerika Serikat membunuh jenderal Iran Letnan Jenderal Qassem Soleimani.

    Untuk itu, Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi memantau kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah menjelang kunjungan Jokowi ke sana. Retno mengatakan, keamanan Jokowi merupakan hal utama.

    “Kami akan amati semuanya, semua dampaknya kami hitung dengan sangat matang,” ujar Retno di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (9/1/20).

    Baca juga: Saat Tagar #IranvsUSA dan #IranAttacks Puncaki Trending Topic Twitter, Cuitan Akun Parodi @RobertDeNiroUS Tetap Menggelitik

    Retno mengungkapkan kunjungan Jokowi ke UEA terkait dengan rencana investasi. Pemerintah Indonesia dan pemerintah UEA terus berkomunikasi untuk membahas kerja sama, baik antar pemerintah maupun sektor bisnis.

    “Akan ada beberapa Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani, dari pihak bisnis yang paling banyak,” kata Retno.

    Menurutnya, pihak UAE tengah mempersiapkan kerja sama untuk dimatangkan sehingga bisa diselesaikan pada saat kunjungan Jokowi ke UAE.

    Halaman selanjutnya…

  • Saat Tagar #IranvsUSA dan #IranAttacks Puncaki Trending Topic Twitter, Cuitan Akun Parodi @RobertDeNiroUS Tetap Menggelitik

    Saat Tagar #IranvsUSA dan #IranAttacks Puncaki Trending Topic Twitter, Cuitan Akun Parodi @RobertDeNiroUS Tetap Menggelitik

    TIKTAK.ID – Tak berapa lama pasca Iran dilaporkan menembakkan belasan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) pada Selasa (7/1/20) malam waktu setempat, yakni serangan yang diklaim Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif sebagai aksi bela diri tersebut, ternyata berhasil menjadi sorotan netizen di seluruh dunia hingga menjadi trending topik Twitter dengan hashtag #IranvsUSA dan #IranAttacks.

    Berdasarkan pantauan TikTak.id pada Rabu (8/1/20) pukul 14.30 WIB, tagar #IranvsUSA berhasil bertengger di peringkat ke empat dengan jumlah cuitan mencapai 738K, sedangkan tagar #IranAttacks pada pukul 19.30 WIB berada di peringkat teratas dengan jumlah cuitan mencapai 336K. Hal ini mirip kejadian serupa beberapa hari lalu ketika tagar #WWIII juga sempat berada di puncak daftar trending topik Twitter.

    Baca juga: Trump Memilih Berbicara Lembut dalam Pidato Pertamanya Usai Serangan Iran

    Serangan yang dilancarkan kedua negara tersebut memicu kekhawatiran dan simpati warga dunia. Seperti akun @AlphaAlphaKazmi, pada cuitannya ia berdoa untuk kebaikan kemanusiaan dan kebaikan bumi terkait kebakaran hutan di Australia, sambil menyertakan tagar #IranvsUSA.

    Pray for Humanity Pray for the Planet #IranvsUSA.
    2020 it’s all real ???#IranvsUSA pic.twitter.com/QgHXeL7UVR

    — Wasi-ul-Hassan Kazmi (@AlphaAlphaKazmi) January 8, 2020

    Akun @csthakur_7 menuangkan kesedihannya dan memperingatkan bahwa perang bukanlah guyonan, tetapi kehancuran.

    War is not a joke, it’s destruction😔😔..#IranvsUSA pic.twitter.com/nLo658Te5Z

    — Chandrabhan thakur (@csthakur_7) January 8, 2020

    Halaman selanjutnya…

  • 5 Fakta Roket yang Digunakan Iran Serang AS

    5 Fakta Roket yang Digunakan Iran Serang AS

    TIKTAK.ID – Pada Rabu (8/1/20) pagi, Iran dikabarkan kembali meluncurkan sembilan roket untuk menghantam basis pasukan Amerika Serikat (AS) di pangkalan udara, Irak. Bahkan mereka meluncurkan roket Katyusha yang merupakan andalan Iran untuk menyerang AS.

    Seperti diketahui, serangan Iran tersebut bukan tanpa sebab. Mereka melakukan serangan balasan atas kematian perwira tinggi militer Iran, Letnan Jenderal Qassem Soleimani. Pada Jumat (3/1/20) pekan lalu, Jenderal Soleimani tewas dibombardir roket AS ketika baru turun dari Bandara Internasional Irak.

    Berikut 5 fakta roket Katyusha milik Iran:

    1. Buatan Rusia
    Peluncur roket tersebut dirancang Rusia, tepatnya Georgy Langemak. Selain itu, peluncur tersebut dimanufakturi oleh Plant Comintern in Voronezh.

    Baca juga: BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    2. Senjata Rahasia pada Perang Dunia II
    Sebenarnya, Katyusha sendiri dikembangkan pada 1938 dan diproduksi secara massal pada 1941. Informasi dari Defencyclopedia, senjata ini digunakan pada Perang Dunia II tahun 1941. Sebelumnya, keberadaan Katyusha dirahasiakan pada PD II. Kebanyakan orang menyebutnya dengan inisial K. Huruf K sendiri berkaitan dengan pabrik senjatanya, Voronezh Komintern Factory.

    3. Menggunakan Mobil
    Berdasarkan laporan dari Russia Pedia, peluncur roket Katyusha menggunakan mobil truk. Bahkan dilengkapi dengan peluncur yang dapat diarahkan ke belakang mobil. Memang, senjata ini dirancang untuk menjadi sistem peluncur roket sekaligus (Multiple Launch Rocket System/MLRS).

    4. Diekspor ke sejumlah negara
    Peluncur roket tersebut sudah diekspor ke berbagai negara. Mulai dari Afghanistan, Angola, Cekoslovakia, Hungaria, Iran, Irak, Jerman Timur, Korea Utara, Mesir, Mongolia, Polandia, Suriah, Vietnam, dan Yaman.

    Baca juga: Ormas Islam dan NGO Tanah Air Kompak Kutuk Amerika, KUMAIL: Pembunuhan Qassem Soleimani Merupakan Aksi Terorisme Internasional

    China sempat menggunakan pelontar roket tersebut pada saat perang dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat. Selain itu, senjata ini juga hadir dalam perang di Timur Tengah hingga Afrika.

    5. Banyak Varian
    Varian pertama pada pelontar tersebut adalah BM 13. BM-x-y merupakan sebuah kode peluncur misil kendaraan darat. Selain itu, M-x-y merupakan peluncur berbentuk menara dan digunakan pada angkatan laut. Kode x menjadi kode misil dan y menjadi kode jumlah rel peluncur misil.

    Sementara itu, BM-8-16 menunjukkan penggunaan kendaraan peluncur darat yang dapat menembakkan misil M 8 dan mempunyai 16 peluncur.

    Baca juga: Buntut Pembunuhan Soleimani dan Al Muhandis, Parlemen Irak Sepakat Usir Pasukan AS dari Irak

    Kendaraan peluncur darat juga mempunyai sejumlah varian, mulai dari traktor, truk, dan tank. Sedangkan varian roket Katyusha sendiri juga dapat dibawa dengan mudah, seperti ditaruh di tas punggung.

  • BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    TIKTAK.ID – Garda Revolusi Republik Islam (IRGC) Iran telah menargetkan pangkalan udara AS Ain al-Assad di provinsi Anbar di Irak barat sebagai balasan atas pembunuhan AS terhadap komandan anti-teror Iran, Letnan Jenderal Qassem Soleimani.

    “Puluhan rudal balistik” ditembakkan ke pangkalan udara strategis dan serangan itu kemudian dikonfirmasi oleh para pejabat AS.

    IRGC telah menyerukan penarikan seluruh pasukan AS dari negara Arab itu, dengan menyatakan bahwa pihaknya tidak akan membedakan antara AS dan Israel dalam balas dendam terhadap pembunuhan pahlawan nasional Iran.

    Baca Juga: Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani atas Perintah Trump Banjir Kecaman dari Para Pejabat AS

    “Kami memperingatkan sekutu-sekutu AS yang menyediakan pangkalan bagi pasukan teroris [Amerika] … bahwa negara mana pun yang menjadi asal serangan dalam bentuk apa pun terhadap Republik Islam Iran akan menjadi sasaran,” Berikut Pernyataan IRGC.

    IRGC menambahkan bahwa mereka akan merilis rincian lebih lanjut tentang serangan tersebut.

    Serangan itu tidak mengejutkan karena Iran sebelumnya telah berjanji untuk melakukan “pembalasan keras” terhadap serangan teror AS.

    Sirine dilaporkan terdengar dan helikopter Amerika terbang di atas pangkalan udara dan peringatan serangan diaktifkan.

    Presiden AS Donald Trump sedang diberi pengarahan tentang serangan balasan.

    “Kami mengetahui laporan serangan terhadap fasilitas AS di Irak. Presiden telah diberi pengarahan dan memantau situasi dengan cermat dan berkonsultasi dengan tim keamanan nasionalnya,” kata juru bicara Gedung Putih Stephanie Grisham dalam sebuah pernyataan.

    Baca juga: AS Bunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani, World War 3 dan WWIII Trending Topic

    Pentagon mengklaim bahwa pihaknya akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi pasukan militer AS di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan itu.

    “Kami sedang mengerjakan perhitungan kerusakan pertempuran,” kata juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa pangkalan yang ditargetkan berada di pangkalan udara al-Assad dan satu lagi di Erbil, ibukota wilayah semi-otonomi Kurdistan di Irak.

    “Jelas bahwa rudal ini diluncurkan dari Iran dan menargetkan setidaknya dua pangkalan militer Irak yang menampung personel militer dan koalisi AS di al-Assad dan Irbil,” kata Pentagon.

    “Sekitar pukul 5.30 sore (22:30 GMT) pada 7 Januari, Iran meluncurkan lebih dari selusin rudal balistik melawan militer AS dan pasukan koalisi di Irak,” Asisten Sekretaris Pertahanan untuk Urusan Publik Jonathan Hoffman mengatakan dalam sebuah pernyataan.

    Saham Asia dan yield treasury AS jatuh pada hari Rabu, sementara yen, emas dan minyak melesat lebih tinggi setelah serangan pada hari Rabu pagi. Harga minyak naik lebih dari 4,5 persen pada satu titik. Benchmark WTI melonjak sebanyak 4,53 persen menjadi $ 65,54 per barel sebelum akhirnya turun.

    Baca juga: Ormas Islam dan NGO Tanah Air Kompak Kutuk Amerika, KUMAIL: Pembunuhan Qassem Soleimani Merupakan Aksi Terorisme Internasional

    Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 1% tak lama setelah pasar saham China mulai diperdagangkan, dengan indeks CSI300 blue-chip China turun 0,56%. Nikkei Jepang jatuh 2,2% dan saham Australia jatuh lebih dari 1%.

    Saham berjangka AS juga turun tajam, dengan S & P500 e-minis turun hampir 1%. “Ini risiko klasik,” kata Rob Carnell, kepala ekonom Asia-Pasifik di ING di Singapura.

    Saham Wall Street kehilangan lebih banyak kekuatan, dengan Dow Jones Industrial Average kehilangan 0,4 persen untuk menutup sesi di 28.583,68. S&P 500 yang berbasis luas merosot 0,3 persen menjadi berakhir pada 3.237,18 tetapi Indeks Nasdaq Composite yang kaya teknologi hanya turun diangka 9.068,58.

    Kelompok Pasukan Mobilisasi Populer Irak, yang lebih dikenal sebagai pasukan Hashd al-Sha’abi, mengumumkan dimulainya Operasi Penanggulangan Tanggap ke Amerika Serikat.

    Gedung Putih sedang mempersiapkan untuk pidato di depan warga AS oleh komandan tertinggi Amerika, tetapi kemudian diumumkan bahwa pidato telah dibatalkan.

    Baca juga: Pemimpin Hamas: Jenderal Soleimani adalah ‘Martir al-Quds’

    Administrasi Penerbangan Federal AS mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka melarang perusahaan penerbangan terdaftar AS terbang di atas Irak, Iran dan Teluk setelah serangan roket terhadap pasukan AS di Irak.

    “(FAA) mengeluarkan Pemberitahuan kepada seluruh maskapai penerbangan yang berisi pembatasan penerbangan yang melarang operator penerbangan sipil AS beroperasi di wilayah udara Irak, Iran dan perairan Teluk Persia serta Teluk Oman,” ucapnya dalam sebuah pernyataan. “FAA akan terus memonitor peristiwa di Timur Tengah.”

  • Sumpah Pembalasan Ditunaikan Iran, Usai Pangkalan AS di Irak, Kini Giliran Israel Bakal Jadi Sasaran

    Sumpah Pembalasan Ditunaikan Iran, Usai Pangkalan AS di Irak, Kini Giliran Israel Bakal Jadi Sasaran

    TIKTAK.ID – Beberapa hari terakhir pasca pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani, Abu Mahdi Al-Muhandis dan beberapa korban lain atas perintah langsung Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, para analis di seluruh dunia menyampaikan pandangan mereka yang rata-rata serupa, bahwa kecil kemungkinan Iran bakal membalas dendam kepada AS, berhubung begitu jomplangnya perbandingan kekuatan militer antar kedua negara. Apalagi setelah Trump sesumbar, negaranya siap menghancurkan 52 situs budaya Iran jika Negeri Mullah itu berani membalas dendam atas terbunuhnya Komandan Pasukan Quds dari IRGC tersebut.

    Namun ternyata analisa tersebut terbukti meleset, setelah Iran -melalui Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) pada Selasa (7/1/20) malam membombardir pangkalan militer AS di Irak dengan rudal.

    Baca juga: BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    Tak cukup sampai di situ, Iran bahkan bersumpah akan menyerang Israel setelah serangan IRGC atas pangkalan militer -yang kabarnya dijadikan AS sebelumnya, sebagai markas pengendalian serangan terhadap Qassem Soleimani cs tersebut. Ancaman itu akan diwujudkan bila Amerika Serikat (AS) membalas serangan Iran kali ini. Nantinya, serangan kepada Israel akan dilakukan oleh sekutunya, Hizbullah.

    IRGC menyampaikan ancamannya dari kantor berita Tasnim Iran dan menegaskan alasan kenapa Israel juga bakal dijadikan sasaran.

    “Kami sama sekali tidak menganggap rezim Zionis (Israel) terpisah dari rezim kriminal AS dalam kejahatan ini,” ujar perwakilan IRGC memperingatkan dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari The Jerusalem Post, Rabu (8/1/20).

    Baca juga: Pemimpin Hamas: Jenderal Soleimani adalah ‘Martir al-Quds’

    Halaman selanjutnya…

  • Ulama Irak: Bila AS Tak Hengkang, Irak akan Jadi Vietnam Baru Bagi AS

    Ulama Irak: Bila AS Tak Hengkang, Irak akan Jadi Vietnam Baru Bagi AS

    TIKTAK.ID – Salah satu Ulama berpengaruh Irak, Muqtada al-Sadr, menyatakan bahwa jika pasukan AS tidak keluar dari negara itu, maka Irak akan menjadi Vietnam baru bagi Washington. Begitu bunyi dari pernyataan suratnya yang disampaikan kepada Parlemen, seperti yang dilaporkan PressTV, Senin 6 Januari 2020.

    Sadr, yang memimpin fraksi terbesar di parlemen Irak, juga mengatakan bahwa resolusi parlemen yang menyerukan pemerintah untuk mengakhiri kehadiran pasukan asing masih belum cukup.

    “Saya menganggap ini sebagai tanggapan yang lemah dan tak sebanding dengan pelanggaran Amerika terhadap kedaulatan Irak dan eskalasi regional,” bunyi surat itu.

    Baca juga: Pemimpin Hizbullah: Pasukan Amerika akan Pulang dalam Peti Mati

    Sadr menegaskan bahwa perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat harus segera dibatalkan, kedutaan AS harus ditutup, pasukan AS harus diusir dengan cara yang memalukan, dan komunikasi dengan pemerintah AS harus dihentikan.

    “Akhirnya, saya menyerukan secara khusus pada kelompok-kelompok perlawanan Irak dan kelompok-kelompok di luar Irak secara umum untuk segera bertemu dan mengumumkan pembentukan Legiun Perlawanan Internasional,” katanya.

    Sementara itu, Perdana menteri Irak Adel Abdul-Mahdi mengatakan negaranya dan Amerika Serikat harus bekerja sama dalam proses penarikan semua pasukan asing dari negara itu.

    Baca juga: Demonstrasi di Sejumlah Kota Besar Amerika Kutuk Pembunuhan Qassem Soleimani

    Abdul-Mahdi membuat pernyataan itu setelah bertemu dan berbicara dengan Duta Besar AS Matthew Tueller. Pertemuan itu dilakukan usai anggota parlemen Irak dengan suara bulat menyetujui undang-undang yang menuntut penarikan semua pasukan militer asing yang dipimpin Amerika Serikat dari negara tersebut.

    Pada Senin kemarin, Abdul-Mahdi juga berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel terkait resolusi parlemen Irak yang menyerukan semua pasukan asing harus meninggalkan negara itu.

    Halaman selanjutnya…

  • Pemimpin Hamas: Jenderal Soleimani adalah ‘Martir al-Quds’

    Pemimpin Hamas: Jenderal Soleimani adalah ‘Martir al-Quds’

    TIKTAK.ID – Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengatakan Jenderal Qassem Soleimani adalah “martir al-Quds”, karena dia mengabdikan hidupnya untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina melawan Israel. Pembunuhannya oleh Amerika Serikat persis dengan kejahatan yang sering dilakukan oleh rezim Israel, seperti yang dilaporkan PressTv.

    Hal itu disampaikan oleh Haniyeh pada Senin (6/1/20) saat mengikuti prosesi pemakaman Komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Soleimani, di Teheran, Iran.

    Amerika membunuh Jenderal Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Sha’abi Abu Mahdi al-Muhandis pada Jumat lalu melalui serangan udara di Bandara Internasional Baghdad. Pembunuhan itu dilakukan atas perintah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

    Baca juga: Buntut Pembunuhan Soleimani dan Al Muhandis, Parlemen Irak Sepakat Usir Pasukan AS dari Irak

    Haniyeh melanjutkan bahwa Hamas berutang kepada kebijaksanaan Jenderal Soleimani dalam meraih seluruh kemampuan yang dimilikinya saat ini. Perlawanan Palestina, tidak akan berhenti memerangi Israel dan perjuangan akan terus berlanjut.

    “Sampai kita bersihkan semua musuh dari tempat suci al-Quds,” katanya.

    Dia mengatakan bahwa keberadaannya di Iran saat ini adalah “untuk mengungkapkan perasaan tulusnya kepada seorang saudara lelaki terkasih dan seorang komandan martir, seorang komandan yang membuat banyak pengorbanan dan perlawanan untuk Palestina sampai ia mencapai posisi saat ini”.

    “Kami datang ke Iran untuk turut berduka cita bersama Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Khamenei, Pemerintah dan bangsa Iran,” kata Haniyeh.

    Baca juga: Demonstrasi di Sejumlah Kota Besar Amerika Kutuk Pembunuhan Qassem Soleimani

    “Dia [Jenderal Soleimani] adalah Komandan Pasukan Quds IRGC dan dia adalah martir al-Quds,” kata pemimpin Hamas itu.

    Haniyeh juga mengirimkan belasungkawa kepada keluarga Jenderal Soleimani dan menyebutnya sebagai salah satu “pembawa bendera perlawanan terhadap Zionis dan Amerika.”

    Halaman selanjutnya…