
Komisi XI Minta Pernyataan Prabowo soal MSCI Tak Diartikan Sepotong, Ini Alasannya
Ketua Komisi XI DPR Misbakhun meminta publik tidak memaknai ucapan Presiden Prabowo Subianto seputar MSCI (Morgan Stanley Capital International) secara terpotong-potong. Menurutnya, pernyataan presiden semestinya dibaca secara utuh sebagai penegasan sikap Indonesia di tengah tekanan terhadap pasar modal nasional.
Pesan Misbakhun: Sikapi Tekanan dengan Hati-hati
Berbicara di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Minggu (25/10), Misbakhun menjelaskan bahwa situasi sulit dan penuh tekanan yang sedang dialami Indonesia justru menuntut respons yang lebih cermat, bukan persepsi yang berlebihan.
Ia berpendapat ucapan Prabowo mengenai MSCI dimaksudkan untuk menegaskan bahwa ekonomi Indonesia dibangun di atas kekuatan rakyatnya sendiri. Dengan penegasan itu, masyarakat diharapkan tidak larut dalam kekhawatiran terhadap kondisi yang sedang berjalan.
Sinyal Tegas untuk Investor Global
Lebih jauh, Ketua Komisi XI itu menilai pernyataan presiden sekaligus menyampaikan pesan yang nyata dan kuat kepada MSCI, termasuk kepada investor global. Intinya, Indonesia berkomitmen mengikuti protokol tata kelola bursa saham internasional.
Ia menambahkan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menunjukkan kesungguhan melalui berbagai upaya konkret, termasuk melakukan pertemuan berkali-kali dengan pihak MSCI.
Ekonomi Indonesia Dinilai Lincah dan Resilien
Misbakhun menegaskan Indonesia memiliki ekonomi yang sangat lincah. Di luar dinamika pasar modal Indonesia, negeri ini ditopang sektor ketahanan pangan, ketahanan energi, serta daya lentur ekonomi yang membentuk resiliensi kuat menghadapi guncangan eksternal.
Perhatian Komisi XI terhadap Pasar Modal
Sebagai komisi yang membidani bidang keuangan, Komisi XI terus menaruh perhatian serius terhadap perkembangan pasar modal domestik. Rapat-rapat berkala kerap digelar untuk memantau proses reformasi pasar modal di tanah air.
Meski demikian, Misbakhun mengingatkan bahwa dinamika pasar modal memang selalu volatil. Kondisi saat ini, kata dia, tidak semata-mata dipicu faktor ekonomi nasional, melainkan juga dipengaruhi situasi geopolitik yang penuh naik-turun dan ketidakpastian.
Latar Belakang: Ancaman Penurunan Status Pasar Modal
Pernyataan Prabowo tersebut mengemuka dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Rabu (21/10). Di forum itu, presiden menyampaikan pesan terbuka kepada MSCI di tengah ancaman penurunan status pasar modal Indonesia.
Prabowo menegaskan bangsa Indonesia tidak takut dan tidak akan gentar kepada siapa pun, meski ia mengakui tantangan serta gangguan yang dihadapi masih besar. Ia menyebut pemerintah menyadari masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, sementara masyarakat menuntut hasil yang lebih besar. Berbagai gangguan, nilai dia, akan terus bermunculan dan Indonesia harus tetap berani menghadapinya.
Ucapan itu muncul usai MSCI pada 16 Oktober 2026 mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori pasar negara berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Menanggapi langkah tersebut, Misbakhun berharap seluruh rangkaian peristiwa dipahami masyarakat secara utuh, sehingga upaya pemerintah menjaga kepercayaan investor asing terhadap ekonomi Indonesia tetap berjalan terkendali.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










