
Di dalam artikel itu juga berisi tentang pertemuan pemimpin kota di dunia. Bukan hanya Anies yang mewakili Indonesia, namun terdapat lima pemimpin kota di Indonesia yang diundang dalam forum tersebut. Yakni Surabaya, Jakarta, Jambi, Semarang, dan Bontang.
World Cities Summit merupakan rangkaian konferensi internasional tentang pemerintahan publik yang efektif dan pengembangan kota yang berkelanjutan. Pertemuan itu menyatukan praktisi dan pembuat kebijakan serta para ahli terkemuka di bidangnya agar dapat mengidentifikasi solusi inovatif untuk tantangan terberat yang dihadapi kota.
Baca juga: Bela Anies yang Dibully Gara-Gara Penebangan 92 Pohon Monas, PT MRT: Kami Ganti 10 Kali Lipat
Peserta di WCSMF terdiri dari 74 wali kota dan gubernur terpilih. Mereka akan berbagi pandangan dan pengalaman dalam menghadapi tantangan perkotaan dan membawa perbaikan dalam kondisi kehidupan perkotaan. Dalam forum itu, tidak ada prosesi penobatan “Gubernur Terbaik di Dunia.”
Sementara itu, seperti yang diwartakan CNBCIndonesia.com melalui berita berjudul “Jadi Kota Terbaik di Dunia, Anies: Alhamdulillah!”, Anies sempat mengunggah melalui akun resmi Facebook miliknya, bahwa Jakarta diakui sebagai satu dari tiga kota terbaik dunia pada Kamis 27 Juni 2019. Apresiasi itu diberikan untuk perbaikan sistem transportasi dan mobilitas kota.
Anies mengungkapkan predikat ini diperoleh pada ajang Sustainable Transport Award yang tahun ini diselenggarakan di Forteleza, Brazil. Menurutnya, hal ini membuktikan Jakarta diakui sehingga mendapatkan pengakuan dari lembaga kredibel tingkat dunia, bukan lewat banyaknya voting di media sosial.
Kesimpulannya, klaim pada foto Anies dinobatkan sebagai “Gubernur Terbaik di Dunia” adalah salah. Faktanya, Anies merupakan salah satu dari lima pemimpin kota di Indonesia yang diundang untuk memaparkan konsep pembangunan kota berkelanjutan pada forum World Cities Summit 2019 di Kolombia.
Informasi itu termasuk dalam kategori hoaks jenis false context (konteks keliru).
False context adalah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya false context memuat pernyataan, foto, maupun video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada.










