
Panduan: Profil Praveen Jordan, Atlet Bulu Tangkis Ganda Campuran Indonesia
Nama Praveen Jordan selalu muncul setiap kali pembahasan menyentuh masa kejayaan ganda campuran Indonesia. Pria kelahiran Bontang ini mengoleksi dua trofi All England, sesuatu yang tak semua pebulu tangkis campuran dunia bisa capai. Menariknya, kedua gelar itu diraih bersama dua pasangan berbeda: Debby Susanto pada 2016 dan Melati Daeva Oktavianti pada 2020.
Profil Praveen Jordan juga menarik karena kisahnya tidak berjalan mulus. Ia pernah dipecat dari tim nasional, menjalani operasi tulang belakang, lalu bangkit kembali ke lapangan. Halaman ini merangkum biodata, kronologi karier, prestasi, hingga fakta menarik tentangnya.
![]()
Praveen Jordan dalam aksi di French Open 2013 (Foto: Wikimedia Commons)
Profil Praveen Jordan: Biodata Lengkap
Sebelum menyusuri perjalanan kariernya, kenali dulu identitas pebulu tangkis Kalimantan Timur ini lewat tabel berikut.
| Keterangan | Informasi |
|---|---|
| Nama lengkap | Praveen Jordan |
| Tempat, tanggal lahir | Bontang, Kalimantan Timur, 26 April 1993 |
| Umur | 33 tahun (per September 2026) |
| Tinggi badan | 181 cm |
| Berat badan | 87 kg |
| Tangan dominan | Kanan |
| Sektor | Ganda campuran |
| Klub | PB Djarum (Kudus), sejak 2008 |
| Masuk pelatnas PBSI | 2014 |
| Pasangan ganda campuran | Melati Daeva Oktavianti (sejak 2018) |
| Peringkat tertinggi | No. 2 dunia BWF (bersama Debby Susanto, November 2016) |
| Prestasi terbesar | Dua kali juara All England (2016 dan 2020) |
Angka tinggi dan berat di atas mengikuti data profil resmi BWF, sehingga bisa sedikit berbeda antar sumber.
Masa Kecil dan Awal Karier di PB Djarum
Praveen Jordan lahir di Bontang, Kalimantan Timur, pada 26 April 1993. Jauh dari Jawa, ia menempuh jalan klasik pebulu tangkis Indonesia: masuk ke PB Djarum, klub pembinaan legendaris di Kudus, sejak 2008. Karier seniornya dimulai pada 2010 saat ia berlaga di turnamen internasional dengan dua sektor sekaligus, ganda putra dan ganda campuran.
Bakatnya di level junior langsung terbukti. Bersama Tiara Rosalia Nuraidah, ia membawa pulang perunggu ganda campuran Kejuaraan Asia Junior 2011 di Lucknow, India. Ia juga menyumbang perunggu untuk regu Indonesia di ajang yang sama.
Tahun 2013 menjadi titik balik. Pelatih memasangkannya dengan pebulu tangkis senior Vita Marissa, dan duet ini langsung produktif. Mereka mengumpulkan tiga gelar Grand Prix Gold dalam satu musim: New Zealand Open, Malaysia Open Grand Prix Gold, dan Indonesia Open Grand Prix Gold. Deretan hasil itu membuka pintu pelatnas baginya setahun kemudian.
![]()
Praveen Jordan di Yonex French Open 2013 (Foto: Wikimedia Commons)
Bersama Debby Susanto di Pelatnas PBSI
Setelah musim 2013 yang gemilang, PBSI memanggil Praveen Jordan ke pusat pelatnas nasional pada 2014. Untuk pertama kalinya ia merasakan pembinaan resmi federasi, dan kebetulan membawa nama besar: Debby Susanto. Debut pasangan ini langsung manis lewat final Malaysia Grand Prix Gold 2014.
Medali multi-event pertama mereka datang di Asian Games 2014 Incheon. Praveen dan Debby meraih perunggu ganda campuran setelah dihentikan pasangan China Zhang Nan dan Zhao Yunlei. Tahun 2015 justru lebih berkilau. Mereka menjuarai SEA Games 2015 di Singapura setelah menaklukkan pasangan Malaysia Chan Peng Soon dan Goh Liu Ying dengan skor dramatis 18-21, 21-13, 25-23. Di ajang yang sama, Praveen ikut meraih emas beregu putra.
Puncaknya terjadi pada Maret 2016. Praveen Jordan dan Debby Susanto menjuarai All England 2016 setelah mengalahkan pasangan Denmark Joachim Fischer Nielsen dan Christinna Pedersen di final. Gelar Superseries Premier itu mengangkat mereka ke peringkat dua dunia BWF pada November 2016, posisi tertinggi sepanjang kariernya.
Di Olimpiade Rio 2016, keduanya lolos dari grup sebelum berhenti di perempat final. Penghalangnya rekan setim sendiri, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, yang kemudian melangkah ke podium emas. Satu gelar Superseries lagi menyusul pada 2017 lewat Korea Open, kali ini atas pasangan China Wang Yilyu dan Huang Dongping.
Duet Baru Bersama Melati Daeva Oktavianti
Debby Susanto akhirnya memilih pensiun, dan Praveen tidak lama menganggur. Sejak awal 2018 ia dipasangkan dengan Melati Daeva Oktavianti, sesama anak asuh PB Djarum. Tahun pertama tergolong masa adaptasi; hasil terbaiknya hanya final India Open 2018, dan pasangan ini menutup musim di peringkat 15 dunia.
Perubahan besar datang pada 2019. Di Denmark Open, mereka mengejutkan sirkuit dunia dengan menumbangkan pasangan juara dunia Zheng Siwei dan Huang Yaqiong di perempat final, lalu mengalahkan Wang Yilyu dan Huang Dongping di laga puncak. Seminggu kemudian, gelar French Open 2019 menyusul dengan kemenangan atas Zheng dan Huang lagi. Dua gelar BWF World Tour dalam dua pekan mendorong mereka menembus lima besar peringkat dunia.
Musim itu ditutup lewat emas SEA Games 2019 di Manila atas pasangan Malaysia Goh Soon Huat dan Shevon Jemie Lai. Perkembangan pesat itu bahkan membuat mereka dinominasikan sebagai BWF Most Improved Player of the Year 2019.
Gelar All England 2020 dan Tantangan di Puncak
Momentum itu memuncak di All England 2020. Praveen dan Melati Daeva Oktavianti melaju ke final Birmingham lalu menaklukkan pasangan Thailand Dechapol Puavaranukroh dan Sapsiree Taerattanachai. Bagi Praveen, ini trofi All England kedua dengan pasangan yang berbeda, pencapaian yang menegaskan posisinya di antara pebulu tangkis campuran terbaik Indonesia.
Pandemi COVID-19 kemudian membekukan sirkuit dunia hampir setahun. Saat kompetisi menyala kembali, hasil mereka naik turun. Ada final Yonex Thailand Open Januari 2021 yang kembali berakhir di tangan pasangan Thailand itu, disusul perempat final Olimpiade Tokyo 2020. Di pentas tertinggi dunia itu, mereka sekali lagi tersandung di delapan besar. Final Hylo Open 2021 di Jerman pun berakhir perak setelah kembali dihentikan Dechapol dan Sapsiree.
Fase ini juga diwarnai sorotan tidak nyaman. Kegagalan di Indonesia Masters 2021 memicu kritik terbuka pelatih Nova Widianto soal komunikasi dan semangat bertarung pasangan ini. Bagi Praveen, momen itu menjadi salah satu titik terberat kariernya.
Keluar dari Pelatnas dan Perjalanan Bersama PB Djarum
Januari 2022 membawa kejutan besar. PBSI mengumumkan pemberhentian Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti dari tim nasional. Alih-alih menyerah, keduanya melanjutkan karier di bawah klub asalnya, PB Djarum, dengan dibimbing pelatih Vita Marissa. Ironisnya, Vita adalah pasangan duetnya sendiri di musim gemilang 2013.
Hasil awal cukup menjanjikan. Mereka menembus perempat final All England 2022 dan meraih perunggu Kejuaraan Asia 2022 di Manila. Sayangnya, medali Asia itu didapat dengan cara pahit karena Praveen harus mundur di tengah laga semifinal akibat cedera panggul.
Cedera itu berkembang serius hingga ia menjalani operasi tulang belakang akibat radiculopathy, lengkap dengan tindakan vertebral fixation. BWF bahkan mengabulkan permohonan protected ranking yang mempertahankan peringkat lima besar mereka selama enam bulan. Praveen baru kembali ke lapangan pada Januari 2023 di Indonesia Masters. Hasil terbaik pascaoperasi datang di Spain Masters 2023 lewat gelar runner-up.
Gaya Bermain Praveen Jordan
Praveen dikenal sebagai pemain ganda campuran berinsting serang tinggi. Satu hal yang paling sering disorot pengamat adalah pegangan raketnya yang longgar saat melakukan smash. Teknik tak lazim itu justru menghasilkan pukulan tajam yang sulit dibaca lawan. Sebagai pemain kanan, ia umumnya mengawal area belakang, sementara pasangannya mengatur permainan di jaring.
Kekuatan lainnya ada pada kemampuan membaca arah kok dan mengubah tempo reli. Dua kali juara All England dengan dua pasangan berbeda adalah bukti fleksibilitasnya. Di nomor ganda, kecocokan biasanya dibangun bertahun-tahun, tetapi Praveen mampu menyesuaikan diri dengan karakter partner mana pun.
Kehidupan Pribadi Praveen Jordan
Di luar lapangan, pria kelahiran Bontang itu tergolong tidak banyak membuka kehidupan pribadinya ke publik. Ia lebih sering terlihat lewat aktivitas latihan dan turnamen yang diunggah di media sosialnya. Ia juga salah satu pebulu tangkis elite Indonesia yang lahir di luar Jawa, tepatnya di Bontang, Kalimantan Timur.
Kesetiaannya pada PB Djarum menjadi ciri khas lainnya. Meski dibina pelatnas bertahun-tahun, ia justru kembali ke klub Kudus itu di masa tersulit kariernya. Sikap itu mencerminkan karakter pekerja keras yang tidak mudah menyerah.
Fakta Menarik tentang Praveen Jordan
Dua trofi All England, dua pasangan berbeda. Gelar 2016 diraih bersama Debby Susanto, sedangkan gelar 2020 bersama Melati Daeva Oktavianti.
Tiga gelar Grand Prix Gold dalam satu musim. Bersama Vita Marissa pada 2013, ia menang di New Zealand, Malaysia, dan Indonesia.
Medali Asian Games di usia 21. Perunggu ganda campuran Asian Games 2014 Incheon diraihnya saat baru setahun berada di pelatnas.
Dua perunggu Piala Sudirman. Ia turut membela regu Indonesia di Dongguan 2015 dan Nanning 2019.
Dinominasikan BWF Most Improved Player 2019. Nominasi itu diraih bersama Melati setelah dua gelar BWF World Tour dalam satu musim.
Melalui operasi tulang belakang lalu kembali berlaga. Setelah operasi radiculopathy pada 2022, ia kembali ke sirkuit pada Januari 2023.
Pertanyaan Umum tentang Praveen Jordan
Berapa umur Praveen Jordan?
Praveen Jordan lahir di Bontang pada 26 April 1993, sehingga berusia 33 tahun per September 2026. Usia itu tergolong senior untuk nomor ganda campuran yang menuntut refleks dan stamina tinggi.
Dari mana asal Praveen Jordan?
Ia berasal dari Bontang, Kalimantan Timur. Bakatnya diasah PB Djarum di Kudus sejak 2008, sebelum akhirnya masuk pelatnas PBSI pada 2014.
Siapa pasangan ganda campuran Praveen Jordan?
Tiga nama besar pernah menjadi pasangannya: Vita Marissa pada 2013, Debby Susanto pada 2014-2017, dan Melati Daeva Oktavianti sejak 2018. Dua nama terakhir mengantarnya menjuarai All England.
Apa prestasi terbesar Praveen Jordan?
Gelar All England 2016 dan 2020 menjadi pencapaian tertingginya. Koleksinya lengkap dengan Korea Open 2017, Denmark Open 2019, French Open 2019, serta medali perunggu Asian Games 2014 dan Kejuaraan Asia 2022.
Berapa tinggi badan Praveen Jordan?
Tingginya 181 cm dengan berat sekitar 87 kilogram. Postur ideal itu mendukung perannya sebagai pengawal area belakang dalam pasangan ganda campuran.
Perjalanan Praveen Jordan membuktikan bahwa karier atlet jarang berjalan lurus. Ia pernah merasakan puncak peringkat dunia, dipecat dari pelatnas, menjalani operasi besar, lalu kembali menapaki lapangan. Semangat semacam itu juga terlihat pada sesama pebulu tangkis Indonesia seperti profil Kevin Sanjaya dan profil Greysia Polii, bahkan atlet lintas cabang seperti profil Eko Yuli Irawan. Kisah Praveen Jordan, dua kali juara All England itu, menjadi pengingat bahwa jatuh bangun justru membentuk seorang juara.










