
Biodata dan Karier Susi Susanti: Legenda Raket Indonesia
Nama Susi Susanti selalu muncul setiap kali Indonesia membahas medali emas Olimpiade pertama. Pebulu tangkis kelahiran Tasikmalaya ini menyumbang emas tunggal putri di Barcelona 1992, momen yang menyalakan kegembiraan seluruh bangsa saat itu. Namanya bahkan kini menempel di arena bulu tangkis nasional sebagai bentuk penghormatan.
Artikel ini merangkum biodata, perjalanan karier, dan daftar prestasinya secara ringkas. Semua informasi disarikan dari catatan Wikipedia serta liputan media nasional. Bagi yang ingin mengenal perjalanan pebulu tangkis lain, jangan lewatkan profil Taufik Hidayat yang juga masuk daftar legenda Indonesia.
Biodata Susi Susanti
Sebelum masuk ke kisah kariernya, berikut tabel biodata singkat yang merangkum data dirinya. Tabel ini cocok jadi rujukan cepat untuk tugas sekolah maupun penelusuran umum.
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Nama lengkap | Susi Susanti (nama lahir: Ong Lien Hiang) |
| Tanggal lahir | 11 Februari 1971 |
| Tempat lahir | Tasikmalaya, Jawa Barat |
| Tinggi badan | 165 cm |
| Tangan yang dipakai | Kanan |
| Nomor/event | Tunggal putri |
| Peringkat tertinggi | Nomor 1 dunia |
| Pelatih | Liang Chiu Sia |
| Agama | Katolik |
| Suami | Alan Budikusuma (menikah 1997) |
| Anak | Laurencia Averina, Albertus Edward, Sebastianus Frederick |
| Pensiun | 1998 (acara pelepasan 30 Oktober 1999) |
Data di atas menegaskan dua hal. Pertama, ia menghabiskan hampir seluruh kariernya di nomor tunggal putri. Kedua, kisah pribadinya juga tak kalah menarik karena menikah dengan sesama pebulu tangkis peraih emas Olimpiade.
Masa Kecil dan Latihan Awal Bersama Ayah
Susi Susanti lahir dari pasangan Risad Haditono dan Purwo Banowati. Ayahnya adalah atlet bulu tangkis yang bercita-cita jadi juara dunia, namun cedera lutut memaksanya menghentikan langkah lebih awal. Mimpi yang kandas itu lalu diwariskan kepada putrinya sejak usia dini.
Setiap hari sang ayah melatihnya secara detil. Latihan bukan sekadar memukul shuttlecock, tapi juga footwork, stamina, dan teknik dasar lainnya. Dukungan penuh orang tua membuat kemampuannya berkembang cepat jauh melampaui anak seusianya.
Ia lalu bergabung dengan PB Tunas Tasikmalaya, klub milik pamannya, selama tujuh tahun. Di sana ia mengoleksi gelar juara pada level junior. Pendidikan formalnya sendiri berjalan di Tasikmalaya, lalu berlanjut di SMP dan SMA Negeri Ragunan, Jakarta Selatan, sebelum menempuh kuliah di STIE Perbanas.
Hijrah ke Jakarta dan PB Jaya Raya
Tahun 1985 menjadi titik balik ketika Susi Susanti masih duduk di bangku SMP. Ia memutuskan hijrah ke Jakarta untuk memperlebar kariernya di dunia bulu tangkis. Dua klub besar saat itu, PB Jaya Raya dan PB Djarum, sama-sama memintanya bergabung.
Karena memiliki sanak saudara di Jakarta, ia akhirnya memilih Jaya Raya. Di bawah asuhan pelatih Liang Chiu Sia, permainannya terus diasah semakin matang. Keputusan itu terbukti tepat karena nama mulai merangkak naik ke tim nasional.
Perjalanan serupa juga bisa dibaca di profil Greysia Polii yang berangkat dari pembinaan klub di Indonesia. Pola pembinaan dari klub lokal ke pelatnas memang jadi jalur klasik pebulu tangkis Tanah Air.
Emas Olimpiade Barcelona 1992
Puncak karier Susi Susanti tiba pada Olimpiade Barcelona 1992. Ia menaklukkan lawan-lawan berat dan pulang membawa medali emas tunggal putri. Medali itu tercatat sebagai emas Olimpiade pertama untuk Indonesia sepanjang sejarah keterlibatan negara ini di ajang lima tahunan tersebut.
Kisah di balik emas itu tidak sesempurna yang dibayangkan. Diliput media nasional, ia sempat sulit tidur dan kehilangan nafsu makan jelang laga final. Tekanan itu ia ubah menjadi fokus di lapangan hingga akhirnya mengangkat raket sebagai simbol kemenangan.
Empat tahun kemudian di Atlanta 1996 ia kembali memberi Indonesia medali, kali ini perunggu tunggal putri. Dengan dua podium Olimpiade di tas, posisinya di deretan atlet terhebat Indonesia sulit digoyahkan.
Koleksi Medali dan Prestasi Susi Susanti
Selain Olimpiade, lembar prestasi Susi Susanti sangat panjang di level dunia. Daftar berikut merangkum gelar-gelar utamanya dari berbagai ajang.
- Emas Olimpiade Barcelona 1992, perunggu Olimpiade Atlanta 1996
- Juara Dunia IBF/BWF 1993 di Birmingham, plus perunggu 1991 dan 1995
- All England juara empat kali: 1990, 1991, 1993, dan 1994
- World Grand Prix Finals juara lima kali berturut-turut 1990-1994, lalu 1996
- Piala Dunia Bulu Tangkis juara lima kali: 1989, 1993, 1994, 1996, 1997
- Piala Sudirman 1989 bersama tim Indonesia
- Piala Uber 1994 dan 1996 sebagai ujung tombak kemenangan atas Tiongkok
- Jepang Terbuka juara tiga kali, Indonesia Terbuka juara lima kali
- Perunggu Asian Games 1990 dan 1994, perunggu Kejuaraan Asia 1988
Satu catatan menarik dari daftar itu: ia jadi pemain putri yang memegang gelar tunggal Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan All England secara bersamaan. Pasalnya, kombinasi tiga gelar sekaligus pada satu periode nyaris mustahil diulang di era persaingan seperti sekarang. Bandingkan juga dengan profil Jonatan Christie yang kini menjaga tradisi tunggal putra Indonesia di pentas dunia.
Gaya Bermain yang Membuat Lawan Lelah
Susi Susanti terkenal sebagai pemain bertahan yang sabar. Ia gemar membangun reli panjang untuk menguras stamina lawan sekaligus mengundang kesalahan. Gaya ini kontras dengan pesaing sezamannya seperti Bang Soo-hyun, Tang Jiuhong, Huang Hua, dan Ye Zhaoying yang lebih agresif.
Andalannya ada pada pembersihan bola yang dalam ke lini belakang. Pukulan itu membatasi peluang pertukaran serang cepat, lalu dicampur drop shot ketat yang memaksa lawan menyapu seluruh lapangan. Sisi backhand-nya ia tutup dengan pukulan forehand di atas kepala, mengandalkan kelenturan punggung.
Ciri paling ikonik justru gerakan kakinya. Kaki yang relatif pendek ia regangkan sangat lebar untuk menjangkau bola rendah di sudut lapangan. Pose itu nyaris mirip peregangan balet dan kadang diakhiri split penuh, jadi pemandangan khas setiap penampilannya. Di penghujung kariernya ia menambah pukulan keras untuk menipu lawan yang mengandalkan permainan atrisi.
Pernikahan dengan Alan Budikusuma
Kisah cinta Susi Susanti dengan Alan Budikusuma mulai bersemi sejak keduanya sama-sama berjuang di tim nasional. Setelah berpacaran sembilan tahun, mereka menikah pada 1997. Media nasional menjuluki keduanya Pasangan Emas Olimpiade karena sama-sama meraih emas di Barcelona 1992.
Resepsi pernikahannya digelar megah pada 9 Februari 1997 di Ballroom Hotel Gran Melia, Jakarta. Sekitar 4.000 undangan hadir, termasuk pejabat tinggi negara hingga pengusaha Ciputra selaku pemilik Jaya Raya. Sakramen pernikahan dilakukan di Gereja Santo Yakobus, Jakarta Utara, sepekan sebelum resepsi.
Pernikahan ini sempat tersendat urusan administrasi SBKRI. Protes yang ia sampaikan lewat media justru mempercepat penyelesaian dokumen. Kisah itu kelak terekam dalam film biopik Susi Susanti: Love All (2019) yang diperankan Laura Basuki, dengan Dion Wiyoko berperan sebagai Alan.
Kehidupan Setelah Pensiun dan Dunia Bisnis
Tahun 1998 Susi Susanti menggantung raket karena tengah mengandung anak pertama. Padahal saat itu ia masih fit dan sebenarnya ingin menambal satu keinginan yang tersisa, yaitu emas Asian Games yang belum pernah diraihnya. Pilihan keluarga akhirnya menang atas ambisi di lapangan.
Pelepasan resminya baru terjadi pada 30 Oktober 1999 di Istora Senayan. Acara itu jadi pelepasan atlet pertama yang digelar PBSI, dihadiri sekitar 2.500 penonton. Sebagai tanda penghormatan, PBSI memberinya hadiah emas seberat 25 gram.
Setelah pensiun ia aktif menekuni bisnis bersama suami. Keduanya mengembangkan merek apparel bulu tangkis bernama Astec, lalu ikut membangun pusat pijat olahraga Fontana bersama Elizabeth Latief. Menariknya, ia justru mendorong ketiga anaknya mengejar karier di luar bulu tangkis karena tak ingin beban gelar orang tua membebani mereka.
Fakta Menarik Susi Susanti
Beberapa fakta berikut menambah wawasan tentang sosok yang dijuluki media internasional sebagai pebulu tangkis putri terbaik dalam sejarah.
- Nama kecilnya adalah Ong Lien Hiang, sesuai akar keluarga Tionghoa-Indonesia dari marga Haditono.
- Ia masuk Badminton Hall of Fame dunia pada Mei 2004, menyusul nama besar seperti Rudy Hartono dan Liem Swie King.
- Piala Herbert Scheele 2002, penghargaan kehormatan dunia bulu tangkis, juga disematkan untuknya.
- Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama diterimanya pada 1992, tahun emas Olimpiade itu.
- Peringkat dunianya sempat menyentuh posisi nomor 1 di puncak kariernya.
- Arena bulu tangkis nasional kini menyandang nama Susi Susanti sebagai bentuk penghormatan.
Kisahnya membuktikan bahwa pembinaan dari kota kecil seperti Tasikmalaya bisa melahirkan juara dunia. Generasi kini punya teladan serupa lewat profil Veddriq Leonardo dari panjat tebing kecepatan. Benih luar biasa bisa tumbuh di mana saja bila pendampingannya benar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan Susi Susanti meraih emas Olimpiade untuk Indonesia?
Ia meraihnya di Olimpiade Barcelona 1992 pada nomor tunggal putri. Medali itu menjadi emas Olimpiade pertama Indonesia sepanjang partisipasi di ajang tersebut.
Berapa kali Susi Susanti juara All England?
Empat kali, tepatnya pada 1990, 1991, 1993, dan 1994. Ia sempat jadi finalis pada 1989 sebelum akhirnya naik podium tertinggi setahun kemudian.
Siapa suami dari Susi Susanti?
Suaminya Alan Budikusuma, sesama peraih emas Olimpiade Barcelona 1992. Mereka menikah pada 1997 dan dikaruniai tiga anak.
Apakah Susi Susanti masuk Hall of Fame dunia?
Masuk. BWF atau IBF waktu itu menobatkannya ke Badminton Hall of Fame pada Mei 2004, ditambah Piala Herbert Scheele pada 2002.
Di nomor apa Susi Susanti bermain?
Ia spesialis tunggal putri. Sepanjang kariernya nyaris seluruh gelar diraih di nomor tersebut, dengan peringkat tertinggi nomor 1 dunia.










