Tag: Meta

  • Xiaomi Rilis Kacamata Pintar Pesaing Ray-Ban Meta

    Xiaomi Rilis Kacamata Pintar Pesaing Ray-Ban Meta

    TIKTAK.ID – Xiaomi diketahui telah merilis kacamata pintar (smart glasses) terbaru mereka, Xiaomi AI Glasses dalam sebuah acara di China, pada Kamis (26/6/25). Perangkat tersebut pun menjadi kompetitor dari smart glasses buatan induk Facebook, Meta, yaitu Ray-Ban Meta yang diluncurkan pada 2023 lalu.

    Desain tampilan Xiaomi AI Glasses mirip seperti Ray-Ban Meta dengan bingkai (frame) kacamata berbentuk persegi yang keempat sudutnya membulat (rounded). Kemudian di bagian kiri dan kanan atas bingkai kacamata, terdapat kamera dengan resolusi 12 MP (Sony IMX681) yang punya sudut pandang 105 derajat.

    Seperti dilansir Kompas.com, kamera tersebut diklaim bisa merekam video berdurasi hingga 10 menit dengan resolusi 2K pada 30 fps. Kamera di Ray-Ban Meta sendiri punya resolusi yang sama pula, tapi hanya dapat merekam video durasi mentok 3 menit. Walaupun durasi rekaman lebih pendek, frame rate video di kacamata Meta bisa lebih tinggi, yaitu hingga 60 fps pada resolusi 1080p.

    Baca juga : Honor Watch 5 Ultra, Bisa Dipakai Menyelam Hingga 40 Meter

    Tidak hanya kamera, “otak” Xiaomi AI Glasses dan Ray-Ban Meta sama-sama mengandalkan chip Qualcomm Snapdragon AR1. Chip tersebut digunakan untuk memproses semua kinerja perangkat, mulai dari kecerdasan buatan (AI), kamera, audio, video, sensor, gestur, dan lainnya.

    Untuk aspek daya, Xiaomi AI Glasses dibekali baterai dengan kapasitas 263 mAh. Xiaomi menyebut baterai ini mampu membuat perangkat dapat dipakai hingga lebih dari 8 jam. Baterai itu dua kali lipat lebih lama ketimbang Ray-Ban Meta dengan maksimal pemakaian 4 jam.

    Saat baterai habis, pengguna dapat mengecas perangkat lewat konektor USB-C. Hal itu berbeda dengan Ray-Ban Meta yang mengharuskan pengguna memasukkan perangkat ke dalam casing khusus untuk mengecas baterai.

    Baca juga : HUAWEI nova 13 Pro Pastikan Semua Aplikasi Favorit Bisa Mudah Diakses

    Kemudian fitur pendukung Xiaomi AI Glasses lainnya mencakup dua buah speaker dengan mekanisme bone conduction, lima buah mikrofon untuk perekaman audio dan input perintah suara XiaoAI, sensor di gagang kacamata untuk pengoperasian perangkat, Bluetooth 5.4, serta WiFi 6.

    Terdapat pula dukungan fitur Optical Character Recognition (OCR), guna mengidentifikasi teks, augmented reality (AR) dan object recognition, pemindaian kode QR untuk transaksi digital, serta live translation untuk menerjemahkan teks secara langsung.

  • Sembunyikan Unggahan Kondisi Palestina, Meta Dikritik Keras Senator AS

    Sembunyikan Unggahan Kondisi Palestina, Meta Dikritik Keras Senator AS

    TIKTAK.ID – Senator asal Massachusetts, Amerika Serikat (AS), Elizabeth Warren mengkritik keras raksasa teknologi Meta lantaran menyembunyikan unggahan mengenai kondisi Gaza di platform Instagram. Warren sendiri merupakan tokoh publik terbaru yang mempertanyakan bagaimana Meta memoderasi konten selama perang Israel-Hamas.

    Melalui sebuah surat yang ditujukan kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg, Warren menyoroti sejumlah masalah yang dilaporkan oleh pengguna Instagram sejak 7 Oktober. Para pengguna menekan Meta agar memberikan lebih banyak informasi mengenai kebijakan yang mendasari dan berapa banyak konten yang sudah dihapus oleh mereka terkait dengan konflik tersebut.

    Dalam surat tersebut, Warren mengutip laporan dari media dan kelompok-kelompok hak asasi manusia terkait ketidakkonsistenan dalam praktik moderasi perusahaan sejak dimulainya perang. Kemudian secara khusus, Warren menggarisbawahi bahwa banyak pengguna Instagram menuding Meta “melarang” mereka untuk mengunggah kondisi di Gaza.

    Warren lantas merujuk pada audit pihak ketiga, yang ditugaskan oleh Meta dan diterbitkan pada tahun lalu, yang menemukan perusahaan itu melanggar hak-hak warga Palestina untuk berekspresi secara bebas pada 2021, ketika terjadi eskalasi besar dalam kekerasan di Jalur Gaza.

    “Laporan-laporan soal pembungkaman suara-suara Palestina oleh Meta menimbulkan pertanyaan serius terkait praktik moderasi konten dan perlindungan anti-diskriminasi yang dilakukan oleh Meta,” terang Warren, seperti dikutip CNNIndonesia.com dari Engadget.

    “Pengguna media sosial berhak untuk mengetahui kapan dan mengapa akun dan unggahan mereka dibatasi, khususnya di platform terbesar di mana terjadi penyebaran informasi penting,” imbuhnya.

    Adapun surat tersebut memberikan tenggat waktu 5 Januari kepada Zuckerberg untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu.

    Perlu diketahui, Meta memang telah mendapat perhatian dalam praktik moderasi sejak 7 Oktober. Meta secara terbuka menyalahkan sejumlah masalah pada gangguan teknis dan bug. Akan tetapi, mereka juga mengakui mengambil tindakan darurat sementara untuk memperlambat penyebaran konten yang berpotensi berbahaya.

    Dewan Pengawas Independen Meta dilaporkan melacak dengan cepat dua kasus yang terkait dengan konten perang Israel-Hamas. Ini pertama kalinya Meta memilih mempercepat proses yang umumnya memakan waktu berbulan-bulan. Dewan tersebut mengeklaim sudah melihat lonjakan permintaan dari pengguna Facebook dan Instagram sejak dimulainya konflik.

  • WhatsApp Kembangkan Fitur Jadwal Panggilan di Grup

    WhatsApp Kembangkan Fitur Jadwal Panggilan di Grup

    TIKTAK.ID – WhatsApp, aplikasi perpesanan populer yang dimiliki oleh Meta, saat ini terus meningkatkan kemampuannya, dengan sering melakukan pembaruan dan menghadirkan fitur-fitur baru yang menarik. Salah satu perkembangan penting yaitu langkah aplikasi ini menuju pengalaman pengguna yang lebih konsisten pada seluruh platform iOS dan Android.

    Adapun pembaruan terbaru pada versi 2.23.17.7, sedang diluncurkan untuk para penguji beta lewat Google Play Beta Program. Fitur yang menarik perhatian dalam pembaruan tersebut yakni kemampuan untuk menjadwalkan panggilan dalam obrolan grup.

    Penambahan baru tersebut diklaim bakal menyederhanakan proses perencanaan dan koordinasi panggilan grup. Dengan begitu, pengguna kini tak perlu lagi melakukan pertukaran pesan yang panjang untuk menemukan waktu yang sesuai, seperti dikutip detikINET dari Gizmochina, pada Minggu (13/8/23).

    Dengan adanya fitur panggilan grup terjadwal, maka pengguna bisa memulai panggilan di dalam grup mereka dan mengatur subjek panggilan, tanggal, serta jenis panggilan video atau suara.

    Fitur ini memungkinkan untuk sebuah acara secara otomatis dibuat dalam obrolan grup, dan para peserta diberi tahu 15 menit sebelum waktu panggilan yang dijadwalkan. Hal itu untuk memastikan kalau semua orang siap dan tersedia, sehingga mengurangi kemungkinan panggilan tidak terjawab atau tertunda.

    Kini fitur panggilan grup terjadwal bisa diakses oleh beberapa penguji beta terbatas yang sudah menginstal pembaruan beta WhatsApp terbaru lewat Google Play Store. Perusahaan sendiri berencana untuk secara bertahap meluncurkan fitur ini kepada khalayak yang lebih luas dalam waktu dekat.

    Tidak hanya fitur penjadwalan, WhatsApp juga memperkenalkan opsi multi-akun untuk para penguji beta, yang memungkinkan pengguna mengelola beberapa akun dalam aplikasi. Aplikasi tersebut pun berupaya meningkatkan keamanan dengan cara menautkan akun ke alamat email.

    Sebelumnya, WhatsApp merilis pesan video instan, sehingga pengguna dapat merekam dan membagikan video singkat secara langsung. Pesan video instan itu bisa digunakan untuk merekam video selama 60 detik, tanpa suara, dan nantinya video yang terkirim akan berbentuk bundar.

    WhatsApp turut meluncurkan fitur baru yang memungkinkan pengguna untuk menyambungkan akun ke komputer tanpa perlu scan kode QR. Jadi bila pengguna ingin menautkan WhatsApp, hanya perlu menautkan nomor telepon.

  • Headset VR Meta Quest 3, Harga Rp7 Jutaan

    Headset VR Meta Quest 3, Harga Rp7 Jutaan

    TIKTAK.ID – CEO Meta, Mark Zuckerberg, diketahui memamerkan perangkat Virtual Reality (VR) terbaru perusahaan, yakni Meta Quest 3 pada Kamis (1/6/23). Perangkat tersebut adalah penerus dari VR Oculus Quest 2 yang sudah meluncur pada 2020 lalu.

    Sebagai perangkat VR, Meta Quest 3 mengandalkan kartu pengolah grafis (GPU), sehingga kinerjanya mengalami peningkatan dua kali lipat daripada GPU di Meta Quest 2.

    Demi meningkatkan kualitas gambar dalam perangkat VR, Meta Quest 3 dilengkapi dengan fitur passthrough full color yang beresolusi tinggi. Fitur tersebut memungkinkan pengguna untuk melihat warna dari ruang fisik di sekitar mereka lewat kamera eksternal. Hal itu dimungkinkan lantaran headset VR bisa menggabungkan elemen AR (augmented reality) dari dunia nyata.

    Zuckerberg mengeklaim Meta Quest 3 bakal menjadi perangkat pertama yang dilengkapi dengan realitas campuran warna beresolusi tinggi. Kemudian untuk bagian bodi, headset VR terbaru ini diklaim 40 persen lebih tipis daripada pendahulunya. Meta juga melakukan desain ulang terhadap alat pengontrolnya yang disebut-sebut lebih ringkas dan ergonomis.

    Meta juga menggabungkan teknologi bernama TruTouch pada perangkat pengontrol Touch Pro. Dengan begitu, saat memakai alat pengontrol headset, pengguna mampu merasakan getaran atau umpan balik ketika melakukan beberapa pengaturan/pergerakan.

    “Kami juga melengkapi (teknologi) umpan balik TruTouch yang pertama kali hadir di (alat pengontrol) Touch Pro, sehingga dapat membantu Anda merasakan aksi yang belum pernah dirasakan sebelumnya,” tutur Zuckerberg.

    Tidak hanya itu, Meta turut menambahkan pembaruan untuk alat pengontrol Touch Pro. Contohnya, perangkat “seolah” memperpanjang tangan pengguna dengan cara yang lebih alami. Touch Pro juga dibekali fitur pelacakan lompatan secara real-time.

    Adapun Meta Quest 3 bakal kompatibel dengan lebih dari 500 games VR, aplikasi, dan pengalaman lainnya di Meta Quest 2. Akan tetapi, perangkat ini masih belum dirilis ataupun dijual secara publik, seperti yang sudah disebut di atas. Ketersediaan perangkat diprediksi baru ada sekitar akhir tahun 2023. Meski begitu, peluncuran perangkat ini cukup menjadi sorotan dari berbagai macam pihak.

  • Usai Pisah 9 Tahun, Messenger Kembali ke Aplikasi Facebook

    Usai Pisah 9 Tahun, Messenger Kembali ke Aplikasi Facebook

    TIKTAK.ID – Meta (dulunya bernama Facebook) diketahui pertama kali memisahkan Messenger dari aplikasi Facebook pada 2014 silam. Kini sembilan tahun kemudian, Meta memutuskan untuk melakukan putar balik dan bakal mengembalikan Messenger ke aplikasi Facebook.

    Menurut Head of Facebook, Tom Alison, saat ini Meta tengah menguji coba opsi bagi pengguna untuk mengakses inbox Messenger di dalam aplikasi Facebook.

    “Kami sedang menguji coba opsi bagi orang-orang untuk mengakses inbox Messenger mereka di dalam aplikasi Facebook dan kalian bakal melihat kami memperluas uji coba ini dalam waktu dekat,” ujar Alison melalui unggahan blog Meta, seperti dilansir detik.com dari Engadget, pada Jumat (10/3/23).

    “Pada akhirnya, kami ingin mempermudah dan membuat nyaman orang-orang untuk terhubung serta berbagi, baik di aplikasi Messenger atau secara langsung di dalam Facebook,” imbuh Alison.

    Sekadar informasi, ketika Meta memisahkan Messenger dari aplikasi utama Facebook sembilan tahun yang lalu, raksasa media sosial tersebut mengaku ingin fokus mengembangkan Messenger menjadi aplikasi mobile messaging terbaik dan memberikan pengalaman yang lebih baik.

    Masih belum diketahui apakah Meta berencana mengembalikan fitur messaging di Facebook versi mobile web. Mereka mulai mendorong pengguna mobile web agar mengunduh aplikasi Messenger pada 2016 lalu.

    Kemudian dalam pengumumannya, Meta menyatakan Facebook belum mati ataupun sekarat, walaupun banyak yang mengeklaim demikian. Alison mengaku Facebook kini punya lebih dari 2 miliar pengguna aktif harian.

    “Orang-orang memakai Facebook tidak hanya untuk terhubung dengan teman dan keluarga, melainkan juga untuk menemukan dan berinteraksi dalam hal yang penting bagi mereka,” tutur Alison.

    Dalam setahun terakhir ini, Facebook memang sudah mulai beralih dari aplikasi untuk terhubung dengan teman dan keluarga menjadi platform discovery. Pada tahun lalu, Facebook telah merombak feed Home guna membantu pengguna menemukan konten dan kreator baru melalui rekomendasi algoritma.

    Perubahan tersebut dilakukan di tengah kompetisi yang semakin ketat antara Meta dan TikTok. Pengguna TikTok sendiri dapat berbagi video dengan temannya menggunakan fitur Direct Messaging. Untuk itu, tak heran bila Meta hendak mengembalikan Messenger ke dalam Facebook.

  • Facebook Rombak Iklan Demi Patahkan Mitos Mata-matai Pengguna

    Facebook Rombak Iklan Demi Patahkan Mitos Mata-matai Pengguna

    TIKTAK.ID – Induk perusahaan Facebook, Meta, telah menyampaikan adanya perubahan mengenai kebijakan transparansi iklan. Hal itu demi merontokkan mitos memata-matai pengguna untuk kepentingan iklan.

    Mengutip TechCrunch, Meta mengaku tengah memperbarui fitur yang hampir berusia satu dekade, yakni “Why am I seeing this ad?” (Mengapa saya melihat iklan ini?). Meta mengekaim pihaknya hendak menerangkan dengan lebih baik melalui teknik kecerdasan buatan (AI) dalam hal penempatan iklan. Hal itu pun bertujuan mematahkan rumor tak sedap soal Facebook.

    Selama ini, memang beredar kasak-kusuk di antara pengguna, kalau Facebook memata-matai aktivitas mereka. Oleh sebab itu, pengguna sering melihat iklan yang relevan dengan apa yang sedang atau ingin mereka lakukan.

    Meta ingin perubahan pada fitur ini dapat menjelaskan dengan lebih baik kepada pengguna alasan di balik kecocokan tersebut. Nantinya, fitur tersebut bakal menginformasikan kepada pengguna mengenai aktivitas Facebook mereka dan memberi informasi kepada model AI yang digunakan dalam menargetkan iklan.

    Dalam pengumuman di situs resminya, informasi yang dimaksud contohnya ketika pengguna menyukai (like) unggahan dari teman atau situs olahraga favorit mereka. Fitur baru itu juga memperkenalkan contoh baru dan ilustrasi detail mengenai mekanisme AI tersebut.

    “Untuk memudahkan pengguna menemukan kontrol iklannya, mereka kini mampu mengakses preferensi iklan dari halaman tambahan di fitur “Why am I seeing this ad?” tulis Meta, seperti dilansir CNNIndonesia.com.

    Menurut Meta, pihaknya berkomitmen menggunakan AI dengan “penuh tanggungjawab”. Salah satunya yakni dengan transparansi yang dianggap esensial.

    “Transparansi terkait penggunaan AI di kami ini penting, karena itu akan memastikan orang-orang paham bahwa teknologi itu merupakan bagian dari sistem iklan kami,” jelas Meta.

    “Dengan meningkatkan transparansi mengenai penggunaan AI, kami ingin membantu orang-orang merasa lebih aman dan meningkatkan kepercayaan mereka terhadap kami,” imbuhnya.

    Meta lantas mencontohkan iklan Glitter and Spice Bath yang muncul pada halaman salah satu pengguna. Jika pengguna mengklik tanda tiga titik di samping judul iklan tersebut, fitur “Why am I seeing this ad?” akan muncul.

    Setelah itu pengguna akan melihat dua alasan. Pertama, “Advertiser choices” yang berisikan soal target pasar iklan tersebut. Kedua, “your activity” alias aktivitas pengguna yang menyebabkan iklan itu bisa muncul.

  • Meta Larang Media Rusia Pasang Iklan

    Meta Larang Media Rusia Pasang Iklan

    TIKTAK.ID – Sejumah platform media sosial turut merespons invasi Rusia ke Ukraina. Salah satunya dilakukan oleh Meta Inc mengenai pemasangan iklan.

    Meta Platforms Inc diketahui telah melarang media milik negara Rusia untuk menghasilkan uang dari konten di platform mana pun milik raksasa jejaring sosial tersebut. Bahkan Meta juga melarang media milik negara Rusia untuk memasang iklan.

    “Kami juga akan terus memberikan label pada media tambahan milik negara Rusia. Perubahan tersebut sudah mulai berlaku dan akan terus berlangsung selama akhir pekan,” ujar Kepala Kebijakan Keamanan di Meta, Nathaniel Gleicher, seperti dilansir Okezone.com.

    “Saat ini kami melarang media milik negara Rusia memasang iklan atau monetisasi di platform mana pun milik kami di seluruh dunia,” sambung Gleicher.

    Selain itu, Facebook, salah satu platform milik Meta, juga meluncurkan fitur keamanan ekstra supaya pengguna di Ukraina dapat melindungi akun mereka. Pengguna di Ukraina bisa mengunci akun, sehingga orang lain yang tidak berteman dengan mereka tak dapat melihat aktivitas di platform tersebut. Kemudian Twitter, usai invasi Rusia, membagikan cara mengamankan hingga mematikan akun.

    Sama seperti Meta, Google juga memblokir media milik negara Rusia, RT, supaya tidak memperoleh penghasilan dari iklan. Larangan dan pemblokiran tersebut pun berlaku untuk produk-produk Google lain, seperti YouTube.

    Mengutip Reuters, Minggu (27/2/22), sejumlah akun YouTube di Rusia tidak dapat menerapkan monetisasi dari platform itu dengan alasan “kejadian luar biasa”. Media Rusia lain yang mendapat sanksi, yakni dari Uni Eropa, juga tidak dapat monetisasi konten mereka.

    Tidak hanya itu, Google melarang media-media tersebut memakai teknologi mereka untuk menghasilkan uang dari situs dan aplikasi. Media Rusia bahkan sudah tidak dapat membeli iklan lewat Google Tools dan memasang iklan di layanan Google, termasuk Search dan Gmail.

    “Kami memantau secara aktif perkembangan terkini dan bakal mengambil langkah lainnya jika perlu,” ungkap Jubir Google, Michael Aciman, mengutip CNN Indonesia.

    Lebih lanjut, Jubir YouTube Farshad Shadloo menyebut video dari media-media yang diblokir itu akan jarang muncul dari rekomendasi. Dia menjelaskan, konten dari RT dan media lainnya yang dilarang tidak bisa diakses dari Ukraina, berdasarkan permintaan Pemerintah Ukraina.

  • Meta Kembangkan Smartwatch Pesaing Apple Watch

    Meta Kembangkan Smartwatch Pesaing Apple Watch

    TIKTAK.ID – Beberapa waktu lalu, Facebook yang telah mengganti nama menjadi Meta, disebut-sebut tengah mengembangkan jam tangan pintar pesaing Apple Watch. Kini wujud jam tangan pintar itu pun telah terungkap.

    Bloomberg yang mengunggah wujud smartwatch itu. Dalam unggahannya, tampak jam tangan berbentuk kotak dengan sudut-sudut yang membulat, mirip seperti Apple Watch. Hanya saja di bagian bawah layar jam itu terlihat notch yang diisi sebuah kamera.

    Foto tersebut pertama kali ditemukan oleh pengembang aplikasi Steve Moser di aplikasi Facebook yang dipakai untuk mengontrol kacamata pintar Ray-Ban Stories. Kemungkinan smartwatch itu bakal bisa dikontrol dengan menggunakan kacamata tersebut.

    Tidak hanya desain membulat dan kamera, smartwatch ini pun tampaknya mempunyai casing stainless steel dan tali yang dapat dilepas-pasang.

    Moser menyebut kode di aplikasi Facebook itu mengindikasikan smartwatch ini kemungkinan akan mengusung nama Milan.

    Karena dibekali kamera, maka jam tangan pintar ini akan mampu mengambil foto dan video yang kemudian bisa diunduh di ponsel, seperti dikutip detik.com dari Engadget, Sabtu (29/10/21).

    Menurut Bloomberg, Meta berencana meluncurkan smartwatch ini pada 2022 mendatang, meski jadwal tersebut masih belum final. Kemudian induk Facebook ini juga dikabarkan sedang mengembangkan tiga generasi jam tangan pintar yang akan diluncurkan dalam waktu yang berbeda.

    Lebih lanjut, foto smartwatch Meta yang bocor ini mungkin tidak akan menjadi desain final yang akan dirilis secara publik. Akan tetapi, setidaknya keberadaan foto ini bisa mengonfirmasi laporan dari Juni lalu terkait smartwatch Facebook.

    Ketika itu, The Verge mengatakan smartwatch Facebook akan memiliki dua kamera, dengan kamera kedua yang bisa dilepas-pasang. Kamera utamanya diprediksi akan dapat mendukung video call dan memiliki resolusi 1080p.

    Untuk diketahui, ini bukan pertama kalinya perusahaan teknologi menciptakan smartwatch dengan kamera. Pada 2013 silam, Samsung telah meluncurkan Galaxy Gear, yakni smartwatch dengan kamera 1,9 MP. Namun sepertinya fitur tersebut kurang populer. Sebab, saat ini sudah tidak ada lagi smartwatch yang dibekali dengan kamera.

  • Ternyata ini Alasan Mark Zuckerberg Umumkan Facebook Ganti Nama Jadi Meta

    Ternyata ini Alasan Mark Zuckerberg Umumkan Facebook Ganti Nama Jadi Meta

    TIKTAK.ID – Facebook diketahui telah resmi berganti nama menjadi Meta. Perubahan tersebut diumumkan sendiri oleh Mark Zuckerberg dalam ajang Connect 2021.

    “Sudah saatnya kami mengadopsi merek perusahaan baru, supaya bisa mencakup semua yang kami lakukan. Mulai saat ini, kami akan menjadikan metaverse pertama, bukan lagi Facebook,” ujar Zuckerberg, seperti dilansir detik.com.

    “Saya dengan bangga mengumumkan bahwa mulai hari ini, perusahaan kami sekarang bernama Meta,” imbuh Zuckerberg.

    Kemudian Zuckerberg mengatakan bahwa perubahan nama ini tidak akan mengubah nama dari aplikasinya. Dia menjelaskan, Meta bakal menjadi induk yang menaungi Facebook, Instagram, WhatsApp, dan lainnya.

    “Kini merek kami sudah terkait erat dengan satu produk. Untuk itu, tidak mungkin mewakili semua yang kami lakukan hari ini, apalagi di masa depan,” tutur bapak dua anak tersebut.

    Zuckerberg menyatakan melalui Meta, perusahaannya berkomitmen akan membangun alam semesta komposit yang memadukan dunia online, virtual, dan augmented yang bisa dilalui orang dengan mulus.

    Dia mengklaim konsep ini, yang dikenal sebagai metaverse, mampu menjadi platform sosial besar berikutnya. Dia pun meyakini beberapa perusahaan teknologi akan membangunnya selama 10 tahun ke depan.

    “Sekarang, Meta telah bergerak melampaui layar 2D menuju pengalaman imersif seperti augmented reality dan virtual reality untuk membantu membangun evolusi berikutnya dalam teknologi sosial,” terang Zuckerberg.

    Perubahan nama Facebook itu terkait dengan keinginan Mark yang seolah ingin memperkenalkan diri sebagai “Metaverse” yang menggabungkan dunia nyata dengan virtual.

    “Saya berharap kami terlihat sebagai perusahaan metaverse, dan saya ingin menambatkan pekerjaan serta identitas kami pada apa yang kami bangun,” ungkap Zuckerberg, mengutip Kompas.com.

    Sekadar informasi, Facebook bukanlah perusahaan teknologi pertama yang mengubah nama perusahaannya seiring dengan berkembangnya ambisi perusahaan. Sebelumnya, Google juga telah melakukan langkah serupa pada 2015. Raksasa pencarian internet itu reorganisasi sepenuhnya di bawah perusahaan induk bernama Alphabet Inc. Selain itu, Snapchat berganti nama menjadi Snap Inc pada 2016.

    Akan tetapi, perubahaan nama Facebook ini terjadi di tengah rentetan laporan The Washington Post yang menuding Facebook telah membiarkan misinformasi dan konten berbahaya menyebar demi mengedepankan keuntungan.