Tag: Krisis Taiwan

  • Beijing Kecam Pernyataan Menlu AS

    Beijing Kecam Pernyataan Menlu AS

    TIKTAK.ID – Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (27/5/22) mengecam Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken yang dianggap “mencoreng negaranya” setelah ia menyerukan tindakan untuk mengimbangi pengaruh global Beijing yang semakin meningkat.

    Sehari sebelumnya, Blinken telah mengeluarkan pidato berdurasi 45 menit yang menyerukan untuk meningkatkan kekhawatiran atas “niat China untuk membentuk kembali tatanan internasional” dalam apa yang oleh beberapa orang disebut sebagai pernyataan paling komprehensif hingga saat ini tentang China oleh Pemerintahan Presiden AS, Joe Biden.

    “China adalah satu-satunya negara dengan niat untuk membentuk kembali tatanan internasional –dan menggunakan kekuatan ekonomi, diplomatik, militer dan teknologi untuk melakukannya,” kata Blinken.

    “Visi Beijing akan menjauhkan kita dari nilai-nilai universal yang telah menopang begitu banyak kemajuan dunia selama 75 tahun terakhir,” tambahnya.

    Blinken menyerukan masyarakat internasional untuk mempertahankan status quo dan menjalin hubungan dengan Beijing “dengan lebih realisme”.

    Dia juga menuduh Beijing meningkatkan ketegangan atas Taiwan, menyalahkan China karena “memutuskan hubungan Taiwan dengan negara-negara di seluruh dunia dan menghalanginya untuk berpartisipasi dalam organisasi internasional”.

    Pidato Blinken “menyebarkan informasi palsu, membesar-besarkan ancaman China, mencampuri urusan dalam negeri China, dan menodai kebijakan dalam dan luar negeri China,” kata Jubir Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin pada konferensi pers.

    Wang menambahkan bahwa China “dengan tegas menentang” pidato Blinken dan pidato itu menunjukkan keinginan Washington untuk “menahan dan menekan perkembangan China dan mempertahankan hegemoni dan kekuasaan AS”.

    Awal pekan ini, Joe Biden membuat pengumuman tak terduga bahwa AS akan melakukan intervensi militer jika terjadi invasi China ke Taiwan, yang membuat para pejabat China kecewa dan marah. Namun, pernyataan itu dengan cepat dikoreksi oleh sejumlah pejabat AS, yang bersikeras bahwa kata-kata Biden tidak mewakili perubahan pengakuan lama AS terhadap kebijakan “Satu China”, yang menegaskan kedaulatan China atas Taiwan.

    Dalam pidatonya pada Kamis, Blinken sekali lagi mencoba mengklarifikasi pernyataan Biden dan menegaskan kembali bahwa AS tidak mengakui negara pulau itu sebagai negara merdeka dan menyatakan harapan bahwa perbedaan lintas selat antara Taiwan dan China “diselesaikan dengan cara damai”.

    Namun, Blinken menekankan bahwa “sementara kebijakan kami tidak berubah, yang berubah adalah pemaksaan Beijing yang semakin meningkat”.

    Dia menuduh China melakukan “retorika dan aktivitas provokatif” terhadap Taiwan, mengutip dugaan penerbangan pesawat China ke wilayah udara Taiwan.

    Awal bulan ini, Taipei menuduh Beijing menerbangkan 18 pesawat militer, termasuk dua pembom berkemampuan nuklir, ke zona pertahanan udaranya. Blinken menyatakan bahwa tindakan ini “sangat tidak stabil” dan mengancam perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan.

  • China Peringatkan Serius Amerika Soal Campur Tangannya atas Taiwan

    China Peringatkan Serius Amerika Soal Campur Tangannya atas Taiwan

    TIKTAK.ID – China baru-baru ini menggelar serangkaian latihan militer di dekat Taiwan untuk menunjukkan kepada AS tekadnya terkait posisi pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu, kata seorang Jubir militer China, pada Rabu (25/5/22).

    Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok menggelar latihan kesiapan tempur dan operasi pelatihan lainnya di laut dan wilayah udara di sekitar Taiwan, kata Jubir Komando Militer China, Kolonel Shi Yi, seperti yang dilansir Russian Today.

    Dia mengatakan latihan itu adalah “peringatan serius” yang ditujukan kepada AS mengenai masalah kemerdekaan yang diusulkan Taiwan. Pasukan China “bertekad dan mampu menggagalkan setiap gangguan oleh pasukan eksternal dan upaya separatisme” di Taiwan, ujar pejabat itu menambahkan.

    Pulau itu adalah benteng terakhir pasukan nasionalis selama Perang Saudara China, dan memiliki pemerintahan sendiri yang tidak menanggapi Beijing sejak saat itu. Pemerintah China menganggap Taiwan berada di bawah kedaulatannya.

    AS telah mendukung otonomi pulau itu tetapi mengadopsi sikap “ambiguitas strategis” sebagai bagian dari pemulihan hubungan dengan Beijing pada 1970-an.

    Selama beberapa dekade, Washington telah berkomitmen untuk membantu Taiwan mempertahankan diri dari serangan hipotetis, tetapi tidak secara eksplisit berjanji untuk menggunakan militernya sendiri untuk melakukan hal tersebut.

    Presiden Joe Biden tampaknya menyimpang dari sikap ini selama konferensi pers di Tokyo pada Senin lalu, ketika dia mengatakan AS akan menggunakan kekuatan militernya untuk membela Taiwan, ketika ditanya oleh seorang jurnalis.

    Seperti halnya dengan sejumlah pernyataannya baru-baru ini yang dia buat tentang berbagai masalah, pemerintahannya menarik kembali pernyataan Biden dan mengatakan AS masih mempertahankan ambiguitas strategis di Taiwan.

    Beijing mengkritik pernyataan itu, yang dianggapnya sebagai contoh lain dari campur tangan AS.

    Selama bertahun-tahun, Washington telah meningkatkan dukungannya terhadap Taiwan dengan penjualan senjata canggih ke militer Taiwan. Penandatanganan perjanjian itu, dilihat China sebagai bentuk pengakuan, serta langkah-langkah lainnya.

    Ketua DPR AS, Nancy Pelosi dilaporkan ingin melakukan kunjungan resmi ke Taiwan pada April lalu, tetapi rencananya itu dilaporkan batal setelah dia dinyatakan positif Covid-19.

    Selama ini, baik Washington maupun Beijing secara teratur melakukan misi militer di dekat Taiwan.

  • Beijing Ancam Washington, Salah Langkah di Taiwan Berakibat Hancurnya Hubungan Kedua Negara

    Beijing Ancam Washington, Salah Langkah di Taiwan Berakibat Hancurnya Hubungan Kedua Negara

    TIKTAK.ID – Menteri Pertahanan China, Jenderal Wei Fenghe memperingatkan mitranya dari Amerika Serikat, Lloyd Austin, pada Rabu (20/4/22) lalu bahwa apabila Washington salah langkah atas penanganan masalah Taiwan, maka hal itu mungkin akan berakibat menghancurkan hubungan bilateral dengan Beijing.

    Hal itu disampaikan Wei dalam panggilan telepon selama 45 menit, yang diprakarsai oleh pihak Amerika. Pada kesempatan itu, Wei menegaskan kembali sikap Beijing bahwa Taiwan adalah “bagian yang tidak dapat dipsahkan dari China”. Ia bersikeras bahwa “itu adalah fakta dan status quo yang tidak dapat diubah oleh siapa pun”.

    Angkatan Bersenjata China sangat ingin melakukan segalanya untuk melindungi integritas teritorial negara itu, tambahnya, menurut sebuah pernyataan yang disampaikan Kementerian Pertahanan China, seperti yang dilansir PressTV.

    Wei juga memperingatkan Austin bahwa kesalahan penanganan AS atas masalah Taiwan “akan berdampak buruk pada hubungan bilateral kedua negara”.

    Meskipun mengakui Beijing sebagai satu-satunya otoritas yang sah di China sejak 1979, Washington mempertahankan hubungan tidak resminya dengan pulau Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri. Namun, Washington secara aktif mendukung dan mendorong kemerdekaan dan memasok Taiwan dengan senjata.

    Sebagai respons kunjungan delegasi senator AS ke Taipie, pada pekan lalu, militer China menggelar latihan besar di Selat Taiwan.

    Selain membahas soal Taiwan, mereka berdua juga membahas isu-isu terkait operasi militer Rusia di Ukraina, dengan Wei bersikeras bahwa AS tidak boleh menggunakan krisis tersebut “untuk menodai dan menekan China”.

    Pada Maret lalu, Presiden AS Joe Biden mengatakan kepada pemimpin China Xi Jinping bahwa akan ada “konsekuensi” jika Beijing memberikan dukungan material kepada Moskow selama konflik.

    Sedanggkan China sejauh ini enggan mengutuk operasi militer Rusia atau menjatuhkan sanksi terhadap Moskow. Beijing terus mempertahankan posisi netral mereka.

    Beberapa analis militer Amerika juga bersikeras bahwa Beijing telah mengamati dengan cermat peristiwa di Ukraina dan mengambil pelajaran dalam persiapan untuk serangannya sendiri terhadap Taiwan.

    Menteri Pertahanan China mengatakan bahwa Beijing ingin membangun “hubungan yang sehat dan stabil” dengan Washington, yang akan membuat militer kedua negara memperkuat dialog mereka dan terlibat dalam kerja sama pragmatis. Namun, Amerika “tidak boleh meremehkan tekad dan kemampuan China” untuk melindungi kepentingannya, tambah Wei.

    Percakapan keduanya itu adalah percakapan pertama antara kedua Menteri sejak Austin mengambil kendali di Pentagon lebih dari setahun yang lalu.

  • Beijing Klaim Krisis Taiwan adalah Permusuhan Terbesar China-AS

    Beijing Klaim Krisis Taiwan adalah Permusuhan Terbesar China-AS

    TIKTAK.ID – Ketika mata dunia mengamati ketegangan yang terjadi di Ukraina antara Rusia dan AS, di Asia, AS juga mendapat ancaman serius dari China.

    Duta Besar China untuk AS, Qin Gang telah memperingatkan dampak serius dari ketegangan yang sedang berlangsung antara Beijing dan Washington atas masa depan Taiwan, seperti yang dilansir Sputniknews. Sabtu (29/1/22).

    China selama ini menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, sementara Taipei berulang kali menolak proposal Beijing terkait prinsip “satu negara dua sistem”. Sedang AS menginjakkan dua kakinya, yang satu mengaku berkomitmen pada kebijakan China, namun kaki lainnya mendukung Taiwan untuk memisahkan diri.

    Berbicara kepada penyiar publik AS National Public Radio (NPR), Gang menggambarkan masalah Taiwan sebagai “permusuhan terbesar antara China dan Amerika Serikat”.

    “Jika otoritas Taiwan, yang didorong oleh Amerika Serikat, terus menempuh jalan menuju kemerdekaan, kemungkinan besar akan melibatkan China dan Amerika Serikat, dua negara besar, dalam konflik militer,” ujar Qin Gang.

    Utusan itu menyalahkan pihak berwenang Taiwan atas situasi saat ini, menuduh Taipei mengejar “agenda kemerdekaannya dengan meminjam dukungan dan dorongan dari Amerika Serikat”. Diplomat itu menegaskan bahwa Washington “memainkan kartu Taiwan untuk menahan China”.

    Dia menyampaikan pernyataannya itu setelah Menteri Luar Negeri China, Wang Yi mengatakan kepada wartawan pada akhir Desember lalu bahwa dengan “mendorong pasukan ‘kemerdekaan Taiwan’” Gedung Putih “tidak hanya menempatkan pulau itu dalam situasi yang sangat berbahaya tetapi juga menghadapkan Amerika Serikat pada posisi yang sulit”. Diplomat top China menambahkan bahwa Taipei “tidak memiliki jalan lain selain reunifikasi dengan daratan”.

    Sebelumnya, Jubir Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian menuduh “beberapa pasukan Amerika” dengan keras kepala memanipulasi masalah Taiwan dalam upaya “untuk mengendalikan China”, sesuatu yang menurutnya telah “memperburuk” ketegangan di Selat Taiwan.

    Zhao mendesak Washington untuk mematuhi prinsip “Satu-China” dan “berhati-hati dalam kata-kata dan tindakannya terkait masalah Taiwan”.

    Pada akhir Oktober, Jubir Kementerian Luar Negeri China lainnya, Wang Wenbin menanggapi janji Presiden AS, Joe Biden sebelumnya untuk “membela Taiwan” dengan mendesak POTUS untuk tidak meremehkan komitmen Beijing atas klaimnya terhadap pulau itu.

    Wang menyebut Taiwan “bagian yang tidak dapat dicabut dari wilayah China”, menambahkan bahwa “masalah Taiwan adalah murni urusan internal China yang tidak memungkinkan adanya intervensi asing”.